7. Pusing
Perkataan wanita tadi ada benarnya.
Eilan sedang duduk sambil sok sibuk memilah-milah baju ketika ada pelanggan datang. Ia bisa mendengar Kinan yang menyapa dengan amat ramah, meski kemudian diam. Eilan berdiri, sebaiknya ia ke ruangan gudang saja karena tidak tahu harus apa. Ia melihat seorang pelanggan, ibu-ibu, berdiri dan memilah baju. Baru saja hendak melenggang, seseorang menarik bahunya. Refleks, Eilan mengaduh.
"Ssssh! Eh, enggak papa, Bu." Itu Kinan, menoleh ke ibu-ibu tadi sambil tersenyum seolah merasa bersalah. Namun, begitu pandangannya tertumbuk ke Eilan, ia langsung memelotot. "Stay di sini, jangan ke mana-mana! Kalau ada apa-apa, kamu yang bantuin!"
"Ha? Eh, aku 'kan enggak ngerti-"
Kinan tak peduli, ia menarik Eilan sampai agak dekat ibu-ibu tadi, lalu sendirinya kembali ke kasir.
Eilan terbengong-bengong. Ia bisa saja kembali melangkah ke belakang, tetapi sudah pasti ia akan kena semprot Kinan. Maka, ia berdiri diam di samping ibu-ibu tadi.
"Mbaknya bisa bantuin saya?" Ibu-ibu itu tiba-tiba berkata tanpa menoleh ke arah Eilan sama sekali.
"Uh, ada yang bisa saya bantu?" jawab Eilan kagok.
"Saya mau beli hadiah, buat adik saya. Kasian, enggak bisa beli baju buat nanti lebaran. Mumpung saya lagi ada bonus."
Ya Allah! Haruskah aku melayani orang curhat? Eilan kebat-kebit.
"Nah, saya enggak tahu selera adik saya itu gimana." Ibu-ibu itu berbalik, menunjukkan setumpuk baju di pelukannya. "Mbak bisa bantu pilihkan?"
Lha, Ibu aja enggak tahu, apalagi aku! Eilan merutuk dalam hati.
Hening beberapa detik, sampai Kinan tiba-tiba berdeham cukup keras. Eilan langsung melonjak. "Eh, i-iya, Bu. Kalau boleh tahu, adiknya Ibu suka warna apa, ya?"
Ya, bodo amatlah. Mari kita pura-pura jadi konsultan pakaian.
"Kuning sih Mbak, tapi saya kurang suka model yang ini. Yang bagus malah hijau, tapi seingatku dia enggak mau pakai baju lebaran hijau." Ibu-ibu itu mengangkat dua gamis.
"Oh, adiknya perempuan, Bu?"
Ibu-ibu itu sempat menatap heran Eilan. Eilan sendiri rasanya ingin langsung sembunyi di tumpukan baju. Aku ini emang goblok, ya?
"Maaf, kira-kira umur berapa?" Eilan berpikir sejenak, lalu berdeham. "Dan ... kalau Ibu enggak suka modelnya, apa adik Ibu juga?"
Ibu-ibu itu terdiam sesaat. "Ya juga, sih. Selera kita 'kan enggak sama." Ia menghela napas, lalu mengangkat sebuah gamis biru. "Tapi yang ini bagus juga."
"Apa keluarga Ibu enggak ada baju seragam pas lebaran?"
Baru saja bertanya begitu, Eilan merasa ada pandangan yang begitu menusuknya. Ia menelan ludah. Aku salah ngomong lagi? Ya maaf, Mbak Kinan!
"Saya dan adik saya merantau, jauh dari keluarga besar, dan kayaknya cuma saya yang bisa pulang nanti." Ibu-ibu itu kembali menghela napas, tampak berat. "Ya, itulah, beli baju lebaran aja enggak bisa."
Ingin rasanya Eilan menimpali lagi: kok belinya sekarang? Bukannya lebaran masih dua bulan lebih lagi? Namun, rasanya, pertanyaan apa pun yang ia lontarkan akan mendapat bonus pelototan dari Kinan.
"Mbak, tinggal di sini?"
Pertanyaan itu membuat Eilan melonjak. "Uh, saya ... rantau, Bu."
"Oh."
Entah mengapa, Eilan yakin kalau ia melihat wajah ibu itu tiba-tiba berseri.
"Lebaran masih lama 'kan ya? Tapi kalau udah menjelang lebaran nanti, saya enggak bakal sempat belanja baju soalnya sibuk di kampung." Pandangan ibu itu menerawang. "Jadi, saya beli hadiah buat adik saya sekarang. Mbaknya, punya saudara?"
"Sa-saya anak tunggal, Bu."
"Nanti lebaran, mudik?"
Pertanyaan itu menyentil Eilan. Ia berusaha tersenyum. "Insyaallah. Kangen masakan Ibuk."
Ibu-ibu itu tersenyum. "Benar. Beberapa tahun terakhir, apalagi pas pandemi kemarin, saya enggak pulang kampung. Terus, saya berusaha masak makanan lebaran kayak di rumah, tapi rasanya enggak menyamai buatan Mak."
Eilan menelan ludah. Meski ia tidak memasak, tetapi soal rasa, masalah mereka sama.
"Nah, kenapa jadi melantur!" Ibu-ibu itu tertawa. "Jadi, gimana menurut Mbak ... Mbak siapa?"
"Eilan."
"Mbak Eilan. Saya Harti." Bu Harti menjabat tangan Eilan. "Saya beli dua, deh. Kuning sama hijau. Yang satu buat saya sendiri."
"Eh, maaf enggak membantu, Bu." Eilan kagok sendiri.
"Eeeh, kata siapa. Ngobrol sama kamu bikin saya bisa memutuskan. Ini juga, kalau beli lebih banyak, kamu lebih untung, 'kan?"
Eilan yakin, wajahnya bersemu sekarang. Ia melihat Bu Harti mengembalikan gamis biru, lalu membawa dua gamis lain ke meja kasir. Saat itulah, Bu Harti menyenggol sebuah manekin. Eilan terperanjat, ia dengan sigap berlari dan menangkap manekin itu. Berhasil, tetapi baju display yang dipasang terlepas ... dan Eilan melihat dengan jelas, baju dengan tag harga Rp500.000 itu robek.
Eilan mendelik. Barang defect? Atau cuma sampel makanya emang jelek?
"Aduh, Ei!" Kinan tiba-tiba muncul, lalu menatap Bu Harti. "Maaf, Ibu, tadi nyenggol manekin, ya?"
"Eh, iya, Mbak. Maaf. Tapi, enggak jatuh, 'kan?" Bu Harti tampak panik. "Enggak ada yang rusak, 'kan?"
"Gimana, Ei?" tanya Kinan. Suaranya begitu menekan. Bukan hanya itu, jelas-jelas Kinan menatapnya tajam, seolah mendesaknya sesuatu.
"Uh, eh ... emang ini barang-"
"Oh, ya ampun! Robek!" Kinan meraih manekin dari tangan Eilan dan memutarnya, menunjukkan bagian yang robek ke arah Bu Harti. "Maaf, Bu. Di sini sudah jelas ada peraturan, merusak berarti membeli, 'kan?"
Bu Harti terngaga, Eilan tak kalah kaget.
"Kok bisa robek?" Bu Harti tampak cemas. "Lha wong kena bagian sana aja enggak ...."
"Ei, sebelum jatuh tadi, apa sudah robek?" Kinan menatap Eilan tajam.
Eilan sangat tahu maksudnya. Namun, lidahnya kelu. Dengan gemetar, Eilan menjawab, "Enggak ...."
Hening lagi.
"Jadi, Ibu beli apa saja?" Kinan sudah kembali ke kasir, meninggalkan Eilan yang masih gemetar sambil memegangi manekin yang disodorkan kembali padanya. "Oh, outer ini juga harus dibayar berarti, ya. Barang defect bakal turun harga, tapi itu kalau akibat dari kami, bukan pelanggan. Maaf, Bu, karena Ibu merusak barangnya, jadi harus dibeli sesuai harga normal."
Sungguh, Eilan merasa begitu terimpit. Yang ia maksud enggak adalah, ia tidak tahu. Posisi manekin itu membelakangi tembok, sedangkan yang robek di bagian belakang! Mana ia tahu kalau awalnya robek?
Bu Harti tampak menatap salah satu gamis dengan sendu. Satu gamis itu harganya dua ratus ribu-tidak semahal outer yang dipajang. Bukankah kalau begini, uang Bu Harti akan keluar lebih banyak?
"Anu, Mbak Kinan ... kayaknya, ini salah saya."
Kinan mendelik ke arah Eilan, sementara Bu Harti langsung menoleh.
" 'K-kan, saya yang nahan biar enggak jatuh, sementara ibunya ... Bu Harti, enggak nyentuh sama sekali, cuma kesenggol ujung pundak. Aku lihat sendiri, soalnya aku di belakangnya." Eilan terus memaksakan diri untuk bicara, meski makin lirih. "Maaf, Mbak ... akan aku ganti kerugian toko ini. Enggak usah timpakan ke Bu Harti."
Toko itu diliputi keheningan beberapa saat.
"Yah, kayaknya memang begitu, ya." Kinan akhirnya manggut-manggut, lalu kembali melempar senyum ke Bu Harti. "Maaf, barang-barang di sini dijaga dengan baik, jadi kalau ada yang rusak ... kayaknya, saya jadi terbawa emosi. Aduh, saya benar-benar minta maaf." Kinan menangkupkan kedua tangannya. "Sebagai kompensasi dan permintaan maaf, Ibu hari ini belanjaan Ibu diskon lima puluh persen. Buy one get two. Beli gamis ini, bonus ini. Gimana, Bu?"
Eilan tahu, dari sudut matanya, ia melihat gelagat Bu Harti tampak sangat tidak enak. Ibu itu pasti canggung, kaget, dan terhina, sekaligus. Namun, seolah tak mau memperpanjang urusan, Bu Harti segera mengiakan dan membayar, juga lekas-lekas keluar toko.
Lagi, keheningan yang mengisi suasana.
"Mbak bohong," gumam Eilan.
"Apa? Ngomong ke siapa?" tanya Kinan tajam.
"Enggak." Eilan berpaling. "Aku harus ganti berapa?"
Kinan menghela napas, tampak gusar. "Gantiin biaya buat diskon ibunya tadi aja. Karena aku baik, kamu enggak perlu bayar outer itu."
"Baik apa bohong?" Eilan tak tahan untuk tidak ngegas.
"Apa yang kamu bilang bohong?" Kinan tak kalah judes.'
"Benar, Kinan. Kamu bohong."
Eilan sampai melonjak. Safa, seperti biasa, muncul tiba-tiba. Ia memegang pundak Eilan. "Kamu benar, Eilan. Kinan berbohong. Bukan, kami berbohong."
Eilan mendelik, kaget.
"Maaf, Ei, Kinan. Kemarin Eilan belum sempat di-training dengan benar." Safa menghela napas.
"Pantesan enggak bisa diajak kerja sama!" seru Kinan tandas. "Gimana toh, Mbak? 'Kan jadi kita yang repot!"
"Enggak, enggak. Diam dulu." Safa berujar dengan tenangnya. "Ei, baju itu memang robek. Kami sengaja taruh di sana, membelakangi tembok, dan agak menghalangi jalan, supaya kami bisa menuntut ganti rugi."
Eilan seketika kaku.
"Dan, kamu ingat kontraknya, kamu dilarang untuk menyebarkan rahasia perusahaan, atau kamu yang harus ganti rugi."
Eilan mengerjap. Sebenarnya, ia sudah menahan tangis.
Mengapa? Mengapa setelah ia mendapat pekerjaan, justru yang seperti ini?
"Baik, dimengerti," jawab Eilan pelan. "Tapi, aku bakal tetap ganti kerugian tadi. Toh itu memang salahku."
"Enggak juga enggak papa, kok." Safa tersenyum ke arah Eilan. "Ini hari pertamamu, saya maklum kalau kamu masih banyak bingung. Kinan, jangan galak-galak. Ajari yang bener, dong."
"Huh, ini 'kan gara-gara Mbak ngerekrut tanpa ngelatih!" Kinan berkacak pinggang. "Ya sudah, Ei! Sekarang kamu bakal diajari semua. Besok-besok, jangan ulangi kesalahan!"
Eilan mendesah dalam hati. Kontraknya bekerja di sini dua bulan. Namun, hari pertama bekerja, ia sudah ingin resign saja.
Lagi-lagi ... kenapa aku sial melulu?
(Bersambung)
****
Sepertinya Tare melakukan kesalahan besar selama nulis cerita ini. Tare nggak pacing dengan benar. Sis Ei kapan napasnya, kenapa sial mulu?? (─.─||)
Per tanggal 2 EDT, pendaftaran wattys dibuka. Karena saya iseng, saya bakal up cerita ini sampe tamat, terus coba daftarin. :D
Mgr, 2/7/26
zzztare
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top