Chapter 6

Jari kelingking keduanya bertaut, senyum lebar mengembang bahagia. Gadis bertubuh kurus itu lantas menarik tangan gadis yang bertubuh berisi. Cepat-cepat ia mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tas ransel yang masih baru itu.

"Xa, Bunda tadi masakin banyak. Makan bareng yuk."

Perempuan pemilik pipi chubby itu merasa sangat senang karena dihari terakhir masa orientasi siswa kali ini, ia akhirnya menemukan satu teman yang menerimanya dan kelihatan anak itu sangat ceria.

Sekitar tiga puluh menit lagi, acara MOS dimulai. Axa memang sengaja datang lebih pagi, sebab ia pikir bila nanti ada ketinggalan ia masih punya waktu untuk mengambil dan ia tidak akan terkena hukuman dari seniornya.

Sekolah menengah pertama itu masih sepi sewaktu pertama kali Axa memijakkan kaki di sana. Ia memilih berjalan-jalan sebentar dan saat itulah ia menemukan gadis itu tengah duduk sedang memandang sekitar di bangku panjang yang tersedia di depan kelas-kelas.

"Berteman, yuk. Aku belum punya teman," kata perempuan itu pada Axa yang membuat ia terkejut. Belum sempat Axa merespons jari telunjuknya ia sodorkan ke depannya, mau tidak mau Axa menerima.

"Axa kok diam aja, ini ambil satu," si pemilik bekal itu menyodorkan sosis dan nuget goreng padanya.

Axa mengambil satu potong sosis yang masih hangat. "Terima kasih, Irene."

"Sama-sama, Axa."

***

Mungkin terlalu muluk bagi berharap seseorang dapat menerima dirinya yang banyak kurangnya. Setahun berteman dengan gadis ceria-Iren-Axa merasa benar-benar senang. Ia suka ketika mendengar Irene bicara panjang lebar, suara cemprengnya mungkin mengganggu bagi sebagian orang. Namun, baginya suara itu bentuk dari penerimaan. Ia dianggap berguna sebagai pendengar.

Irene juga kerap kali membelanya ketika ia dirundung geng laki-laki. Mencemooh bentuk tubuhnya yang lebih besar dari anak-anak lain, atau jerawatnya yang kebanyakan. Kata-kata menusuk itu membuat Axa sedih, tetapi Irene selalu punya cara untuk mengembalikan mood-nya.

Irene juga yang membantu ia menyembuhkan jerawat-jerawat membandel itu. Karena Irene punya saudara perempuan yang bekerja di bidang kecantikan.

Hubungan keduanya baik-baik saja sampai saat itu.

"Xa, gue suka sama laki-laki yang aku bicarakan kemarin!" Irene begitu berbinar saat mengatakannya.

"Irene aku udah gede, sekarang udah suka sama cowok. Cieee."

Ledekan Axa membuat wajah Irene bersemu. Poni yang baru ia potong ia tiup, sehingga beberapa helai terbang ke atas kemudian jatuh lagi. "Tapi, Xa. Aku enggak tau gimana deketinnya."

"Iya, juga. Dia 'kan kakak kelas, pasti sulit. Apalagi most wanted gitu." Axa pikir juga memang terlalu nekat untuk anak baru seperti mereka menyukai kakak kelas yang notabene adalah incaran banyak siswi.

"Aku tau. Makanya aku butuh bantuan Axa."

Sebelah alis Axa terangkat, ia curiga Irena mempersiapkan ide bodoh. Jelas saja yang ingin temannya lakukan itu adalah ide terbodoh yang pernah ia dengar.

"Please, Xa. Cuma itu satu-satunya cara."

Setelah mendengar permintaan Irene, jelas saja perempuan itu menolak dengan tegas.

"Kau gila apa? Nggak mau!"

"Bang Regan ikut ekskul melukis dan kau pandai dalam hal itu. Kamu tinggal masuk ke sana lalu dekatin bang Regan terus jadi Mak comblang kami deh."

"Enggak semudah itu, Ren. Nggak mau, ah."

"Jahat!"

***

Memenuhi permintaan Irene pada saat itu adalah kesalahan terbesar yang pernah Axa lakukan. Seandainya dapat memutar waktu ia ingin menolak saja, tidak masalah bila Irena akan marah. Axa punya cara untuk meminta maaf.

Namun, dalam kondisi begini, apa yang harus ia lakukan agar Irene berhenti berteriak di hadapannya.

"Aku minta agar mencoblangkan aku, bukan malah jadi Bang Regan suka sama kau!"

Saat itu kelas sedang sepi, tetapi Axa tetap malu saat dengan suara tinggi sahabatnya itu menuduhnya yang tidak-tidak.

"Ren, kau salah paham."

"Aku nggak pernah nyangka punya teman suka nikung. Kecewa aku, Xa."

"Ngomong apa sih, Ren? Aku enggak ngerti."

"Enggak usah sok bodoh. Kemarin Bang Regan tanya sama aku, kamu suka apa? Berangkat jam berapa? Pulang sama siapa? Kamu pikir aku bodoh dengan semua itu?"

"Irene semua itu--"

"Aku kira kau teman. Tapi enggak mungkin seorang teman nusuk dari belakang."

Hari itu menjadi awal neraka bagi Axa. Selama ini yang melindungi Axa berubah menjadi orang yang paling membenci dirinya, apalagi ia punya banyak teman cowok yang sedari awal ada pembully Axa.

Tubuh Axa yang gendut dan wajahnya menjadi sasaran empuk. Belum lagi ia hanya pandai melukis membuat guru-guru kadang membiarkan ia terkena perundangan karena bukan siswa yang berprestasi dan bukan dari keluarga yang kaya.

Kursi dan meja Axa tidak pernah bersih setiap paginya. Setiap hari kian menyiksa saat yang ia temua hanya tatap jijik, mengejek dan merendahkan.

Panggilan-panggilan menjijikan tersemat padanya seiring dengan namanya yang dilupakan dan digantikan menjadi; jambu busuk, gentong berjalan, gajah kesasar dan yang paling menyakitkan adalah panggilan dari Irene yaitu jalang cilik. Bahkan saat itu Axa masih terlalu muda udah tahu ungkapan jalang.

Dikunci di kamar mandi atau barang-barang yang berhilangan adalah kebiasaannya yang harus ia hadapi.

Axa sudah berdoa setiap hari pada Tuhan agar diberikan satu orang saja yang tidak menatapnya jijik atau mengejeknya atau setidaknya tidak setidaknya orang yang tidak peduli padanya.

Namun, selama masa SMP doanya tidak pernah terkabul tidak ada yang mau membela atau menolongnya. Ia benci manusia-manusia itu. Yang bersembunyi dibalik topeng-topeng mempesona, tetapi berhati busuk.

Hal tersebut yang menjadikan Axa mencari SMA yang tidak banyak teman SMP-nya tahu. Mungkin siswa lain akan berburu SMA favorit, tetapi Axa malah mendaftar di sekolah yang sepi peminat.

Kejadian-kejadian yang menyakitkan itu menempahnya menjadi pribadi yang tertutup dan membangun dinding tinggi untuk siapa pun manusia yang ia temui.
Baginya ia dan dirinya sudah lebih dari cukup.

***

Sebuah tangan menyentuh dahinya, lalu beralih ke wajah dan leher. "Masih panas," suara halus itu membangun Axa.

"Ma ...."

"Kamu minum es ini pasti, makanya bisa demam." Axa tidak menanggapi candaan itu.

Pagi ini Axa bangun dengan tubuh yang bersuhu tinggi. Semalam tidak bisa tidur memikirkan kejadian itu menjadi salah satu faktornya.

"Ma ... Axa enggak usah sekolah lagi, bisa?" Sebuah cairan bening mengalir dari sudut mata Axa saat mengatakannya.

"Axa enggak kuat lagi. Aku takut, Ma. Takut ...."

Wanita paruh baya itu mengerti dengan keresahan putrinya itu. Kondisi seperti itu yang selalu ia lihat ketika Axa masih SMP.

"Kenapa orang-orang semuanya jahat," lirih Axa menangis di pelukan sang Ibu.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top