24 - Virus
MAGDALENA membekap mulut dengan sebelah tangan. Menggeleng lemah dan langsung mematikan handycam milik Ben, saat melihat video rekaman atas kejadian tewasnya Doktor Ilham yang begitu tragis. Dadanya teramat sesak hingga isakan mulai terdengar seiring air mata lolos membasahi pipi.
Tidak hanya wanita itu, beberapa peneliti lokal, peneliti asal Jepang dan juga ilmuwan pun sama terkejutnya. Mereka semua terpukul atas insiden tersebut. Bahkan, mereka tidak pernah menyangka jika rekan kerjanya akan tewas secara mengenaskan seperti itu. Ditambah lagi, mereka cukup terkejut saat mengetahui jika sang pembunuh adalah monyet-monyet misterius yang tinggal di hutan Dream Island.
"Kita harus melakukan penelitian terhadap makhluk itu," usul Ben parau. Pria itu masih terbaring lemah di atas ranjang. Bahkan, saat ini tubuhnya mengalami demam tinggi.
Malam itu, Ben berhasil kembali ke laboratorium dengan selamat. Dia ditemukan tidak sadarkan diri dengan sekujur tubuh penuh luka di ruang utama laboratorium. Lena, wanita itu dengan telaten merawat lukanya, walau tidak kunjung membaik. Butuh waktu dua hari untuk Ben bisa sadarkan diri. Meski kepala dan tubuh Ben terasa remuk redam, tetapi dia harus memaksakan diri untuk memulai penelitiannya.
"Tidak bisa, Prof. Anda masih butuh banyak istirahat," sanggah Lena cepat yang diiringi oleh isakan. Dia pun menghapus cairan bening di wajah sembapnya dengan dua telapak tangan.
"Benar, Prof. Lebih baik Anda beristirahat, supaya tubuh Anda lekas pulih," sahut salah seorang peneliti.
Ben menggeleng lemah. "Aku tidak apa-apa. Aku akan fokus meneliti hewan itu. Sementara kalian bisa melanjutkan observasi pada primata di sini."
"Tapi, Prof—"
"Makhluk itu sangat berbahaya. Aku tidak ingin ada korban lain. Oleh karena itu, perintahkan seluruh tim konstruksi supaya menutup akses jalan ke penginapan. Secepatnya!" tegas Ben.
Ben merintih. Memejamkan mata sembari kedua tangan memegangi kepala yang terasa begitu sakit layaknya tengah dipukuli dengan menggunakan besi. "Dan satu lagi." Kelopak matanya terbuka. Dia menatap rekan kerja yang berdiri di samping dan di hadapannya. "Pulangkan seluruh pekerja yang bekerja untuk laboratorium ini. Sisakan tim peneliti dan ilmuwan saja," lanjutnya lagi. Membuat semua yang berada di ruang perawatan ini saling melempar pandang.
"Prof, kalau tim konstruksi menutup akses jalan hutan, lalu bagaimana cara kami untuk keluar dari hutan ini?" Kali ini, salah seorang peneliti lokal mengutarakan pertanyaannya.
"Aku akan minta pengembang menyediakan helikopter untuk kalian keluar dari pulau. Dan aku juga akan membuat pintu khusus untuk para peneliti keluar masuk hutan ke penginapan," jawab Ben.
"Jika makhluk itu berbahaya, bagaimana dengan wisatawan? Apa tidak sebaiknya pulau ini dikosongkan saja?" Usul itu datang dari seorang ilmuwan asal Jepang.
Mendengar itu, Shinohara berdeham. Sedari tadi, pria itu memilih untuk bungkam, tetapi menyangkut masalah wisatawan yang merupakan ladang cuan, mau tak mau dia harus angkat suara. "Saya rasa, penginapan akan aman jika tim konstruksi menutup akses jalan ke hutan ini. Jadi, tidak perlu mengosongkan penginapan. Kita harus merahasiakan masalah ini dari para wisatawan," anjurnya.
"Saya setuju." Lena menimpali. "Lagi pula, penginapan adalah satu-satunya peninggalan Doktor Ilham. Keinginan terbesar beliau semasa hidupnya adalah mengembangkan pulau ini."
Ben menggeleng. "Tidak bisa, Lena." Dia merasa keberatan dengan usul dua manusia itu. "Penginapan juga harus dikosongkan!" tegasnya.
Shinohara mendesah pelan. "Ben, saya sudah menghabiskan banyak uang untuk pulau ini dan riset kalian. Begitu pula dengan investor lainnya. Bagaimana kamu bisa mengembalikan uang-uang mereka jika menutup pulau ini? Lagi pula, kita belum tahu apa makhluk itu benar-benar berbahaya. Bukankah kita hanya menemukan satu kasus saja? Yang terpenting kita harus merahasiakannya. Lebih baik, kalian meneliti lebih dulu monyet itu, sebelum mengosongkan tempat ini. Mengerti?" protesnya. Dia mengembuskan napas berat sebelum berlalu meninggalkan ruangan.
Ben bungkam. Cukup lama. Netranya menerawang kosong ke arah depan. Sementara dadanya berdenyut pilu mendengar penuturan dari Shinohara. Baru satu kasus katanya? Astaga, itu berarti Shinohara tidak peduli sama sekali atas kejadian yang menimpa Ilham. Apa harus ada banyak kasus dulu supaya Shinohara mau menutup pulau ini?
Kendati begitu, Ben tidak memiliki pilihan lain, selain mengikuti rencana Shinohara. Sebab, dia tidak munafik. Dia masih membutuhkan banyak dana untuk penelitiannya terhadap monyet itu. Oleh karenanya, dia sangat berharap supaya tidak ada korban jiwa lagi yang dilakukan makhluk mengerikan itu.
Satu minggu sudah Ben dan tim melakukan penelitian yang terfokus pada monyet ekor panjang. Ben berasumsi jika hewan tersebut hanya muncul pada malam hari saja. Sementara pada pagi hari, seakan lenyap, mereka tidak ditemukan di hutan.
Sayangnya, selama satu minggu pula tubuh Ben tidak kunjung membaik dan kian parah. Kulit sawo matangnya dipenuhi oleh bintik bulat sebesar biji jagung yang di dalamnya berisi cairan berwarna kuning dan terasa begitu perih serta gatal. Sementara luka bekas gigitan pada bagian wajah kanan, tampak membengkak dengan kulit yang terkelupas hingga memperlihatkan daging segar di dalamnya.
Meski kondisi Ben memburuk, dia mencoba tetap bertahan dengan terus melakukan penelitian. Ben dan tim membuat perangkap dan berhasil mendapatkan satu makhluk aneh itu untuk diteliti.
"Prof!" panggil salah seorang ilmuwan lokal. Berlari dengan menggunakan masker dan sarung tangan, menghampiri Ben yang tengah fokus pada mikroskop di atas meja.
"Hasilnya sudah keluar," katanya dengan menyodorkan sebuah berkas kepada sang Profesor.
Ben menerima berkas itu dan membacanya dengan seksama. Hingga tidak lama setelahnya, Ben terperangah dengan hasil penelitiannya terhadap monyet itu. "Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibodi virus rabies terdeteksi pada sampel serum monyet itu." Ben membacanya berulang-ulang.
Kemudian, tatapan Ben beralih ke arah rekan kerjanya. "Lalu, apa sudah ada hasil, kenapa pupil mata mereka berwarna putih?"
Sang ilmuwan mengangguk. "Kami menduga jika mata mereka seperti itu karena adanya perubahan mutasi genetik," jawabnya.
"Mutasi genetik?"
"Iya, Prof. Hal itu yang membuat mereka sensitif terhadap cahaya dan mampu melihat sensor panas pada tubuh makhluk hidup pada malam hari."
"Profesor!" Kali ini, Lena memanggil. Dia datang dengan tergesa-gesa, menghampiri atasannya.
Ben merintih, merasakan sekujur tubuhnya terasa begitu perih seperti terbakar. Ditambah lagi, dua kakinya sudah tidak kuat untuk terlalu lama berdiri. Dia pun memilih untuk duduk di kursi untuk mendengarkan Lena yang akan mengatakan sesuatu kepadanya. "Apa yang ingin kamu sampaikan? Kenapa kamu terlihat panik seperti itu?" tanyanya.
Lena mengatur irama napasnya yang tersengal setelah sampai di samping Ben. "Ka-kami." Napasnya masih megap-megap sembari tangan kanannya mengurut dada. "Kami menemukan banyak kerangka yang diduga adalah para pekerja konstruksi di hutan," beritahunya kemudian.
"APA?" Sontak saja membuat Ben dan sang ilmuwan yang masih berada di tempatnya, terperangah.
"Bagaimana dengan kondisi tubuh mereka?" Ben was-was sendiri.
"Mereka ditemukan dengan tubuh yang sudah tulang belulang. Diperkirakan waktu kematian mereka sudah lebih dari dua tahun," beber Lena. Sementara Ben hanya bisa ternganga setelah mendengar kabar buruk itu.
"Dua tahun yang lalu? Itu berarti mereka tewas saat melakukan rekonstruksi Dream Island?" Sang ilmuwan berasumsi, yang dianggukkan oleh Lena.
"Apa monyet-monyet itu yang menyerang mereka?" tanya Ben kian cemas. Yang lagi-lagi hanya dianggukkan oleh Lena.
Ben menggeleng, tidak habis pikir. "Tapi, kenapa tidak ada yang melapor atas kasus hilangnya mereka?"
Kali ini, Lena menggeleng. "Saya rasa ...." Dia menggantungkan ucapannya. Ragu untuk berbicara. Hingga kemudian, dia mengeluarkan praduganya, "Ada seseorang yang menutupi kasus hilangnya mereka."
Ben menggeram. Masuk akal, pikirnya. Namun, siapa orang yang telah berani merahasiakan hal itu? Mungkinkah Shinohara? Atau justru malah ... Doktor Ilham?
••••
Always dan teman-temannya masih fokus menonton video rekaman pada handycam milik profesor Ben. Wajah mereka berubah menjadi tegang kala rekaman tersebut menampilkan suasana laboratorium yang mencekam. Di mana seluruh listrik laboratorium mendadak padam, yang mengakibatkan semua peneliti dan juga ilmuwan diserang oleh sekawanan monyet buas itu. Mereka dicakar, dicabik, dan digigit. Bahkan, suara jeritan, isakan, serta rintihan juga berbaur menjadi satu yang terdengar begitu menyedihkan.
Awes menutup layar LCD setelah melihat video rekaman tersebut yang berakhir mengenaskan. Mereka semua mengembuskan napas. Terlalu syok melihat kejadian yang begitu memilukan. Hingga berbagai macam spekulasi bermunculan di dalam kepala. Akankah mereka semua akan berakhir secara tragis seperti para ilmuwan itu?
"Cuma Bu Lena dan profesor Ben yang berhasil selamat dalam insiden itu." Awes mulai membuka percakapan.
Oriza mengangguk dan ikut menimpali, "Mereka berhasil keluar dari hutan melalui pintu besi itu dengan kondisi yang memprihatinkan."
"Yang jadi pertanyaan saya teh, kenapa profesor Ben tiba-tiba menghilang? Di video itu jelas-jelas dia berhasil selamat. Seharusnya dia masih hidup, kan? Kalian teh ingat, Ar, Wes." Teddi menunjuk dua temannya itu. "Waktu kita ke rumah Bu Lena, dia bilang kalau nggak tahu keberadaan profesor Ben di mana. Bu Lena juga nggak tahu kalo profesor Ben masih hidup atau udah mati." Awes dan Ardi mengangguk. Ingat dengan ucapan Lena pada waktu itu.
Teddi berdesis dan mulai berhipotesa, "Apa mungkin teh ... profesor Ben memang masih hidup dan bersembunyi di suatu tempat?"
"Aku yakin profesor Ben sudah tewas," sembur Loila tiba-tiba yang baru hadir di tengah-tengah para siswa.
Awes terheran. "Bagaimana Kak Loila bisa seyakin itu kalau profesor Ben udah tewas?"
"Dengan kondisi tubuh yang lemah dan luka yang separah itu, profesor Ben nggak mungkin bisa bertahan hidup," jawab Loila yang ikut duduk di samping Raja. Laki-laki itu sedari tadi hanya bergeming seakan tidak peduli dengan keberadaan sang profesor.
Namun, berbeda halnya dengan Happy. Mendengar hal itu, justru membuatnya teringat sesuatu. Rindu dan pak Gayandra, bukankah keduanya juga memiliki luka yang sama seperti profesor Ben?
Itu artinya ....
RINDU DAN PAK GAY JUGA NGGAK AKAN BISA BERTAHAN HIDUP?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top