Chapter 49 : Api
Author's PoV
Mocca langsung berlari keluar dari aula istana tanpa menunggu jawaban dari Hallow dan penjagaan satu pun pengawal. Lantas semua yang ada di dalam dilanda rasa panik. Hallow memerintah kepada beberapa prajuritnya untuk tetap menjaga aula istana tetap aman. Sedangkan Ai dan Lof tanpa diperintah segera keluar mengejar Mocca.
"Ratu mau ke mana? Yang Mulia tidak boleh keluar jika tanpa penjagaan dari kami!" teriak Ai kepada Mocca yang berada di depan mereka. "Di luar sana sangat berbahaya!"
Bukannya menjawab dan berhenti berlari, Mocca malah menambah kecepatan larinya seraya menghunuskan pedangnya. Ia melihat ada beberapa pasukan vampir yang menghadang di depannya. Sampainya di depan musuh, ia menebas mereka semua dan ambruk menjadi debu.
Ai dan Lof sangat terkejut melihat serangan yang Mocca torehkan kepada beberapa pasukan vampir itu. Masing-masing pikiran mereka otomatis memutar otak berpikir tentang bagaimana bisa dengan hanya sekali tebas, dapat melenyapkan 3 musuh sekaligus? Mereka yang menebas dan menusuk berkali-kali saja tidak pernah berhasil mematikan satu pun musuh. Langkah lari mereka berhenti yang begitu juga dengan Mocca dikarenakan ada puluhan pasukan vampir menghalangi jalan Mocca.
Tak ada yang Mocca pikirkan lagi selain membunuh semua musuh-musuhnya. Melenyapkan semua yang telah memusnahkan sumber kebahagiaannya.
Membunuh dan membunuh. Luka dan luka. Darah dan debu. Semua teraduk menjadi satu menciptakan kegelapan yang tadinya terang-menderang menjadi harapan untuk kembali seperti sedia kala.
Ia tahu, semua makhluk yang hidup di dunia ini pasti akan menghadapi kematiannya.
Tapi, kenapa secepat itu? Kenapa Tuhan mengambil orang yang ia sayangi? Apa maksud dari cobaan pahit ini?
Dalam sekejap, ia telah kehilangan salah satu anggota keluarganya. Selanjutnya, apa ia akan kehilangan kedua orang tuanya yang tak kunjung ia lihat di matanya?
Mocca tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Meski jutaan dinding bersenjata menghalangi semua jalannya menuju ke orang yang ia sayangi, ia akan menerobos semua dinding itu dengan seluruh kekuatannya sendiri. Tidak akan ada yang dapat menghalangi jalannya.
Ia menebas musuh-musuh di hadapannya dengan gesit. Tidak ada satu gores pun luka yang didapatkannya. Sebagai seorang pemula, terlihat mustahil menguasai pedang secepat itu. Tapi, perkembangan yang tak diduga membuatnya meneruskan serangannya tanpa mau berhenti.
Ibu, Ayah, tetaplah hidup, batin Mocca.
"Mocca!"
Ah, Mocca tahu siapa orang yang memanggilnya. Orang itu baru saja telah menjadi suaminya. Ia berusaha tidak menghiraukan panggilan suaminya itu dan tetap melancarkan serangan.
Hallow berhenti berlari begitu melihat sosok Mocca yang sedang menebas ke arah musuh-musuhnya secara leluasa. Tak jauh di depannya ada Ai dan Lof yang terpaku melihat kehebatan Mocca.
Dan yang lebih mengejutkan, pedang milik Mocca dikuasai oleh api yang tidak tahu dari mana asalnya.
Hallow berdiri di tengah-tengah Ai dan Lof, membuat kedua pelayan dapur itu memberikan hormat kepadanya.
"Ampun Yang Mulia, Ratu Mocca sama sekali tidak menghiraukan kami. Ratu menyibukkan dirinya menyerang para vampir itu," lapor Ai kepada Hallow.
Hallow terus melihat Mocca sedang bertarung seraya berpikir bagaimana cara agar Mocca menghiraukannya. Ia maju ke arah Mocca dan ikut menyerang musuh dengan pedangnya.
"Mocca, kalau kau ingin keluar, aku dan para pengawal harus ikut denganmu untuk menjagamu," ucap Hallow sambil tetap menyerang.
Tidak sama dengan akibat Mocca menebas musuh. Pedang milik Hallow bernama pedang Biru. Ia menebas lima vampir sekaligus dan langsung lenyap menjadi kelopak bunga melati.
Ai seketika merinding dan memeluk dirinya sendiri ketika mencium aroma bunga melati. Ia tidak terlalu menyukai bunga melati karena menurutnya, aroma melati itu seperti bau kematian yang kejam.
Mocca tidak menanggapi satu pun kata-kata Hallow. Matanya hanya menatap suram kepada Hallow. Seketika Hallow dibuatnya bergidik sekilas. Tatapan dingin itu seolah baru saja menusuk matanya untuk tidak mengganggunya. Tapi, ia tidak akan membiarkan Mocca semena-mena dengan pedang api itu. Tunggu dulu. Api?
Seingat Hallow, pedang Merah tidak pernah menyimpan sihir api. Bahkan mendiang ibunya saja tidak memiliki sihir api. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki sihir berbahaya seperti itu. Ia tidak percaya apakah Mocca memiliki dua jenis sihir sekaligus? Sihir penyembuh dan api? Ia tidak pernah melihat seorang penyihir menguasai 2 sihir sekaligus.
Itu artinya, Mocca termasuk dalam bagian kelompok penyihir kelas atas.
Berarti, bayangan api yang kulihat di matanya waktu itu berasal dari dalam dirinya sendiri. Sihir yang hanya akan bangkit jika pemiliknya sedang marah? batin Hallow menerka.
"Mocca, tolong dengarkan aku. Jangan tatap aku saja. Bicara dan turuti apa yang aku katakan!" kata Hallow hampir putus asa dengan keras kepala Mocca yang tidak mau mendengarkan siapa pun.
Selagi Hallow mencoba membuat Mocca mau mendengarkannya dan menyerang tanpa henti, Mocca melihat satu celah yang bisa membuatnya keluar dari istana ini. Seperti kilat, Mocca bergerak cepat melewati celah tersebut, yaitu keluar dari jendela berdua daun pintu yang telah pecah. Ia pun berhasil keluar dan berlari menuju kota.
Hallow langsung emosi dan otomatis memaksimalkan sihirnya ke pedangnya lalu menebas dua puluh vampir sekaligus. Semua dimatikan dan berubah menjadi kelopak bunga melati. Ai menahan rasa mabuknya terhadap bau bunga melati yang semakin kuat. Lof menarik tangan Ai untuk menghampiri raja mereka yang terlihat sedang marah.
"Perintah Anda?" tanya Lof kepada Hallow seraya membungkuk. Ai juga ikut membungkuk tetapi sambil membungkam indra penciumannya.
"LINDUNGI RATUKU DARI JAUH! BERITAHUKAN PERINTAHKU INI KEPADA YANG LAIN! Aku akan mengejarnya," titah Hallow cepat dan segera melompat dari jendela tanpa menunggu keduanya menjawab dan melihat mereka membungkuk hormat.
Kepala Ai terasa melayang-layang di angkasa. Ia memegang kepalanya yang pusing dan berjalan terhuyung-huyung. Lof yang melihat kakaknya tidak sedang baik-baik saja, memegangi Ai dan menenggerkan tangan Ai ke bahunya.
"Wajah Kakak pucat. Apa ini karena bunga melati?" tanya Lof cemas.
"Aku hanya sedikit pusing. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehilangan orang yang dicintai," jawab Ai melawan rasa sakitnya dengan menahannya.
Lof terdiam seketika setelah mendengar jawaban kakaknya. Hebat, ia sudah sering sekali merasakan kehilangan seseorang yang disayangi. Yang paling memilukan, ia telah kehilangan Chino yang sebelumnya tidak menyangka bisa membuat dirinya lebih berwarna.
Tapi, Lof sadar. Warna yang ditorehkan terlalu banyak, sehingga warna-warna itu tercampur aduk dan berubah menjadi warna yang tidak diinginkan. Warna yang paling buruk yang pernah ia lihat.
"Kak," panggil Lof kepada Ai.
Ai menoleh dan tersenyum melihat Lof tidak menatap padanya.
"Ya? Kenapa wajahmu terlihat sedih seperti itu? Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Ai.
Lof mengangguk. Ai dibuatnya penasaran.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ai lagi.
"Seseorang," jawab Lof. Ia menatap langit malam berbintang dari jendela pecah di sampingnya. Matanya berkaca-kaca. "Seandainya saja dia dapat mewujudkan keinginannya sebelum menghilang, aku pasti tidak akan merasa bersalah seperti ini. Aku harap Ratu menghukumku."
Ai langsung terbayang sosok Chino saat masih hidup. Mungkin orang itulah yang sedang Lof pikirkan. Ia mengutuk dirinya sendiri begitu mengingat sesuatu yang seharusnya dari dulu ia beritahukan kepada Lof. Tapi, kepikunannya terhadap hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan membuatnya mengabaikan itu seperti halnya angin lalu masa bodoh. Ia harus memberitahukan ini kepada Lof sebelum ia lupa lagi dan lagi.
"Lof, kau harus tahu ini," Ai menatap serius kepada Lof, "sebenarnya, Chino pernah bercerita banyak hal tentang dirimu padaku. Semuanya berisi pujian yang aku yakin jika kau dengar sendiri akan membuatmu senang. Dan yang paling harus kau tahu adalah... dia menyukaimu."
Lof tersenyum manis.
"Aku tahu itu."
Ai membelalakkan mata terkejut melihat reaksi Lof yang terlihat biasa saja.
"Dari mana kau tahu? Dia pernah berkata padaku kalau dia tidak berani mengungkapkannya kepadamu."
"Dia melamarku."
Ai melongo mendengar jawaban Lof.
"Apa?!"
Lof tertawa dihiasi air mata yang mendadak menetes keluar membasahi kedua pipi. Ai menatap sedih begitu melihat Lof menangis sambil tertawa. Ia berharap Lof bisa mengobati rasa 'sakit' itu dengan waktu yang singkat. Ia memeluk adiknya itu membiarkan Lof menangis sepuas-puasnya di dalam pelukannya.
🎃
Pedang Merah masih digunakan untuk membuka jalan. Tanpa berpaling ke belakang, ia berlari maju menerobos para pasukan vampir yang mungkin jumlahnya lebih dari seribu. Terbukti dari korban yang Mocca bunuh dalam satu tebas yang dapat memakan 6 sampai 8 musuh.
"Delapan ratus sembilan puluh satu," ucap Mocca sesudah menebas satu musuh di depannya. Kemudian menusuk musuh ke belakang tanpa membalikkan badan. "Delapan ratus sembilan puluh dua."
Lokasi sekarang berada di tengah-tengah kota Mejiktorn. Kegesitannya dalam menghindar dan menebas juga matanya yang jeli melihat sekitar membuatnya terlihat tidak dapat tertandingi. Sambil melawan dan menghitung korban pembunuhannya, ia mencari sebuah rumah yang dulu pernah ia tinggali. Rumah keluarga Lixadian. Tempat tinggalnya.
Sebuah rumah beratap kerucut yang tidak asing lagi membuat Mocca tak mengacuhkan musuhnya dan berlari menuju rumah tersebut. Ia mendobrak pintu rumahnya dan melihat isi rumahnya sedang terbakar. Asap mengepul mengakibatkan pernapasan sulit dijangkau. Ia menutup hidung sambil mencari keberadaan kedua orang tuanya. Mulai dari ruang tamu, dapur, kamar kedua orang tuanya, dan yang terakhir adalah kamarnya. Tidak ada tanda kedua orang tuanya di rumah ini. Saat ingin keluar dari rumah, ia telah terkepung oleh api yang bergejolak di sekelilingnya. Tidak ada celah untuk keluar dari api tersebut.
Tapi, Mocca berusaha untuk tenang. Dalam keadaan ancaman apa pun, ia harus tenang. Kini ia sadar, sihir barunya sama persis dengan sihir milik adiknya, yaitu api. Dan mungkin saja, ia dapat mengendalikan api di sekitarnya. Ia pun mulai berkonsentrasi. Tujuan utama adalah memadamkan api di sekitarnya. Tangannya ia ulurkan ke samping seraya memikirkan apa yang ada dalam bayangnya.
"Padam."
Hanya satu kata, semua api di sekitar Mocca langsung padam, seolah perintahnya sama mutlaknya dengan perintah dari raja. Ia mendudukkan dirinya di kasur lamanya yang tipis dan menyentuh lembut kasurnya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan kamar lamanya. Di meja belajarnya, terdapat buku pelajaran sekolah yang masih tersusun apik. Di situ juga terdapat sebuah bingkai foto keluarga Lixadian.
Mocca berdiri dan menghampiri mejanya. Menyentuh dan memegang bingkai foto yang sedikit terkena hangus oleh api tadi. Di foto itu, ada dia, Chino, Ibu dan Ayah. Ia mengusap gambar Chino dan orang tuanya. Dua tetes air mata mendarat mulus ke bingkai foto tersebut. Tangisannya yang kecil perlahan-lahan mengeras dan semakin keras. Ia terduduk lemas di lantai sambil memeluk erat bingkai fotonya.
Tidak lama kemudian, Mocca merasakan akan ada seseorang yang menyerangnya dari belakang. Masa bodoh untuknya. Ia tidak takut dengan kematian. Biarkan kematian menjadi saksi terakhirnya untuk bertemu dengan keluarganya di surga. Keputusasaannya membuat dirinya lupa kalau ia masih memiliki orang yang ia cintai.
TING!!
Suara dua pedang yang beradu terdengar jelas di belakang Mocca. Siapa yang menyerang dan siapa yang menyelamatkan, ia menoleh melihat kedua orang yang telah mengikutinya dengan tujuan yang berbeda.
Seorang lelaki bermahkota kerajaan dan seorang lelaki berambut pirang tepat berada di depannya. Lelaki bermahkota itu adalah Hallow. Ia menangkis pedang milik seorang kesatria vampir bernama Aram, membuat pedang milik Aram terlempar ke luar dari jendela. Hallow menusuk Aram tepat di jantungnya.
Aram langsung mengalami pendarahan hebat. Tapi, ia masih tertawa-tawa meski ajal sudah berada di depan mata. Tingkah laku vampir itu membuat Hallow geram dan semakin menusuk Aram lebih dalam sampai setengah pedangnya keluar dari belakang punggung Aram. Serangan terakhir itu membuat Aram tidak dapat berkata maupun tertawa. Nyawanya sudah berhasil tercabut.
Hallow menarik kembali pedangnya dengan kasar dan mengibaskan pedangnya itu ke bawah agar tidak dilumuri oleh darah kotor vampir tersebut. Ia memasukan pedangnya ke dalam sarung pedang. Aram pun telah berubah menjadi kelopak bunga melati begitu pedangnya dicabut. Selesai membereskan hama, ia menghampiri Mocca yang terduduk dan menyentuh wajahnya.
"Mocca, tidak ada orang yang melarangmu untuk marah. Tapi, setidaknya dengarkan aku. Jika kau terus-terusan begini, kau bisa--"
"Mati?" potong Mocca dengan datar menepis tangan Hallow dari wajahnya. Ia berdiri dan melangkah mundur menjauhi Hallow. "Kau pikir aku peduli? Semua keluargaku pergi begitu saja. Dan KAU SAMA SEKALI TIDAK PEDULI ITU!"
Api mendadak tercipta di sekeliling mereka. Api-api itu seolah-olah menjadi pendukung setia Mocca sampai mati. Dengan kata lain, api-api itu berasal dari sihirnya sendiri.
Hallow menatap perih.
"Aku mengerti perasaanmu. Rasanya pasti sangat sakit." Hallow menyentuh dadanya, seakan sedang mengingat lukanya yang dulu sama kasusnya dengan Mocca. "Keluarga adalah salah satu sumber kebahagiaan yang terbesar. Tidak ada yang dapat menggantikan kehangatan dari mereka. Kasih sayang yang mereka berikan membuat kita dapat hidup sampai sekarang. Tapi, kematian telah menjadi penghalang dari kebahagiaan itu. Orang tuaku meninggal karena ulah Nenek Sihir. Penyihir terkutuk yang sangat ingin kubunuh meski sihir akan berakhir jika aku membunuhnya. Hidupku penuh kehampaan dan suram selama 2 tahun lebih sejak hari kematian kedua orang tuaku. Tapi, hidupku yang awalnya hitam dan kelam, mendadak berubah dengan harapan baru dan kejutan yang tidak pernah kubayangkan. Warna-warna kembali menghias hariku sejak kau masuk di dalam hidupku. Kau adalah sumber kebahagiaanku juga selain kedua orang tuaku. Dan aku tidak akan pernah menyesali perasaanku sendiri."
Mocca yang mengerti semua perkataan Hallow sedikit meredakan api di sekitarnya. Air mata menetes kembali. Ia sadar, selain keluarga ia memiliki orang yang juga menjadi sumber kebahagiaannya. Kalau ia mati, otomatis ia akan meninggalkan Hallow dan orang-orang lain yang mengenal baik dirinya.
Hallow melangkah mendekati Mocca dengan perlahan. "Kau salah. Kau menganggap aku tidak peduli dengan orang lain. Masalah hidup dan mati, tentu saja bukan aku yang mengurusnya. Jika aku dapat mengendalikan semua umur orang, aku pasti akan memanjangkan umur orang tua dan adikmu termasuk orang tuaku juga. Tapi itu tidak akan mungkin, karena Tuhan itu Adil."
Mocca merenggut rambutnya sendiri yang hampir akan membuat mahkota ratunya terlepas. Hallow yang melihat Mocca menyakiti dirinya sendiri, menahan tangan Mocca dan langsung memeluknya.
"Mocca, kau tahu aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Api di sekitar mereka perlahan-lahan melenyap. Hallow masih bisa merasakan napas gusar Mocca yang menandakan kemarahan atas sihir apinya yang keluar. Hallow mengelus punggung Mocca untuk membantu Mocca merasa tenang. Dan api pun padam sepenuhnya.
"Hallow."
Suara lirih dari Mocca membuatnya melonggarkan rengkuhannya dan melihat wajah Mocca. Ia menopang wajah Mocca dengan tangannya. Menyentuh wajah Mocca telah menjadi keseringannya yang sangat ia suka.
"Sudah delapan ratus sembilan puluh dua aku menghabisi mereka. Bagaimana menurutmu?"
Hallow seketika melongo dan itu membuat Mocca ingin menyebutnya bego di saat itu juga. Mendadak, Hallow tertawa terbahak-bahak. Mocca berpikir keras apa yang lucu dari kata-katanya?
"Hahaha! Tunggu. Kau benar-benar menghitung musuh yang berhasil kau lenyapkan? Astaga, Mocca! AHAHAHAHAHA!!"
Mocca langsung menekukkan wajah.
"Kau berpikir aku bohong, ya? Oke, kalau begitu KITA BERTANDING. Siapa yang mencetak angka SERIBU, ialah yang menang!" tantang Mocca.
Hallow tersenyum angkuh.
"Oke! Aku terima tantanganmu. Tapi, kalau menang akan mendapatkan apa? Dan yang kalah?" tanya Hallow.
Giliran Mocca yang tersenyum angkuh.
"Yang menang akan dikabulkan satu permintaannya oleh yang kalah. Yang kalah akan mendapat hukuman dari orang yang menang! Setuju?"
🎃TO BE CONTINUE ...

Pedang Biru milik Raja Mixolydian
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top