Memory

"Hujan, saat dewasa nanti kau ingin jadi apa?" tanya seorang guru muda pada gadis kecil berambut biru tua.

Gadis itu tersenyum bersemangat. Tangannya menggapai udara seakan ada mimpi yang bisa ditangkap di sana. Matanya berbinar dengan semangat. Ada satu pekerjaan yang dia anggap pekerjaan paling menakjubkan di Empire.

"Penjelajah!"

****

Hujan berjalan gontai di sepanjang lorong sekolah. Wajahnya sangat tidak bersemangat, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Jika ada yang bertanya tentang penyesalan terbesar dirinya berhubungan dengan hal ini.

Dahulu saat kecil dia selalu bersemangat menceritakan cita-cita yang dia miliki. Dia dahulu sangat ingin menjadi traveler yang pergi lintas ruang dan waktu. Menurut Hujan muda, bisa berada dalam dimensi keempat merupakan hal yang luar biasa. Namun, ketika sekarang dia berada di sekolah pelatihan penjelajah, semua hanya tinggal penyesalan.

Tidak ... bukan sistem sekolahnya buruk. Dia masuk di salah satu sekolah terbaik di ibukota. Sayangnya hal itu ternyata tidak mampu membangkitkan semangat Hujan yang telah menginjak remaja.

Alasannya?

"Ah! Kenapa banyak sekali teori yang harus kupelajari? Rasanya mau mati membaca dan menghafal seluruh buku ini. Aku bisa mati karena bosan." Hujan mengeluh. Jika tidak ada batasan bibir seseorang bisa maju, mungkin kini bibirnya sudah menyentuh tembok perpustakaan.

Hujan merebahkan kepalanya di meja. Dia melihat setumpuk buku tebal yang akan menjadi panduan belajar untuk semester ini. Gadis itu menempelkan telunjuknya pada salah satu punggung buku. Setelahnya ekspresi Hujan semakin memburuk.

"Satu buku saja sudah setebal jari telunjukku. Lalu ini ada berapa banyak? Mereka sebenarnya ingin menciptakan penjelajah atau makhluk digdaya, sih?" Lagi, Hujan mengeluh.

"Ekhem!" Suara deheman penjaga perpustakaan membuat Hujan terdiam.

Dia mengintip dari buku-bukunya yang tinggi. Di pojok ruangan dengan tempat duduk yang tinggi, penjaga perpustakaan menatap Hujan dengan tajam. Tanpa sadar Hujan menelan ludah.

"Mungkin aku bahkan akan mati sebelum membaca satu pun buku hanya karena ditatap penjaga perpustakaan!" Hujan membatin.

Dia mengambil buku yang paling atas dan mulai membacanya. Sesekali Hujan mengintip ke arah penjaga perpustakaan. Ketika menemukan dirinya masih ditatap tajam, Hujan langsung kembai fokus.

Sayang beribu sayang, semua materi yang dia pelajari begitu membosankan. Baru membaca satu paragraf saja rasanya Hujan sudah mengantuk. Tanpa sadar, dirinya sudah terlelap di atas bukunya.

Ketika Hujan terbangun, hari sudah gelap di luar perpustakaan. Hujan menatap ibukota yang terang oleh cahaya lampu dengan tersenyum. Jika ibukota seindah ini, lalu bagaimana dengan kedaan di dimensi lain? Hujan sungguh penasaran.

Dia tidak pernah menginjakkan kakinya keluar ibukota. Rasa penasarannya sangat besar dan dia ingin menjelajah dunia. Namun, di satu sisi Hujan juga sangat tidak suka belajar. Dia lebih suka berada di lapangan dibandingkan di meja kerja.

Hujan menutup buku. Sebuah ide muncul dalam benak gadis itu. Dia buru-buru memasukkan semua bukunya ke dalam tas dimensi dan pulang. Ada hal yang harus dia kerjakan di rumah untuk menggapai cita-citanya.

"Mari kita lihat apa yang seorang Hujan dapat lakukan!" seru Hujan bersemangat.

Sekarang remaja akhir itu tengah berada di kamar, tepatnya di depan komputer. Dia tersenyum, tetapi hanya setengah sudut bibirnya yang terangkat. Alis gadis itu bergerak-gerak naik turun. Sesekali, tubuhnya pun ikut menari-nari.

"Surat Izin Penjelajah," gumam Hujan semnari mengetik.

Di kolom pencarian, terdapat banyak surat izin yang telah disensor namanya. Hujan tersenyum. Dia mengambil salah satu contoh surat dan mulai membuat replika surat itu.

Ya, yang dia lakukan sekarang ini adalah tindakan kriminalitas. Gadis itu sedang membuat lisensi palsu untuk dirinya sendiri. Bagi Hujan belajar di lapangan jauh lebih berguna dibandingkan apa yang dia pelajari di kelas. Satu-satunya cara jika dia ingin seperti itu adalah dengan memiliki lisensi. Namun, tentu saja Hujan belum memilikinya.

Hujan menatap layar komputer dengan begitu fokus. Dia membuat lisensi itu semirip mungkin dengan yang ada di contoh. Beberapa bagian dia kosongkan, tetapi tidak masalah. Sebentar lagi usianya akan mencapai 20 tahun dan dirinya memiliki izin untuk menerima orbsycle.

Kini lisensi sudah berhasil dia buat. Hujan tersenyum senang melihat mahakarya yang dia persiapkan.

"Sepertinya aku berbakat menjadi villain di sebuah cerita," ujar Hujan disertai tawa jahat yang dibuat-buat.

Hari-hari berlalu dengan damai ... dan membosankan. Pagi hari Hujan harus berangkat ke sekolah dan mempelajari bulu-buku tebal itu. Namun, semua mulsi berubah beberapa minggu setelahnya.

Hujan melompat kegirangan ketika orbsycle berada di tangannya. Rambut biru tuanya yang diikat ekor kuda turut bergerak seirama dengan tubuhnya. Irisnya yang berwarna aqua semakin terlihat berkilat.

Hujan buru-buru mengakses orbsycle. Dia mencari data kependudukan dirinya sendiri. Setelah menemukannya, Hujan melengkapi lisensi palsu yang dia buat.

Keesokan harinya, gadis itu pergi ke Interdimension Station. Bermodalkan lisensi palsu yang dimilikinya, Hujan berjalan dengan percaya diri. Dia menyapa petugas yang dia temui sepanjang perjalanan dengan ramah dan santai, seolah dia sudah sering menggunakan stasiun untuk berpergian.

Semua berjalan mulus di awal. Tidak ada petugas yang menghentikan Hujan di tengah perjalanan. Mereka merespon sapaan Hujan walau wajahnya sedikit menampilkan raut bingung. Namun, karena Hujan terlalu percaya diri mereka memutuskan untuk abai.

Sayangnya, kebahagiannya itu berubah ketika Hujan ingin masuk ke dalam portal.

Penjaga di sana sangat ketat. Mereka memeriksa lisensi Hujan dengan seksama. Tidak hanya uru, mereka juga memeriksa latar belakang Hujan.

"Anak-anak zaman sekarang sungguh membuat sakit kepala. Aku akan menelpon ke sekolahmu dan meminta mereka mengurusmu dengan baik." Penjaga gerbang itu mendecakkan lidah. Dia menggelengkan kepala lalu menghubungi sekolah.

Hujan hanya bisa menggerutu dalam hati. Dia sudah membuat lisensi palsu itu dengan sepenuh hati. Namun kini lisensi yang dibuatnya dengan penuh perhatian tengah dibakar di hadapannya. Hatinya terasa sedikit sakit.

"Sebentar lagi pembimbingmu akan datang untuk menjemputmu. Jangan buat kekacauan dan duduk dengan tenang di sana!"

Wajah Hujan masam. Dia manggut-manggut dengan terpaksa. Kakinya melangkah gontai ke sisi aula lalu duduk.

Satu jam ... dua jam ... tiga jam sudah Hujan menunggu. Namun, orang yang disebut pembimbingnya itu tak kunjung datang juga. Bosan menunggu, lagi-lagi Hujan tertidur di kursi.

Tidak lama dari waktu Hujan tertidur, seorang pemuda datang.

"Selamat siang, aku adalah pembimbing Hujan. Maaf karena murid kami merepotkan Anda," ujar pemuda itu tulus.

"Ah, Pengawas ke-04-9, tidak perlu terlalu formal begitu. Hujan ada di sana, sepertinya dia ketiduran. Anak-anak seusia itu memang lagi masa-masanya berbuat kenakalan."

Pengawas ke-04-9 atau nama aslinya Soran hanya mengangguk kecil. Dia kemudian berjalan ke arah Hujan. Begitu sampai lokasi, tubuh Soran mematung dan sudut bibirnya berkedut. Namun, tak begitu lama dia kembali pada fokus. Soran mengguncang pelan kursi tempat Hujan tidur hingga empunya terbangun.

"Calon Penjelajah Hujan. Perkenalkan, namaku Soran, aku adalah pembimbingmu."

****

Hujan mengelap senjata yang baru saja dia selesaikan. Bibirnya mengulas sebuah senyuman. Sudah berbulan-bulan waltu Central ketika dia pertama kali ketahuan memalsukan lisensi penjelajah. Namun, di tiap dunia Hujan sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun.

"Aku siap untuk penjelajahan selanjutnya."

-SELESAI-

Tugas Sirius Ink Party SiriusInk

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top