9 - Menaruh Curiga

BELUM ada sejalar sinar matahari yang menyilik dari timur sana, Awes bersama Teddi dan Ardi telah berada di luar penginapan. Berjalan kaki, menyusuri bibir pantai sambil ditemani oleh desir angin dingin yang menusuk hingga sampai ke tulang.

"Memangnya kamu teh tahu rumah bu Lena di mana, Wes?" Teddi mulai membuka suara sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket musim dingin berwarna krem miliknya.

Awes mengangguk. "Waktu itu, kan, kalau nggak salah anaknya bu Lena, siapa itu namanya?" Dia tampak berpikir.

"Dokter Surya." Ardi menyahut.

"Nah, iya itu dokter Surya pernah ngasih tahu kita kalau rumahnya di dekat restoran sana." Jari telunjuk Awes pun menunjuk sebuah belakang restoran yang berjarak dua puluh meter dari pantai.

Dari jarak dekat, kini mereka bisa melihat sebuah bangunan yang beratapkan rumbia dengan genting di bawahnya, sementara dindingnya sebagian kaca, sebagian lagi dari marmer ukir. Dari luar, mereka bisa memperkirakan jika restoran tersebut muat untuk puluhan pelanggan. Mendadak langkah mereka terhenti ketika telah melewati restoran. Kali ini, maniknya terkagum saat melihat deretan penginapan mewah yang berjejer tepat di depan restoran.

Namun, hal itu justru membuat Ardi menepuk kening. "Alamaaak! Rumahnya bu Lena yang mana? Kenapa pula bentuk rumah di sini sama semua kayak gini?" cakapnya ketika melihat barisan rumah dua lantai yang besar dengan bentuk serta warna yang sama.

"Apa kita teh perlu ketuk pintu rumahnya satu-satu buat nanya rumah bu Lena di mana?" saran Teddi. Laki-laki itu mengeluarkan dua tangannya yang disembunyikan dalam saku jaket. Lalu, membenarkan letak kacamata yang sedikit melorot di ujung pangkal hidung dengan tangan kanan.

Ardi tidak segan menepuk bahu Teddi. "Kau kalau ngasih saran, tuh, yang betul. Mana bisa kita ketuk rumah orang satu-satu. Bisa-bisa kau mengganggu ketenangan mereka!" protesnya. Sementara, Teddi hanya menyenggih tidak berdosa.

Sedangkan Awes mendesah ringan dengan tatapan tertuju ke arah deretan rumah mewah di hadapannya. Jika boleh jujur, Awes juga sama bingungnya dengan dua temannya itu. Namun, mengikuti saran Teddi, tidak ada salahnya, kan?

"Aku setuju sama saran Teddi. Kita ketuk pintu dari ujung sana. Aku yakin orang-orang di sini tahu di mana rumah bu Lena," ungkap Awes kemudian sembari menunjuk ke arah rumah yang paling ujung sebelah kanan. Membuat Teddi meledek ke arah Ardi dengan sedikit menjulurkan lidah.

Ketiganya mulai melangkahkan kaki, menyeberangi jalan beraspal yang cukup lebar. Terdapat pula dua buah jalur mobil elektrik yang melintang di sepanjang tengah jalan.

Sebuah mobil jip elektrik tampak melintas dari sisi kanan. Bergerak melewati Awes dan berhenti tepat di depan sebuah rumah. Langkah Awes dan dua temannya pun terhenti ketika manik mereka mendapati dua orang pria berseragam turun dari mobil tersebut. Tidak lama setelahnya, seorang wanita yang tengah dicari oleh Awes terlihat muncul dengan membukakan pintu untuk polisi itu.

"Itu bu Lena!" Ardi menunjuk ke arah Lena yang tampak menyapa tamunya.

"Ayo, kita samperin ke sana," ajak Teddi kemudian. Yang langsung disetujui oleh teman-temannya.

"Apa kalian ke sini ingin memberi tahu saya tentang hasil autopsi dua turis Jepang yang tewas semalam?" Lena membuka suara setelah mempersilakan dua tamunya duduk di kursi, di depan teras rumah.

Salah satu pria bertubuh gembul mengangguk. Dia memberikan sebuah amplop berwarna cokelat yang dibawanya kepada Lena. Wanita itu pun langsung membuka dan membacanya. Wajahnya seketika berubah tegang kala mengetahui hasil autopsi pada dua jasad yang ditemukan di penginapannya.

Pandangan Lena beralih menatap dua polisi di hadapannya. "Kalian tahu, kan, apa yang harus kalian berdua lakukan?"

Dua polisi itu saling bertatapan. Mereka tampak tersenyum kecil, sebelum akhirnya menatap Lena sambil mengangguk.

Pria bertubuh kurus tampak mengeluarkan amplop berwarna sama dari dalam seragam yang dikenakan. "Kami sudah siapkan berkas lainnya," tuturnya sembari memberikan benda itu kepada Lena.

Bergegas, Lena menyambar amplop itu dari tangan sang polisi. Membuka dan kembali membacanya. Kali ini, Lena mengangguk. Pandangannya pun beralih menatap dua polisi di hadapannya. "Bagus!" Dia mengambil sebuah amplop kecil berwarna putih yang telah disiapkan sebelumnya dari dalam saku rok. "Ini untuk kalian," lanjutnya dengan memberikannya pada mereka.

Wajah dua polisi tersebut tampak begitu senang kala melihat sebuah amplop tebal di atas meja. Pria bertubuh gembul pun langsung menerima amplop itu dan menyimpannya di saku seragam. "Kalau begitu, kami pamit dulu," pamitnya kemudian.

Kening Teddi langsung tertaut ketika mendengar dan melihat langsung perbincangan dua polisi itu dengan Lena dari balik mobil jip yang terparkir. Sama halnya dengan Awes dan Ardi yang merasa ada keanehan di antara mereka semua.

"Kenapa polisi itu ngasih dua berkas autopsi ke bu Lena?" Teddi merasa ada kejanggalan mulai angkat suara.

Ardi menggeleng. "Aku tidak tahu. Kau lihat amplop kecil yang diberikan bu Lena tadi ke polisi itu? Apa mungkin itu isinya uang?" asumsinya kemudian.

"Maksud kamu uang sogokan?" Awes menyahut. Yang langsung dianggukan oleh Ardi. Membuat Awes dan Teddi saling bersitatap. Mereka terperangah bersamaan, karena tidak percaya.

"Kalian sedang apa?"

Ketiganya langsung berjengkit kaget kala mendengar suara dari belakang tubuh mereka. Mereka menoleh secara perlahan. Maniknya terperangah ketika mendapati seorang laki-laki yang mengenakan setelan kaus olahraga tebal di belakangnya. Seorang laki-laki yang sangat mereka kenal.

"Apa kalian ke sini membutuhkan bantuan medis?" tanya laki-laki itu yang tidak lain ialah Uya. Dia baru saja pulang dari lari paginya, dan menemukan tiga siswa berdiri di samping jip yang terparkir di depan rumah.

Ketiganya pun menggeleng dengan kompak. "Ka-kami teh ke sini mau ketemu sama bu Lena," sembur Teddi yang tampak sekali gugup.

"Iya, kita mau ketemu sama bu Lena. Iya, kan, Wes?" imbuh Ardi dengan menyeringai lebar sembari menarik lengan jaket Awes di sisi kanannya. Membuat laki-laki itu mengangguk diiringi juga oleh seringai lebarnya.

"Sejak kapan kalian di sini?"

Lagi-lagi ketiganya harus tersentak kaget kala mendengar suara yang begitu familiar di telinga mereka. Perlahan, mereka kembali menoleh ke belakang dan termangu saat mendapati Lena dan dua polisi sudah ada di sana.

"Kami ke sini mau menanyakan perihal pintu besi digital yang ada di samping kamarku." Awes langsung memberitahukan maksud dan tujuan kedatangannya menemui Lena setelah ketiganya duduk di kursi teras rumah.

Awes dapat melihat dengan jelas raut wajah Lena tampak terkejut saat mengutarakan tujuannya datang ke tempat ini.

"Saya tidak tahu apa-apa tentang pintu itu."

"Tapi, Bu. Teman kami ditemukan hilang setelah melewati pintu itu," protes Ardi. Pasalnya, dia yakin sekali jika Lena tahu sesuatu tentang pintu tersebut.

Lena terkekeh. Dia menggeleng. "Bagaimana mungkin teman kalian bisa melewati pintu yang hanya bisa diakses menggunakan fingerprint itu? Apa kalian sudah mencoba cari dia di sekitar penginapan?"

Teddi menimpali, "Kita semua teh udah cari Happy di seluruh penginapan, tapi nggak ada."

"Dan saya menemukan jepit rambut yang biasa digunakan Happy di depan pintu itu." Awes mengeluarkan jepit rambut milik Happy dari dalam saku jaket dan diperlihatkannya kepada Lena.

Sontak saja, membuat Lena terkejut setengah mati. "Tidak! Tidak mungkin! Yang saya tahu, tidak ada satu pun orang yang bisa masuk melalui pintu itu!" Dia masih berusaha untuk menyangkal.

Bingo! Ardi tersenyum kecil menatap Lena. Tepat seperti dugaan Ardi sebelumnya, jika Lena tahu sesuatu tentang pintu itu. Buktinya saja, wanita yang mengenakan kemeja berwarna merah yang dipadukan dengan rok pendek selutut hitam, saat ini seperti serigala bodoh yang terperangkap oleh kata-katanya sendiri.

"Tapi, teman kami ada di balik pintu itu!" pekik Ardi kesal sendiri melihat gelagat mencurigakan dari Lena.

Sementara, Teddi berusaha untuk menenangkan Ardi dengan mengelus bahu laki-laki itu.

"Saya mohon, Bu. Saya butuh bantuan Ibu untuk membuka pintu itu. Kami nggak tahu ada apa di balik pintu itu. Kami hanya takut kalau Happy dalam bahaya," pinta Awes memohon.

Lena merasakan dadanya panas karena amarah. Dia bangkit dengan dengkus napas yan bergemuruh. Bahkan, dia sampai menggebrak meja dan menatap tiga tamunya dengan tajam. "Saya sudah katakan kepada kalian! Tidak ada satu pun orang yang bisa membuka pintu itu! Kecuali ...." Lena menjeda ucapannya.

"Kecuali apa?" Ardi tidak mau kalah. Dia juga bangkit dengan menatap tajam manik Lena.

"Kecuali orang yang membuat pintu itu."

"Siapa dia?" tanya Awes penasaran.

Lena menegakkan tubuh. Lalu, menatap tiga laki-laki di hadapannya secara bergantian. "Profesor Ben," jawabnya.

Awes langsung termangu saat mendengar nama tersebut. Sebuah nama yang pernah didengarnya melalui TV. "Profesor Benjamin Halim? Bukannya beliau yang menemukan pulau ini pertama kali?"

Lena mengangguk. "Hanya dia yang bisa membuka pintu digital itu," beritahunya.

Seperti telah menemukan angin segar, wajah Ardi yang tegang berubah tersenyum kecil. "Terus, sekarang profesor Ben ada di mana? Kita harus ke rumahnya dan meminta bantuannya buat membuka pintu itu," tanyanya, yang begitu antusias untuk mengetahui keberadaan profesor Ben.

"Saya tidak tahu keberadaan profesor Ben di mana setelah dua puluh tahun yang lalu dia menghilang secara misterius," terang Lena. Membuat Ardi dan Teddi terpaku di tempat kala mendengar jawaban darinya.

"Ma-maksud, Bu Lena?"

"Saya tidak tahu pasti, saat ini profesor Ben masih hidup ...."

ATAU SUDAH MATI

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top