Dangerous
Misis tak boleh terpuruk terlalu lama lagi, peringatan tempo hari sudah cukup membuat dirinya dan Ceres hampir mati ketakutan.
Tiga hari setelah kedatangan serta kepulangan orang tuanya, Ceres mendapatkan sebuah paket yang berisi foto kedekatan Misis dan Reno yang saling berpelukan saat aksi penembakan dihari pertama mereka jadian. Paket tanpa nama tersebut ia temukan di garasi dekat motor yang biasa dipakai oleh Misis.
Bukan sembarang foto yang dikirimkan untuk alamat rumahnya, tetapi foto tersebut dicetak lebih dari sepuluh kali dan di belakang foto tersebut bertuliskan 'mati' dengan tinta berwarna merah.
Ada dua foto yang tulisannya berbeda. Foto urutan keenam yang bertuliskan 'kecelakaan' dan foto ke dua puluh yang bertuliskan 'bunuh diri'.
Semenjak kejadian tersebut, Ceres dan Misis lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Menata pikiran dan perasaan agar tak mengganggu kegiatan mereka masing-masing.
Ceres disibukkan dengan latihan basket dan menjadi pendengar yang baik. Segala keluh kesah yang dihadapi Reno dan Misis membuat Ceres harus menjadi penengah. Masalah yang membuatnya gondok setengah hidup adalah Teru yang selalu mengajaknya menghabiskan waktu berdua membuat Ceres harus mencari seribu alasan untuk menolak acara kencan Teru.
"Res? Turnamen lu kapan?" Reno yang masih menggunakan pakaian futsal andalan sekolahnya menghampiri Ceres yang baru saja selesai latihan basket.
"Tiga hari lagi, kenapa?" Ceres yang melihat keberadaan Misis dari lantai dua sedikit menjaga jarak dengan Reno yang terlalu dekat dengannya.
"Besok berarti bisa ajak Misis nonton turnamen futsal gua dong?" Kedua alis Ceres bertaut, otaknya berpikir keras mencari cara agar Misis bisa ia ajak dengan mudah.
"Kayaknya bisa, tapi gua ngga bisa janji." Reno mengangguk paham mendengar jawaban Ceres.
Dirinya sadar, bahwa Misis juga punya kesibukkan yang lain. Seperti sekarang, Reno tahu Misis saat ini memperhatikan dirinya dan Ceres dari lantai dua. Walaupun aktifitasnya beberapa kali terganggu oleh temannya yang baru saja berpamitan dengannya setelah belajar bersama untuk mempersiapkan lomba sains yang akan datang. Ia tahu alasan Ceres beberapa kali mundur saat ia mendekatinya agar Misis tak salah paham.
"Gua mau nemuin Misis dulu, lu pulang bareng siapa?"
"Bareng gua," jawab Teru yang baru saja datang dan langsung memegang pergelangan tangan Ceres.
Ceres berusaha meloloskan pergelangannya dari genggaman Teru. "Sana temuin Misis, udah nungguin dari tadi, dia ada di lantai dua."
Reno mengangguk lalu meninggalkan pasangan yang selalu adu bacot dimanapun dan kapanpun.
Setelah kepergian Reno, Ceres menginjak kaki Teru karena genggaman Teru lama-lama menjadi cengkeraman.
"Sakit banget," keluh Ceres melihat pergelangan tangannya yang sedikit memerah karena bekas cengkeraman Teru.
Teru refleks memegang pergelangan yang memerah tersebut, wajahnya tampak khawatir melihat ulahnya yang tak ia sangka. "Diobatin dulu Res," ajak Teru yang dibalas dengan gelengan.
"Kita memang punya bekas luka masing-masing. Tapi, bukan berarti lu bisa seenaknya melampiaskan rasa trauma lu itu ke gua." Ucapan Ceres menjadi tamparan sekaligus luka yang semakin menganga bagi Teru.
Dirinya memang memiliki trauma karena tekanan dari keluarganya, sering disakiti hingga luka memar yang membekas pada badannya.
Dan ia tak percaya bahwa dirinya sendiri menyakiti Ceres seperti apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Melihat bekas cengkeramannya tadi membuat bayang-bayang kekerasan yang terjadi saat dirinya kecil kembali terpampang nyata. Dipukuli saat mengganggu arisan mamanya, dicambuk saat ia meminta perhatian dari papanya, dan dikucilkan oleh teman-temannya saat melihat dirinya yang datang ke sekolah dengan bekas luka yang berada di area tangan, kaki, dan kepala.
Teru menutup matanya erat, tangannya ia kepalkan kuat-kuat, menahan rasa trauma yang mendalam. Ceres yang masih berada di hadapan Teru merasa ada yang tak beres.
"Teru?" panggil Ceres saat melihat wajah pucat serta ketakutan yang terpampang jelas pada wajah Teru.
"Ter?" Ceres mencoba menyadarkan Teru.
Tangannya mengguncangkan kedua bahu Teru berkali-kali. Saat matanya telah terbuka, air matanya meluruh. Ceres memeluk Teru, menenangkan sahabatnya yang mungkin terguncang atas ucapannya.
"Itu dua bocah kenapa?" tanya Reno dari lantai dua. Perhatiannya teralihkan melihat kedua manusia yang statusnya tidak berubah.
Misis yang awalnya sedang serius berbicara tentang rencananya langsung mengikuti arah pandangan Reno yang ke bawah, melihat Ceres yang memeluk Teru sembari mengelus punggung laki-laki tersebut.
"Teru nangis?" Wajah Reno tampak kaget mendengar pertanyaan yang nampak seperti pernyataan.
"Itu lagi nenangin, keliatan banget kalau Ceres lagi nenangin orang pasti kayak gitu. Kalau ngga ngelus kepala, tangan, pasti punggung."
"Teru modusnya bisa banget," ejek Reno sedikit bercanda.
"Antara modus sama emang traumanya lagi bermasalah. Ceres sama Teru saling terbuka, mereka sama-sama tahu luar dalamnya masing-masing. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba mereka pelukan, jalan bareng, atau kencan. Keliatannya emang modus, sih. Keliatan banget Teru suka sama Ceres, tapi hanya sebatas sahabat," ujar Misis yang disambut kekehan kecil dari Reno.
***
"Misis? Besok ikut gua mau?" ajak Ceres saat melihat Misis di ruang tamu sedang menyaksikan Upin Ipin.
"Futsalnya Reno?" tanya Misis yang sedikit terganggu.
"Udah tahu?" Ceres balik bertanya yang dibalas gelengan Misis.
"Tebak-tebak berhadiah," lanjut Misis membuat Ceres cemberut.
Beberapa saat mereka terdiam, Ceres yang mencari cara agar Misis ikut dengannya dan Misis yang sedang mencari cara untuk menolak ajakan Ceres dengan halus.
"Terus gimana? Besok bisa?"
Wajah Misis memelas lalu menggeleng. Besok dirinya disibukkan dengan latihan soal yang menggunung. "Besok gua usahain nyusul, deh."
Ceres yang mendengar jawaban Misis terdiam beberapa saat, wajahnya tampak ragu. Tapi akhirnya ia mengangguk, tak ingin memaksa saudarinya terlalu jauh.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top