Prolog
Tidak ada yang pasti, nyata dan palsu. Semua hanya ilusi dan manipulasi. Kau takkan mempercayainya sampai melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Jika tak bisa, maka kau cukup berusaha mengingat kembali memori apa saja yang telah kau buang, sembunyikan, dan kau ciptakan.
Cukup satu kata dariku, "Ingatlah."
----Φ----
Sebelum baca, kenalan dulu yuk sama karakter dalam cerita aku.
Yah, seperti yang kalian lihat ini adalah novel fanfiction.
Latar ceritanya pun adalah Korea Selatan.
Karakter yang aku ambil adalah Kim Taehyung sebagai Kim Taehyung dan Kim Sejeong sebagai Kang Hanna.
Novel ini bergenre Romance-fantasy. Letak fantasy nya dimana? Kalian akan mengetahuinya sendiri setelah membacanya.
Jika menurut kalian fantasy yang aku ambil di sini mirip dengan salah satu drama korea yang pernah kalian tonton. Jangan kecewa apalagi stop membaca yah.
Sebenarnya genre yang ku ambil sebagai pengantarnya memang terinspirasi dari drama tersebut. Namun, ide, alur, konflik dan semua yang akan kalian baca nantinya akan jauh berbeda.
Jadi, bacalah sampai akhir. Karena kalian akan terus terbayang rasa penasaran jika tidak melanjutkannya.
Apa sih yang buat cerita ini beda? Yaudah baca aja biar ngerti. hehe
Selamat membaca. Cusss di vote dulu kalo belum vote
----Φ----
"Aku hampir gila hanya karena ingin melupakan mu." -Taehyung.
"Kenapa kau tidak mengatakannya? Kenapa kau berpura-pura tak mengenalku? Sebegitu bencinya kah dirimu kepadaku?" -Hanna.
----Φ----

Bip.
Bip.
Bip.
Suara layar dari benda berbentuk persegi penanda detak jantung, yang tepat berada di samping tempat tidurnya, adalah suara pertama yang ia dengar saat itu. Ruangan beraroma obat-obatan, adalah aroma yang pertama ia rasakan saat itu. Berat, matanya sangat berat bahkan hanya untuk terbuka tipis. Ia sangat ingin membuka kelopaknya untuk meraih setitik cahaya, namun tak bisa. Sekali lagi, itu sangat berat.
Sakit, rasanya sangat sakit. Kepalanya seolah meronta luar biasa, karena sakit yang menekan. Seperti memaksanya untuk berteriak, namun sekali lagi ia tak bisa. Satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah menangis dalam pejam. Sekuat tenaga ia mencoba tuk bersuara. Namun hanya tangis yang keluar. Lalu, sekali lagi dipaksanya sang tubuh untuk melewati batas. Tak lagi memperdulikan sakit yang teramat menyiksa itu. Dan—ia berhasil. Satu anggota tubuhnya bergerak, yaitu jemarinya. Ia dapat menggerakkan jemarinya sedikit, dan untunglah seseorang di ruangan itu, tak sengaja melihat pergerakannya. Tak lama setelahnya, terdengar seseorang memanggilnya dengan sebuah nama.
"Hanna, Hanna, dokteeer, susteeer."
Langkah kaki berlari beriringan mulai semakin mendekat, yang ia yakini adalah dokter dan suster yang dipanggil sang sumber suara sebelumnya. Ia tak bisa melihat apa yang terjadi, hanya suara yang saat ini bisa ia dengar. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terguncang. Guncangan yang membuat tubuhnya sakit berkali-kali lipat. Kepalanya terasa seperti ingin meledak. Terdengar suara panik dalam ruangan itu, membuat dirinya semakin merasakan sakit.
Rintihan dan tangisan memenuhi ruangan. Kenapa? ada apa? ingin sekali ia bertanya seperti itu. Sangat jelas suara wanita yang menangis tersedu-sedu memanggil namanya berulang kali, serta seorang pria yang berusaha menenangkannya. Dokter pun terus berusaha untuk menyelamatkan tubuhnya yang sudah semakin mati rasa.
Sudah tiga kali tubuhnya dikejutkan dengan sebuah alat beraliran listrik, yang ia yakini adalah alat kejut jantung. Tepat keempat kalinya tiba-tiba hening menyapa.
Tak ada lagi sakit.
Tak ada lagi suara.
Beberapa detik kemudian dengan ajaib ia mampu membuka matanya bahkan sangat mudah. Seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Ia melihat tangannya, tubuhnya, kakinya.
Kaki? pikirnya kenapa ia mampu berdiri.
Segera ia dongakkan kepalanya dan didapatinya seorang wanita berusia 40-an sedang menangis dan pria yang dia yakini usianya lebih muda dari wanita itu, juga sedang menangis.
Jadi mereka yang sedari tadi menangis.
Kemudian, ia menatap tubuh gadis yang sedang terbaring kaku dengan selang infus, serta alat-alat kedokteran yang tersusun lengkap untuk menopang hidup sang gadis. "Gadis itu aku?"
Wajah dokter di ruang bernuansa putih itu dengan vas bunga lily di sampingnya, terlihat sedih seperti seseorang yang menyesal. Dua perawat di sampingnya pun terlihat sama. Hanya dengan melihat ekspresi mereka, ia tahu bahwa telah terjadi hal yang tidak diinginkan. Wanita yang sedari tadi menangis pun, tidak kuasa menahan tangis yang lebih kencang lagi.
"Andwae..andwae ... Hanna.. bangun sayang. Hanna eomma di sini nak, bangun nak eomma mohon bangun."
Wanita tersebut terus menangis sambil mengguncang-guncang tubuhnya yang sudah mulai memucat. Rohnya yang melihat pun ikut menangis sambil menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, karena ia tidak ingat apapun, selain wanita yang menangis itu menyebut namanya Hanna dan menyebut dirinya sebagai ibu.
Tidak. Aku tidak ingin mati, ucap Hanna pada dirinya sendiri, berulang kali ia mengatakan kata 'tidak', dan diiringi derai tangisnya yang mulai pecah.
"TIDAAAAAK," teriaknya.
Seketika tubuh yang terbaring kaku dan pucat itu, tubuh yang sudah dinyatakan waktu meninggalnya itu, menarik napasnya kembali layaknya orang yang baru saja tenggelam dalam lautan dan mencoba menarik napas ke permukaan. Ia pun terkejut sama dengan orang-orang yang berada di ruangan itu. Dokter yang tadi hampir keluar, kembali masuk dan memasang kembali alat bantu pernapasan agar nyawa pasiennya dapat terselamatkan.
"Apa yang terjadi? Aku benar-benar tidak mengerti? Kenapa aku bangun kembali padahal roh dan ragaku belum menyatu?" tanyanya dengan seribu kebingungan.
Tiba-tiba dilihatnya tubuh rohnya memudar, sedikit demi sedikit menghilang, dan diikuti oleh kesadarannya yang ikut memudar, mengikuti tubuh rohnya yang tak lagi terlihat.
.
.
.
.
.
.
Hallo.. gimana prolognya. Semoga bisa buat kalian lanjut ke part selanjutnya yah.
*big heart for you all*
Jangan lupa vote dan koment yah.
buat yang nge-vote n koment nih dapat salam dari tet ama Sejeong as Hanna


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top