Chapter 4
Jangan lupa untuk memberikan tip dan Vote untuk menyemangati aku. Terimakasih :)
Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!
Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂
^_^ Happy Reading ^_^
-_ Mr. Charming Alexanders_-
"Ada apa kau datang kemari untuk liburan juga Grace?" Tanya Anya yang kini sudah duduk tepat diseberang tempat duduk Grace. Grace menanggapinya dengan ogah-ogahan karena dia sangat tidak menyukai sifat dari dua perempuan di hadapannya.
"Bagaimana dengan anda. Mrs Alexanders?" Kini Alice lah yang bertanya kepada Angela.
Angela menjawabnya dengan senyuman tulus seraya memainkan pipi tambun milik baby Carl.
Tanpa disadari Alice yang menatap interaksi antara ibu dan anak itu menimbulkan secercah senyuman bahagia tanpa sengaja. Anya yang melihat sahabatnya seperti itu langsung menepuk pelan pundak Alice, membuat Alice tersadar dan menormalkan mimik wajahnya tanpa sampai harus diketahui sama seorang disana.
"Apakah kalian juga berlibur disini atau ada pekerjaan kalian?" Tanya Angela kini yang bertanya kepada kedua perempuan cantik dihadapannya.
"Iya, benar. Kami berdua sedang mengadakan sesi Photoshoot disini dengan tema pantai seperti yang bisa kamu lihat pakaian kami seperti ini" Ucap Anya sambil membuka bathrobe yang membungkus tubuhnya yang menampilkan lingerie berwarna merah muda dan kembali memakainya dengan benar.
Angela mengangguk mengerti. Tibalah sang troublemaker tiba diantara mereka.
"Good morning baby Carl, kak Angel dan kak Grace" Ucap cempreng milik Rachel yang baru saja tiba di meja makan mereka. Kernyitan di dahi Rachel menyiratkan siapa dua perempuan aneh di hadapan Angela dan Grace. Bayangkan saja jika suasana terik ini mereka menggunakan bathrobe. Cukup aneh kan?
"Dia Anya dan Alice teman modelku" Ucap Grace yang langsung paham dari raut wajah Rachel, mau tidak mau dia harus mengenalkan musuh bebuyutannya dengan malas-malasan.
Bibir Rachel seketika membentuk O seraya mengangguk mengerti.
"Kak, siang ini kita mau ke pantai sana. Ayo sekarang saja" Ucap Rachel sambil menunjuk kearah belakang hotel dimana pantai langsung menyapa pendangan mereka. Tanpa aba-aba, Rachel langsung menculik baby Carl dan berlari ke tepi pantai. Grace langsung mengejar Rachel dan baby Carl, sedangkan Angela langsung berpamitan jika harus pergi terlebih dahulu meninggalkan Alice dan Anya untuk mengejar anaknya yang diculik Rachel.
Alice dan Anya hanya tersenyum formal menanggapi Angela yang masih sopan dibandingkan sahabatnya Grace yang tiba-tiba saja berlari.
Sesampainya disana semuanya bermain air dan pasir di tengah teriknya matahari siang cuaca musim panas di Indonesia. Mereka yang jarang mendapatkan suasana seperti ini pun menikmatinya dengan menghabiskan waktu bermain seraya berjemur.
Angela yang sedang menggendong baby Carl kini menghindari Rachel dan Grace yang bermain lari-larian agar tidak mengenai tubuhnya yang bisa membuat tubuhnya terjatuh.
Keduanya kini bukan lagi berlari namun sudah membuat bola-bola dari pasir pantai untuk dilemparkan pada lawannya. Keduanya pun berteriak senang dan bahagia ketika musuhnya terkena lemparan darinya. Rachel tertawa terbahak-bahak ketika lemparannya mengenai Grace tepat di kepala depan bagian kanan.
"Sini kak ku tambahin sebelahnya biar imbang jadi tanduk. Hahahaha" Rachel tertawa puas sambil menghindari lemparan bola pasir untuknya dari Grace.
Rachel langsung mengambil pasir yang tadi dilemparkan Rachel padanya dan langsung melemparkan kearah Rachel yang berlari jauh di depannya.
Nice shoot. Lemparannya kini kena tepat di punggung lawannya. Tapi ada yang aneh kali ini.
Matanya langsung melotot kearah orang di depannya yang bajunya terkena lemparan bola pasir. Adegan slow-motion kini terjadi ketika lelaki itu membalikkan tubuhnya kearah tepat dimana arah orang yang melempar bola pasir ditubuhnya.
Kedua mata abu-abu itu saling beradu. Keduanya sama-sama saling terkejut dan saling bertatapan lama tanpa berkedip sekalipun. Detik-demi detik berlalu hingga 1 menitan mereka saling terdiam sama-sama shock.
"Kak Grace!!" Teriak Rachel dari jauh mendekat kearah Grace dan lelaki tampan dihadapannya. Rachel sebelumnya tetap berlari tanpa menoleh kearah belakang karena berusaha lari sejauh mungkin menghindari lemparan bola pasir dari Rachel yang mengamuk ingin membalaskan dendamnya. Ketika menyadari Grace tidak lagi mengejarnya, Rachel langsung membalikkan tubuhnya mengecek keadaan Grace.
Lelaki bermata abu itu mendekat kerah Grace seraya mengangkat tangannya menyentuh kearah pipi tirus Grace.
"Hey, how are you?" Tanya lelaki itu dengan suara bergetar. Telapak tangan besar milik lelaki itu pun turut bergetar.
Respon dari Grace hanya membalas dengan senyuman yang di paksakan untuk terlihat bahagia namun matanya tidak bisa berbohong karena matanya tampak berkaca-kaca. Entah merasa bahagia ataupun sedih.
Grace berusaha menguatkan diri dan memasang topeng di wajahnya. Kini sudah tidak ada lagi mata yang berkaca-kaca yang ada kini tatapan datar kearah lelaki itu. Tangannya kini menepis tangan hangat lelaki di depannya.
"Kau tampak lebih kurus dari sebelumnya. Aku menyukai dirimu yang dulu" Ucap lelaki itu memaksakan senyumnya agar tetap tegar melihat dirinya sudah tidak dianggap oleh wanita yang di sayanginya selama ini.
"Aku baik-baik saja dan aku sehat" Ucap Grace meyakinkan lelaki di depannya. Lelaki itu menatap kearah Grace dari ujung kaki hingga kepala memastikan benar ucapan dari Grace.
Lelaki itu tersenyum lalu memeluk tubuh Grace yang mengurus menurutnya.
Tiba-tiba betis lelaki bermata abu itu ditendang oleh Rachel membuat sang empu terjatuh dan meringis kesakitan di dalam pelukan Grace. Tubuh Grace juga terjatuh tanpa diduga akibat ambruknya tubuh besar lelaki di hadapannya.
"Kau siapa sih berani-beraninya untuk memeluk kak Grace!" Teriak Rachel sambil sudah mengambil ancang-ancang agar dia siap dengan serang mendadak dari musuhnya. Bahkan kepalan kedua tangannya sudah sikap siap melawan musuhnya.
"Rachel!!!!" Teriak Grace dan Angela bersamaan. Angela juga baru saja mendekat kearah sumber keributan.
"Maafkan dia Luke. Dia selalu possesive pada kami jika dekat dengan laki-laki. Entah ini lelaki keberapa yang sudah kena tendangannya" Ketawa Angela sambil membantu Lucius berdiri dengan kepayahan karena Angela masih menggendong baby Carl. Melihat itu Grace berinisiatif turut membantu Lucius berdiri serta membantu membersihkan bajunya yang kotor oleh pasir pantai. Setelah membantu membersihkan baju Lucius lalu waktunya dirinya juga yang membersihkan pakaian-nya dari pasir pantai seperti apa yang dilakukkannya tadi.
"Hahaha dia lucu" Tawa Lucius seraya membersihkan pakaiannya. Bahkan Lucius bukan lagi tertawa kecil melainkan tertawa bak raksasa. Bagaimana tubuh sekecil itu memiliki tenaga yang kuat dan bisa menumbangkan lawannya yang jauh lebih besar dan tinggi darinya. Ini kali pertama selama sumur hidup ada gadis yang berani untuk melukai tubuhnya. Padahal diluaran sana banyak gadis yang bahkan tidak berani untuk menatapnya karena aura Lucius yang menakutkan dan juga segan terhadap Lucius.
"Jadi sekarang kalian punya bodyguard sendiri? Si gadis kecil ini?" Tanya Lucius sambil tertawa kecil seraya menunjuk kearah Rachel masih dengan sikap siap akan serangan dari Lucius. Lucius merasa lucu melihat Rachel seperti itu. Grace dan Angela sama-sama menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Lucius membuat sang penanya itu mengernyitkan dahinya.
"Perkenalkan dia Rachel dan ini Lucius" Ucap Angela sambil membuat Rachel dan Lucius berjabat tangan. Lucius tidak masalah dengan itu amun Rachel tampak tidak ikhlas untuk berjabat tangan dengannya karena dia berjabat tangan sambil membuang wajahnya kearah lain bukan melihat lawan jabat tangannya.
"Minta maaflah Rachel pada Luke atas perlakuanmu tadi" Ucap Grace saat melihat keduanya sudah saling memisahkan tangan mereka.
"Aku tidak akan meminta maaf. Karena aku merasa aku tidak bersalah" Ucap bete Rachel membuat Luke hanya bisa tertawa semakin besar melihat remaja labil seperti Rachel.
"Habisnya dia dengan seenak jidatnya meluk-meluk kakak sih" Gerutu jengkel Rachel menutupi rasa bersalahnya. Masih dengan pendiriannya tidak ingin di salahkan.
"Makanya kakak jangan cantik-cantik sih jadi orang biar gak di peluk sama orang-orang random lagi!" Judes Rachel pada Grace. Penuturan dari Rachel membuat Luke langsung menatap kearah Grace. Bertanya mengenai apa yang dimaksud ucapan dari Rachel.
Grace merasa bingung dan dia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya dia sebelumnya pernah di peluk oleh tuan muda. Bukan tuan mudanya yang bertarung padaku namun dia menyerahkan beberapa pengawalnya untuk membuatku celaka. Tentu saja itu tidak akan bisa melukaiku. Apalagi kamu tanpa ada pengawalan membuatku gampang menumbangkanmu" Rachel tersenyum miring penuh arti saat di akhir ucapannya. Begitu meremehkan Lucius.
"Siapa yang dia maksud tuan muda?" Suara menyeramkan dari Lucius kini terdengar. Bahkan kepalan tangannya semakin menguat menandakan menahan amarahnya.
"Sepertinya kau salah paham. Kemaren itu tidak sengaja. Salah peluk pasangan saja dia" Ucap Angela kini melerai emosi Lucius karena dia mengetahui seberapa mengguncang dunia ketika seorang Lucius sedang marah.
Amarah yang awalnya ingin memuncak kini mereda karena ucapan Angela yang membuatnya jauh lebih tenang, karena Lucius sangat percaya pada Angela karena Angela adalah orang yang mengetahui dirinya begitupula dengan Grace.
"Hello girls!!" Teriak laki-laki tampan sambil menghampiri mereka dengan keadaan tangan penuh dengan paper bag.
"ERIC!!!!" Teriak kegirangan Rachel sambil mendekat kearah Eric.
Ini yang sangat disukai Rachel dari Eric. Sering kali jika Eric berkunjung ke mereka maksudnya disini adalah Angela, Grace dan Rachel membawakan banyak paper bag yang isinya semuanya adalah makanan dengan berbagai menu. Itu yang membuat Angela dan Rachel kegirangan atas kehadiran mendadak dari seorang Eric. Kenapa bisa di katakan selalu dadakan atas kehadiran Eric, karena mereka selalu di kejutkan oleh Eric yang tiba-tiba datang dengan banyak paper bag berisikan makan seperti halnya sekarang yang dilakukan.
Angela sangat heran bagaimana Eric mengetahui keberadaan mereka karena Eric selalu hadir ketika Angela, Grace dan Rachel bersama. Pernah suatu kali Angela bertanya kepada suaminya Chris, apakah dia yang memberitahu keberadaan mereka pada Eric jawaban Chris hanya menggeleng karena untuk apa Eric bertanya keberadaan para ladies Alexanders. Eric orang yang sibuk untuk apa menanyakan keberadaan mereka pada tuan-tuan Alexanders. Tapi yang bikin membuat Angela aneh kenapa Eric selalu hadir di saat dirinya, Grace dan Rachel berkumpul hanya membawakan makanan dan lalu Eric pergi. Eric benar-benar aneh.
"Kali ini makanan apa yang kau bawa Eric?" Ucap Rachel langsung membuka salah satu paper bag dan membukanya. Menatap penuh binaran secara bergantian pada Eric dan paper bag di tangannya.
"Kali ini temanya Indonesian food. Cobain deh pasti senang karena makanan disini enak-enak" Ucap Eric sambil tersenyum pepsodent. Inilah ciri khas seorang Eric. Orang yang sebenarnya sangat kejam di balik senyuman lebar lelaki tampan itu.
"Dari mana kau tau kami disini?" Tanya Grace curiga. Yang di tanya hanya menggendikkan bahunya tak peduli pertanyaan tidak penting Grace. Mengalihkan padangannya kembali kearah Rachel yang masih excited pada berbagai makanan di tangganya.
"Ada apa kau berada di Indonesia?" Kini Angela yang bertanya membuat Eric mau tidak mau harus menjawab karena Angela adalah orang yang paling dewasa diantara ketiga ladies Alexanders.
"Aku ada urusan di Jakarta. Aku mendengar kalian berada di Bali maka dari itu aku langsung terbang ke Bali untuk menghampiri kalian dan membawakan ini. Kuyakin kalian setelah datang belum sempat untuk berkuliner di negara ini. Negara ini benar-benar sangat kaya untuk masalah perut. Harganya pun murah dan bisa kujamin pasti enak" Ucap Eric panjang lebar, jangan lupakan jika dia masih tersenyum tampan seperti biasanya. 2 ibu jarinya di tunjukkan karena dia bisa menjamin hal jika masakan Indonesia begitu menggugah selera.
Angela mengangguk dan berniat tidak memperdalam pertanyaannya karena takut mengganggu urusan pribadi Eric. Jadi dia mengurungkan diri untuk memperpanjang percakapannya.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Setelah kehadiran Eric, semuanya memutuskan untuk makan di privat room Angela karena kamar hotel Angela-lah yang paling besar dan memiliki ruang makan dengan 8 kursi. Sangat luas bukan? Apalagi untuk ukuran 2 orang penghuni yaitu Angela dan baby Carl.
"Jal meokgessseumnida" Ucapan riang yang di lontarkan oleh Rachel membuat semua orang di meja makan mengernyit bingung.
"Maksudnya selamat makan. Sorry akhir-akhir ini sering menonton film atau drama-drama Korea" Rachel nyengir lebar dan lanjut menyomot makanan yang tidak di ketahui namanya.
"Hmmmmmm. Ini enak, ini namanya apa kak?" Tanya Rachel pada Eric.
Baru saja Eric ingin menjawab namun ada suara yang menyela "Namanya Rendang" Jawab Lucius sambil memakan makanannya dengan elegan dan tampan.
"Diam ya kamu. Aku tidak bertanya denganmu!" Sengit Rachel pada Lucius. Matanya pun menatap tajam kearah Lucius yang sudah dianggap rivalnya. Mendengar pernyataan Rachel membuat Lucius tertawa hingga tersedak.
Grace langsung mengambilkan air putih dan membantu meminumkan air itu pada Lucius tak lupa juga menepuk pundak lelaki bermata abu itu.
"Lucu sekali bodyguard kalian Ngel!" Ucap Lucius berusaha untuk meleraikan tawanya. Tangannya kanannya menutup mulutnya agar makanan yang di kunyahnya tidak keluar dari mulutnya.
"Sialan mulutmu itu! Sudah ku katakan aku bukan bodyguard kak Angela dan kak Grace. Aku hanya berusaha melindungi orang-orang terdekatku saja" Ucap Rachel marah sambil menggebrak meja makan mereka. Sudah habis kesabarannya pada lelaki menyebalkan di depannya yang selalu memanggil dia bodyguard cilik. Selama perjalanan dari pantai menuju kamar pun selalu diejek bodyguard sedangkan yang mengoloki dirinya hanya tertawa puas, seakan tidak merasa bersalah karena sudah melukai harga diri Rachel.
"Duduk Hel" Ucap Eric dengan nada rendah bahkan mimik wajahnya sudah tidak lagi tersenyum melihat perkelahian lucu di hadapannya melainkan mimik wajah serius. Mata Eric sudah mendatar menatap Rachel sudah kelewat batas menurutnya. Seharusnya mereka makan dengan tenang tapi yang mereka dapatkan kemarahan dari seorang remaja labil.
"Aku tidak akan duduk diam selama dia memanggilku bodyguard. Enak saja. Aku ini sudah serjana kedokteran malah memanggilku bodyguard cilik. Memang dia Sialan!" Raung Rachel marah.
"Rachel!!" Teriak Angela berusaha untuk meredamkan suasana yang memanas.
"Jaga bicaramu Rachel!!" Suara Grace berusaha memperingatkan agar Rachel tidak kelewatan biacaranya apalagi ini pertama kalinya Rachel bertemu dengan Lucius. Rachel masih tidak mengerti cara bercandaan dari Lucius.
Lucius hanya menaikkan salah satu alisnya melihat perdebatan besar di meja makan karena perkara hal sepele dari dirinya.
"Kau menaikkan alismu? Kamu begitu tidak sopan lelaki sialan" Ucap Rachel tersenyum miring penuh arti.
Tangannya langsung mengambil garpu dan melemparkan garpu itu tepat menancap di sebelah piring berisikan makanan Lucius.
Lucius kini mulai terpancing amarah akibat gadis tengil di seberang tempat makannya. Dia berusaha meredamkan amarahnya karena dia tau keadaan sekitar sedang memanas.
"Duduk Rachel!" Suara Eric kini mulai mendingin bahkan suasana kini semakin tidak kondusif.
"Aku akan memberi pelajaran pada lelaki ini!" Ucap Rachel yang hendak keluar dari kursinya. Namun sebelum itu terjadi sebuah pisau kini melayang terbang dan mengenai lengan kanannya bahkan pakaian yang tadi dikenakan kini ikut sedikit tersayat oleh lemparan pisau itu.
Semua mata mengarah pada si pelaku yang melemparkan pisau yaitu Eric.
"Sudah ku katakan kembalilah duduk. Aku mengajarimu ilmu bela diri selama ini untuk menjaga dirimu sendiri. Itu atas permintaanmu padaku. Aku sangat mengapresiasi dirimu selama ini untuk belajar keras bela diri di tengah kesibukan koas-mu namun yang kutahu itu untuk menjaga orang terdekatmu bukan malah melawan lawan yang bukan seharusnya menjadi lawanmu. Kamu seharusnya bisa membaca sifat karakter orang yang mana yang menjadi lawanmu atau menjadi partnermu kedepannya" Ucap Eric serius memperingatkan Rachel.
"Jangan selalu mengedepankan egomu yang sejagat itu dalam berfikir. Seharusnya kamu bisa memikirkan resiko yang di terima akibat perbuatanmu. Bisa saja perbuatanmu yang begini membuatmu besok sudah menjadi mayat yang terbujur kaku seperti ayahmu. Kali ini kamu bisa menang karena kamu berada di ruang lingkup perlindungan keluarga Alexanders. Jika saja kamu bukan bagian dari Alexanders ku yakin kamu sudah mati di tangan musuhmu" Kata Eric dengan nada datarnya. Bahkan suasana semakin sunyi ketika Eric memperingakan Rachel.
"Jangan pernah sedikitpun kamu mengungkit tentang kematian ayahku. Kamu hanya orang luar yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya" Ucapan Rachel tampak serius.
Rachel langsung mengambil garpu Angela yang duduk di sebelahnya dan melemparkannya di sebelah piring Eric hingga menancap manis di meja kayu yang mereka gunakan. Membuat semua orang sedikit terkejut apa yang dilakukan Rachel namun bagi Eric, dia sudah biasa mendapatkan ancaman jadi menurutnya ancaman Rachel hanya perkara kecil. Rachel memberi peringatan pada Eric agar tidak berbicara sembarangan tentang ayahnya.
Eric hanya terdiam dan tetap melanjutkan sesi makan yang tertunda karena Rachel.
"Hel kamu berdarah" Ucap Angela sambil menunjuk kearah lengan kanan dimana tepat di tempat Eric melemparkan pisaunya mengenai kulitnya tidak dalam tapi tetap mengeluarkan darah.
"Biarkan dia saja mengurus dirinya sendiri. Katanya dia seorang lulusan sarjana kedokteran. Seharusnya itu hal yang gampang baginya" Ucap Eric tersenyum meremehkan Rachel.
"Aku tidak akan mengunjungi kalian jika, Kamu! Belum datang untuk meminta maaf atas kesalahananmu. Jika sudah memikirkan apa kesalahanmu dan memberanikan diri mendatangiku untuk meminta maaf. Aku akan mengunjungi kalian lagi" Lanjut Eric menunjuk tepat di depan wajah Rachel dan jangan lupakan ancaman Eric yang Rachel pasti bukan main-main. Ini pertama kalinya dia diperingatkan oleh Eric selama dirinya mengenal Eric si pria tampan nan manis tetapi sadis.
"Terimakasih membuat selera makanku hilang" Ucap Eric bangkit dan melemparkan garpu dan sendoknya di piringnya hingga menimbulkan dentingan yang lumayan nyaring di ruangan ini. Eric memilih pergi meninggalkan hotel daripada emosinya terpancing oleh Rachel.
Setelah kepergian Eric membuat suasana semakin sunyi. Tidak ada satupun yang membuka pembicaraan bahkan hanya terdengar derit kursi Rachel yang keluar dari meja makan karena nafsu makannya hilang juga.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Regrads
Jun-JunFish 16 Feb 23
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top