32. Singkat
"Rin, aku mau ngomong."
Suara itu menghentikan langkah kaki Irina yang berjalan tergesa menuju gerbang. Ia sengaja pulang buru-buru untuk menghindari pertemuan dengan seseorang. Namun, nyatanya orang itu justru berdiri di balik punggungnya sekarang. menghentikan langkahnya hanya dengan satu kalimat.
Irina perlahan berbalik menatap pemilik suara. Netranya menemukan wajah tampan dengan hidung mancung dan mata indah. Tatapan itu—yang biasa menatapnya hangat dibarengi dengan senyuman manis—kini berubah menatapnya tajam yang terkesan mengintimidasi. Irina bergerak gelisah dan sedikit takut dengan tatapan itu.
"Ada apa, Kak?" tanyanya pada Dimas—si pemilik suara. Ia balik menatap sambil berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Bisa kita ngobrol di taman belakang aja? Aku gak bisa keluar sekolah kalau udah jam pulang," pinta Dimas dengan nada memohon. Irina hanya mengangguk pasrah. Segala rencana ngambek dan mogok bicara yang telah ia susun sejak kemarin, mendadak sirna. Lagi-lagi ia kalah dengan perasaannya. Perasaan yang tidak pernah mampu menolak apapun yang diminta cowok itu.
***
Irina sudah duduk di bangku taman dengan satu cup es krim rasa vanila di tangannya. Di sebelahnya, duduk seorang cowok tampan yang kini berstatus sebagai kekasihnya—Dimas Mahessa. Ia berusaha bersikap tenang sejak tadi meski jantungnya berdetak tak karuan. Perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Rin, kamu ..." Dimas menggantungkan kalimatnya. Mencoba berpikir seribu kali untuk melanjutkan. Ia berusaha merangkai kalimat terbaik sebelum ia ucapkan pada gadis di sebelahnya.
Irina yang tidak sabar akan kelanjutan kalimat itu, hanya dapat menatap Dimas. Ia melihat keraguan dalam raut wajah cowok itu. Juga tatapan frustasi tentang hal yang akan ia sampaikan. Dalam hati, Irina terus berdoa agar sesuatu yang buruk tidak akan Dimas ucapkan setelah ini. Sungguh, ia benci mendengar hal-hal buruk dari orang yang ia sayangi.
"Kamu udah tahu alasan Cindy pergi sama Devan, kan?" tanyanya tanpa basa-basi lagi.
Irina tersentak mendengar pertanyaan itu. Bagai mendengar suara petir di siang bolong, ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Hal yang ditakutkan Irina selama ini, terjadi. Dimas mengetahui semuanya. Dan buruknya lagi, Dimas tahu ini bukan dari mulut Irina sendiri.
"Jawab aku, Irina!" ucap Dimas dengan suara berat yang terdengar tegas. Irina meletakkan cup es krimnya yang masih tersisa setengah di bangku taman—ia sudah kehilangan selera pada dessert favoritnya itu. Perlahan ia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Dimas.
"Sejak kapan?" tanya Dimas lagi.
"Satu hari sebelum Kak Dimas nembak aku," jawab Irina lirih.
Dimas mengusap kasar wajahnya. Ia merasa gadis itu membohonginya selama ini. Pikirannya terus berkata hal yang buruk tentang Irina. Hatinya kecewa dan tidak terima dengan diamnya gadis itu selama ini.
"Rin, kamu tahu, kan, kalau selama ini aku salah paham sama Cindy?" Lagi. Dimas bertanya meski ia tak membutuhkan jawabannya. Irina hanya dapat diam tanpa berani menatapnya.
"Bahkan aku nyakitin dia lagi. Sehari sebelum aku ketemu kamu sore itu, aku buat dia nangis lagi. Aku bicara hal yang buruk tentang dia. Bahkan aku bilang dia gadis murahan, yang selingkuh sama Devan, lalu tanpa tahu malu kembali ke sini dan nemuin aku!"suara Dimas semakin meninggi, membuat Irina tidak dapat menahan air matanya.
"Bahkan setelah bilang kayak gitu ke Cindy ... aku masih nyari kamu malemnya," lanjut Dimas. Kali ini terdengar lirih dan penuh penyesalan.
Irina ingat, malam itu ia mengabaikan banyak pesan dari Dimas. Bahkan ia membujuk mamanya untuk berbohong dan mengatakan jika ia sudah tidur. Hal itu karena ia dihantui rasa bersalah, juga perasaan bimbang pada cowok itu—usai bertemu Cindy. Ia tidak menyangka, jika setelah bertemu dengannya, Cindy menemui Dimas. Kemudian, esoknya Dimas menyatakan cinta di taman belakang sekolah. Tepat di atas bangku yang saat ini mereka duduki. Dan Irina melupakan rasa bersalahnya pada Dimas dan Cindy dalam sekejap, usai menjawab "Iya" pada pernyataan cinta cowok itu.
Irina menunduk. Memainkan kedua jari telunjuknya. Ia merasakan tubuhnya mulai lemas ketika dihujam pernyataan yang menyudutkannya oleh Dimas. Ia bingung harus menjawab apa. Bahkan ia sendiri tidak memahami pikirannya yang lebih memilih menutup rapat fakta dari masa lalu Dimas yang ia ketahui, timbang mengungkapkannya. Kini ia menyadari, jika keegoisannya selama ini justru membawa petaka bagi dirinya sendiri.
"Aku mau kita udahan, Rin," ucap Dimas akhirnya. Ia memejamkan mata menahan rasa sakit atas ucapannya sendiri. Bahkan ia tak sanggup membalas tatapan Irina yang sudah penuh akan bulir air bening yang melesak keluar dari pelupuk matanya.
Irina mengusap air matanya kasar. Ia menarik napas dalam sebelum berkata, "Kasih aku alasan yang lebih logis, Kak!"
"Masih kurang jelas? Aku kecewa kamu tutupin semuanya dari aku. Kamu gak jujur tentang pertemuan kamu sama Cindy, kamu—"
"Lalu apa artinya kedekatan kita selama ini? Apa artinya semua perhatian Kakak ke aku? Dan ... apa artinya ciuman itu?" sela Irina di tengah ucapan Dimas. Meski sempat meninggi, tetapi Irina menurunkan suaranya tepat pada kalimat terakhir. Membuat Dimas bungkam dan tak bisa berkata-kata lagi selain, "Maaf."
"Kalau emang itu mau Kakak, ya udah. Ayo udahan," lanjut Irina. Ia kembali mengusap air matanya yang terus saja turun. Menahan untuk tidak menangis lagi di depan cowok itu.
"Udah selesai, kan? Aku harus pergi sekarang," ucapnya lagi saat mendapati Dimas hanya diam dan tak merespons ucapannya. Irina segera bangkit dari bangku itu dan kembali menggendong tasnya. Ia berniat untuk pergi. Namun, tangan Dimas menahan pergelangannya.
"Maafin aku," ucap cowok itu lirih. Irina terus diam agar tangisnya tidak keluar lagi.
"Terimakasih, dan ... maaf, aku gak bisa anter kamu pulang," lanjutnya. Suara cowok itu mulai terdengar serak lantaran menahan perasaan lain dalam dirinya.
"Gak perlu! Aku bisa pulang sendiri," sahut Irina tegas. Kemudian, ia melangkahkan kakinya meninggalkan cowok itu. Ia berusaha menunduk menyembunyikan mata sembabnya. Meski sekolah sudah tampak sepi, tetapi masih ada beberapa siswa yang berkeliaran di sana dengan urusan masing-masing. Dan Irina tidak ingin ada yang melihatnya dengan keadaan menyedihkan seperti itu.
Ia terus berjalan melewati koridor sekolah. Usai dari toilet dan membasuh wajahnya, ia memutuskan untuk memesan taksi online. Sebab, ia tidak mungkin pulang naik angkot dengan wajah buruk rupa, menurutnya.
meski hatinya terluka. Namun, kini ia sadar kesalahannya. Dimas benar, tidak seharusnya ia berbohong. Apapun yang terjadi, kejujuran adalah kunci utama dalam sebuah hubungan. Jujur saja ia menyesal. Mengapa ia memilih egois dan melupakan perasaan Cindy. Padahal Cindy adalah sahabatnya sejak dulu. Ia terlalu mabuk dalam euforia yang telah Dimas ciptakan untuknya. Dan hanya karena kesalahan kecil, semua itu harus berakhir dalam waktu singkat.
Tbc ...
Edited: January 1st, 2020
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top