Part 48 : Changed

"Kau baik-baik saja? Apa dirimu terluka dalam melawan polisi tadi?"
Tanya Kelly cemas sembari menangkupkan wajah Max dengan kedua tangannya memeriksa apakah ada cela di wajah tampan pemuda tersebut.
Saat ini mereka telah sampai ke rumah Max dan sedang mendudukkan diri di sisi ranjang milik Max.

Max hanya diam menatap Kelly lekat-lekat, tak berniat menjawab pertanyaan yang sedari tadi keluar dari mulut gadis itu.

Karena merasa dirinya yang tak mendapat respon, Kelly terdiam membalas tatapan Max membuat kedua pasang manik itu bersatu.

"A-ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?"
Max menggeleng pelan membalas pertanyaan Kelly barusan, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Kelly menyentuh dagu Max, agar wajah Max menghadapnya, "Aku bertanya, kau tak apa?"

Max kembali memandang lurus ke bola mata Kelly, "Kenapa kau peduli padaku? Pulanglah, nanti Varel akan marah."

Kelly memiringkan kepala sekaligus mengernyit bingung, "Varel? Kenapa dengan Varel?"

"Dia adalah kekasihmu, jika kau di sini, satu kamar bersamaku, apa yang akan dipikirkannya? Pulanglah, aku ucapkan terima kasih karena telah menyelamatkanku hari ini. Aku benar-benar tak menyangka kau akan datang menggagalkan semuanya."

"Max dengar, aku sudah bukan kekasih Varel lagi. Dan aku tak ingin pulang dan ingin tinggal bersamamu di sini. Lagipula...bukankah kita masih berstatus sebagai sepasang kekasih?"
Kelly menunduk, menyembunyikan wajahnya tak berani menatap Max.

Max terkekeh geli, alhasil membuat Kelly mendongak, "Kekasih? Kapan kita menjadi kekasih? Bukankah itu hanya drama yang mana aku dan kau menjadi pemeran utama?"

Kelly terhenyak, langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ekspresi gadis itu berubah menjadi sedih menyadari kesalahannya waktu itu.

"Maaf." Cicit Kelly masih tak berani memandang Max.
Sedangkan Max langsung bangkit dari duduknya akan beranjak meninggalkan gadis itu seolah perkataan 'maaf' Kelly tak pernah diucapkan gadis bermata emerald tersebut.

"Mau ke mana?" Kelly mencekal lengan Max yang akan beranjak pergi. Max menoleh malas, "Makan."

"Aku akan memasak sesuatu untukmu ya?" Tawar Kelly yang langsung dibalas gelengan cepat kepala Max.

Kelly mendesah kecewa, tapi raut wajahnya langsung berubah ketika sebuah ide terlintas di otaknya.

"Kalau begitu, kita masak bersama, oke?!" Kelly dengan gerakan cepat langsung menarik tangan Max tanpa menunggu jawaban pemuda itu yang membuat Max mau tak mau hanya menurut.

***

Sekarang, di sinilah mereka di ruang makan dengan Kelly yang sengaja memilih duduk bersebelahan dengan Max sembari memperhatikan pemuda itu makan.
Menu makanan Max saat ini adalah panekuk yang dibuatnya bersama Kelly tadi.

Max dan Kelly memutuskan untuk memasak panekuk karena bahan masakan di rumah Max yang sudah sedikit, karena Max tak pernah berbelanja lagi semenjak dirinya masuk dalam penjara.

Max menyuap panekuknya ke dalam mulut dengan santai, mata hazel pemuda itu kembali bergerak memandangi Kelly yang sedari tadi terus menatapnya makan dengan kedua tangan bersangga di pipi.

Merasa terus diperhatikan, Max lama-lama risih juga.
Bukan apa-apa, tapi tatapan Kelly yang terfokus ke dirinya membuat detak jantungnya tak bisa dikontrol, berdetak dengan cepat.

Max boleh bersikap dingin pada Kelly, namun hatinya tetap tak bisa mengelak, jika dirinya masih benar-benar menyayangi gadis itu.

"Apa kau mau? Daritadi kau memperhatikanku terus, kupikir kau mau."
Max menggeser piringnya yang masih berisi panekuk sisa sedikit ke hadapan Kelly, mempersilakan gadis itu untuk menyicipi. Namun Kelly menggeleng pelan dan segera menggeser piring itu lagi ke hadapan Max.

"Aku hanya ingin melihatmu makan, bukan mau makanannya."

"Kenapa?"

Senyum Kelly mengembang, "Aku sudah lama tak melihatmu, aku benar-benar merindukanmu Max."

Max melanjutkan makannya tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Kelly baru saja.

"Max, kau benar-benar serius tak merindukanku?"
Tanya Kelly namun tetap tak digubris oleh Max, pemuda itu terus menyibukkan diri dengan makanannya.

"Max-..."

"Apa yang kau inginkan? Berhentilah bertanya sesuatu yang tak penting!"
Max meletakkan sendok dan garpunya setelah menghabiskan makanannya, Kelly yang mendapat bentakan Max barusan tak takut sedikitpun, justru memegang dagu Max lembut dengan tangannya agar pemuda itu memandangnya.

"Jika kau benar-benar tak merindukanku, coba katakan dengan menatap mataku."

Max menepis tangan Kelly dari dagunya, "Itu tak penti-..."

"Kau tak mau mengatakannya karena kau takut ketahuan jika kau merindukanku 'kan? Aku bisa melihatnya di matamu Max, kau...menyimpan rindu untukku."

Max hanya bungkam, lalu mengalihkan pandangannya ke lain, ucapan Kelly memang benar, namun rasa kecewa Max mengalahkan rasa rindunya pada gadis tersebut.

Kelly yang melihat itu mulai tersenyum tipis, dalam hati ia bersorak karena perkataannya barusan tak bisa dibantah oleh Max. Berarti pemuda itu merindukannya, bukan?

Dengan gerakan cepat Kelly bangkit dari duduknya, lalu menggeser meja di hadapan Max dan duduk berpangku pada pemuda itu.
Max akan protes dengan kelakuan Kelly, namun dengan sigap Kelly mendekap erat tubuh Max menghirup lekat-lekat aroma tubuh yang dirindukannya itu dalam keadaan berpangku.

"Aku mencintaimu Max, sangat mencintaimu. Aku tau kau masih marah dan kecewa padaku, tapi bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi? Kita akan memulai semuanya dari awal, kita bangun hubungan kita lagi, bagaimana?"

"Jangan memutuskan sendiri, lepaskan aku sekarang juga."

"Aku akan melepas pelukannya jika kau mau membalas pelukanku juga."
Kelly mendongak dan mengedipkan sebelah matanya, membuat Max hampir saja mengembangkan senyumnya terlalu gemas melihat gadis itu yang menurutnya sangat manis.

"Ayo Max, ayo." Kelly merengek dalam pelukan Max, membuat Max mau tak mau melingkarkan tangannya di pinggang Kelly membalas dekapan gadis tersebut.

Senyum Kelly merekah merasakan dekapan Max, tak bisa dipungkiri hati gadis itu sekarang sedang berbunga-bunga dengan kedua pipi merona merah karena Max akhirnya mau memeluknya setelah sekian lama meskipun dipaksa.

Sedangkan Max diam-diam menghirup dalam aroma anggur yang berasal dari rambut Kelly, lalu mengecup lama puncak kepala gadis itu.

Dia sungguh merindukan aroma anggur dari rambut Kelly---ah tidak---lebih tepatnya dia merindukan Kelly.

°•°•°•°

Garrison meringis pelan tatkala mencoba mendudukkan dirinya di ranjang rumah sakit.

Ia menegakkan tubuhnya dengan hati-hati ketika sudah duduk dengan posisi nyaman menurutnya.

"Jadi, katakan padaku, bagaimana bisa Max Maxwell itu kabur lagi?!"
Tanya Charlie yang datang menjenguk Garrison sedari tadi berada di samping ranjang pria bermata biru itu.

Garrison memberanikan dirinya menatap lurus ke bola mata Charlie, karena atas nada suara ketuanya barusan, Garrison sudah dapat menebak Chief-nya itu marah besar.

Bagaimana tidak?
Dalam pelarian Max tadi, 2 anggota kepolisian harus meregang nyawa, ditambah wajah Garrison jadi babak belur akibat serangan ganas Max yang benar-benar membuatnya tak bisa melawan.

Yang Garrison berikan pada Max hanya sebuah terjangan yang bahkan pemuda bermata hazel itu langsung bangkit.

Bagaimana bisa, seorang polisi terlatih sepertinya bisa kalah hanya melawan seorang mahasiswa seperti Max?

Garrison merutuki dirinya sendiri karena saat di ruangan hukuman mati itu tak berbekal senjata. Lagipula dia tak memikirkan hukuman mati Max akan berakhir seperti tadi.

Garrison menghela nafas menenangkan dirinya sendiri untuk berbicara pada Charlie, "Seorang teman wanita Max Maxwell yang bernama Kelly Collins, saat hukuman mati akan berlangsung tiba-tiba saja langsung menerobos pintu ruangan hukuman mati. Gadis itu cepat sekali bergerak menyingkirkan jarum suntikan mati yang akan diarahkan pada Max. Setelah itu Kelly berteriak meminta bantuan pada Max, dan terjadilah peristiwa itu. Kelly bahkan juga membuat petugas penjaga pintu ruangan hukuman mati tadi menjadi pingsan, entah apa yang dilakukannya. "

Charlie memijit pelipisnya, "Kenapa kalian bisa lengah menghadapi bocah seperti itu?! Dan lagi sampai 2 bawahanku menjadi meninggal, dan wajahmu jadi korban."

"Maaf pak, ini semua murni kesalahan kami. Saya dan 2 anggota polisi yang tewas tak membawa pistol untuk menakuti Max, makanya kami menggunakan kekuatan fisik saja. Sekali lagi maaf, Chief Charlie."

Cklek

Suara pintu yang terbuka membuat Charlie dan Garrison refleks menoleh ke arah pintu ruang VIP yang ditempati Garrison.

"Hei Garrison, kau baik-baik saja?!"
Gabriella menutup kembali pintu dengan cepat, kemudian berlari kecil menghampiri Garrison dan memeluknya.

Pipi Garrison langsung merona merah mendapat pelukan dari Gabriella, sedangkan Charlie yang melihat putrinya dan Garrison berdeham keras menyadarkan keduanya jika ada dirinya di ruangan itu.

"Ah, ayah," Gabriella memandang Charlie tersenyum tipis, lalu menggaruk pipinya yang tak gatal.

"Darimana kau tau jika Garrison dirawat di sini? Ayah belum memberitahumu."
Tanya Charlie pada Gabriella membuat gadis itu tersentak seketika namun dengan segera mengubah ekspresinya lagi menjadi tenang.

"Aku tadinya ingin melihat hukuman mati Max, tapi setelah aku sampai ke sana, aku diberitahu jika Garrison dilarikan ke rumah sakit dan 2 polisi lainnya tewas akibat Max Maxwell."

Charlie menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa kau ingin melihat hukuman mati orang yang sudah menewaskan Walter?"

Gabriella tersenyum sinis, "Tentu saja aku ingin melihatnya mati."

Charlie mengangguk paham kemudian beralih memandang Garrison yang sedari tadi mendengar percakapannya dengan Gabriella, "Aku harus menghadiri upacara pemakaman kedua anggota polisi tadi, cepat pulih Garrison. Baiklah Gabriella, ayah permisi duluan."
Pamit Charlie dengan wajah datar dan mendapat balasan 'terima kasih' oleh Garrison dan langsung beranjak meninggalkan ruangan VIP itu.

"Apa ayah memarahimu tadi?"
Tanya Gabriella pada Garrison setelah dirasanya ayahnya benar-benar pergi.

"Ini semua memang salahku, tentu ayahmu akan marah. Aku benar-benar telah merusak reputasi beliau."

Gabriella menggeleng cepat seraya menggeser bangku di samping ranjang Garrison untuk diduduki, "Jangan menyalahkan diri sendiri. By the way, wajahmu hampir sebagian diperban, apakah pukulan Max separah itu?"

"Hidungku patah, bibirku pecah, ditambah lagi, 2 gigiku patah karena tinjuan bocah itu."
Gabriella bergidik ngeri membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Garrison sekarang, "Kau menyebutnya bocah, tapi lihatlah wajahmu hancur karena pukulannya."

Garrison kembali meringis dan tersenyum miris, "Dia begitu kuat dan brutal. Hei, tapi, ketampanan wajahku tidak hilang 'kan?!"

Gabriella memutar bola mata malas, "Di saat seperti ini masih saja percaya diri! Kau tau Garrison? Aku harus jujur, wajahmu...kelihatan tak tampan lagi, kau menjadi lelaki berwajah buruk."

Garrison sukses membelalakkan matanya, "Be-benarkah?! Bagaimana bisa?!"
Gabriella terkikik geli memandang Garrison, karena berhasil mengelabui pria itu.

Tbc...

Adegan romantis #MaxLly belum greget ya? Huehehe maap 😝

Vote, comment, dan share jika kalian suka cerita ini😋

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top