SEMBILAN
Written by : filsy3
"Na, mau pesen apa?" tanya Akmal.
"Samain aja."
Keadaan menjadi hening dan canggung. Sejauh ini yang mereka bahas hanya masalah pelajaran saja. Tak ada satupun diantara mereka yang berani membahas hal yang diluar pelajaran.
"Emm ... Mal, boleh nanya ga?" tanya Riana membuka percakapan.
"Boleh, emang mau nanya apa? Pelajaran?" ujar Akmal sambil terkekeh.
"Bukan. Hm ... gini, tapi maaf sebelumnya ya. Sebenernya gue penasaran kenapa lo nggak respon Windi sih?"
Ditanya seperti itu, Akmal sedikit kaget. Garpu yang tadi dipegangnya terlepas hingga menimbulkan suara berisik, mengundang keingintahuan orang-orang di sekitar mereka. Pemuda itu tampak gugup sembari meminta maaf.
"Ya yang jelas sih gue nggak suka sama dia karena dia centil" sahut Akmal setelah berhasil menguasai keadaan.
Riana hanya mengangguk-angguk.
"Beda sama lo," kata Akmal. Mata hitamnya mengawasi gadis itu dengan bibir terangkat naik.
Dipuji sedemikian rupa, wajah Riana bersemu merah. Melihat itupun, Akmal kembali dibuat terpesona. Baginya, Riana adalah sosok gadis idaman. Jika tahu fakta ini, mungkin teman-teman mereka di sekolah akan mengatakan Akmal buta karna lebih memilih gadis nerd seperti Riana dibanding Windi yang memenuhi kriteria kebanyakan orang. Tapi ... Akmal tetaplah Akmal, pemuda dengan banyak rahasia yang tidak sanggup dimengerti kebanyakan orang.
"Gue tau kalo Windi tuh centil, maunya diperhatiin sama orang, juga anak manja, tapi ... Windi juga gadis biasa, Mal, lo nggak boleh kayak gitu ke dia," tutur Riana lembut.
Akmal mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kesabaran Riana. Ya, dia tahu mereka bersahabat, tapi apa pantas hubungan mereka masih dikatakan sahabat ketika salah satunya hanya memanfaatkan keadaan.
"Windi nganggep gue sahabatnya, dia satu-satunya orang yang bersedia temenan sama gue saat anak-anak yang lain justru hina gue abis-abisan, Mal. Tolong lo ngerti," pintanya.
Mendengar itu perasaan Akmal jadi tak beraturan. Dia ingin melindungi Riana dan menjauhkan gadis yang disukainya itu dari pengaruh buruk Windi, meskipun ia tahu mereka bersahabat. Tak lama kemudian seorang waiters datang membawa baki berukuran besar dengan pesanan mereka di atasnya. Baik Riana maupun Akmal fokus pada santapan mereka masing-masing.
"Na, besok berangkat bareng yuk naik angkot," usul Akmal.
"Mmm ... boleh, tapi pagian ya biar nggak ketauan Windi," sahut gadis itu.
"Iya siap. Nanti sms aku aja ya kalo udah siap berangkat" ucap Akmal.
"Oke" ucap Windi.
Berjalan bersisian, kedua anak itu berniat naik kendaraan umum ke arah rumah Riana sebelum pemuda itu kembali ke rumahnya. Meski awalnya Akmal bersikeras ingin mengantarnya sampai rumah, Riana tetap tidak mengizinkan. Dia ingin hubungan yang terjalin di antara keduanya dirahasiakan. Hingga suatu saat, waktu akan mengatakan kebenarannya.
***
Keesokan harinya, Akmal telah sampai di halte depan komplek Riana. Mereka bertemu pada pukul 06.00 WIB agar sampai di sekolah saat keadaan masih sangat sepi. Sepanjang koridor menuju kelas diisi oleh canda keduanya. Tak menyadari bahwa di ujung lorong ada seseorang yang melihat semuanya.
'Lo boleh muna di depan Windi tapi enggak di depan gue! Walaupun gue cuma sebates temen ekskul tapi gue masih punya perasaan! Nggak kaya lo muna! Gue bakal ungkap semua perbuatan lo di depan Windi, kampungan!' batin seseorang tersebut sambil memotret kedekatan mereka.
"Mal PR matematika udah?" tanya Riana.
"Udah, Na," jawab Akmal sambil sesekali melirik gadis itu.
Saat mereka sampai di kelas. Suasana masih sangat sepi. Hanya mereka berdua. Bahkan Erlin yang terkenal sebagai siswi paling rajinpun belum nampak batang hidungnya.
"Tumben si Erlin belum dateng," gumam Riana sembari meletakkan tasnya di bangku, "kalo dia tau kita duluan, pasti dia bakalan heboh deh." Gadis itu tersenyum miring membayangkannya.
Akmal sendiri hanya bisa tersenyum sembari menghapus sisa pelajaran mereka kemarin dari white board.
Tapi tak lama kemuadian, orang yang mereka bicarakan datang. Gadis itu tampak terkejut, matanya membulat, kontras dengan kelopak yang sebenarnya sipit.
"E-ehh kok kalian udah dateng si? Tumben-tumbenan."
"Ah, oh iya, tadi gue berangkat bareng bokap. Kebetulan bokap ada meeting sama client-nya nggak jauh dari sini. Jadi ya ...," ucap Riana gugup sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Kalo lo kenapa udah dateng?" tanya Erlin kini beralih pada Akmal.
"Emang kenapa kalo gue berangkat pagi? Nggak boleh?" kata pemuda itu acuh.
"Mmm ... boleh sih, cuma ya gue aneh aja liat kalian udah ada di kelas pagi buta gini, berduaan lagi."
Tapi Erlin tidak mau ambil pusing, gadis itu segera duduk di tempatnya kemudian larut dalam buku-buku tebal yang jadi kebanggannya. Riana dan Akmal saling lirik dalam diam. Merasa tidak aman, keduanya kembali ke tempat masing-masing.
Menit demi menit berlalu. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 07.15 tapi Windi masih belum terlihat juga di kelas. Memang, karna kini di lain tempat, gadis itu tengah melawan kemacetan.
"Mampus! Bisa telat lagi gue kalo gini," ucap Windi pada dirinya sendiri.
Dua menit sebelum bel benar-benar dibunyikan, gadis itu akhirnya tiba di area parkir. Dan setelah memastikan motornya terparkir sempurna, Windi segera berlari menyusuri koridor untuk sampai di kelasnya sebelum pelajaran dimulai.
Membuka pintu tergesa, Windi bahkan tidak sadar bahwa ia telah membuat teman-teman di kelasnya kaget bukan main. Tak terkecuali Akmal yang siap mengibarkan bendera perang padanya.
"Eh, Win kok lo baru dateng sih?" sapa Riana begitu Windi duduk di sebelahnya.
"Ah iya, tadi gue bangunnya kesiangan," ucap Windi dengan napas tersenggal.
Riana sendiri hanya mengangguk sebagai jawaban. Tanpa pertanyaan atau embel-embel yang lain. Ada kalanya, Windi merasa sahabatnya itu berubah. Gadis itu jadi lebih berani dan kadang terlihat tidak peduli padanya.
Windi berusaha percaya. Mungkin gadis itu sedang punya masalah kali ini. Tapi terkadang, keyakinan pasti pernah goyah, meskipun hanya sedikit.
"Oke, silakan kalian duduk dengan pasangan kalian masing-masing," ucap Bu Tuti, guru matematika meraka.
Sontak Windi tersadar ketika teman-temannya berpindah tempat satu per satu. Belum pulih kekagetannya, kini di sampingnya bukan lagi Riana, melainkan Erlin.
Gadis itu tidak punya waktu untuk mencari keberadaan Riana sekarang. Bu Tuti sudah membagikan soal-soal yang membuatnya mual.
Tapi belum sempat ia melihat keseluruhan soal, Erlin sudah lebih dulu mengambil alih pekerjaan mereka. Windi hanya menulis jawabannya di lembar jawab yang tersedia. Tak butuh waktu lama, mereka sudah menyelesaikan semuanya. Begitu juga Riana yang Windi liat berpasangan dengan Akmal.
Wait.
"What the ...." Windi seperti mendapat serangan tiba-tiba. "Lin, Riana sekelompok sama Akmal?"
Melirik ke belakang, Erlin mengedikkan bahunya. Sebagian diri Windi merasa kesal sendiri. 'Kenapa harus Riana?' Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Apalagi saat melihat kedua orang itu tampak asik mengobrol tanpa tahu Windi memperhatikan sejak tadi.
"Na, kok si Windi tadi telat?" tanya Akmal.
"Tau tuh katanya sih bangunnya kesiangan," sahut Riana.
"Dasar cewek males, bangun aja kesiangan."
"Iya dia tuh kebo banget. Kalo dibangunin sama bundanya aja susah. Baru deh kalo adek - adeknya gangguin, baru bangun karena dijailin," bebernya.
Windi yang melihat kedekatan mereka tersulut emosi. Tidak mungkin dua orang itu membahas pelajaran, tapi justru tertawa seperti itu. Untuk kali ini Windi masih menahannya.Riana tidak mungkin mengecewakannya.
Keadaan itu terus berlanjut hingga bel istirahat berbunyi, bahkan sampai saat mereka pulang sekalipun. Meski gadis itu tersenyum sesekali, namun sebenarnya hatinya tengah gundah.
"Windi!" teriak seseorang sambil menepuk pundaknya pelan, "gue mau ngomong bentar."
"Apaan Far?" tanya Windi lesu.
"Gue mau ngasih liat ini," kata Farah sambil menyodorkan ponselnya ke arah Windi.
Penasaran, Windi akhirnya mendekat ke arah teman cheers-nya itu. Tiba-tiba matanya membulat. "I-ini serius?" tanyanya sambil merebut ponsel Farah, "Riana sama Akmal kok mereka jalan barengan sih?"
"Gatau gue juga, gue sering liat mereka bareng. Waktu itu di lorong sekolah sering banget kalo pagi - pagi terus di halte buat nunggu angkot. Waktu itu juga gue sering sih liat Akmal sama Riana di kafe deket rumah gue," jelas Farah.
Tak sadar setetes cairan bening mulai jatuh dari pelupuk matanya. Ia tak percaya jika seseorang yang ia anggap sahabat telah mengkhianatinya. Ia lebih tak percaya lagi jika kini hatinya perlahan hancur.
"Baiknya lo diem aja dulu, pura-pura nggak tau semuanya. Nanti bakal ada saatnya lo ungkapin ini semua. Gue duluan ya, bye Win!" ucap Farah sambil menepuk bahu Windi lalu meninggalkannya.
***
Hari demi hari kian berlalu. Kedekatan Akmal dan Riana makin terlihat. Di sisi lain, Akmal semakin susah untuk Windi gapai. Gadis itu bisa merasakan semuanya sekarang. Termasuk perasaanya yang kian nyata terhadap Akmal. Bukan hanya rasa kagum, tapi lebih dari itu.
Seusai sekolah, Akmal dan Riana berencana mampir ke kafe yang waktu itu pernah mereka singgahi. Windi yang mendengar Riana akan pergi bersama Akmal pun memutuskan untuk mengajaknya pulang bersama.
"Ri, pulang bareng yuk!" ajak Windi.
"Duh, sorry, gue nggak bisa, Win. Gue udah ada janji sama seseorang," sahutnya.
"Seseorang? Siapa yang lo maksud seseorang? Akmal?" cibir Windi, "Lo muna, Ri. Bilangnya sahabat gue, tapi ternyata lo tuh berani nusuk gue dari belakang. Lo tau gue suka sama Akmal. Gue berjuang mati-matian supaya dikit aja dia liat gue, tapi bukannya bantuin ... lo sebagai sahabat malah deketin dia buat diri lo sendiri," ucap Windi yang sudah sangat kesal.
Riana yang mendengar semua itu lantas menatap Windi. "Gue udah lakuin banyak hal buat elo, Windi. Apa kebaikan gue selama ini kurang jelas buat elo?"
"Apa lo bilang? Kebaikan?" Windi mendengus. "Jadi selama ini lo anggep hubungan kita itu apa? Simbiosis?"
"Maaf Win, gue udah ada janji sama Akmal. Tapi perlu gue ingetin sama lo ... gue nggak ngejar-ngejar Akmal kayak yang lo lakuin, dia sendiri yang deketin gue. Dan lagi, bukannya elo cuma kagum aja sama dia? Harusnya nggak masalah dong kalo gue suka sama dia?" Riana menyeringai. "Ya udah, lo pikirin aja dulu semuanya, sekarang gue harus pergi. Bye."
Kedua tangan Windi terkepal di kedua sisi tubuhnya. Ini memang akhir persahabatan mereka. Atau bahkan, kata persahabatan memang tidak pernah ada di antara keduanya.
To be continued
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top