Comeback

Sendiri ini, membuat hujan di hati ku, kembalilah.

________________________________

     Dua tahun sudah berlalu, semua berubah sekarang. Darren sudah pergi ke Inggris dan jarang memberi kabar pada Mela. Bahkan satu tahun ini Darren belum memberi kabar apapun pada Mela.

Prince kembali ke Australia, karena masalah yang dia buat saat itu di ketahui oleh kedua orang tua angkatnya hingga membuat Prince harus kembali ke kedua orang tua angkatnya, dan tentu saja Alena ikut dengan Prince ke Australia. Lena takut terjadi apa apa lagi pada Prince di saat dirinya tidak ada, bisa berdampak lebih buruk lagi buat Prince.

Rachel tidak tau dimana, dengan siapa dan sedang apa dia sekarang. Semua orang tidak ada yang tau kabarnya dan tidak ada yang peduli dengannya.

Holiday terasa berbeda karena Prince dan Darren tidak ada. Bahkan Mela jadi jarang untuk berkumpul bersama di tempat itu. Karena yang ada, rasa rindunya pada Darren akan makin sakit jika dia terus berada di tempat itu. Sekarang, Roy-lah yang memimpin Holiday walau dia selalu merasa bahwa dirinya tak pantas. Tapi dia melakukan ini demi kedua sahabatnya, semua anak anak yang tergabung dengan Holiday masih membutuhkan sebuah pemimpin yang bisa menolong mereka kapanpun itu.

Sedangkan Stefan, sibuk dengan kuliahnya. Dia menjadi mahasiswa jurusan IT di universitas yang masih satu kota dengan SMA-nya dulu.

Mela juga sedang sibuk dengan kuliahnya, dia sekarang menjadi mahasiswa jurusan komunikasi di universitas yang sama dengan Stefan. Sebuah kebetulan Stefan bisa satu universitas dengan Mela. Tapi sisi baiknya, kini Mela sudah tidak bersikap dingin lagi pada Stefan dan Stefan juga sudah berhenti mengejar hati Mela, karena dia mengerti di hati Mela sudah terisi Darren dan hanya Darren saja.

Mela menatap buku catatannya yang penuh dengan tulisan yang dia sendiri tidak tau apa maksudnya. Satu jam lagi Mela ada kelas dan kuis yang harus dia jalani. Tapi sampai sekarang, materi yang akan keluar di kuis nanti masih belum bisa Mela pahami.

"Ini gila sih. Gue dari tadi gak paham apa apa." Mela bicara sendiri sambil membolak balikan halaman buku catatannya.

Mela menyerah, dia menutup buku catatannya lalu melemparkan buku itu ke sembarang arah. Sepertinya dia sudah muak melihat tulisannya sendiri yang bahkan dia tidak mengerti apa yang dia tulis.

"Stres?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Mela sambil membawa buku catatan yang tadi Mela lempar entah kemana.

Itu Stefan, dia duduk di bangku depan Mela sambil memberikan buku catatan itu pada Mela.

Mela mengangguk, "Sebentar lagi gue ada kuis, tapi sampai sekarang gue gak paham apa apa dong!"

Stefan tertawa lalu membuka buku catatan Mela, setelah itu dengan cepat dia menutupnya lagi.
"Gimana gak stres? Tulisan mu aja udah kayak tulisan dokter gini. Mana bisa di baca, bego?"

Ekspresi Mela berubah datar sambil menatap lurus Stefan.
"Itu gue nyatetnya waktu kelas sore. Jadi udah capek, ngantuk. Ya.. Mana gue tau kalau tulisan gue jadi ceker ayam begitu. "

"Bilang aja lo malas, kan?" tanya Stefan lagi.

Mela tertawa kecil lalu kembali membuka buku catatannya.

Keadaan kembali sunyi, Mela fokus pada buku catatannya dan Stefan pada laptopnya. Hening cukup lama sampai Stefan angkat bicara saat melihat Mela tertidur dengan buku sebagai bantalnya.

Stefan tertawa kemudian menggoyang goyangkan tubuh Mela sampai dia terbangun.

"Iya.. 5 menit lagi, ma. " Kata Mela, kembali mengundang tawa Stefan.

"Hei bangun. Gue bukan ibu lo" Kata Stefan.

Mela membuka matanya melihat Stefan yang tersenyum lebar.
"Apa lo lihat lihat? "

"Emang salah gue lihat anak gue sendiri?" tanya balik Stefan menggoda Mela.

Mela mengerutkan keningnya tak paham maksud Stefan. Akhirnya Stefan mempraktekan bagaimana Mela memanggilnya "Mama" tadi. Sampai membuat Mela malu dan menutupi wajahnya.

"Astaga gue ngelindur sampai kayak gitu. " Mela menutupi wajahnya karena malu, apalagi sampai Stefan bisa menirukannya.

Stefan kembali tertawa,"Tapi lucu kok. Gue suka."

"Lo suka, gue malu bego! Muka gue mau di taruk di mana? Pakai acara gue ngelindur di tempat umum lagi. "
Jawab Mela, matanya melihat sekeliling taman universitas yang di penuhi mahasiswa yang sibuk dengan tugas mereka masing masing.

"Tenang, muka lo gak akan kemana mana kok." Tambah Stefan tapi malah membuat Mela kesal padanya.

"Gatau, ah! Ngeselin lo. " Jawab Mela, kembali membuka buku catatannya dan mulai fokus belajar.

Stefan tak berkomentar apa-apa setelah itu. Dia merapikan semua barang barangnya ke dalam tas lalu bangkit berdiri.
"Gue pamit ya, ada kelas"

Mela menganggukan kepalanya, tapi pandangannya tetap tak lepas dari buku catatannya itu.

"Lo... Gak ke kelas? " tanya Stefan sebelum pergi.

Mela menggelengkan kepalanya, tapi matanya tetap fokus pada buku catatannya.

Stefan tertawa kecil,"Yakin gak ke kelas?" tanya Stefan lagi.

Mela menghembuskan nafasnya berat, dia kesal karena Stefan yang terus bertanya pertanyaan yang sama hingga membuat jam belajarnya terganggu.
"Gue udah bilang gak ke--" perkataan Mela terputus dengan sendirinya saat dia melihat Stefan menunjukan jam di ponselnya yang hampir menunjukan pukul satu siang.

"Mampus gue! " Mela cepat cepat merapikan semua barang barangnya lalu pergi meninggalkan Stefan begitu saja tanpa pamit karena dia sudah hampir telat untuk masuk kelas.

Stefan tertawa, dia melihat Mela berlari menjauh darinya dengan tergesa gesa. Sampai pandangannya teralihkan pada ponsel Mela yang tertinggal di meja taman. Stefan mau akan memanggil Mela tapi anak itu sudah tidak terlihat dan Stefan juga harus segera masuk kelas. Dia akhirnya memutuskan untuk membawa ponsel Mela dan akan mengembalikannya saat kelas selesai.

***

     Suasana kelas hening. Hanya suara keyboard laptop yang memenuhi kelas ini. Juga layar proyektor berisi materi pelajaran menjadi titik fokus di kelas ini.

Sampai ponsel Mela bergetar, ada sebuah panggilan masuk. Diam diam Stefan mengambil ponsel itu dari kantong celananya, memastikan bahwa yang menelfon Mela bukan orang penting seperti mamanya, karena Mela sedang tidak membawa ponselnya. Atau lebih tepatnya, dia meninggalkan ponselnya.

"Ice Cream? Really? " batin Stefan melihat nama yang ada di layar ponsel Mela. Dia mematikan layar ponsel lalu meletakannya di atas meja, dan kembali memperhatikan layar proyektor di depan.

Tak lama, ponsel Mela bergetar lagi, nama "Ice Cream" muncul di layar ponsel Mela lagi. Stefan tidak peduli dia kembali mematikan layar ponsel itu dan kembali mengikuti pelajaran.

Selang beberapa menit, ponsel Mela bergetar lagi. Seseorang bernama "Ice Cream" itu muncul lagi di layar ponsel Mela. Stefan mulai kesal, dia memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya dan membiarkan si "Ice Cream"  itu.

***

     "Mela, Mela." Panggil Netta dari bangku belakang.

Dengan malas Mela membalikan badannya.
"Apa sih? "

"Galak banget, PMS ya?" tanya Netta.

Netta satu universitas dengan Mela bukan karena kebetulan, karena mereka sudah memiliki rencana dari dulu untuk masuk di universitas yang sama dan jurusan yang sama juga.

"Gue badmood, gue gak bisa ngerjain kuis tadi." Jawab Mela kesal, meratapi kuis yang dia kerjakan satu jam yang lalu.

"Lebay lo. Biasanya kalau lo ngomong kayak gini, nanti nilai lo di atas rata-rata. " Bantah Netta.

"Gue emang gak bisa ngerjain kuis tadi, Nett." Jawab Mela, dengan wajah lesu.

"Gue juga gak bisa, tapi gue biasa aja nih. " Kata Netta, berusaha menghibur Mela.

Mela memutar kedua bola matanya, malas.
"Kalau itu lo yang bego banget."

Netta kesal, lalu mendorong pelan punggung Mela.

"Apa lagi sih, Net? " tanya Mela kesal.

"Gue minta catatan yang lo foto kemarin dong. Mau gue salin sekarang." Minta Netta, berbisik bisik.

"Ngapain sih? Udah dengerin aja dosennya jelasin. " Bantah Mela, dia malas di ajak bicara Netta terus. Dia juga tidak mau kena marah dosen karena berbicara di dalam kelas.

"Gak mau. Gue gak paham dosennya ngomong apa, dari pada gue bengong. Mending gue nyatet pelajaran kemarin kan?" Bantah balik Netta.

Dengan malas Mela menyerah. Dia meraih tasnya untuk mengambil ponselnya sebelum Netta berkicau lagi dan membuat dirinya terlibat dalam masalah.

Beberapa kali Mela membuka semua sudut di dalam tasnya tapi gak ada tanda tanda ponselnya di dalam. Mela mulai panik dan mengeluarkan semua isi tasnya secara diam diam tapi ponselnya tetap tidak ada.

"Kenapa,Mel?" tanya Netta, bingung melihat sikap panik Mela.

"Ponsel gue gak ada, Nett! " Jawab Mela, sambil terus menggali gali isi tasnya.

"Terakhir kali lo lihat di mana?" tanya Netta berusaha membantu Mela.

"Itu.. Di taman, tapi gak mungkin. Jadi di.. Stefan.. " Tangan Mela berhenti mencari. Terakhir kali ponselnya ada saat dia bersama Stefan di taman tadi.

"Stefan ambil ponsel lo?" tanya Netta, meluruskan.

"Gak, ponsel gue ketinggalan di taman waktu gue lagi sama Stefan. "Jawab Mela.

"Ya udah, brarti ponsel lo di Stefan. Jangan panik dong." Kata Netta berusaha menenangkan Mela.

"Iya kalau Stefan sadar kalau ponsel gue ketinggalan. Kalau gak? Kalau di ambil orang gimana, Nett? Itu belum lunas! " Mela makin panik.

"Udahlah. Nanti aja kita ke Stefan. Gak usah panik." Kata Netta.

Mela menenangkan dirinya, dia kembali fokus pada dosen. Tapi pikirannya tetap terbayang kalau ponselnya di ambil orang asing lalu di jual dan dia harus tetap membayar cicilan ponselnya itu.

Kelas sudah selesai 15 menit kemudian setelah tragedi Mela yang panik karena ponselnya hilang. Setelah dosen keluar dari kelas, Mela bergegas keluar dari kelas dengan berlari meninggalkan Netta yang terus berteriak memanggilnya.

BRAKK.
Mela terjatuh dengan memegangi hidungnya yang sakit.

"Hati hati dong. " Protes orang yang di tabrak Mela tadi.

Karena cahaya matahari yang menyilaukan dan pandangannya yang buram karena kepalanya pusing habis menabrakan wajahnya pada seseorang, membuatnya tidak bisa melihat wajah orang itu.

Mela berdiri pelan pelan, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada orang di depannya itu.
"Stefan! "

"Bukannya minta maaf habis nabrak orang sembarangan, malah senyum senyum. Udah gila ya lo?" tanya Stefan dengan raut muka kesal.

"Ponsel gue mana? " tanya Mela, dia masih panik.

Stefan menghembuskan nafasnya berat, dia tidak menyangka Mela masih belum minta maaf dan malah menanyakan di mana ponselnya.

Stefan mengambil ponsel Mela dari saku celananya dan dengan segera dia memberikan ponsel itu pada pemiliknya.

"Thank you so much. " Kata Mela dengan senyuman lebar di wajahnya saat melihat ponselnya kembali ke tangannya.

"Mana maaf lo?" tanya Stefan.

Mela mengerutkan keningnya, menatap tajam Stefan.
"Kenapa gue harus minta maaf? Jelas jelas gue korban di sini. Lo gak lihat gue jatuh karena badan lo yang besar itu? "

Stefan menghembuskan nafasnya berat. Dia sudah pasrah meladeni orang di depannya ini yang bahkan tingginya tidak sampai pundaknya, tapi entah kenapa Stefan sudah tidak mau membalas Mela.

"Btw, tadi ada yang telfon lo berkali kali, tapi gak gue angkat. Gue takut lancang. " Kata Stefan.

"Siapa?" tanya Mela.

"Gatau, seinget gue namanya... I.. I.. Ice Cream? Serius lo se-alay itu, Mel? "
Tanya Stefan dengan ekspresi terheran heran. Karena setahu dia, Mela tidak pernah memberi nama orang lain dengan nama nama khusus seperti ini.

"Ice Cream?! Lo serius?!" tanya Mela lagi dengan mata yang melebar. Dia dengan cepat cepat membuka riwayat panggilan pada ponselnya.

"Siapa? Kenapa lo kaget banget? " tanya Stefan lagi. Tapi Mela tidak menjawab, perempuan di depannya ini masih fokus pada layar ponselnya.

Ada 29 riwayat panggilan tak terjawab dari "Ice Cream". Mela merasa antara senang dan sedih dalam waktu yang sama. Dia berkali kali mencoba menelfon balik si "Ice Cream" itu tanpa memperdulikan pertanyaan Stefan tentang siapa "Ice Cream" itu.

"Itu siapa Mel? " tanya Stefan lagi. Tapi tidak di jawab Mela.

"Darren?" awalnya Stefan tidak mau menebak kalau orang bernama "Ice Cream" itu Darren karena yang ada hanya akan menyakiti perasaannya saja.

Mela menganggukan kepalanya dengan cepat sambil terus menghubungi balik Darren.
"Iya. " Jawab Mela sambil tersenyum lebar.

Stefan belum siap mendengar kalau tebakannya itu benar. Dalam pikirannya dia sudah melepaskan Mela, tapi sepertinya hatinya belum. Masih ada Mela di hati Stefan.

"Mela," panggil Stefan meraih tangan perempuan di depannya ini, menghentikan Mela berhenti terus menghubungi balik Darren.

"Apa?" tanya Mela.

"Gue bisa minta tolong sama lo? "

"Apa?"  tanya Mela lagi.

"Besok, temani gue ke suatu tempat. Untuk terakhir kalinya. Mau kan? " tanya Stefan, yang malah membuat Mela bingung.

"Terakhir kali? Kemana?" tanya Mela lagi, kebingungan.

"Besok lo bakal tau. Buat terakhir kali aja Mel. Gue mau lo ketemu orang yang paling gue cinta. " Jawab Stefan.

Mela hanya menganggukan kepalanya walau agak ragu tapi melihat ekspresi Stefan yang serius mungkin tidak ada salahnya. Lagi pula, dia juga penasaran siapa orang itu.

"Besok, jam 9 pagi gue jemput ya. Harus cantik, karena besok lo bakal bertemu orang yang paling penting dalam hidup gue dan hidup lo. " Kata Stefan lalu meninggalkan Mela.

Mela masih kebingungan dengan maksud Stefan. Belum sempat dia bertanya, tapi Stefan sudah pergi begitu saja dan Netta sudah menariknya pergi untuk segera pulang.

Apapun yang terjadi besok, itu masih sebuah kejutan.

__________________________________

THANKYOU so much yang udah baca sampai sekarang. Yang udang mau ngikutin cerita ini walau gak nyambung heheh.

Tunggu bab selanjutnya sampai bab terakhir.

Tinggalkan vote, coment n share ke semua teman mu!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top