Chapter IX

"Nanti aku bilang Asahi supaya transfer uang lagi." Ucap Doyoung yang kini duduk di kursi meja makan, sementara yang diajak bicara tengah sibuk menyiapkan sarapan.

"Gak perlu, lagian saya juga ikut makan." Tolak Junghwan sambil menuang bubur ke atas mangkuk, untungnya masih ada nasi sisa tadi malam hingga ia tidak perlu repot menghabiskan banyak waktu di depan kompor pagi ini.

"Harus berapa kali aku bilang kalau kamu tuh-"

"Psikiatri, bukan babysitter kamu." Potong Junghwan yang mulai mendekat dengan dua mangkuk bubur di tangan. "Saya tau, tapi ini juga tugas saya buat mastiin kalau kamu baik-baik aja." Lanjutnya sebelum kembali berjalan untuk mengisi teko air yang kosong entah sejak kapan.

Sementara Doyoung memandangnya dalam diam, kalian boleh menganggap ia terlalu percaya diri tapi makin hari, Doyoung makin menyadari kalau tingkah Junghwan berubah, ke arah yang lebih baik tentunya.

Dan harusnya ia senang, tapi faktanya tidak sama sekali, Doyoung justru takut.

Jika hubungan mereka sebatas dokter dan pasien yang hanya terikat kontrak, Junghwan tidak akan berpotensi meninggalkannya, namun berbeda urusan kalau mereka mulai melibatkan hati, Doyoung jelas masih butuh Junghwan di sisinya untuk saat ini.

"Makan." Junghwan menyodorkan satu mangkuk berisi bubur yang masih hangat ke arah Doyoung. "Habis ini minum obat terus istirahat lagi."

"Kenapa?" Tanya Junghwan saat mendapati Doyoung hanya memandangnya dalam diam sejak tadi. "Saya buat salah?"

Doyoung menggeleng samar sebelum meraih sendok yang ada di atas meja, mulai mengunyah makanan yang Junghwan buat pelan-pelan.

Sesi sarapan mereka habiskan dalam diam, Doyoung yang sibuk meyakinkan diri kalau Junghwan tidak mungkin berniat membalas perasaannya, sedangkan Junghwan yang justru berpikir sebaliknya.

Pasiennya jelas membuatnya kesal tanpa henti, tapi Junghwan tahu kalau semua sikap menyebalkan Doyoung bukan tanpa alasan.

Ucapan asalnya, cara berpakaian yang selalu berlebihan, itu semua Doyoung lakukan untuk menutupi kekurangan. Agar lawan bicaranya tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dari dirinya, hal yang bahkan tidak bisa Doyoung lawan.

Trauma yang disebabkan oleh kakak tirinya.

"Kamu kayak lagi nahan buang air." Ucap Doyoung sambil mengarahkan sendok tepat ke depan wajah Junghwan.

"Umur kamu dua empat?" Tanya Junghwan tiba-tiba, dan Doyoung jawab dengan anggukan.

"Kenapa belum pernah pacaran? Saya yakin banyak orang yang tertarik sama kamu."

Gerakan memutar yang Doyoung buat di atas mangkuk berisi bubur seketika berhenti, ia tahu ke mana arah pembicaraan Junghwan.

"Gak ada yang mau sama aku." Jawabnya asal.

Padahal faktanya Doyoung selalu menolak orang yang berusaha mendekati, ia dan keluarga yang tersisa saja tidak sanggup untuk menghadapi dirinya sendiri, bagaimana orang lain? Doyoung tidak mau menambah masalah baru dalam hidupnya yang sudah berat ini.

"Kalau ada yang mau?" Tanya Junghwan lagi.

Doyoung terkekeh pelan sebelum menjawab, "Ya aku yang gak mau sama mereka."

"Kalau saya yang mau?"

Seketika Doyoung membanting kuat sendok yang ada di tangannya, ia yakin mangkuk miliknya ikut retak karena benturan keras yang tiba-tiba.

"Di sini aku bayar kamu buat jadi dokterku, buat sembuhin sakitku, bukan buat yang lain." Jawab Doyoung dengan nada suara paling dingin yang pernah Junghwan dengar.

Yang lebih tinggi hanya mengangguk sebelum akhirnya bangkit, merapikan alat makan ke dapur tanpa berniat menanggapi ucapan Doyoung sama sekali.

Sedangkan Doyoung yang terlanjur emosi kini menyusul langkah Junghwan, tubuhnya hampir jatuh saat mendadak bangun dari duduknya tadi, untungnya dokternya tidak melihat.

"Aku gak mau." Ucap Doyoung, ia berdiri tepat di sebelah Junghwan yang sedang mencuci piring.

"Saya gak nawarin kamu apa-apa," Jawab Junghwan tanpa menoleh sama sekali.

"Pokoknya apapun itu, please keep it to yourself."

"Apa?"

"Ya semuanya, di sini fokus kamu cuma harus sembuhin aku supaya aku bisa berenang lagi secepatnya."

Junghwan hanya mengangguk tanpa menjawab, dan entah kenapa sikapnya membuat Doyoung kesal.

"Stupid."

Dan lagi, Junghwan hanya mengangguk sambil merapikan peralatan makan yang sudah ia bersihkan.

"Jelek."

Umpatan Doyoung masih belum mendapat jawaban. Junghwan justru berjalan menjauh, meninggalkannya sendirian di dapur.

Doyoung yang kesal akhirnya duduk di sofa ruang tengah, menyalakan televisi dengan volume paling besar yang ia bisa, dan dirinya merasa menang saat sosok Junghwan kembali mendekat ke arahnya.

Junghwan duduk di sebelah Doyoung, merebut remote tv dan mematikan layar yang memang tidak Doyoung lirik sama sekali.

"Minum obat dulu." Ucapnya sambil menyerahkan obat dari dalam kemasan, Doyoung meraihnya dan langsung menelan tanpa membuka botol air yang juga Junghwan sodorkan.

"Minum."

"Gak mau."

"Gak boleh makan obat tanpa air gitu aja, minum."

"Gak mau."

"Minum atau-"

"Atau apa?"

"Atau saya paksa."

"Di kontrak kita ditulis kalau dokter dilarang ngelakuin kekerasan ke pasiennya."

Dan apa yang Junghwan lakukan selanjutnya sungguh sangat tidak bisa Doyoung percaya, laki-laki itu membuka botol yang ia bawa, memasukkan sebagian air ke dalam mulutnya sendiri dan langsung menyambar bibir Doyoung.

Mau tidak mau Doyoung membuka mulut saat Junghwan mencubit perutnya, membuat Junghwan memindahkan air yang tadinya ada di dalam mulutnya langsung ke mulut Doyoung.

Itu adalah tindakan paling brutal yang pernah Junghwan lakukan.

"What the fuck!" Protes Doyoung tepat setelah Junghwan menarik diri, ia mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangan.

"Salah sendiri gak mau minum."

"Pelecehan!"

"Saya cuma nyuruh kamu minum."

Doyoung menampar sebelah pipi Junghwan, ia yakin rasa sakitnya akan bertahan dalam beberapa saat karena telapak tangannya juga terasa panas. Laki-laki manis itu langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya, tidak memedulikan Junghwan yang masih diam di tempat.

Sedangkan Junghwan hanya tertawa sambil mengusap sebelah pipinya, jika Doyoung menolaknya karena ia merasa dirinya gila dan tidak pantas mendapatkan cinta, maka Junghwan akan bersikap sama gilanya.


***


"Lo apain anaknya?"

"Gak gue apa-apain, emang aja emosinya gampang meledak."

Jaehyuk tertawa di ujung panggilan, tadinya Junghwan ingin mengunjungi sepupu sekaligus mantan asistennya itu, tapi ia tidak sampai hati untuk meninggalkan Doyoung sendirian di rumah.

"Gue kayaknya naksir dia deh."

"Gila, emang gila tuh nular tau gak."

Kali ini giliran Junghwan yang tertawa, sebenarnya ia juga masih ingin meyakinkan perasaannya terhadap Doyoung, tapi ia enggan untuk menahan karena apa gunanya? Doyoung ada di depan mata dan Junghwan hanya perlu menggapainya perlahan.

Walau caranya jauh dari kata pelan-pelan, semua tindakan Junghwan justru lebih cocok disebut barbar.

Setelah insiden pagi tadi, Doyoung masih belum menampakkan diri. Junghwan berniat mengetuk pintu kamarnya saat ia selesai masak makan malam nanti, untuk sekarang biarlah pasiennya itu beristirahat sambil menenangkan diri.

Ia pasti kesulitan menerima pernyataannya yang tiba-tiba.

Ah, Junghwan mendadak menyesal bersikap kurang ajar tadi pagi.

"Nanti gue telepon lagi." Ucap Junghwan sebelum memutus panggilannya dengan Jaehyuk, ia membuka pintu kamar dengan hati-hati lalu menghela napas lega begitu melihat pintu kamar Doyoung masih tertutup.

Junghwan bergegas menuju dapur, menyiapkan makan malam seadanya untuk Doyoung juga dirinya sendiri, hidup seorang diri selama beberapa tahun membuat Junghwan cukup ahli dalam mengolah bahan makanan.

Hampir satu jam Junghwan habiskan dalam diam, memotong serta merebus semua bahan makanan sendirian.

Netranya melirik jam, hampir memasuki waktu makan malam. Ia merapikan semua makanan yang sudah matang ke atas meja makan, memastikan masakannya enak sebelum kembali berjalan ke lantai dua, tepat ke depan pintu kamar utama.

"Doyoung." Ucap Junghwan setelah mengetuk pintu beberapa kali.

"Kim Doyoung." Panggil Junghwan lagi, kali ini ia mengetuk pintu dengan cukup keras.

Namun Junghwan belum mendapat jawaban, dan telinganya justru mendengar suara tangisan dari dalam kamar.

Memang seharusnya sejak awal ia meminta kunci cadangan kamar utama.

Junghwan berlari ke tempat penyimpanan perkakas, meraih obeng yang ia yakini bisa dipakai untuk membobol handle pintu kamar yang untungnya masih menggunakan model lama.

Keringat mulai bercucuran di dahinya saat mendengar suara tangisan Doyoung makin keras, butuh waktu lebih dari lima menit bagi Junghwan untuk membongkar semua baut yang ada.

Tepat setelah pintu berhasil dibuka, Junghwan malah disambut dengan kasur yang kosong, Doyoung tidak ada di atasnya.

"Kim Doyoung?"

Junghwan mencari ke kamar mandi dan ia tidak berhasil menemukan pasiennya di sana, dirinya berusaha fokus dan mencari ke sumber suara, betapa terkejutnya Junghwan begitu mengetahui bahwa Doyoung justru berbaring di kolong ranjang yang gelap gulita karena tertutup selimut tebal yang membentang di kasur.

Sekuat tenaga Junghwan berusaha menarik Doyoung untuk keluar dari sana, "Kamu ngapain?" Tanya Junghwan yang kini duduk bersimpuh di lantai dengan Doyoung yang bersandar di atas lengannya.

Doyoung menggeleng, masih dengan mata yang enggan terbuka, air mata juga terus mengalir dari sudut matanya.

"Kim Doyoung, buka matanya." Ucap Junghwan sembari mengusap sisi wajah yang lebih muda dengan ibu jari. "Doyoung, sayang, buka matanya."

Berhasil, kalimat Junghwan berhasil membuat Doyoung membuka mata.

Rasanya Junghwan ingin tertawa melihat raut tidak terima Doyoung yang masih ada di rengkuhannya, laki-laki manis itu akhirnya bangkit dan ikut duduk di depan Junghwan.

"Sayang sayang your ass."

Sungguh kepribadian yang sangat mudah berubah, padahal wajah Doyoung masih dipenuhi air mata.

Tapi Junghwan memberanikan diri untuk mendekat dan kembali memeluk tubuhnya, mengusap punggung serta kepalanya yang basah oleh keringat.

"Kenapa nangis?" Bisik Junghwan di telinganya, Doyoung menggeleng pelan.

"Kenapa? Mimpi buruk lagi?"

Dan kali ini Doyoung mengangguk, tanpa sadar ia membalas pelukan Junghwan lalu menenggelamkan wajah di dada yang lebih tua.

Netra Junghwan memandang ke sekitar, ini pertama kalinya ia masuk ke kamar utama dan dirinya terkejut sebab begitu banyak barang yang tidak seharusnya ada di sana.

Meja yang dipenuhi peralatan self defense, Doyoung mungkin hendak berjaga-jaga jika suatu saat kakaknya kembali datang dan berniat melukainya.

Kasur yang bersih seperti tidak pernah ditiduri, kepalanya menunduk untuk melihat kolong ranjang yang tadi Doyoung tempati, dan ia justru menemukan karpet tebal serta beberapa bantal di sana.

Junghwan menghela napas, kondisi pasiennya ternyata jauh lebih mengkhawatirkan dibanding dugaan.







...

gimana dong orgil kita gak mau diajak pacaran bjir

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top