Part 45 : Dangerous Plan
Max POV
Aku memandangi Chris, Hans, dan Robbert yang tengah tertidur pulas sebelum akhirnya melangkahkan kakiku keluar dari sel yang sudah dibukakan oleh paman Tomy.
Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku kembali masuk ke sel setelah sebelumnya aku sedang di ruangan besuk bersama pamanku itu?
Aku dan paman Tomy membuat rencana pelarian diriku yang cukup beresiko tentunya bagiku dan bagi paman Tomy.
Setelah dari ruangan besuk, aku dan paman Tomy melihat kepergian hampir seluruh anggota kepolisian yang berada di kantor ini untuk pelatihan di tempat yang sudah disediakan ayah Gabriella.
Jadi, ada 3 petugas polisi yang berjaga di kantor ini saat ini yaitu, paman, dan 2 orang lainnya.
Paman Tomy menyuruhku untuk sementara waktu masuk kembali ke sel agar 2 polisi yang masih ada di sini tak mencurigai kami.
Sebelum masuk ke sel, paman berpesan padaku jika dia akan kembali membukakan selku saat 2 polisi itu tidur siang.
Kebetulan, paman menyuruh 2 polisi tersebut untuk tidur saja, biarkan paman yang berjaga, mengingat paman polisi baru di sini.
Maka dari itu, setelah 2 polisi tersebut sudah tidur, paman kembali membukakan selku, dan kebetulan juga, saat siang hari seperti ini ketiga temanku, Chris, Hans, dan juga Robbert sudah pasti menidurkan diri mereka.
Paman Tomy yang berada di sebelahku sekarang, sedang dengan pelan-pelan kembali mengunci sel setelah aku keluar.
Aku dan paman Tomy setelah melangkah dengan pelan melewati selku, kembali berjalan dengan normal melewati sel yang diisi narapidana lain, agar tak membuat curiga narapidana-narapidana itu.
Paman tersenyum tipis dan menggoyangkan kepalanya menginstruksikanku untuk segera keluar setelah kami menemukan pintu utama kantor polisi ini, "Pergilah, jangan sampai dirimu tertangkap, kau mengerti?"
Aku mengangguk dan juga tersenyum tipis kemudian dengan langkah lebar segera keluar dari kantor polisi ini.
Uh sial, karena tak ada kendaraan jadinya aku harus berjalan kaki.
Tunggu dulu, ke mana aku setelah ini?
Kembali ke rumah atau...
ya, aku akan ke rumahnya saja.
***
Di sepanjang perjalanan aku menyembunyikan wajahku dengan jaket yang kukenakan, beruntung waktu aku ditangkap aku memang mengenakan jaket tebal mengingat ini musim salju.
Langkahku berhenti tepat di depan pintu seseorang yang begitu kucinta, sekaligus begitu membuatku kecewa.
Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya menggerakkan tanganku untuk mengetuk pintunya.
Tok tok tok
Tak ada jawaban dari dalam.
Apa mungkin dia pergi...atau tak tinggal di sini lagi?
Tak mungkin.
Maka dari itu tanganku kembali mengetuk pintu berwarna coklat muda tersebut.
Tok tok tok tok
"Ah, maaf lama, aku habis-..."
Pintu terbuka menampilkan gadis yang amat kurindukan.
Siapa lagi kalau bukan Kelly.
Dia tak melanjutkan kata-katanya saat mata hijau indahnya itu bertemu pandang denganku, matanya membulat dan dirinya seolah mematung di tempat.
"M-Max?!"
Aku menyeringai, sudah lama aku tak mendengar suara seksinya menyebut namaku.
"Hallo sayang. Lama tak berjumpa ya?"
Tanyaku langsung menyerobot masuk ke dalam rumahnya kemudian dengan gerakan cepat menutup pintu utamanya.
Aku mengedarkan pandanganku menelusuri isi rumahnya, mencari-cari sesuatu.
"M-Max bagaimana bisa-..."
"Di mana Blacky?"
Potongku cepat, tanpa mengalihkan pandanganku ke seisi rumahnya.
"Da-darimana kau tau jika Blacky ada bersamaku?"
Aku menoleh memandangnya, lalu terkekeh kecil mendengar penuturannya barusan, "Darimana ya? Uh, aku hanya menebak sih."
Kelly melangkahkan kakinya menghampiriku, tiba-tiba saja tangannya memegang kedua lenganku menghadapnya.
"Ka-katakan! Katakan Max, bagaimana kau bisa kabur lagi?! Aku melihat berita di televisi jika kau kembali ditemukan oleh opsir Garrison, lalu...kenapa kau bisa berkeliaran lagi sekarang?"
Aku tersenyum kemudian mengusap kedua pipinya, "Kau benar ingin tau, hm?"
Kelly spontan mengangguk, membuatku terkekeh geli melihat matanya yang kini berkaca-kaca.
Apa maksudnya berkaca-kaca begitu?
Well, kuharap dia tak merindukanku selama ini.
"Sebelum itu, bisakah kau katakan padaku Kelly sayang, mengapa kau tak datang membesukku?"
"Max aku-..."
"Ah ya! Bukankah kau yang memasukkanku dalam penjara waktu itu 'kan? Uh ya, pasti kau tak akan mungkin membesukku karena kau berpikir, untuk apa membesuk pembunuh berdarah dingin sepertiku 'kan? Dan lagi, kau tak pernah mencintaiku sedikitpun, lalu untuk apa peduli padaku, bukan?"
"Max maaf aku-..."
Aku tertawa kecil mendengar perkataannya, "Maaf? Begitu mudah kau katakan maaf, sayang. Kau tak mengerti perasaanku karena memang kau tak mencintaiku dan hanya mencintai Varel, benar?"
"Max! Hentikan! Aku mencintaimu Max! Aku mencintaimu, percayalah, kali ini aku jujur dan serius! Aku bersungguh-sungguh, aku mencintaimu..."
Aku berdecih mendengar kata-katanya serta melihat tangisannya sekarang.
Apa katanya tadi?
Mencintaiku?
Haha, itu sungguh konyol!
"Kau mencintaiku, Kelly? Benarkah? Oh ya, aku tau, dulu kau juga bilang jika kau mencintaiku dan meminta untuk menjadi kekasihku. Tapi setelah Varel menemukanmu, kau membongkar kedokku dan mendustai kata-katamu sendiri. Mengapa kau menggunakan cara yang sama untuk membuatku kembali ke penjara sekarang? Kau mengatakan kau mencintaiku, setelah itu mengkhianatiku, mengatakan cinta hanya berpura-pura agar aku mempercayaimu, begitu?
Maaf Kelly, sayangnya hatiku bukan wahana permainan yang bisa kau mainkan kapanpun kau mau."
Kelly mengusap air matanya yang sudah merembes membasahi pipinya, dia terus menggelengkan kepalanya seolah menyangkal semua kata-kataku.
Aku hanya memandangnya sinis, lalu menyentak tangannya yang berada di pergelangan tanganku dengan kasar.
Kakiku dengan langkah lebar menuju kamarnya, mencari Blacky, meninggalkannya sendirian di ruang tamu.
Aku tak peduli pada Kelly sekarang, yang kupedulikan hanya kucingku, karena aku benar-benar merindukannya.
Bibirku refleks melengkungkan senyuman tatkala mataku menangkap Blacky sedang berbaring di tempat tidur milik Kelly.
"Blacky, ini aku."
Seolah mendengar kata-kataku, Blacky langsung bangkit dan segera berlari menghampiriku.
"Meong." Ucap Blacky yang kini berada di pelukanku, aku terkekeh sembari mencium kepalanya, "Aku tau Blacky. Kau pasti merindukanku 'kan?"
"Meong." Jawabnya yang membuatku kembali mencium kepalanya seraya mengusap tubuhnya.
"Max..."
Aku tak menggubris panggilan yang baru saja kudengar.
Tanpa menolehpun, aku sudah hafal itu adalah suara milik Kelly.
"Max, bisakah kita bicara dulu?"
"Aku sedang sibuk bersama Blacky."
Balasku acuh yang masih sibuk mengelus sayang puncak kepala Blacky.
Kelly yang melihat itu, kini langsung menghampiriku, berada di hadapanku.
Tangannya dengan segera merebut Blacky dan menurunkan kucing hitamku itu ke lantai, membiarkan Blacky berjalan pergi.
"Apa maumu?"
Tanyaku dingin, jujur, aku bahkan tak mengerti apa yang kurasakan saat melihat Kelly lagi.
Perasaan rindu yang amat sangat, perasaan kecewa, dan perasaan marah semuanya bercampur jadi satu.
Kelly mengusap air matanya kasar, "Kau tak merindukanku?"
Aku hanya diam, lebih memilih mengalihkan pandanganku ke objek lain selain dirinya.
Detik selanjutnya dengan tak terduga, Kelly langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuhku, memelukku dengan erat.
"A-aku sangat merindukanmu Max. Terserah jika kau mau percaya atau tidak terhadap perasaanku padamu sekarang, yang pasti aku benar-benar merindukanmu dan tak ingin kau pergi lagi dariku."
Aku dapat mendengar isakan Kelly yang semakin keras, membuat hatiku sakit.
Benarkah dia merindukanku, seperti aku juga merindukannya?
Bolehkah aku berharap lagi?
Aku sangat merindukannya juga, sungguh, namun entah mengapa otakku mengatakan untuk tak mempercayainya lagi.
Maka, dengan ragu-ragu aku mendorong tubuh Kelly agar menjauhiku.
Aku memandangnya yang masih menangis dengan bahu bergetar.
Salahkah yang kulakukan ini?
"Aku akan pulang bersama Blacky."
Ujarku, membuat Kelly segera mencekal tanganku, menghalangi langkahku yang akan beranjak keluar dari rumahnya.
"Max...kau tak bisa begini, jangan tinggalkan aku-..."
"KATAKAN APA MAUMU KELLY?!!! Berhentilah menyakitiku, dan tolong jangan menangis, kumohon. Karena hal itu hanya akan membuatku bergabung lagi dalam drama yang kau perankan."
"Maafkan aku Max, maaf... Aku tau kau masih menyukaiku 'kan? Kalau begitu bi-bisakah kita ulangi ini dari awal lagi? Aku benar-benar mencintaimu Max, percayalah."
Aku tersenyum sinis, "Rasa suka itu ada batasnya, dan aku sudah sampai batas paling akhir, yaitu membencimu!"
Aku akan menyeret kakiku menjauhinya, namun Kelly mencengkeram tanganku lebih kuat lagi, melarangku untuk pergi.
"Aku tau telah membuat kesalahan yang membuatmu kecewa Max, tapi bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi? Jika kau memberinya, aku berjanji tak akan mengecewakanmu lagi."
Dia mengusap air matanya, kemudian berusaha tersenyum padaku lalu menghampiriku dan memelukku lagi.
Aku yang sudah muak, segera saja mendorong tubuhnya kali ini cukup keras hingga tubuhnya menabrak dinding di belakangnya, "SUDAH CUKUP KELLY! SUDAH CUKUP! KAU HARUS TAU SATU HAL, AKU MEMANG MEMBENCIMU, TAPI...tapi aku tak bisa memungkiri jika perasaanku masih sama untukmu. Aku masih mencintaimu! Dan perasaan itu tak pernah berkurang sedikitpun biarpun kau telah mengkhianatiku. Aku hanya seorang pria bodoh yang masih mencintai wanita yang telah mengkhianatinya!"
Kelly tersenyum mendengar kata-kataku, "Ka-kalau begitu ayo kita mulai dari awal lagi Max. Aku bersungguh-sungguh kali ini, kau percaya padaku 'kan?"
Aku mengangguk dan membalas senyumnya, kemudian segera menghampirinya yang masih berada di dinding, "Ya, aku mau. Tapi...bisakah kau memenuhi keinginanku yang satu ini?"
"Apa itu? Katakan Max!"
Aku menyeringai, kedua tanganku sudah berada di sisi tubuh Kelly sekarang, "Sudah lama aku tak membunuh seseorang. Jadi, izinkan aku untuk membunuhmu ya, sayang."
Mata Kelly membulat, "A-apa maksudmu Max?"
Aku terkekeh melihat ekspresinya yang begitu manis bagiku saat ini, "Biar kuulang, aku ingin membunuhmu Kelly sayang."
Dan setelah mengatakan itu, kedua tanganku segera mencekik leher Kelly dengan kuat.
Entah apa yang membuatku melakukan ini sekarang, yang pasti keinginan membunuhku muncul tiba-tiba saja.
"M---M-Max..."
Kelly berujar dengan susah payah, kedua kakinya sudah hampir terangkat ke udara.
"Kenapa sayang? Tentu keinginanku tidak sulit, bukan?"
Aku tertawa keras setelahnya, melihat Kelly yang kini matanya membulat dan tangan yang terus memukul lenganku yang berada di lehernya.
"LEPASKAN KELLY COLLINS, MAX MAXWELL! ANGKAT TANGANMU SEKARANG!!!"
Max POV END
Tbc...
Ciee Max akhirnya ketemu sama Kelly.
#TeamMaxLly seneng gak?😂
Aku tau kalian bakalan sedih karena Max ternyata akan membunuh Kelly😁😿😭
Tapi tenang aja, Kelly kayanya diselamatin oleh orang yang berkata-kata terakhir itu kok.
Kira-kira menurut kalian siapa yang ngomong terakhir?
Maaf ya gak ada adegan romantis MaxLly, sejujurnya aku juga gak tega Max ngelakuin itu ke Kelly huaa😭
Tenang aja, ntar banyak adegan romantis mereka berdua kok, maybe? 😂
Ditunggu aja ya #TeamMaxLly adegannya...
Leave vomment please?
MelQueeeeeen
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top