Yuni

Jemari Alam menelusuri permukaan wajah Misis, sesekali mengelusnya pelan. "Pakai jimat apa kamu sampai bisa membuat Bintang berubah?"

Derai matanya perlahan meluruh, perasaannya semakin kalut tak karuan, matanya membola melihat Alam yang mengeluarkan pisau lipat. Misis memekik saat benda tajam itu berada di atas kulit pipinya.

"Jika kamu masih mau hidup, tutup mulutmu--" Belum selesai kalimatnya terlontar, Alam sudah ditarik paksa oleh Bintang.

Kedua matanya nyalang, Bintang tak lagi pilih lawan. Ia tak peduli bahwa orang yang berada di hadapannya saat ini, ialah papanya. Tangan kirinya menarik kerah baju yang dikenakan oleh Alam, sedangkan yang kanan sudah melayangkan bogem mentah berkali-kali ke wajah sang papa.

"Kamu salah pilih lawan, Nak!" ucap Alam dengan terbata, bibirnya sudah berdarah.

Melihat Bintang yang tenaganya terkuras, Alam memainkan perannya. Ia berusaha lepas dari cengkraman Bintang, dengan mudah ia mengangkat tubuh tinggi Buntang dan melemparkannya dengan mudah. Bintang jatuh tepat di depan Ceres dan Yuni yang menyaksikan semua adegan menakutkan itu.

Tungkainya lemas bagai tak bertulang, ia bingung mesti menyelamatkan Misis yang ketakutan di kasur atau Bintang yang tergeletak naas di atas lantai.

Di samping Ceres ada Yuni, wajahnya tak jauh berbeda dengan Ceres, bahkan Yuni telah meluruh di atas lantai.

Alam memasang senyum meremehkan menatap mereka yang takut kepadanya. "Lihat, dalam sekejap aku bisa merusak kebahagiaan kalian!"

Matanya kembali menatap Misis yang meringkuk ketakutan. Alam naik ke atas kasur. "Jangan takut Ceres. Saya tidak akan melukaimu," ujar Alam semakin membuat Misis ketakutan.

"Om salah sasaran. Dia Misis, saudari kembar saya. Yang Om cari itu saya," interupsi Ceres tak kuasa melihat Misis yang ketakutan.

Alam terkekeh kecil, ia baru menyadari kebodohannya. "Kamu benar-benar luar biasa Ceres," puji Alam.

Alam turun dari kasur, kakinya melangkah ke arah Ceres yang masih bergeming tepat di ambang pintu.

Sebelum sampai di sana, Yuni sudah menghadang jalan Alam. "Jangan sakiti anakku, Alam. Monster seperti kamu tidak pantas menyentuh anak-anakku barang sesenti pun!" Yuni menatap tajam mantannya. Kalau boleh jujur, saat ini ia ketakutan setengah mati, tetapi tak mungkin ia hanya diam seperti kejadian Bintang beberapa saat lalu.

Alam tertawa, ia tak habis pikir mengapa keluarganya bisa hancur hanya karena seorang Yuni di masa lampau.

"Kamu membuatku tertawa Yuni. Bintang saja tak mampu melindungi kalian, kamu yang seperti ini berniat mengancamku?" tanya Alam setelah tawanya meredam.

Alam menarik Yuni mendekat. "Kamu membuatku muak!" pekik Alam disusul oleh suara yang memekakkan gendang telinga.

Badan Yuni dihempaskan begitu mudah ke arah nakas di samping tempat tidur. Pening menjalar di kepala Yuni saat melihat darah yang keluar dari bagian bawah tubuhnya, sayup-sayup ia mendengar suara Ceres yang memanggil namanya dipadukan dengan suar sirene polisi yang semakin mendekat.

***

Papanya berada di samping Ceres, menenangkan anak bungsunya yang badannya masih bergetar hebat.

Ceres dan Bintang yang masih terjaga karena ucapan Alam mendengar suara pekikan Misis yang meminta tolong. Yuni yang baru saja pulang, langsung lari terburu-buru saat melihat Ceres dan Bintang berjalan cepat ke salah satu kamar.

Ceres sebenarnya menguping pembicaraan Bintang dan calon papa tirinya itu di dapur, tetapi ia pura-pura tak tahu. Sebelum Ceres menuju kamar Misis, ia menelepon papanya untuk meminta bantuan, mengatakan bahwa ada hal buruk yang terjadi di rumah Bintang, dan meminta tolong agar papanya membawa petugas kepolisian untuk menangkap pelaku peneroran.

Menjebloskan Alam ke penjara sangat susah bagi Agus, karena ternyata Alam dan Wijayanto selama ini bekerja sama.

"Bunda besok sudah boleh pulang kan?"

Agus mengangguk, luka yang didapatkan Yuni memang tak terlalu serius, tetapi naasnya janin yang berada di perut Yuni tak selamat, karena janinnya terlalu lemah.

Ia pengecut, tak berani menceritakan apa pun kepada Ceres dan Misis.

"Misis," panggil Ceres yang baru saja keluar dari kamar Yuni.

Ceres memeluk Misis erat, kejadian-kejadian mencekam terus memutar di otak Misis bagaikan kaset rusak. "Maafin gua ya," bisik Ceres membuat derai mata Misis meluruh.

Agus memapah Bintang, banyak bagian tubuhnya yang terbalut perban. Kakinya bahkan sedikit pincang karena dirinya dilempar.

"Bintang enggak papa?" tanya Misis saat melihat kehadiran Bintang.

"Enggak papa, kamu gimana?" tanya Bintang merasa bersalah.

"Udah lebih baik kok."

"Maaf ya."

"Kenapa lu yang minta maaf? Kakek gua sama Om Alam yang seharusnya minta maaf," geram Ceres.

Bintang tersenyum tipis, ia masih merasa tidak enak apalagi saat dirinya tahu bahwa calon bunda tirinya itu keguguran.

***

Agus menatap Yuni khawatir, dirinya baru saja menyampaikan kabar duka tentang janin yang dikandung Yuni.

Yuni tak mengucapkan sepatah kata pun, matanya memancar kesedihan yang mendalam, tetapi ia sama sekali tak meneteskan air mata barang sebulir pun.

"Ucapkan sesuatu Yun, jangan membuat saya khawatir," pinta Agus. Tangannya mengusap rambut Yuni pelan.

Agus dikejutkan oleh suara Ceres dan Misis yang baru saja masuk. Wajah mereka terlihat khawatir, sepertinya Bintang sudah menceritakan kondisi Yuni yang memprihatinkan.

Mereka berdua termangu menatap Yuni yang diam tak mengindahkan kehadiran Misis dan Ceres.

"Bunda," panggil Ceres mencoba mendekat.

Sebulir air mata Yuni meluruh, disusul dengan buliran lainnya. "Bisa tinggalkan Bunda sendirian?"

Yuni ingin mencoba menjadi orang tua yang baik, tetapi mengapa begitu sulit?

Saat dirinya sudah sendiri, ia menangis sekencang-kencangnya. Jika saja dirinya tak bermain api, mungkin bayinya masih berada bersamanya saat ini. Ia ingin marah, tetapi kepada siapa?

Prang!

Yuni memecahkan lampu tidur yang berada di atas nakas. Rasa kehilangan yang menggerogoti hatinya terasa menyesakkan. Ia tak ingin jika Wijayanto menyelakai Misis dan Ceres seperti Wijayanto menyelakai dirinya. Jika Yuni pergi apakah Wijayanto akan berhenti?

Sedikit lagi pecahan beling itu mengenai pergelangan tangannya. Yuni terus meyakinkan dirinya bahwa ini satu-satunya jalan agar Wijayanto tak membuat Misis dan Ceres dihantui oleh bayang-bayang Wijayanto.

Yuni terus menuntun tangan kanannya, menggarit dalam pergelangan tangan kirinya hingga mengenai pembuluh darah.

"Bunda!" Ceres dan Misis menghampiri Yuni dengan tergesa. Bibirnya tersenyum tipis, senyuman yang berkata bahwa dirinya akan baik-baik saja untuk yang terakhir kalinya.

"Maaf," ujar Yuni tanpa suara dan disusul linangan air mata yang memancarkan penyesalan.

Darahnya yang mengalir dari pergelangan tangannya semakin mengucur deras membasahi kasur. Sosok terakhir yang Yuni tangkap ialah Agus yang menatapnya dengan tatapan khawatir bercampur penyesalan.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top