PROLOG

Jakarta, 2013

"Ini berkasnya, Bu.” Seorang petugas rumah sakit memberikan sebuah hasil sertifikasi medis kepada wanita setengah baya yang ditaksir usianya 35 tahun di hadapannya.
   
Rumana menerima berkas itu. “Terima kasih, Mbak,” jawabnya lembut.

Wanita berkulit kecokelatan dengan rambut pendek yang diikat ke belakang, mengenakan kemeja polos berwarna merah lusuh yang dipadu padankan dengan rok pendek hitam di bawah lutut. Tak lupa, sandal jepit pun menghiasi kaki jenjangnya. Ia bergegas melangkahkan kedua kaki untuk pergi dari rumah sakit ini.

Sementara, seorang cewek berusia 13 tahun, mengekori Rumana yang tak lain adalah ibu kandungnya. Cewek itu dibawa ke rumah sakit ini bukan lantaran sedang mengidap suatu penyakit, melainkan sang ibu membawanya ke sini untuk menjalani sebuah pemeriksaan keperawanan.

Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, tak serta merta Rumana membawa putrinya untuk pulang ke rumah. Melainkan, membawanya ke sebuah motel tiga tingkat yang memiliki sebuah lambang kupu-kupu. Ia juga menyerahkan berkas itu kepada seorang cowok bertubuh tinggi dan kurus yang ditaksir usianya masih 15 tahun.

“Oke. Sebentar lagi klien VIP-ku akan datang. Dia juga akan memberikanmu uang, jadi Ibu bisa membayarkan setengah hutangmu kepada para rentenir itu. Apa Ibu setuju?” tanya cowok itu setelah melihat hasil yang menyatakan anak Rumana masih perawan. Saat yang sama, sebuah tato bergambar kupu-kupu terlukis jelas di bahu kanan ketika kaus lengan pendeknya tersingkap ke atas.

Rumana tak menjawab. Ia menundukkan wajah dan memainkan jari-jemari di rok. Ragu. Kendati demikian, ia tak memiliki pilihan lain. Sebab, dirinya yang hanya seorang singel parent setelah sang suami meninggal dunia tengah mengalami masa perekonomian yang sulit. Bahkan, demi menyambung hidup, ia terpaksa meminjam uang senilai 30 juta rupiah kepada rentenir untuk digunakannya membayar kontrakan, uang sekolah sang putri, serta kebutuhan sehari-sehari.

Sayangnya, Rumana tak bisa membayar hutang itu, hingga bunga pinjaman terus bertambah. Tak hanya sampai di situ, ia kerap kali diteror oleh penagih hutang hingga mendapat ancaman akan dibunuh. Oleh sebab itu, ia terpaksa menerima tawaran seorang muncikari--cowok berkulit sawo matang di hadapannya--yang berjanji akan membayarkan hutang, walau dengan ditukar oleh keperawanan anak gadisnya.

Maafkan ibu, nak. Batin Rumana. Sesaat rasa sesak menjalar di dada sebelum akhirnya Rumana memutuskan mengangguk untuk menyetujui perjanjian mereka.

Di lantai tiga, seorang cewek berambut panjang ikal sepunggung, berdiri di depan sebuah kamar. Kulitnya yang berwarna sawo matang menambah ayu paras cantiknya. Ia masih tetap setia menunggu kedatangan sang ibu untuk segera membawanya pulang. Sebab, tak bisa dipungkiri jika sedari tadi firasat buruk terus menghantui.

Suara derap langkah sepatu yang begitu berat terdengar menggema di koridor motel. Cewek itu menoleh ke samping kiri dan mendapati seorang pria paruh baya yang tampak gagah dengan mengenakan seragam kepolisian berlambang tiga melati berwarna emas, tampak menghampirinya. Cewek itu tersenyum senang, sebab sang ibu yang dinanti tengah berjalan di sisi sang pria.

"Anakmu milikku sekarang," ucap si polisi kepada Rumana.

Seketika, senyum cewek itu pudar saat melihat ibunya menerima sebuah amplop tebal dari sang polisi. Nggak, mungkin. Ia menggeleng lemah. Jangan bilang kalau ibu menjualku kepada pria itu. Batinnya was-was.

Cewek itu mundur beberapa langkah ke belakang saat pria berseragam mendekatinya.

“Ayo, ikut, Om." Suara berat sang Polisi seketika membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Ditambah lagi, pria itu langsung menarik tubuh mungilnya untuk dibawa masuk ke dalam kamar. Ia meronta.

Namun sayangnya, sekuat apapun si cewek berontak, tenaganya masih tak sebanding dengan pria lengan berotot itu. “Nggak! Aku nggak mau! Lepasin aku! IBU, TOLONG AKU!" teriak cewek malang itu yang terdengar begitu memilukan seiring dengan pintu kamar yang menutup.

Pria itu melempar tubuh si cewek ke atas ranjang, lalu mulai merangkak naik ke atas tubuhnya. "Aku akan membuatmu senang, Sayang," bisiknya diiringi dengan seringaian yang terlihat begitu menjijikan. Cewek itu meronta dan menjerit ketakutan.

“JANGAAANNN!"

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top