Dua Puluh Lima [Tim Solid]
Pintu terbuka, Marthin menarik tangan Jerome paksa.
"Keluar, Vanny!"
"Lo mau ngapain bawa gue ke sini?"
"Kita selesaikan masalah ini. Aku mau kamu laporin Rama ke polisi sekarang juga!"
Jerome, dengan sikapnya yang risi karena gaun ketat dan sepatu hak tinggi menatap wajah Marthin jijik. "Nggak salah? Bukannya seharusnya—"
Belum sempat Jerome menyelesaikan kalimatnya, ponsel Marthin berdering keras. Ia berusaha menahan diri untuk tidak menjawab panggilan, tetapi ponsel di saku celananya terus berbunyi hingga membuatnya terpaksa memeriksa layar.
Marthin terkejut, ia melirik gadis di hadapannya lalu kembali ke layar ponsel yang masih menyala terang dan berdering. "Ka-kamu? Ngapain hubungi aku?"
"Bingo!"
Jerome tersenyum sinis, menyeringai melihat Marthin yang berubah gugup. Kedua tangan Jerome bersedekap melihat ekspresi Marthin yang terheran. Marthin tentu tahu kalau gadis di depannya tidak sedang memegang ponsel di waktu yang sama.
Langkah ketiga : jebak dia sampai tidak bisa berkutik.
"Apa maksud kamu, Vanny?" Ia mematikan panggilan. Satu menit berikutnya, panggilan masuk dari nomor Vanny berdering lagi.
Marthin bingung, mulai menunjukkan gelagat panik. Jerome menyunggingkan sebelah bibir kemudian berkata, "Itu juga yang lo lakuin waktu lagi menganiaya Vanny, 'kan? Auto Call Scheduler. Lo udah mengatur panggilan supaya ponsel Vanny menyala di saat lo lagi ngelakuin aksi itu."
"Siapa kamu?!"
"Gue Jerome, salam kenal Marthin."
"Apa–apaan ini?"
"Jangan pikir kita nggak tahu apa yang udah lo lakuin ke Vanny. Gimana kalau gue ceritain kronologinya berdasarkan hasil pengamatan gue?" Jerome menumpukan siku kanannya di atas lengan kiri, memainkan dagu sambil bicara. "Suatu hari lo taruh brosur iklan penginapan di meja kerja David. Secara kebetulan David tertarik jadi dia memutuskan agar kalian menginap satu malam di cottage tersebut karena letaknya berdekatan dengan lokasi penyelenggaraan konser. Maka rencana pun dimulai.
"Malam itu, setelah bertengkar dengan Zack, Fatimah pulang bareng lo. Tanpa sengaja Fatimah lihat camcorder yang tersimpan di dalam dasbor mobil lo waktu dia lagi nyari tisu. Di situ Fatimah juga lihat brosur iklan cottage yang bakal kalian tempati. Jelas Fatimah menganggap itu biasa aja awalnya. Lo anter dia ke cottage habis itu lo balik ke mobil untuk ambil camcorder. Nggak ada yang patut dicurigai dari perilaku lo. Dan soal obat yang lo bilang ke polisi kalau Fatimah yang nemuin obat Vanny di tas berisi baju, lo ngarang. Jelas-jelas lo bohong, anjing! Dari situ kita mulai curiga sama lo dan memulai penyelidikan sendiri.
"Terus, entah gimana caranya lo bisa kenal banget sama tempat itu, mungkin lo pernah kerja di sana, punya kenalan, atau lo salah satu pemiliknya, entahlah ... yang jelas ada kemudahan akses waktu lo masuk ke ruang kontrol CCTV. Untuk mengalihkan perhatian, lo sengaja matikan sekring listrik supaya sekuriti meninggalkan ruang kontrol. Ini teori mudah Marthin.
"Lo koneksikan camcorder yang di dalamnya udah ada rekaman yang menyorot bagian pintu masuk cottage Vanny dengan mesin DVR. Otomatis kamera CCTV jadi nggak berfungsi dan berganti dengan rekaman yang udah ada di dalam camcorder. Lo biarin di sana, begitu listrik menyala di situlah lo bebas melakukan aksi bejat lo tanpa perlu khawatir sama kamera pengintai. Gue udah periksa rekaman camcorder itu—" Jerome menunjuk benda perekam video yang masih ia pegang kepada Marthin. "—dan apa yang gue bilang ternyata bener. Nggak salah gue nyuruh Ivanka nyuri benda ini dari dalam mobil lo kemaren."
"Lo berteori terlalu jauh! Yang lo bilang semuanya omong kosong!"
Jerome kembali bicara, kali ini dengan tempo yang lebih cepat. "Gue lanjutin? Hanya dengan mengandalkan aplikasi Auto call scheduler, pas lo nyakitin Vanny, ada sandiwara seolah-olah Marthin ada di luar sana untuk memastikan bahwa Vanny baik-baik aja."
"Oke, Jerome atau siapa pun lo, gua udah muak sama omong kosong ini!"
Marthin tiba-tiba mendorong tubuh Jerome sampai limbung. "Gua belum selesai ngomong! Lo harus dengerin teori gua dulu."
"Kalian gila!"
"Iya, dan lo orang yang udah bikin kita gila. Lo curi jaket Zack pas dia lagi mabuk di bar karena waktu evakuasi kecelakaan, Zack cuma pakai kaus dan polisi nggak nemuin jaket merah di mobilnya. Lo pakai jaket itu supaya Vanny mengira kalau Zacklah yang menyerangnya. Jangan-jangan lo juga yang bikin Zack celaka sebelum itu. Hebat lo, bisa bikin skenario matang kayak gini sampai Vanny benar-benar dianggap halu."
"DIAM LO, BERENGSEK!"
Rintihan sakit menerjang begitu kepalan tangan Marthin meninju pipi Jerome. Ia bisa merasakan tulang pipinya melesak ke dalam. Tubuhnya limbung hampir jatuh ke tanah.
"ARRGHH ...! SAKIT, SETAN! Gue belum selesai ngomong!" Marthin mencengkeram bahu Jerome, keras sekali sampai-sampai ia tidak bisa mempertahankan kakinya sendiri. "Sialan, gue benci heels plus gaun sempit mahal ini."
"Pergi deh lo, Jerome! Serahin ini sama gue," Kinara menawarkan diri. Sebenarnya ia dan Melani sedang berdebat, tapi Kinara tampaknya punya rencana lain hingga Jerome menyetujuinya.
"Kalian makhluk sialan! Keluarkan Vanny!"
"Hei, kasar banget sih jadi cowok? Lo mau gue teriak, nih?"
Wajah murka Marthin reda sesaat, cengkeramannya mengendur. "Siapa lagi, lo?"
"Ih, nggak penting, ah! Mending kita main–main."
Kinara menendang kemaluan Marthin dengan lututnya, sama seperti waktu ia menendangnya saat di rumah sakit. Marthin spontan terbungkuk menahan sakit
"Jadi, ini nih si peneror yang selama ini meneror Vanny? Cara kuno! Bisa-bisanya lo tega ngelakuin itu ke Vanny? Sahabat kayak apa yang tega nyakitin sahabatnya sendiri?"
"Selama ini gue memang mengincar Vanny. Apa lo tahu apa yang udah dia lakuin? Gue nggak tahu itu Melani atau Vanny, tapi salah satu di antara mereka udah membunuh ayah sama adik gue!"
Tangan Marthin masuk ke dalam saku jaket. Kinara terkejut mengetahui Marthin mengambil pisau lipat dari dalam sana. Mata tajam pisaunya berkilauan, sebentar Kinara merasa panik, menyesal karena keluar di saat seperti ini. Ia mengidap aichmophobia, tak menyangka Marthin tahu kelemahannya.
"Pergi lo! Jauh-jauh dari gue!" teriaknya sambil memejamkan mata, mundur perlahan, tumitnya menubruk beton trotoar. "Simpan pisau itu, please! Gue phobia sama benda tajam."
"Aduh! Kenapa malah dikasih tau, payah banget kamu, Kinara!" protes Ivanka.
Marthin semakin mendekat. Kinara berusaha fokus pada wajahnya, tidak pada tangannya yang sedang memegang—astaga! Sialan, dia malah meliuk-liukkan pisau itu di depan muka Kinara.
"Takut?" ejeknya.
Kinara hampir terjerembab ke belakang, tetapi tangannya berhasil berpegangan pada salah satu beton U Ditch yang ada di dekatnya. Sesaat, ia mengambil kesempatan melepas heels yang merepotkan itu.
"Ayolah, Kinara ... dan kalian semua, makhluk–makhluk aneh! Keluarkan Vanny atau Melani, gue nggak butuh orang lemah kayak lo!"
"Vanny kami tidurin. Selama ini kami cuma pura-pura jadi Vanny buat jebak lo."
"Oh, termasuk sandiwara kalian ke Rama?" Marthin malah tertawa. "Tapi gue nggak terkejut."
Ya, pengungkapan soal kalung itu adalah sandiwara Ivanka. Hanya saja Ivanka berhasil membuat Rama dan orang-orang di sekitarnya yakin bahwa yang sedang memergokinya adalah Vanny. Bukan Ivanka.
"Dasar psikopat! Gimana caranya lo bisa tahu soal masa lalu Vanny?"
"Karena gue ada di sana waktu dia ngebantai keluarga gue. Tapi gue nggak bisa berbuat atau membuktikan apa-apa karena masih terlalu kecil dan nggak punya keberanian untuk bilang ke semua orang bahwa anak perempuan itulah yang membunuh, bukan ayahnya.
"Selama ini gue terus mengikuti jejaknya, mencari tahu tentang masa lalunya sampai gue tahu ternyata Rama adalah orang yang terlalu penting di kehidupannya di masa itu. Bukan hal yang sulit buat gue melacak masa lalu Vanny."
"Itu sebabnya lo nyuri kalung Rama?"
Tangan Marthin yang memegang pisau bergerak satu arah ke perut Kinara. Beruntung Kinara yang sedari tadi waspada berhasil menangkap lengan Marthin sebelum ujung pisau menyentuh kulitnya.
"Berengsek lo!" umpat Kinara sembari memelintir lengan Marthin.
Erang rintihan Marthin memberi waktu pada Kinara untuk mengambil langkah cepat melewati Marthin dan berlari menelusuri jalan yang belum mereka lalui. Gemuruh petir di atas langit menakutkan, kilatnya memperlihatkan jalanan yang sepi dalam beberapa kali kedipan. Kinara terus berlari, menjauh dari Marthin dengan camcorder yang masih ada di tangannya. Jerome bilang, itu adalah barang bukti, jangan sampai hilang apalagi rusak. Kinara menyingsingkan rok ke atas, melihat ke belakang dan semakin panik saat tahu ia belum terlalu jauh dari Marthin yang mengejarnya lebih cepat.
Gerimis mulai turun membasahi jalanan yang begitu sunyi dan gelap. Proyek drainase yang belum selesai membuat aspal tertutupi tanah. Ia berlari di sepanjang galian parit yang belum tertutup sepenuhnya. Tidak ada aktivitas apa pun saat malam hari. Yang ada hanya alat-alat berat yang diparkir berderet beserta beton-beton U Ditch yang tak punya kehidupan untuk menyaksikan dua orang berlarian dan berteriak. Tidak ada penjagaan kecuali papan peringatan yang sudah peyot dan kotor.
Seharusnya Kinara bisa berlari lebih cepat jika tidak bertelanjang kaki, akibatnya, Marthin bisa dengan mudah mendorongnya dari belakang dan membuat Kinara terjerembap di gundukan tanah bercampur kerikil. Camcorder terlempar dan hilang entah ke mana.
"Mau lari ke mana lo?"
Marthin menjulang di atasnya dengan pisau yang masih di tangan. Kinara merintih, wajahnya kotor oleh tanah, tapi ia berusaha untuk bangkit meski Marthin berhasil menahan bahu dan menindih tubuh bagian depan Kinara.
Hujan mulai deras, suaranya meredam teriakan minta tolong Kinara. Ia berteriak lagi, tapi hanya satu kata tertahan di kerongkongan ketika Marthin menutup mulutnya dengan satu tangannya yang basah.
Kinara menggeliat, kakinya bergerak tak beraturan. Ia punya beberapa jurus bela diri yang sangat dikuasai, tetapi dengan posisi Marthin di atasnya yang sangat kuat, ia tak mampu berbuat apa-apa selain meronta seperti perempuan lemah yang hendak dikuasai. Guyuran air hujan membasahi mereka. Entah berapa mililiter air yang masuk ke hidung Kinara sampai-sampai ia tersedak.
"Lo diem, atau gua bunuh?" Suara tawa Marthin seakan mengejek. Ujung pisau ditusukkan ke leher Kinara untuk menakut-nakuti. Sedikit darah pun keluar. "Lo cantik, Vanny, Kinara, Ivanka, atau siapa pun kalian. Sayangnya, dendam gue ke kalian mengalahkan nafsu gue.
"Lo tahu apa yang gue rasain selama ini? Huh?" Marthin menekan tubuh Kinara semakin kuat, wajahnya begitu dekat dengan wajah Kinara. Tenaganya yang besar tidak dapat dijinakkan terlebih kebencian yang selama ini mendarah daging. "Di saat gue menderita karena kenangan mengerikan itu, Vanny justru kelihatan bahagia dengan menjadi penyanyi terkenal, dicintai banyak orang, seolah-olah dia nggak pernah ngelakuin hal kejam. Gue nggak rela orang yang udah membunuh keluarga gue bersenang-senang sementara gue menderita karena kehilangan segalanya. Jadi ..." Telapak tangan Marthin yang semula menutupi mulut Kinara, kini beralih mencengkeram bahu dan satunya lagi hendak menyayat pipi mulus gadis itu.
"Jadi gue pikir, bikin Vanny tampak gila dan menderita justru lebih menyenangkan. Kalian pikir siapa yang udah mencelakai Pio sampai gue berhasil jadi drummer pilihan?" Marthin menyeringai.
"Biadab lo! Ini nggak bisa dibiarin!"
Kinara memejamkan mata. Melani mengambil alih dan dengan tenaga ekstra yang dimiliki, ia memegang kedua lengan Marthin lalu menggulingkannya ke kiri.
Mungkin ini akan dibuat cepat. Jika Marthin menginginkan Melani muncul, maka di sinilah ia sekarang. Melani merangkak, berusaha bangkit, tetapi kakinya ditarik oleh Marthin hingga membuatnya kembali terjatuh.
"Melani?" terkanya.
"Kamu yang memintaku keluar, 'kan? Ayo, katakan sesuatu, mungkin aku bisa membantumu menyusul keluargamu."
Melani menendang dagu Marthin hingga tangannya yang memegang pisau terhempas. Benda tajam yang kini tergeletak di genangan itu menjadi incaran Melani, tapi lagi-lagi Marthin menang dan bangkit lebih cepat, mengambil ancang-ancang.
Hujan yang mengguyur mengaburkan pandangan. Melani mengusap wajah dan menyeringai. "Udah kuduga dari awal kalau kamu itu laki-laki pecundang! Nggak salah kalau aku menjadikanmu sasaran. Instingku ini memang selalu bisa diandalkan."
"Setidaknya aku berhasil bikin Vanny jatuh cinta." Dia tertawa. Dengan posisi saling berhadapan dan kuda-kuda yang siap menyerang atau mengelak, Melani bisa melihat wajah penuh dendam itu melumuri Marthin.
"Bilang sama gue, kenapa lo bunuh ayah sama adik gue? Mereka nggak punya salah. Ayah cuma pedagang buah pinggir jalan yang nggak tahu apa-apa, LO TAHU NGGAK?"
Melani menggeleng, membetulkan rambutnya yang menutupi wajah. "Marthin, waktu itu ayahmu mencoba untuk melindungi Mirza."
"Memangnya apa yang salah dengan melindungi orang lain?!"
"Kamu nggak tahu apa yang udah dilakukan Mirza ke Vanny. Kamu nggak tahu masalahnya!" Melani maju hendak melumpuhkan, tetapi Marthin berhasil mengelak sejurus dengan pisau yang berhasil menikam perut Melani.
Melani terdiam sesaat. Marthin tersenyum puas, melepas genggamannya dan berdiri untuk menyaksikan gadis di depannya kesakitan.
"Sekarang lo rasain apa yang ayah sama adik gue rasain!"
Mungkin Marthin pikir Melani bakal mati dengan serangan kecilnya. Rasanya tak berarti apa-apa. Bahkan tak ada rintihan yang keluar dari mulutnya. Melani menatap Marthin. Kedua tangannya menggenggam gagang pisau lalu menariknya perlahan. Marthin mendelik, mungkin terheran saat melihat Melani menarik pisau itu tanpa meringis sakit meski darah keluar dari balik kulit gadis itu. Sedikit saja. Serangan seperti itu tidak akan mempan pada Melani. Ia kebal terhadap luka. Itu sebabnya ia senang melukai diri. Ada sensasi memuaskan ketika melihat darah itu mengalir perlahan dari balik kulit, tapi tidak dengan cara dilukai orang lain. Melani tentu akan marah karena Marthin mengambil porsi tubuhnya.
Kini pisau itu ada di genggaman Melani. "Seandainya ayah dan adikmu pergi dari sana waktu kejadian, mungkin mereka nggak kan jadi sasaran. Aku mau bacok Mirza, tapi laki-laki itu mengelak dan malah kena leher ayahmu."
"Gue nggak terima, Ayah nggak bersalah. Dan adik gue—"
"Biar kamu tahu, Della yang melempar batu itu, dia mau menyerangku, tapi malah wajah adikmu yang menjadi sasaran. Aku nggak punya maksud untuk melukai mereka!"
"Bohong! Gue lihat sendiri, lo ngebantai semua orang!"
"Enggak, Sialan! Kamu nggak tahu peristiwa yang sebenarnya! Kamu muncul waktu Vanny udah sadar dan melihat kekacauan itu di bagian akhir."
"Lo pikir gue percaya?"
Dengan tenaga laki-lakinya yang kuat, Marthin menghempaskan tubuh Melani ke belakang sebelum ia selesai bicara. Melani limbung. Ia kehilangan pijakan hingga punggungnya mendarat di aspal. Cahaya terang menyorot wajah Melani. Aspal bergetar dan terdengar suara menakutkan. Ia menoleh ke kiri. Ban besar truk mendekat cepat ke wajahnya. Dalam sepersekian detik, Melani mengangkat kepala sementara hembusan angin dari truk yang melintas membuat rambutnya beterbangan liar.
Tarikan napas Melani kencang. Ia nyaris mati dan bagaimana mungkin ia membiarkan Marthin hanya berlutut menyaksikan dirinya.
"Kamu yang memulai ini, Marthin!"
Petir bergemuruh. Kilat cahaya memperlihatkan wajah Marthin yang ketakutan ketika Melani dengan cepat menghujamkan pisau itu ke bahu Marthin hingga pria itu berteriak kesakitan.
"Kamu pikir kita bakal diem aja setelah tahu kalau kamulah pengkhianat yang sebenarnya?"
Marthin mengerang saat Melani menekan pisau itu makin dalam. Darah merembes. Bahu kiri Marthin tak lagi bisa bergerak saat ia berusaha untuk bertahan. Tak seperti Melani, Marthin tidak punya keberanian menarik pisau itu, membiarkannya menancap di bahu mungkin tidak akan membuatnya mati begitu saja.
"Pasti kamu yang ada di balik kecelakaan Zack. Jawab!"
"Oh, ya? Lo pikir gue kayak gitu?" jawab Marthin terbungkuk-bungkuk sambil memegangi lukanya. "Zack terlalu putus asa dan kecerobohannya berkendara sambil mabuk bikin dia mati lebih cepat."
"Zack nggak bersalah? Kenapa kamu bikin fitnah seolah-olah Zack lah yang mencoba membunuh Vanny?"
Marthin tertawa. "Itu skenario sempurna, Mel ... Zack dan Ivanka adalah sepasang artis brengsek yang mendewakan gimmick di depan publik. Cara sempurna untuk menjatuhkan mereka berdua sekaligus."
"Aku sama Zack nggak gimmick, kami saling mencintai dan kamu udah bikin aku murka karena melibatkannya!"
"Dengar gue, Melani. Mungkin kalian harus mendengar ini sebelum gue benar-benar menghabisi lo." Marthin melihat sekeliling, ada beliung tergeletak di tepi galian parit, tak jauh dari kakinya. Ia berpikir itu alat yang bagus untuk menghabisi nyawa gadis yang telah membunuh dua orang terkasihnya dengan cepat. Marthin mengambil beliung yang panjangnya satu meter itu, menyeret-nyeretnya untuk menunjukkan pada Melani bahwa dialah yang terkuat di sini. Matanya kembali menatap Melani penuh kebengisan dan hasrat ingin cepat menyudahi perdebatan.
"Gue memang merencanakan penyerangan malam itu dengan sangat matang. Sebagian saham di cottage itu punya gue dan gue bebas ngelakuin apa aja. Jerome terlalu pintar dan gue kagum dia bisa membuat asumsi dengan sangat tepat. Jangan lo pikir, gue bakal biarin usaha gue gagal cuma karena kalian berhasil jebak gue dengan cara kayak gini. Gue dendam sama lo. Gue mau lo ngerasain sakit kayak apa yang Ayah dan adik gue rasain. Gue mau Vanny mati, dan semua orang yang udah bikin gue menderita bertahun-tahun, mati di tangan gue!"
Melani berusaha untuk tetap berdiri saat kakinya menginjak lubang yang membuatnya goyah. Di depannya, Marthin sudah mengangkat beliung ke atas untuk memukul. Gelapnya malam dan deras hujan membuat pandangan Melani kacau sampai-sampai ia tidak melihat sebuah webbing sling di belakang melintang dan menyebabkan tumitnya tersandung. Melani limbung ke belakang, terjatuh ke dalam lubang galian yang tergenang air hingga suara tubuhnya yang terjebur terdengar keras. Pukulan Marthin gagal, tetapi pria itu tidak menyerah dan melompat turun menyusul.
Melani bangun, mengusap wajahnya yang berlumpur. Ia bahkan bisa merasakan tanah terkunyah di mulut. Marthin tampak belum menyerah ketika beliung di tangan kanannya kembali terangkat bersamaan dengan teriakan penuh amarah. Sebisa mungkin Melani menghindari pukulan mengerikan Marthin. Ia mundur, berhasil menangkap gagang beliung dengan kedua tangannya, sekuat tenaga menahan dorongan Marthin. Ia tahu tidak akan bertahan dengan posisi seperti itu dan memutuskan untuk mendekat ke depan, menendang perut Marthin dua kali hingga pada tendangan ketiga Marthin terjatuh ke belakang dan beliung di tangannya terlepas. Pria itu terduduk, menopang tubuh dengan tangan kanannya untuk kembali berdiri. Mengambil kesempatan, Melani membuang beliung ke belakang lalu meraih ujung webbing sling yang tadi menjuntai di dinding parit. Ia melingkarkannya dengan cepat ke leher Marthin sampai membuat lidah pria itu terjulur.
Marthin mengerang kesakitan, ditambah pisau yang masih menancap di bahu membuat tangannya sulit bergerak untuk melawan Melani. Tidak ada kata ampun sedikit pun keluar dari mulut Marthin ketika Melani mengikat sling itu di lehernya.
"Apa yang udah kamu lakukan ke Vanny itu biadab, brengsek! Lihat siapa sekarang yang lemah?" Melani berdiri di belakang Marthin, menarik sling ke atas sedangkan satu tangannya lagi mencengkeram lengan Marthin. Ia membuat pria itu berdiri untuk bisa lebih dekat dengan wajah Marthin, memastikan apakah pria itu punya rasa penyesalan atau malah sebaliknya. Genangan air sebetis orang dewasa menciptakan percikan besar setiap kali kaki mereka bergerak.
"MINTA AMPUN SEKARANG ATAU MATI!" teriak Melani.
Alih-alih menyesal, bibir Marthin yang semula meringis sakit justru tersenyum semakin lebar, menampakkan deretan giginya yang berlumur lumpur. "Lo pikir gue takut sama artis anjing kayak lo? Kalau mau bunuh gue bunuh aja! Palingan karier lo hancur dan lo bakal membusuk di penjara!"
Melani ingin memberi kesempatan, tetapi makian yang keluar dari mulut Marthin membuatnya tidak dapat menahan gejolak ingin membunuh pria yang kini mengamuk ingin melepaskan diri.
Sebuah cahaya dari lampu mobil menyorot kepala mereka. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar keras.
"Vanny!"
Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Vanny dengan teriakan cemas. Melani melihat ke atas, sosok Rama yang berdiri terbungkuk sedang mengulurkan tangan padanya.
"Lepasin Marthin, jangan sampai kamu membunuhnya! Ayo naiklah!"
Tatapan bengis Melani membuat Rama tersadar bahwa gadis yang ada di bawah sana bukanlah Vanny, melainkan Melani atau kepribadiannya yang lain. Tapi Rama tidak menyerah, ia terus berteriak membujuk Melani untuk tidak kelewatan batas.
Sementara Marthin masih meronta, memegang sling yang melingkari lehernya bersama napas yang sesak.
"Aku nggak akan biarkan bajingan ini hidup," teriaknya pada Rama.
"Melani? Apa itu kamu? Please, jangan lakukan itu. Apa bedanya kamu sama dia kalau kamu sampai membunuhnya? Biar polisi yang kasih hukuman ke dia, jangan melibatkan tubuh Vanny." Rama berlutut, menjulurkan tangannya agar lebih dekat dengan Melani. "Ayo, naiklah. Aku tahu kamu bukan pembunuh, kamu cuma mau melindungi Vanny, kan? Ayo, Mel. Lepasin Marthin ..."
Amarah Melani yang semula membuncah, kini mulai melunak. Benar apa yang dikatakan Rama, ia memang suka memberi efek jera pada orang yang telah melukai perasaannya. Terlebih Marthin telah membuat Zack, orang yang sangat dicintainya celaka tanpa merasa bersalah. Tetapi membalas dan membunuh Marthin hanya akan membuatnya mendekam di penjara. Hal itu jugalah yang kini menjadi perdebatan di antara identitas yang lain.
Ivanka memintanya untuk melepas Marthin tanpa membuka tali yang mengikat lehernya. Jerome juga berpendapat sama. Kinara mengusulkan agar Melani menerima uluran tangan Rama dan biarkan kasus ini menjadi urusan polisi. Fatimah tentu menangis sedari tadi, memohon agar Melani tidak bertindak terlalu kejam pada pria yang pernah dikaguminya.
Melani memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya mendorong tubuh Marthin ke depan sampai wajahnya terjebur ke lumpur. Dengan jemarinya yang kotor, Melani meraih uluran tangan Rama dan memanjat ke atas susah payah karena struktur dinding parit yang licin. Napasnya terengah-engah, mereka berdiri di antara beton U Ditch yang berbaris di tepi galian.
"Kamu tenang, ayahmu dan yang lainnya juga sedang menuju kemari. Apa ada yang luka?" tanya Rama khawatir begitu gadis yang sangat dilindunginya itu kini sudah aman bersamanya.
Melani menggeleng, tetapi dengan pandangan masih ke bawah. Mereka melihat Marthin terbatuk-batuk dengan posisi kedua tangan dan lutut terendam air. Pria itu berusaha melonggarkan webbing sling yang melingkari leher, bangkit perlahan-lahan dengan tangan kanan masih di bawah.
Dendam di dalam hati Marthin belum sepenuhnya reda meski Melani sudah mengalah. Ia berpura-pura kesakitan, tetapi berdiri sejurus kemudian, berusaha memanjat dengan berpegangan pada balok penyangga beton U Ditch di atasnya sementara tangan kanannya memegang beliung yang sudah siap untuk dilempar ke arah Melani dan Rama. Satu kakinya menempel di dinding parit, tetapi struktur tanah yang lembek ditambah aliran air di bawah beton membuat balok penyangga terlepas hingga menyebabkan slab beton ikut bergeser dan bergerak ke bawah.
Satu lempeng yang besar melorot—lambat dulu, lalu dengan cepat menghantam bahu Marthin. Tubuhnya terhuyung, kakinya kehilangan tumpuan dan teriakannya memilukan. Slab beton menimpa tubuh Marthin hingga membuatnya melesak ke dalam parit berlumpur. Webbing sling yang masih tersangkut di lehernya menjadi pengikat yang malang; membuat lehernya tercekik sedangkan tubuhnya terjepit beton berbobot lebih tiga ratus kilo. Kedua tangannya menggelepar-gelepar di dalam air. Lumpur menenggelamkan wajah, mengisi mulutnya, menyumbat suara, dan matanya yang tadinya berkobarkan api dendam kini mulai menggambarkan kesekaratan tubuhnya sendiri.
Rama dan Melani menyaksikan kengerian itu di tepi tanpa bisa berbuat apa-apa. Di sisa gerakan Marthin yang melemah, Melani terpaku dengan sunggingan bibir dan kepuasan di dalam batin. Dalam beberapa detik, tatapan kosong Marthin memulai keheningan panjang di tempat itu, kecuali suara guyuran hujan dan petir yang bergemuruh.
Rama memeluk Melani, berpikir gadis itu tak memiliki keberanian melihat kematian seseorang yang mengerikan. Faktanya, Melani justru menyeringai di balik rangkulan lengan Rama. Melihat orang yang sangat ia benci akhirnya mati karena kebodohannya sendiri sedikit banyaknya membuat Melani ingin tertawa. Mungkin ia harus menggelak, merasakan kemenangan merengkuh tubuhnya sedemikian rupa.
Alih-alih merasa senang, lima orang di dalam tubuh Vanny justru membuat peringatan keras hingga akhirnya Fatimah mengambil alih sebelum tawa Melani lepas kendali.
"Ini bukan salah kita, bukan salah kamu. Marthin celaka karena kecerobohannya sendiri," gumam Rama dengan nada agak panik.
Fatimah melihat wajah Rama sebentar sebelum akhirnya menjerit sekuat tenaga melihat jasad Marthin yang mengenaskan dengan setengah badan tertimpa beton dan terendam air yang bercampur darah. Kengerian melumuri pandangan. Bagaimana bisa? Pria yang dulu sempat membuat Fatimah jatuh cinta kini mati dengan kondisi mengenaskan seperti itu. Melani mungkin bersalah, Fatimah tak mungkin menyalahkannya, tapi itu Marthin, pria dengan senyum termanis dan teramah yang pernah ia temui. Kini tak ubahnya seonggok benda yang tak bernyawa.
Sekarang Fatimah yang merasakan sakit diperut karena tusukan pisau Rama. Ia membungkuk, menyentuh luka. Telapak tangannya berdarah. Fatimah kaget dan merintih sakit bersamaan. Rama pun panik. Ia menyuruh gadis itu duduk di sebuah undakan batu lalu menenangkannya.
Rama membuka kemeja dan melingkarkannya di perut Fatimah untuk menghentikan pendarahan. "Aku harus cepat bawa kamu ke rumah sakit," usulnya.
Dari kejauhan, sebuah mobil melambat dan berhenti di dekat mereka. Darius keluar dan langsung merebut putrinya dari pelukan Rama. Disusul David dan teman-teman band Ivanka yang datang untuk membantu. Sembari menanyakan keadaan, Darius menyelimuti tubuh putrinya dengan jaket. Rama berinisiatif memanggil polisi untuk membantu membereskan masalah. 20 menit kemudian suara sirine mobil polisi terdengar nyaring. Lampu rotator mewarnai lokasi sekitar dan membuat orang-orang di sekitar tempat itu berdatangan ketika hujan mulai reda. Penjaga malam proyek datang dan menyalakan lampu-lampu sorot. Jasad Marthin semakin benderang. Fatimah tak mampu lagi melihat kengerian itu dan menenggelamkan wajahnya di dada Darius.
"Ayah ada di sini, Nak. Vanny jangan takut lagi, oke?"
Dekapan Fatimah melonggar ketika ia mendongak dan memandang wajah Darius. Ia tersenyum pada sang ayah. Sayangnya, Darius justru membalas senyuman putrinya dengan ekspresi terkejut yang sulit diartikan saat Fatimah memberitahukan yang sebenarnya.
"Tapi, saya Fatimah, bukan Vanny."
Ada rinai kesedihan memukul wajah pria itu, Fatimah bisa melihatnya, tapi tak bisa merasakannya begitu dalam. Kedua tangannya gemetar seakan ragu untuk memeluk lagi. Fatimah menyadari itu dan melepaskan pelukan.
"Nggak apa-apa, Nak. Kamu tetap putriku. Vanny ada di dalam sana 'kan? Apa dia bisa tahu apa yang baru saja terjadi?"
Fatimah menggeleng pelan, memandangi jasad Marthin, mengisak. "Vanny tidak tahu."
"Ya ... aku bersyukur untuk itu. Setidaknya ia tertidur di alam bawah sadarnya dengan nyaman." Darius menarik pundak Fatimah dan membawanya lebih dekat. "Kudengar, kamu adalah kepribadian yang paling santun. Makasih udah menjaga Vanny selama ini."
Fatimah hanya tersenyum menanggapi. Iptu Salwa datang di waktu yang sedikit terlambat. Fatimah menceritakan semuanya. Bagaimana hasil penyelidikan Iptu Salwa itu ternyata kalah telak bila dibandingkan dengan hasil penyelidikan Jerome. Fatimah meminta bantuan polisi untuk mencari camcorder yang hilang di sekitar TKP karena benda itu termasuk barang bukti.
Mengingat kasus penganiayaan yang dilakukan Marthin terhadap Vanny beberapa minggu lalu, Iptu Salwa justru bertanya tentang apa yang terjadi hingga menyebabkan Marthin tewas. Untungnya kamera CCTV yang terpasang di bagian depan mobil crane dan ekskavator merekam semua kronologi kejadian dari awal Marthin berusaha mencelakai Vanny hingga akhir. Atas perintah dan wewenang polisi, rekaman itu pun dibawa ke kantor polisi dan akan diselidiki lebih lanjut. Kemudian dengan gaya frontal Iptu Salwa yang terbilang keren akhirnya memuji Fatimah—memuji mereka.
"Seandainya Vanny ada di sini, saya pasti akan memeluk dan minta maaf sama dia. Tapi, saya bangga sama kalian. Belum pernah dalam sejarah karier bahkan hidupku, seorang penderita disosiasi diselamatkan oleh para alternya. Kalian hebat, kalian berani."
Segalanya menjadi lebih baik. Perlahan membaik. Bagi mereka, kebebasan itu seolah menjadi pergiliran waktu untuk merasakan hidup. Orang–orang yang mengenal Vanny akhirnya memberanikan diri untuk lebih dekat. Kini, Vanny tidak akan merasakan kehidupan bagai neraka itu membayanginya. Gadis itu sudah jauh lebih damai sekarang, esok, dan seterusnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top