Part 32 : Flirt Corra
KELLY menggoyang-goyangkan hair dryer ke rambutnya yang basah, karena dirinya baru saja sehabis mandi dan berkeramas.
Setelah dirasanya rambutnya mulai mengering, dengan segera ia menekan tombol off pada benda yang biasa di temukan di salon itu.
Kelly melangkahkan kakinya menghampiri meja dan segera meraih ponselnya lalu menghidupkan benda persegi tersebut.
Gadis yang mempunyai iris emerald itu menyelipkan rambutnya di belakang telinga kemudian menaikkan sebelah alisnya saat layar ponselnya menunjukkan sesuatu.
"5 panggilan tak terjawab dari Varel, dan 2 pesan darinya. Kenapa dia menghubungiku?"
Kelly mengedikkan bahunya menjawab pertanyaannya sendiri, kemudian menonaktifkan ponselnya dan menaruhnya di tempat semula, tanpa mempedulikan panggilan serta pesan dari mantan kekasihnya itu.
Baginya, semua yang berhubungan dengan Varel tidaklah penting, dia ingin melupakan pria brengsek itu dari hidupnya. Dia tak akan peduli apapun segala sesuatu tentang Varel lagi.
Ya, dia ingin melupakan Varel.
Kaki mulus gadis itu beranjak dari kamar ke ruang tamu.
"Hey Blacky, kau sedang apa? Menonton?"
Ucapnya ketika menemukan Blacky yang terbaring di depan televisi ruang tamu yang sedang menyala.
"--diduga siswa University Achievement ini adalah dalang dibalik pembunuhan---"
Kelly yang mendengar berita dari televisinya segera saja langsung mengambil remote tv dan menekan tombol volume, untuk membesarkannya.
"-yang terjadi di kampus tersebut. University ini juga tak memberi kepastian akan hal itu, namun dari info yang didapat, tentang pembunuh ini memang disembunyikan. Diduga, siswa yang bernama Max Maxwell itu sudah dimasukkan ke dalam penjara namun berhasil kabur malam tadi. Jadi, pihak polisi sepertinya belum menemukan Max Maxwell..."
Kelly langsung membeku ditempatnya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika dilihatnya foto Max terpampang di televisi.
"Max...kabur dari penjara?! Bagaimana bisa?!"
Gadis bermata emerald itu segera saja melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk mengambil ponselnya di kamar.
Kelly membuka 2 pesan dari Varel yang tadinya dia abaikan.
Send : Kelly
Kelly angkat teleponku! Ini penting!
From : Varel
Kelly mengernyit lalu membuka pesan selanjutnya.
Send : Kelly
Max kabur dari penjara, polisi sedang mencarinya. Polisi memberitahuku bahwa ada yang membantu Max dalam pelarian diri ini. Apa mungkin kau yang membantunya?
From : Varel
"Ada yang membantu Max? Siapa?"
Kelly merasa benar-benar gelisah dan berpikir keras.
Kini ribuan pertanyaan memenuhi otak gadis manis itu.
Jantungnya kini berdetak dengan keras, membayangkan jika Max sedang berkeliaran dan mungkin akan menemui dirinya.
Kelly tau betul jika pemuda itu tak mudah putus asa, siapa yang tau jika Max akan datang padanya dan kembali mengurungnya di rumah pemuda berambut hitam tersebut.
"Siapa kira-kira yang membantu Max?"
•|•
"Max!"
Corra tersenyum sumringah dan langsung memeluk Max ketika wanita itu menapakkan kakinya di apartemen Gabriella.
"Di mana Ella? Apa dia ada pemotretan?"
Tanya Corra sembari mengangkat kepalanya kesana-kemari mencari-cari keberadaan temannya itu.
"Ya, dia ada pemotretan. Corra, uh bisakah kau lepaskan pelukanmu?"
Corra tersentak kemudian dengan segera melepaskan pelukan eratnya, gadis itu hanya menyengir tak berdosa, "Maaf deh."
"Ayo kita masuk Max, jangan menunjukkan dirimu ke luar."
Corra membalikkan tubuhnya dan memperhatikan sekitar apartemen Gabriella, mengecek apakah ada polisi yang lewat.
Gadis yang memiliki warna rambut yang sama seperti Max itu, segera mendorong tubuh Max dan mengunci pintu apartemen temannya.
Corra berjalan mendahului Max saat sudah memasuki apartemena Gabriella, "Max, apa kau sudah makan?"
"Sudah."
Corra membalikkan badannya demi melihat pemuda di belakangnya, menyilangkan tangannya di depan dada, gadis itu memutar bola matanya malas, " Kau terlalu dingin, apa Ibumu melahirkanmu di Antartika?"
Max tetap memasang wajah datar, "Tidak."
"Kau juga irit kata."
"Terserah."
"Merepotkan!"
Corra membalikkan tubuhnya dan melanjutkan perjalanannya ke dapur.
"Max, aku makan ya?"
Max menghela nafas, "Kenapa minta izin padaku? Aku bukan pemiliknya."
"Terserah, yang pasti aku lapar dan ingin makan. Dan ya, jangan mengikutiku ke dapur, aku sedang marah padamu."
Corra menghentakkan kakinya sesaat dan berjalan menuju dapur dengan cepat, membuat Max menghentikan langkahnya kemudian berbalik berlawanan arah dengan Corra.
"Dia memang aneh."
Gumam Max sambil melangkahkan kaki ke kamarnya.
|||
"Ya, Gabriella, berikan tatapan nakalmu. Ya, begitu. Satu, dua, tiga!"
Ceklik
"Ganti mimik dan pose."
Gabriella mengubah pose awalnya dan menunjukkan ekspresi yang berbeda dari tadi.
"Ya, begitu bagus. Satu, dua tiga!"
Ceklik
Ceklik
"Baiklah, pemotretan untuk hari ini selesai. Kerja bagus Gabriella."
Ucap fotografer yang baru saja memotret Gabriella sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
Gabriella membalas senyuman fotografer itu sekilas kemudian segera berjalan menuju kamar ganti, mengganti pakaian untuk pemotretannya dengan pakaian yang tadi ia kenakan.
Gadis blonde itu membetulkan sedikit make-up tipisnya lalu beralih membetulkan tatanan rambutnya di depan cermin.
Kaki jenjangnya yang mengenakan heels berpindah dari kamar ganti dan menyapa rekan-rekan modelnya untuk pamit pulang.
"Kalian belum pergi juga?"
Ujar Gabriella kesal saat menemukan kedua bodyguardnya masih menunggu di depan pintu keluar dengan bersandar di mobil.
"Kami bodyguardmu, tugas bodyguard adalah-..."
"Hentikan Eddie! Kalian membuatku muak dengan mengatakan hal yang sama setiap waktu."
Eddie, lelaki berambut pirang berbadan besar yang menjabat sebagai bodyguard Gabriella itu mendesah, "Aku hanya mengingatkan."
"Ya, jika nona terus menyuruh kami tak mengawasi nona, maka apa guna kami menjadi bodyguardmu?"
Tambah Fred, lelaki berkulit gelap yang juga bertubuh besar dan memiliki jabatan yang sama dengan Eddie.
Gabriella berdecak, "Aku tak suka ini, pergilah bersenang-senang sekarang, jangan mengikutiku. Kalian mulai sekarang bersikap sebagai bodyguardku ketika ada ayah saja, jika tidak ada, kalian boleh pergi kemana pun. Itu akan sangat menguntungkan untuk kalian, karena kalian digaji meskipun tak bekerja 'kan?"
Gabriella dengan cepat merebut kunci mobil dari tangan Fred dan masuk ke dalam mobilnya kemudian menancapkan gas meninggalkan kedua bodyguardnya yang masih tercengang.
***
"Corra, turunlah dari tubuhku sekarang!"
Corra terkekeh mendengar bentakan ringan yang keluar dari mulut Max.
Gadis itu menaikkan sebelah alisnya kemudian membetulkan posisinya yang kini berada di atas tubuh Max.
"Kenapa Max? Kau tau, aku tertarik sekali dengan dirimu. Wajahmu tampan meskipun tanpa ekspresi, mata hazelmu sangat indah, dan senyumanmu yang menawan. Aku suka semuanya, apalagi...tubuhmu yang seksi."
Corra sengaja berbisik saat mengucapkan kata terakhirnya, tangannya kini bergerilya masuk ke dalam pakaian hangat Max.
"Corra hentikan."
Max berusaha untuk tenang, biar bagaimanapun dia harus mengendalikan dirinya sendiri.
"Max...aku mohon...hangatkan aku. Aku kedinginan."
Corra mulai berbicara dengan nada serak, gadis itu langsung membuka jaket denim yang dikenakannya lalu melemparnya asal.
Tak hanya di situ saja, ia bahkan kini sudah membuka bajunya hingga memperlihatkan bra berwarna hitamnya.
"Max, ayo kita lakukan."
Mata gadis itu terlihat sayu, dan kini ia segera gantian akan membuka pakaian atas milik Max, namun dengan cepat dihentikan oleh si empunya.
"Hentikan ini Corra! Sadarlah, sekarang cepat turun dari tubuhku atau kutolak secara paksa."
"Kenapa Max? Apa tubuhku tak menarik?"
Max menggeleng, "Bukan begitu, kita tak seharusnya-..."
Perkataan Max terhenti kala dirasakannya sesuatu yang kenyal kini memagut bibirnya.
Corra mencumbu Max dengan cepat, dan mendesak Max agar membuka mulutnya.
Namun Max tetap kekeuh mengatupkan bibirnya sebelum akhirnya Corra terpaksa menggigit bibir bagian bawah Max membuat pemuda tersebut refleks memberi celah untuk Corra dan hal itu tentu saja dimanfaatkan Corra dengan baik.
"Balas aku Max."
Ujar Corra disela-sela cumbuannya, namun Max tetap diam.
Corra yang merasa kesal, segera saja tangannya bergerak membuka pakaian atas Max hingga kini tubuh sixpack pemuda itu terpampang.
Corra menyudahi pagutannya dan tersenyum nakal memperhatikan perut kotak-kotak Max.
Tangan mulusnya kini menyentuh perut Max lalu bibirnya mengecupnya sensual.
"Corra-..."
"Diam dan nikmati ini sayang. Aku yang akan mengendalikan permainan ini. Aku tau pasti juniormu akan menegang, jika aku menyentuhnya seperti ini."
Corra memundurkan tubuhnya sedikit lalu tangannya segera mengelus bagian selangkangan Max yang masih tertutup celana.
"Corra..."
"Ya, panggil namaku dengan seksi seperti itu."
Max melototkan matanya, "Hentikan ini jalang!"
"Aku memang jalang yang sering melakukan hal ini, dan sekarang aku menginginkanmu Max."
Max menyingkirkan tangan Corra dari selangkangannya, pemuda itu hampir saja kehilngan akal sehatnya.
Biar bagaimanapun Max lelaki normal yang punya nafsu besar.
Dia sedari tadi mati-matian menahan hasratnya agar tak membalas perlakuan Corra.
Jujur, seperti yang dikatakan Corra barusan, gadis tersebut memang sudah ahli dan membuat Max hampir saja terhanyut dalam sentuhannya.
Srett
Max membelalakan matanya ketika menyadari resleting celananya yang diturunkan.
"Corra, kau!"
"Sudah menegang, kau butuh pelepasan sayang."
Brrakkk!
"JANGAN MENYENTUH MAX DASAR JALANG!!!"
Tbc...
Max mau di 'ehem-ehem' tuh sama Corra, siapa yang mau nyelamatin?
Readerscewek : Berlari nyerbu ke Max.
*Ikutan lari dan hadang para readerscewek lalu nyelamatin Max duluan*
I'm sorry Max.is.mine.♥
Keep Reading and Vomment, or if not I will send Max capture and kill you!👹
Regards,
MelQueeeeeen
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top