Dua Puluh Lima [Tim Solid]
Pria itu berupa bingung dan mulai menunjukkan gelagat panik. Aku menyunggingkan sebelah bibir kemudian berkata, "Itu juga yang kamu lakukan saat sedang menganiaya Vanny 'kan? Auto Call Scheduler. Kamu sudah mengatur panggilan supaya ponsel Vanny menyala di saat kamu sedang melakukan aksi itu."
"Siapa kamu?!"
"Aku Jerome, salam kenal Marthin."
"Apa – apaan ini?!"
"Jangan pikir kami tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan pada Vanny. Bagaimana kalau aku ceritakan kronologi berdasarkan hasil pengamatanku?" Aku menumpukan siku kananku di atas lengan kiri, memainkan dagu sambil bicara. "Suatu hari kamu menaruh brosur iklan penginapan di meja kerja David. Secara kebetulan David tertarik jadi dia memutuskan agar kalian menginap satu malam di cottage tersebut karena letaknya berdekatan dengan lokasi penyelenggaraan konser. Maka rencana pun dimulai.
"Malam itu, setelah bertengkar dengan Zack, Fatimah pulang bersamamu. Tanpa sengaja Fatimah melihat handycam yang tersimpan di dalam dasbor mobil kamu saat ia sedang mencari tisu. Di situ Fatimah juga melihat brosur iklan cottage yang akan kalian tempati. Jelas Fatimah menganggap itu biasa saja awalnya. Kamu antar dia ke cottage lalu kamu kembali ke mobil untuk mengambil handycam. Tak ada yang patut dicurigai dari tindak-tandukmu.
"Entah bagaimana caranya kamu begitu kenal dengan tempat itu, mungkin kamu pernah bekerja di sana atau kau salah satu pemiliknya, entahlah ... yang jelas ada kemudahan akses saat kamu masuk ke ruang kontrol CCTV. Untuk mengalihkan perhatian, kamu mematikan sekring listrik agar security meninggalkan ruang kontrol. Ini teori mudah Marthin.
"Kamu menghubungkan handycam yang di dalamnya sudah ada rekaman yang menyorot bagian kamar Vanny dengan mesin DVR. Otomatis kamera CCTV tidak berfungsi dan berganti dengan rekaman yang sudah ada di dalam handycam. Kamu biarkan di sana, begitu listrik menyala di situlah kamu bebas melakukan aksi kamu tanpa perlu khawatir dengan kamera pengintai. Aku sudah memeriksa rekaman handycam itu—" Aku menunjuk benda perekam video yang ia letakkan di sebelahnya. "—dan apa yang aku katakan ternyata benar. Tidak salah aku menyuruh Ivanka mencurinya dari dalam mobilmu."
"Kamu berteori terlalu jauh! Yang kamu katakan semua tidak benar!"
Aku kembali bicara, kali ini dengan tempo yang lebih cepat. "Aku lanjutkan? Hanya dengan mengandalkan aplikasi Auto call scheduler, maka ketika kamu menyakiti Vanny, ada sandiwara seolah-olah Marthin ada di luar sana untuk memastikan bahwa Vanny baik-baik saja."
"Baiklah, Jerome atau siapa pun kamu, aku sudah muak dengan omong kosong ini!"
Marthin tiba - tiba mendorong tubuhku sampai limbung. "Aku belum selesai bicara! Tolong dengarkan teoriku dulu."
"Kalian gila!"
"Ya, dan kamu lah orang yang membuat kami gila. Kamu memakai jaket yang sama persis dengan Zack supaya Vanny menuduhnya. Bisa jadi kamu jugalah yang sudah membuat Zack celaka sebelum itu. Hebat kamu, bisa membuat skenario matang seperti ini sampai Vanny benar-benar dianggap gila."
"DIAM KAMU, BERENGSEK!"
Rintihan sakitku menerjang begitu kepalan tangan Marthin meninju pipiku. Rasanya tulang pipiku melesak ke dalam.
"ARRGHH ...! SAKIT TAU! Aku belum selesai ngomong!" Marthin mencengkeram bahuku, keras sekali sampai-sampai aku tidak bisa mempertahankan kakiku sendiri. Ditambah—sialan, aku benci heels dan gaun sempit mahal ini.
"Pergilah, Jerome! Serahkan ini padaku," Kinara menawarkan diri. Sebenarnya ia dan Melani sedang berdebat, tapi Kinara tampaknya punya rencana lain hingga aku menyetujuinya.
"Kalian makhluk sialan! Keluarkan Vanny!"
"Hei, kasar banget sih jadi cowok?! Kamu mau aku teriak, nih?"
Wajah murka Marthin reda sesaat, cengkeramannya mengendur. "Siapa lagi, kamu?"
"Ih, nggak penting, ah! Mending kita main – main."
Aku menendang kemaluannya menggunakan lutut, sama seperti waktu aku menendangnya saat di rumah sakit. Tertawa sebentar, lantas aku naik ke atas panggung. Para pekerja yang tersisa dua orang mengira aku sedang bermain dengan Marthin, dan memang itulah tujuanku, olahraga sebentar. Mumpung ada partner bajingan.
"Jadi, inikah si peneror yang selama ini meneror Vanny?" kataku. "Cara kuno! Kenapa kamu tega melakukan itu pada Vanny? Sahabat seperti apa yang tega menyakiti sahabatnya sendiri?!"
Marthin melompat ke atas panggung. Tempat ini gelap, tak ada penerangan kecuali satu lampu sorot berukuran kecil. Dua pekerja yang semula membereskan lokasi kini sudah tak tampak lagi.
"Selama ini aku memang mengincar Vanny. Apa kamu tahu apa yang sudah dia lakukan? Aku tidak tahu itu Melani atau Vanny, tapi salah satu di antara mereka sudah membunuh ayah dan adikku!"
Tangannya masuk ke dalam saku jaket. Aku terkejut mengetahui Marthin mengambil pisau lipat dari dalam sana. Mata tajam pisaunya berkilauan, sebentar aku merasa panik, menyesal karena keluar di saat seperti ini. Aku mengidap Aichmophobia!
"Menjauh dariku!" teriakku sambil memejamkan mata, termundur perlahan, tumitku menubruk sesuatu yang keras. "Simpan pisau itu, please! Aku pobia sama benda tajam."
"Aduh! Kenapa malah dikasih tau, payah kamu, Kinara!" protes Ivanka.
Marthin semakin mendekat. Aku berusaha fokus pada wajahnya, tidak pada tangannya yang sedang memegang—astaga! Sialan, dia malah meliuk-liukkan pisau itu di depan mukanya.
"Takut?" ejeknya. Aku menyilangkan tangan di depan wajah. "Bawa Melani keluar, aku yakin, dialah yang membunuh ayah dan adikku waktu itu."
Aku mundur, bersembunyi di balik tirai hitam. Di bawah kakiku, aku melihat potongan kayu balok yang mungkin bisa kugunakan untuk senjata.
"Ayolah, Kinara ... dan kalian semua, makhluk – makhluk aneh! Keluarkan Vanny atau Melani, aku tidak butuh orang lemah seperti kamu!"
"Vanny kami tidurkan. Selama ini kami hanya berpura-pura menjadi Vanny untuk menjebakmu."
"Oh, termasuk sandiwara kalian pada Rama?" Marthin malah tertawa. "Tapi aku tidak terkejut."
Ya, pengungkapan soal kalung itu adalah sandiwara kami. Hanya saja Ivanka berhasil membuat Rama yakin bahwa yang sedang memergokinya adalah Vanny. Bukan Ivanka.
"Kamu peneror! Bagaimana kamu tahu soal masa lalu Vanny?!"
"Karena aku ada di sana saat dia membantai keluargaku. Selama ini aku terus mengikuti jejaknya, mencari tahu tentang masa lalunya sampai aku tahu ternyata Rama adalah orang yang sangat penting di kehidupannya di masa itu. Bukan hal yang sulit bagiku melacak siapa Vanny sebenarnya."
"Itu sebabnya kamu mencuri kalung Rama? Dasar curang!"
Aku memegang balok dengan kedua tanganku seperti orang yang akan memukul bola baseball. Entah apa yang akan Marthin lakukan di balik tirai, sampai di sini, aku merasa aman karena pisau itu tidak terlihat.
"Apa Rama memberitahumu kalau dia pernah dicopet?" Aku tidak menjawab. Marthin melanjutkan omongannya. "Tentu aku mencari cara bagaimana agar bisa membunuhnya. Di saat aku menderita karena kenangan mengerikan itu, Vanny justru terlihat bahagia dengan menjadi penyanyi terkenal, seolah-olah dia tidak pernah melakukan hal kejam. Aku tidak rela, orang yang sudah membunuh keluargaku bersenang - senang sementara aku menderita karena kehilangan keluargaku. Jadi kupikir, membuat Vanny tampak gila dan menderita justru lebih menyenangkan.
"Kalian pikir siapa yang telah mencelakai Pio sampai aku berhasil menjadi drummer pilihan? Dan si psikiater itu, kalian pikir aku akan membiarkannya tetap hidup untuk menyembuhkan Vanny?" Marthin menyeringai.
"Kamu membunuh dr. Jihan?" tuduhku.
"Tidak. Aku hanya mengejutkannya dengan topeng badut sambil memegang pisau. Psikiater itu kena serangan jantung dan meninggal begitu saja. Aku bahkan belum menyentuhnya."
Marthin menusukkan pisau, menembus tirai, aku menjerit hingga termundur dan menabrak rangka baja. Jatuh terjongkok.
"Melani tolong aku!"
Kupejamkan mata sesaat untuk memberi giliran pada Melani.
Dari samping, Marthin muncul dan menyibak tirai. Wajah bengisnya bersembunyi dalam gelap, menarik paksa tanganku.
"Keluar!" bentaknya.
Mungkin ini akan kubuat cepat. Jika dia menginginkan Melani muncul, maka di sinilah aku sekarang. Aku memukul lenganya dengan balok kayu yang tadi diambil Kinara. Marthin mengaduh, memegang lengannya lalu kutendang dagunya. Dia terjerembab ke belakang. Aku keluar dari balik tirai. Panggung gelap dan sunyi ini membuat pergerakanku sedikit sulit. Aku melepas sepatu hak, melemparnya ke wajah Marthin. Merasa terhina, ia lalu bangkit dan meludah.
"Melani?!" terkanya.
"Kamu yang memintaku keluar, 'kan? Ayo, katakanlah sesuatu, mungkin aku bisa membantumu menyusul keluargamu."
Dia membuat kuda-kuda dengan pisau di tangannya. Aku pun, berdiri tanpa kuda-kuda tetapi dengan mata awas mencari celah penyerangan.
"Sudah kuduga dari awal kalau kamu itu pria pecundang! Tidak salah jika aku menjadikanmu sasaran sejak awal. Instingku ini memang selalu bisa diandalkan."
"Setidaknya aku berhasil membuat Vanny jatuh cinta." Dia tertawa, dan sebelum ia menyelesaikan tawanya, aku meluncurkan ujung balok ke dadanya. "Oh, s**t!" umpatnya setelah berhasil mengelak.
Aku mengayunkan balok lagi, ia kembali mengelak dan melompat ke kiri. Panggung bergetar, Marthin berusaha maju dan menghunuskan pisaunya tapi gagal mengenai karena kutangkis. Berbalik menghadapku dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu membunuh ayah dan adikku? Mereka tidak bersalah. Ayahku hanya pedagang buah pinggir jalan yang tak tahu apa-apa."
"Waktu itu ayahmu mencoba untuk melindungi Mirza."
"Memangnya apa yang salah dengan melindungi orang lain?!"
"Marthin, kamu tidak tahu apa yang dilakukan Mirza pada Vanny. Kamu tidak tahu masalahnya!" Aku maju, mengayunkan balok lagi, Marthin berhasil menangkapnya, menghentakku jadi lebih dekat dengannya sejurus dengan pisau yang berhasil menusuk perutku.
Ia tersenyum penuh kemenangan. Aku melihat, perutku berdarah dan mata pisau itu menancap di sana.
"Sekarang kamu rasakan apa yang ayah dan adikku rasakan!"
Mungkin ia pikir aku akan langsung mati dengan serangan kecilnya. Kucengkeram pergelangan tangannya kuat, tangan kananku melepas balok, beralih pada tangannya yang masih memegang pisau. Matanya mendelik, mungkin terheran saat aku menarik pisau itu tanpa meringis sakit. Kukembalikan pisau itu padanya, perutnya menjadi sasaran, tapi ia berhasil menahan dengan tangan satunya.
"Jika saja ayah dan adikmu pergi dari sana, mungkin mereka tidak kan menjadi sasaran. Aku ingin membacok Mirza, tapi laki-laki itu mengelak dan malah mengenai leher ayahmu."
"Aku tidak terima, ayahku tidak bersalah. Dan adikku—"
"Supaya kamu tahu!" Aku mengaitkan kaki kananku di antara kedua kakinya lalu kutarik, Marthin terjatuh. Dia ada di bawahku sekarang. "Dellalah yang melemparkan batu itu, dia ingin menyerangku, tapi malah wajah adikmu yang menjadi sasaran. Aku sama sekali tidak membunuh mereka!"
"Bohong! Aku melihatnya sendiri, kamu membantai semua orang!"
"Tidak, Sialan! Kamu tidak tahu peristiwa yang sebenarnya! Kamu muncul di saat Vanny sudah tersadar dan melihat kekacauan itu di bagian akhir."
"Kamu pikir aku percaya?"
Dengan tenaga laki-lakinya yang kuat, Marthin menghempaskan tubuhku ke belakang sebelum aku selesai bicara. Aku limbung, hampir terjatuh ke bawah panggung. Keseimbanganku buruk, Marthin mendorongku lagi dan akhirnya aku benar-benar jatuh.
Aku terbungkuk hendak bangkit. Mataku awas ketika ayunan pisau Marthin sempat mengenai kabel yang melintang, lolos dan hampir menggores leherku jika saja aku gagal mengelak. Alih – alih menghindar dari serangannya, aku justru menubruk bagian tepi panggung.
Secepat itu, leherku kini tercekik dari belakang. Marthin menusuk pinggangku, aku meringis sakit. Sedikit saja. Serangan seperti itu tidak akan mempan padaku, aku kebal terhadap luka. Itu sebabnya aku senang melukai diri. Ada sensasi memuaskan ketika melihat darah itu mengalir perlahan dari balik kulit, tapi tidak dengan cara dilukai orang lain. Aku tentu akan marah karena ia mengambil porsi tubuhku.
"Berani kamu menusukku!"
Ada tenaga yang cukup besar saat aku menyikut perutnya, menginjak kakinya, cekikannya mengendur, aku berbalik, memutar pergelangan tangannya. Pisau terlepas dari genggamannya, ia coba mencekikku dari depan tetapi gagal saat kutangkis dengan merentangkan kedua tanganku. Aku membenturkan keningku ke keningnya. Marthin meringis, terhuyung ke belakang, kakinya tersangkut di kabel-kabel. Jatuh terduduk.
"Kenapa kamu tidak membunuh Vanny saja? Kenapa harus menyakiti jiwanya?"
Ia mengusap-usap kening saat membawa tubuhnya berdiri. "Seharusnya kalian sadar, siapa sebenarnya yang selama ini menyakitinya? Kalian, para alter yang membuatnya menderita, kenapa menyalahkanku?!"
"DIAM ...! Kau pasti ada dibalik kecelakaan Zack. Katakan padaku!"
"Oh, ya? Kamu pikir aku begitu? Zack terlalu putus asa dan kecerobohannya berkendara sambil mabuk membuat ia mati lebih cepat."
"Zack tidak bersalah? Kenapa kamu membuat fitnah seolah-olah Zack lah yang mencoba membunuh Vanny?"
"Itu skenario sempurna, Mel ... Zack dan Ivanka adalah sepasang artis berengsek yang mendewakan gimmick di depan publik. Cara sempurna untuk menjatuhkan mereka sekaligus."
"Aku dan Zack tidak gimmick, kami saling mencintai dan kamu sudah membuatku murka karena melibatkannya!"
"Dengar aku, Melani. Mungkin kalian harus mendengar ini sebelum aku benar-benar membunuhmu." Marthin melihat sekeliling sebentar, matanya kembali menatapku penuh kebengisan dan hasrat ingin cepat membunuh. Aku termundur ke belakang tanpa persenjataan. Jajaran kursi penonton membatasi, mataku mencari apa saja yang bisa kugunakan untuk melawan, tetapi tempat ini terlalu luas untuk berkelana dalam keadaan darurat.
"Aku memang merencanakan penyerangan malam itu dengan sangat matang. Sebagian saham di Cottage itu adalah milikku dan aku bebas melakukan apa saja. Jerome terlalu pintar dan aku kagum ia bisa membuat asumsi dengan sangat tepat. Jangan kamu pikir, aku membiarkan usahaku gagal hanya karena kalian berhasil menjebakku dengan cara seperti ini. Aku sangat membencimu. Aku ingin kamu mati, Vanny mati, dan semua orang yang membuatku menahan sakit bertahun-tahun mati di tanganku."
Napasku menderu dalam relung kepanikan tajam. Aku termundur lagi, dua langkah. Gelapnya stadion membuat pandanganku kacau sampai-sampai aku tidak melihat sebuah besi pembatas kursi penonton membuat kakiku terseok. Aku limbung ke belakang. Marthin mendekat terlalu cepat di saat aku tak punya persiapan mempertahankan diri. Aku kehilangan kendali, kedua tangan Marthin mendorong bahuku, membuatku termundur cepat ke belakang, terus mendorongku sampai kakiku gagal bertahan. Aku mengerang. Tenaganya yang kuat berhasil membuatku terjerembab. Aku berada di bawah tubuhnya sekarang. Tercekik oleh kedua tangannya, bokongnya menimpa perutku, napasku terbatas. Wajahnya bermandikan teduhan iblis, mengerang, kelam. Aku pun bisa melakukan hal yang sama jika saja ia tidak membuatku hampir kehilangan daya.
Seperti inikah rasanya tercekik, seperti inikah rasanya hampir mati? Lalu aku teringat akan perbuatanku pada Hafni, kini akulah si orang yang hampir mati itu. Kakiku menggelepar bagai sirip ikan yang kekeringan. Kuku jarinya menancap di leherku seolah Marthin ingin menembusnya sampai ke dalam, jika bisa ia mencabut kerongkonganku, ia pasti akan melakukan itu.
Udara pengap. Tak mampu lagi mendengar suara mereka yang berteriak seakan ingin keluar secara bersamaan. Meski aku yakin tak akan ada dari mereka yang mampu menahannya. Pertahanan terakhir, aku melepaskan satu tanganku untuk meraba apa saja yang ada di dekatku. Apa saja, aku tidak peduli.
Di sampingku, di area yang masih bisa dijangkau oleh jemariku, ada sesuatu yang panjang dan lentur. Kabel. Aku menariknya sekuat yang aku bisa di sisa tenaga. Sialnya, Marthin menyadari apa yang akan kulakukan. Tangan kirinya kini mencengkeram tanganku yang memegang kabel sementara satu tangannya masih mencekik leherku.
"Jangan pikir aku akan membiarkanmu membuat perlawanan! Aku hanya ingin kamu mati! Jadi, matilah sekarang!"
Ini gila! Aku sudah mencakar bahu sampai ke lengannya hingga berdarah pun, Marthin tetap tidak melonggarkan cekikannya. Darahku tersumbat, jantungku berdetak lemah. Rasanya telingaku ingin merembeskan darah saking minimnya oksigen. Kegelapan hampir menerjang jika saja Marthin tidak melepaskan dirinya dariku secara mendadak.
Aku mendengar teriakan seseorang menyerukan nama Vanny sebelum Marthin akhirnya benar-benar jatuh terbaring di samping kakiku. Aku terbatuk, memegangi leher. Pandanganku samar-samar. Seorang pria berdiri menjulang di atasku lantas membantuku bangkit. Ia melempar kayu balok yang tadi sempat kugunakan sebagai senjata. Balok itu berdarah, aku melihat Marthin, ia meringis kesakitan memegangi sisi kanan kepalanya.
"Kamu tidak apa-apa?" Rama adalah pemilik suara yang penuh kekhawatiran itu.
Ia memeriksa keadaanku lantas membantuku duduk. Aku menyesuaikan napas dengan susah payah. "Apa yang dilakukan Marthin padamu?"
Pertanyaan Rama tak sempat terjawab ketika kepanikan menamparku. Di belakang Rama, Marthin sudah berdiri memegang kabel. Ia merentangkannya, aku terbelalak, tak sempat berteriak. Satu sisi kabel ia pelintirkan di tangan kanannya untuk memperkuat jeratan. Akan tetapi, belum sempat Marthin mengalungkannya ke leher Rama, pria itu sudah meregang kaku. Matanya mendelik, kedua tangannya gemetar dan menegang.
"Pergi dari sini!" pekikku.
Rama menoleh ke belakang sebentar, terkejut, lalu menyeretku menjauh.
Tangan kanan Marthin mengeluarkan asap. Aliran listrik bertegangan tinggi mengalir ke seluruh tubuhnya. Aku dan Rama menyaksikan pergolakan itu dengan pandangan ngeri. Aku ingat sebelumnya saat pisaunya hendak menyerangku, Marthin mengayunkannya dan tanpa sengaja menggores kabel hingga selubungnya terkelupas. Siapa sangka ia malah menggunakan kabel itu sebagai senjata untuk mencelakai salah satu di antara kami.
Satu-satunya lampu sorot yang tersisa berkedip – kedip. Rama memelukku seakan berpikir aku tak punya keberanian menyaksikan itu. Marthin meregang nyawa tanpa suara. Masih berdiri, kedua matanya melotot, tangannya menghitam merambat seterusnya hingga ke seluruh tubuh. Sampai darahnya kering terhisap, detik berikutnya, tubuh itu akhirnya jatuh tergeletak. Diam. Tak bernyawa. Mati.
Rama memelukku semakin erat. Sebentar saja, aku menyeringai di balik rangkulan lengannya. Melihat orang yang sangat kubenci akhirnya mati karena kebodohannya sendiri sedikit banyaknya membuatku ingin tertawa. Mungkin aku harus menggelak, merasakan kemenangan merengkuhku.
Alih-alih merasa senang, mereka meembuat peringatan keras hingga akhirnya Fatimah mengambil porsiku sebelum tawaku terlepas dan orang – orang memandangku gila.
"Vanny baik – baik aja?"
Aku melihat wajah Rama sebentar sebelum akhirnya aku menjerit sekuat tenaga melihat jasad Marthin yang sudah menghitam dan mengeluarkan asap. Kengerian menggerogoti pandanganku. Bagaimana bisa? Pria yang dulu sempat membuatku jatuh cinta kini mati dengan kondisi mengenaskan seperti itu. Melani tidak bersalah, aku tak mungkin menyalahkannya, tapi itu Marthin, pria dengan senyum termanis dan teramah yang pernah kutemui. Kini tak ubahnya seonggok manusia yang tak bernyawa.
Tangisanku semakin kencang, Rama berusaha menenangkanku.
Kemudian, satu persatu orang berdatangan setelah Rama menghubungi mereka. Ayah datang dan merebutku dari pelukan Rama. Ia menyelimuti tubuhku dengan jaketnya, kumanfaatkan sebagai kerudung untuk menutupi kepalaku. Lalu David datang. Disusul orang-orang yang memandang ngeri peristiwa itu. Lampu-lampu dinyalakan. Jasad Marthin semakin benderang. Aku tak mampu lagi melihat apa pun. Sampai polisi datang, aku masih menangis membayangkan rupa tak bernyawa mengerikan itu. Setidaknya, ada ayah yang terus menenangkanku.
"Ayah ada di sini, Nak. Vanny jangan takut lagi, oke?"
Dekapannya melonggar ketika aku mendongak, memandangi wajahnya. Ayah yang terbaik sedang melindungiku saat ini. Aku tersenyum padanya. Sayangnya, ia justru membalas senyumanku dengan ekspresi terkejut yang sulit diartikan saat aku memberitahukan yang sebenarnya.
"Tapi, saya Fatimah, bukan Vanny."
Ada rinai kesedihan memukul wajah ayah, aku bisa melihatnya, tak bisa merasakannya begitu dalam. Kedua tangannya gemetar seakan ragu untuk memelukku lagi. Aku menyadari itu, aku pun bangkit berdiri.
"Tak apa, Nak. Kamu tetaplah putriku. Vanny ada di dalam sana 'kan? Apa dia bisa tahu apa yang baru saja terjadi?"
Aku menggeleng pelan, memandangi jasad Marthin, mengisak. "Vanny tidak tahu."
"Ya ... aku bersyukur untuk itu. Setidaknya ia tertidur di alam bawah sadarnya dengan nyaman." Ayah menarik pundakku, membawaku lebih dekat dengannya. "Kudengar, kamu adalah alter yang paling santun. Terima kasih sudah menjaga Vanny selama ini."
"Saya senang memiliki ayah." Wajahku mendongak pada ayah yang lebih tinggi dariku, memohon sesuatu. "Boleh saya peluk?"
Ketika Rama dan David mendekat, di saat itu pula ayah meringiskan tawanya padaku. Tanpa perlu berpikir, ia memelukku erat sekali. Sesaat hatiku dipenuhi beragam warna kebahagiaan yang berpola-pola indah.
Iptu Karina Salwa datang di waktu yang sedikit terlambat. Aku menceritakan semuanya. Bagaimana hasil penyelidikannya itu ternyata kalah telak bila dibandingkan dengan hasil pengamatan Jerome. Aku menunjukkan semua barang buktinya; handycam yang masih menyimpan file rekaman sorotan kamar Vanny, pengakuan Rama yang kalungnya dicopet, juga saksi para pekerja yang sempat melihat dan mendengar pertengkaran kami dengan Marthin. Kemudian dengan gaya frontalnya yang terbilang keren, Iptu Karina memujiku—memuji kami.
"Seandainya Vanny ada di sini, saya pasti akan memeluk dan meminta maaf padanya. Tapi, saya bangga pada kalian. Belum pernah dalam sejarah karirku, seorang penderita disosiasi diselamatkan oleh para alternya. Kalian hebat, kalian berani."
Segalanya menjadi lebih baik. Perlahan membaik. Bagi kami, kebebasan itu seolah menjadi pergiliran waktu untuk merasakan hidup. Orang – orang yang mengenal Vanny akhirnya memberanikan diri untuk lebih dekat dengan kami. Kini, Vanny tidak akan merasakan kehidupan bagai neraka itu membayanginya. Gadis itu sudah jauh lebih damai sekarang, esok, dan seterusnya.
Copyright by I. Majid
Medan, 27 September 2020
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top