Chapter 47 : Merah

Author's PoV

Keenam pelayan itu berdiri dari
lututan mereka. Masing-masing tangan kanan mengepal dan mengarahkannya pada dada kiri mereka. Gerakan itu menjadi jawaban mereka sebagai bawahan selain melalui mulut.

"Baik, Yang Mulia!!" jawab mereka berenam serempak dan mereka pun bergerak untuk melaksanakan perintah dari raja.

Beethov, Greethov, Hella dan Colla keluar dari kamar. Sementara Reo dan Ai sudah siap dengan senjata mereka masing-masing. Bagi Ai, garpu dan pisau sudah menjadi senjata terbaiknya. Sedangkan Reo menggunakan pedang.

PRANG!!

Tiba-tiba saja, terdengar suara pecah kaca yang nyaring, membuat keempatnya terkejut dan menoleh ke arah jendela. Reo dan Ai langsung siaga berdiri di depan Mocca dan Hallow.

Empat pasukan vampir berjubah hitam dan berpakaian prajurit besi berwarna hitam masuk ke dalam kamar melalui jendela. Mata mereka merah menyala, menandakan kalau mereka adalah vampir dan bukan penyihir ataupun manusia. Mereka ditugaskan melenyapkan Raja dan Ratu Mixolydian oleh pemimpin mereka. Tentu saja Reo dan Ai tidak akan membiarkan itu terjadi.

Reo menghunuskan pedangnya dan menyerang mereka. Sedangkan Ai menjaga Mocca. Hallow juga ikut menghunuskan pedangnya dan ikut menyerang.

Saat Reo dan Hallow menyerang, ada yang tidak beres dari keempat vampir itu. Padahal sudah ditebas bahkan ditusuk. Tapi, kenapa keempat vampir itu tetap bisa bangkit dan menyerang?

"Mereka tidak bisa mati!" kata Reo seraya tetap bersikeras melenyapkan mereka, namun hasilnya tetap sama saja.

Hallow mendecih. Istana berhasil dimasuki oleh musuh. Bahkan musuhnya tidak bisa mati. Ia memutuskan mengeluarkan sihirnya dan membuat penghalang untuk memisahkan keempat vampir itu dari mereka.

"Plitrada!"

Sebuah dinding penghalang tercipta memisahkan dari keempat vampir itu. Namun, ia terkejut melihat mereka berusaha menghancurkan dinding transparan biru itu dengan menabrakkan diri ke penghalang dari sihir Hallow itu. Retakan pada dinding itu telah menyadarkan Hallow kalau ia harus menyuruh kedua penjaganya dan Mocca untuk segera keluar dari kamar ini.

"LARI!"

Hallow menggenggam tangan Mocca dan menariknya untuk berlari bersamanya. Reo dan Ai juga ikut berlari sesuai apa yang diperintahkan Hallow.

"Sepertinya mereka pasukan vampir yang sudah mati dan dihidupkan kembali," kata Ai sambil tetap berlari. "Benar-benar mengerikan!"

"Mereka lebih kuat dibandingkan saat mereka masih hidup," kata Reo menambahkan. "Sekarang, bagaimana cara mematikan mereka lagi? Mereka sedang mengejar kita!"

Mendengar Reo mengatakan itu, Hallow melirik sebentar ke belakang. Benar yang dikatakan Reo, keempat vampir itu mengejar. Bahkan jumlah mereka bertambah banyak. Melihat itu, Hallow mempercepat langkah larinya.

"Aku dan Mocca ingin ke ruang pakaian! Kalian berdua tetap serang mereka sambil temukan kelemahan mereka! Jika aku dan Mocca sudah masuk, jangan sampai mereka masuk ke dalam ruangan!" titah Hallow.

"Laksanakan, Yang Mulia!" jawab Reo dan Ai bersamaan.

Mereka berdua berhenti berlari dan menyerang pasukan vampir itu untuk memberikan peluang kepada Mocca dan Hallow agar tetap berlari tanpa ada yang menghalangi. Sampailah mereka di ruang pakaian, di mana Colla sedang membuatkan baju pernikahan.

Di dalam juga ada Hella memasang tampang gelisah. Melihat Mocca dan Hallow masuk, ia menarik napas lega dan menghampiri mereka dengan memberi hormat.

"Ah! Ya ampun! Syukurlah Anda baik-baik saja!" kata Hella langsung
memeluk Mocca dengan erat. "Terima kasih, Tuhan!"

Mocca membalas pelukan Hella tak kalah eratnya. Air mata nyaris menetes.

"Hella, aku takut."

Hallow mengutuk Mona Ferlendian di dalam hati. Rahangnya mengeras oleh emosi berkat Ratu Mona telah sukses membuat Mocca ketakutan. Kedua tangannya mengepal kuat. Ia melangkah ke arah Colla yang tengah membuat baju pernikahannya dengan Mocca. Di meja kerja Colla dipenuhi dengan kain-kain indah berwarna putih, kancing dari berlian, jarum-jarum benang, dan mesin jahit. Tidak lupa sketsa baju yang digambar Colla tertancap di dinding.

"Lebih cepat lagi!" perintah Hallow kepada Colla yang tengah menjahit.

"Baik, Yang Mulia! Sedikit lagi!" ucap Colla mempercepat pekerjaannya.

Sihir Colla menyebar mempengaruhi semua benda-benda yang ia gunakan. Mesin jahit bekerja sendiri melalui sihirnya. Kancing-kancing baju, kain-kain, dan benang putih melayang di sekitarnya. Bergerak dan bekerja membentuk dua pasang baju yang indah.

Mocca dan Hella melepas pelukan. Hella berusaha membuat Mocca agar tetap tenang. Mocca berhasil tenang meskipun masih ada rasa cemas pada dirinya. Ia beralih melihat Hallow berdiri di dekat Colla yang sedang bekerja. Ekspresi tegas dan mata biru langit Hallow memberikan ketenangan tersendiri untuk Mocca.

"Anda ingin menghampiri Raja Hallow?" tanya Hella menyadari Mocca sedari tadi memandangi Hallow yang sedang memerintah.

Mocca mengangguk kepada Hella. Hella tersenyum dan membiarkan Mocca melangkah ke arah Hallow.

Hallow menyadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Ia berhenti melihat Colla sedang mengerjakan perintah darinya. Ia menoleh ke kanan dan melihat Mocca berjalan ke arahnya dengan air mata yang berlinang. Rasa sedih tumbuh perih melihat Mocca menangis. Sampainya Mocca di depannya, ia langsung memeluk Mocca.

"Hallow."

"Jangan takut. Tidak apa-apa. Kau aman bersamaku."

"Tapi, aku sangat khawatir dengan keadaan orang tuaku. Aku takut mereka kenapa-kenapa."

Rasanya, Hallow juga ingin menangis. Sebenarnya, ia ingin melindungi semua penyihir yang ada dari ancaman Ratu Mona Ferlendian yang gila dan kejam. Termasuk orang-orang yang Mocca sayangi. Ia ingin tahu bagaimana nasib semua yang ada si kota. Tapi, ia bukanlah Tuhan. Sihir pun tidak bisa membantu masalahnya. Yang hanya bisa ia lakukan adalah membuat Mocca tetap kuat menghadapi cobaan yang diberikan Tuhan. Dan melenyapkan Ratu Mona dari dunia ini.

Mulutnya tak dapat berkata apa-apa lagi. Tangannya sibuk memeluk Mocca seraya mengelus rambutnya hingga ke punggung. Bagaimana lagi cara menghilangkan kesedihan Mocca? Dirinya benar-benar merasa tidak berguna!

Colla sudah selesai mengerjakan tugasnya. Sepasang baju pengantin telah jadi dalam waktu yang singkat. Ia membawa kedua baju itu ke hadapan Mocca dan Hallow dengan sihirnya. Kedua baju itu melayang di sisinya.

"Yang Mulia, bajunya sudah selesai."

🎃

Suara tebasan dan tusukan pedang yang khas tercipta dengan tegang di luar istana. Di depan gerbang istana kerajaan Mixolydian, di mana Chino dan Lof berusaha dengan seluruh kekuatan mereka melawan pasukan vampir yang menyerang mereka untuk masuk menerobos gerbang.

"Apa benar mereka ini pasukan vampir? Bukan pasukan zombi?" Lof menggerutu sambil tetap menyerang pasukan vampir di depannya.

"Sepertinya mereka memang mempunyai gigi yang tajam," imbuh Chino. Ia mengarahkan pedangnya kepada musuh kebal di depannya.

Lof menendang tiga vampir sekaligus sampai ketiganya terjatuh karena saking kesalnya.

"Sial! Makhluk macam apa mereka? Mereka tidak bisa dibunuh! Aku takut jika istana sudah diterobos oleh vampir kebal yang lain," gerutu Lof lagi.

"Masih ada yang lain. Kakak dan Yang Mulia Raja akan baik-baik saja termasuk yang lainnya juga," balas Chino berusaha mendinginkan pikiran Lof.

Rambut panjang coklat Lof yang diikat dua tidak sengaja terkibas ke wajah Chino pada saat Lof menolehkan kepalanya ke arah Chino. Rambut Lof semakin panjang dan tebal. Kalau dihentakkan di kulit seseorang, rasanya lumayan sakit.

"Kau tahu, sebentar lagi Nona akan menjadi Yang Mulia Ratu sesungguhnya. Jadi, sebaiknya mulai dari sekarang kau harus membiasakan dirimu untuk memanggilnya dengan sebutan RATU. Bukankah sudah aku ajarkan itu padamu?" ucap Lof menekan.

Chino tersenyum tipis. Rasa sakit di wajahnya ia tepis begitu mengingat sosok kakaknya yang cantik. Ia sadar dan mengakui, dulu ia sangat jahat dengan saudaranya sendiri. Ia bingung, kenapa ia mengikuti sikap Ayahnya dulu terhadap kakaknya? Lagi pula, apa masalahnya kalau seorang penyihir tidak memiliki kekuatan sihir? Penyesalan adalah rasa yang paling memuakkan yang pernah ia rasakan. Ia menyayangi kakaknya sepenuh hati dan jiwanya. Pada waktu itu, ia hanya dipaksa untuk menjahati kakaknya sendiri. Ya, dipaksa. Oleh siapa?

Dirinya sendiri.

"LOF!!!"

Lof tidak tahu ada seorang vampir di belakang yang akan membunuhnya. Ia terlalu fokus di depan dan tidak memikirkan bagian belakang. Satu vampir menyelinap ke belakang Lof dan ingin menusuknya dari belakang. Siapa musuh yang tidak mau peluang besar itu disia-siakan? Tapi, dengan mata tajam milik Chino, rencana itu gagal sepenuhnya.

Meski ia yang harus menggantikan posisi itu.

ZLEB!!

Lof membalikkan badan ke belakang. Suatu cairan merah segar terciprat pada baju pelayan yang ia pakai serta wajahnya. Mata bermanik hitam Lof terbuka lebih lebar melihat cairan merah itu berasal dari seseorang yang melindunginya. Orang itu sudah melindunginya dua kali. Ia merasa kesal kepada siapa saja yang melindunginya. Untuk apa ia dilindungi? Ia bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi, sudah terlambat. Orang itu telah menyelamatkannya dari kesakitan.

Mata Lof berkaca-kaca dan akhirnya jatuh membasahi kedua pipi. Teramat sedih ia rasakan. Ia tidak ingin melihat orang yang ia kenali mati di hadapannya. Sudah cukup. Kehilangan Ayah dan Ibu sudah lebih dari cukup.

"CHINO!!!"

Chino tertusuk pedang milik vampir itu yang nyaris saja menyerang Lof. Pedang itu hampir mengenai jantung. Tapi, pendarahan yang tinggi bisa membuat Chino kehilangan nyawa jika tidak diselamatkan secepatnya. Chino terjatuh dengan darah yang bersimbah di tangkapan kedua tangan Lof. Dengan seluruh energi sihirnya yang tersisa, Lof membuat perisai berbentuk setengah lingkaran untuk mereka berdua.

"Dasar gila!! Apa yang kau lakukan, hah???" teriak Lof di depan Chino yang terebah di pangkuannya. Air matanya mendarat tepat di luka Chino.

Chino tersenyum tipis. Darah segar keluar di sudut mulutnya. Lof semakin dibuatnya menangis melihat Chino penuh darah.

"Melindungimu," jawab Chino parau.

Lof menggeleng-geleng kuat. "Tidak. Seharusnya kau jangan melindungiku. Seharusnya aku yang terluka. Kenapa kau melindungiku? Kalau kau mati, aku bisa dimarahi oleh Yang Mulia Ratu. Chino! Kau dengar aku, kan? CHINO!"

Tangan kanan Chino mengangkat dan menyentuh sebelah wajah Lof yang basah oleh air mata. Penglihatan sudah mulai tidak jelas. Ia ingin mengatakan banyak hal sebelum ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

"Aku... sangat menyayangi Kakak. Selain Kakakku, aku juga..."

Napas Chino mendadak sesak. Lof mengetahui Chino mulai sulit bernapas. Ia menggenggam erat tangan Chino dan berdoa agar Chino tidak mati secepat ini.

"Aku mohon. Aku mohon. Chino." Lof berkali-kali berdoa agar diberikan waktu kehidupan lebih lama untuk Chino.

"Lof, kau tahu tidak... mengenai umurku... lebih muda darimu?" Napas Chino terengah-engah. Berusaha ia menarik napas baru.

Lof menggeleng.

Chino tersenyum.

"Umurku dan Kakakku... hanya terpaut 2 tahun."

"Apa? Itu artinya, umurmu 14 tahun?"

Chino mengiyakan dengan anggukan yang nyaris tak terlihat. Lof menatap sendu.

"Kau tumbuh terlalu cepat. Umurku saja 17 tahun, tapi tinggi badanku tidak melampauimu. Aneh," kata Lof. "Itu artinya, kau masih anak-anak."

Chino tertawa parau.

"Aku sudah... besar, tahu! Aku... bukan... anak-anak... lagi."

Lof juga ikut tertawa, tetapi masih menangis. Napas Chino kian memburuk. Apa yang harus Lof lakukan sekarang? Tidak ada yang bisa membuat Chino selamat. Pelindung sihir yang ia buat melemah karena selalu dihantam dengan puluhan senjata tajam pasukan vampir di luar. Sekuat mungkin Lof memperkuat perisainya.

"Tapi, kau tetap tidak bisa memasak nasi apalagi kue. Kau masih perlu banyak belajar sebagai pelayan istana. Jadi," Tangan Lof menggenggam erat tangan Chino. "jangan pergi."

Satu tetes air mata turun dari mata berwarna nila milik Chino.

"Terima kasih... Lof... atas semua pelajaran... yang... k-kau... berikan... p-pad-padaku. Kau... sudah... menjagaku. Aku senang bisa berguna untuk orang... yang sudah mengajarkan... banyak h-hal dan menjagaku. Masih banyak lagi... yang ingin kukatakan."

Dengan susah payah, Chino menarik napas baru untuk dirinya hembuskan. Sudah terasa sulit bernapas. Penglihatan sudah tidak terlalu jelas. Darah juga terus keluar dari mulutnya. Luka di dadanya benar-benar menyiksa dirinya. Tetapi, ia tidak mau melihat dirinya meringis oleh Lof.

Lof tidak bisa berkata apa pun lagi. Dirinya syok melihat orang sekarat di depannya. Apalagi orang itu adalah orang yang sudah lumayan lama ia kenal. Ia tidak bisa bersedih. Air mata masih jatuh dengan derasnya.

"Ak-ku... tidak s-s-sopan. Se-se-seharus-nya aku memang-manggil-m-mu Kak Lof."

Lof setia mendengarkan semua kata-kata yang susah payah Chino keluarkan. Biarkan Chino mengeluarkan semuanya sampai tak ada yang tersisa.

"Kak Lof, ap-apa... ak-aku b-boleh m-men-menya-menyayangimu... juga?"

Lof mengangguk perih.

"K-kalau... be-begitu, sua-suatu hari...  nan-nanti... aku bi-bisa menikahimu."

Lof langsung tertawa mendengar kata-kata itu terucap di mulut Chino.

"Itu artinya, kau harus tetap hidup, Chino. Hidup untuk mewujudkan kata-katamu itu."

Chino tersenyum dan memejamkan matanya.

"Tentu... saja."

Kata-kata terakhir. Hembusan terakhir. Sentuhan terakhir. Dan akhir yang menyedihkan untuk Lof. Chino benar-benar berakhir. Kehidupan Chino sudah sampai di situ saja. Tangan itu sudah tidak dapat lagi menopang wajah Lof. Tubuh Chino dingin dan hampa. Namun, senyuman Chino masih terulas sempurna. Lof melihat wajah Chino penuh kesedihan dan kedukaan. Setelah itu, matanya beralih memandang pasukan vampir di luar pelindung sihirnya.

Pelindung sihirnya pecah seketika. Pasukan vampir yang mengelilinginya langsung menyerang Lof tanpa aba-aba secara kompak. Dirinya terkepung begitu saja. Tapi, tiba-tiba saja Lof dapat mengatasi itu dengan sihirnya yang mendadak penuh kembali. Semua pasukan vampir yang mengurungnya terpental jauh akibat gelombang sihir yang dikeluarkan dari teriakannya. Rambut coklatnya berubah menjadi kuning keemasan. Sepasang sayap malaikat berwarna putih tumbuh di belakang punggungnya. Ia mengangkat tubuh tak bernyawa Chino dalam gendongannya dan terbang menjauhi permukaan.

Ia memandangi wajah Chino yang masih tersenyum tenang dengan mata terpejam yang tidak akan bisa terbuka lagi. Kekuatan sihir terdalamnya berhasil keluar menyelamatkan dirinya. Tapi, ia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan Chino. Ia mengecup dahi Chino lalu membawanya terbang menuju istana.

"Aku juga menyayangimu."

🎃TO BE CONTINUE ...

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top