27

Panas surya yang menyengat mengakhiri acara relaksasi antara Sohyun dan Taeyong di tepi pantai. Walaupun angin laut bertiup kencang bersamaan dengan datangnya gulungan ombak, waktu lah yang berperan membatasi kesibukan mereka. Kaki Sohyun yang ternyata tak hanya lecet, tetapi tungkainya juga terkilir mengakibatkan Taeyong harus menggendongnya sampai ke dalam mobil. Mereka tampak santai, saat duduk di dalam mobil pun mereka sempat tertawa dan berbicara.

Sungguh, kejadian kucing dan tikus yang pernah melekat pada keduanya kini tak ada apa-apanya. Semenjak kata 'teman' diucap, Sohyun dan Taeyong semakin lekat. Mereka bahkan tak segan menceritakan masalah pribadi yang menurut mereka sangat memalukan.

"Serius kau pernah mengigau di kelas?"

"Iya. Dan ketika bangun, aku mengira dosenku adalah tukang copet. Jadi, aku tak sengaja menonjoknya."

"Kau parah."

Seperti yang sudah diceritakan di awal, sejelek apapun sifat Taeyong, sebandel apapun, image-nya di mata para gadis tak pernah tergores. Taeyong selalu dipandang sebagai sosok pangeran berkuda putih dengan segala kesempurnaannya. Setiap kali ia melintas, gadis-gadis itu menyerbunya karena mereka tahu bahwa Taeyong pasti tengah mencari seorang cinderella untuk dikencaninya sepulang kuliah atau di malam hari.

Kesepakatan Sohyun dengan Mama Taeyong pun menelurkan hasil. Putra tampannya memiliki banyak perubahan sejak bergaul dan dikawal oleh Kim Sohyun. Bahkan beberapa minggu ini Taeyong jarang minum-minum di club malam. Entah karena pria Lee itu bosan, atau disibukkan dengan rencananya memisahkan Jaehyun dari Sohyun. Dirinya juga tak terlihat dekat dengan perempuan yang berbeda setiap harinya. Yang ada, pria itu berada 24 jam penuh di sekitar Sohyun.

"Kita ke rumah sakit dulu, ya? Lukamu harus ditangani dokter."

Ajakan Taeyong kedengarannya yang terbaik. Namun, hati Sohyun sedari tadi berubah tidak tenang. Pikirannya menginginkan agar ia dan Taeyong segera pulang. Meski sudah memaksa agar pria itu tidak berlebihan, Sohyun kalah. Taeyong jauh lebih kepala batu dibandingkan dirinya.

"Kita ambil jalan pintas."

Dada Sohyun meletup-letup. Apa perlu mereka mmotong jalan? Melalui jalanan yang lebih sepi dan jauh dari keramaian. Rasanya... mengerikan. Apalagi, gadis tomboy itu pernah mendengar rumor kalau jalanan yang kini mereka lalui seringkali menjadi latar kejadian berbagai motif kejahatan.

"Sebaiknya, kita putar balik. Lewat jalan biasanya saja.."

"Kenapa? Kan biar cepat sampai."

"Disini berbahaya, katanya sering terjadi kejahatan."

"Tidak usah takut, kan ada aku."

Baiklah, ada Lee Taeyong bersamanya. Apa yang harus ditakutkan Sohyun? Ia juga mahir bela diri. Mereka hanya perlu berpikir positif saja dan melintasi jalanan tersebut dengan penuh kehati-hatian.

Cieettt.

Hampir saja Sohyun menabrakkan hidung dan dahinya ke dashbor mobil. Perilaku Taeyong tak pernah berubah, ia selalu mengerem tiba-tiba sampai rasanya Sohyun ingin kabur dan pingsan di kamarnya.

"Hati-hati.. jangan mengebut!"

"Itu.."

Mengikuti kemana netra pria Lee menatap, gadis berbibir mungil itu mengerjap kaget. Di depan mobil mereka, segerombolan orang menghadang dan memblokade jalan. Sohyun mulai cemas, ia mengenal satu per satu orang berpakaian hitam tersebut.

"Itu anak buah kakak tiriku.."

"Ha? Siapa?"

Belum sempat merespon, kaca jendela mobil mereka digedor-gedor. Sohyun menahan Taeyong agar tidak meladeni mereka dan meminta pria itu agar segera memundurkan mobilnya lalu melarikan diri. Tetapi, bagi seorang Lee Taeyong, itu namanya loser!

"Siapa kalian? Berani sekali menghalangi mobilku! Enyahlah!"

Bentak Taeyong di luar mobilnya. Benar, lelaki itu nekat membuka pintu mobil dan menyerahkan diri pada singa-singa yang kelaparan. Kau membunuh dirimu sendiri, Taeyong! Bodoh!

Tanpa alasan dan tanpa ampun, seorang anak buah yang berbadan tinggi besar itu menarik kerah baju Taeyong. Mulutnya yang berbau asap rokok membuat Taeyong terbatuk. Saat itu, mendadak sebuah pukulan mendarat di perut Taeyong bertubi-tubi.

Sohyun belum berani keluar. Sayangnya, ketidakberdayaan Lee Taeyong membuat nyalinya memenuhi otak. Tak berpikir lama, gadis Kim itu mengambil tindakan.

"Berhenti! Jangan lukai dia! Kalian menginginkanku kan? Kalau berani, lawan aku!"

"Sohyun.. akh.. kakimu.."

Rintih Taeyong yang tersungkur di aspalan.

Kaki Sohyun memang terluka, untungnya cuma satu. Sementara sisa kakinya pasti masih dapat berfungsi dengan baik untuk menendang dan mematahkan lengan serta kaki para penjahat itu kan?

"Hah!"

Sohyun menangkis sebuah pukulan yang hendak dilayangkan pada dirinya. Jangan khawatir, walau kenyataannya Sohyun itu perempuan, fisiknya tak selemah kodratnya tersebut. Ia sejak lama telah membekali dirinya dengan ilmu bela diri. Mengingat keberadaan wanita tak luput dari bahaya, maka gadis itu selalu berasumsi bahwa wanita pun butuh yang namanya pertahanan diri.

Krek.

"Aghhh!"

Sohyun berhasil mematahkan satu lengan milik anak buah Bangchan ketika ia hendak menangkap Sohyun dari belakang. Seakan berpengalaman, gadis itu selalu awas. Ia memasang mata dimana pun, berkonsentrasi sejauh mana pun.

"Sohyun, awas!!"

Teriakan Taeyong sedikit terlambat, sehingga seorang anak buah dapat melumpuhkan Sohyun dengan menyerang kakinya yang terluka. Gadis itu mengerang kesakitan. Lee Taeyong tidak terima! Ia bangun dengan menahan rasa nyeri di perutnya, kemudian dengan ambisius ia menghajar satu per satu anak buah yang mengelilinginya. Kira-kira, mereka berjumlah tujuh.

"Wah, tujuh lawan satu? Itu tidak adil, Bung!"

"Halah bocah! Kau ini penakut, tapi mau sok jadi pahlawan ya?! Jangan salahkan kami kalau hari ini adalah hari terakhirmu bernafas!"

"Aish.. percaya diri sekali kalian! Memangnya kalian tau catatan kematianku?"

"Banyak bicara! Ayo, bunuh dia!"

Titah anak buah yang sepertinya bos dari keenam pria yang lain.

Taeyong bergerak ragu, lama sekali ia tak berkelahi. Kalau mamanya tidak melarang, mungkin si tampan itu bukan hanya mendapat cap playboy, melainkan juga cap badboy di sekolah dan kampusnya.

"Baiklah, aku ikuti kemauan kalian! Lawan aku!"

Satu orang berbadan besar maju. Taeyong memberi ancang-ancang dengan tinjunya. Ketika pria itu menyerang, Taeyong menggunakan lengannya yang kuat untuk mengapit leher lawan. Kemudian, teman si pria jahat yang lain datang. Taeyong menjadikan bagian depan mobilnya sebagai batu loncatan untuk memberikan tendangan bebas di muka para penjahat yang mengerubunginya seperti semut.

Taeyong melumpuhkan tiga dari enam orang yang menyerbunya. Kemudian, ia menyikut tengkuk orang yang diapitnya tadi.

"Kalian berdua! Jangan diam saja!! Tak mau membantu teman-temanmu yang terkapar, huh??"

Dua orang tersisa menggeram. Salah satu maju dan hampir saja mendaratkan pukulan di kepala Taeyong, beruntung lelaki itu mengelak. Kemudian, ia menjegal kaki lawannya sehingga sang lawan jatuh dan Taeyong menginjak punggungnya.

"Kau!!"

Sisa satu dari enam. Sirat ketakutan terlihat dari mata orang tersebut, Lee Taeyong yang menyadarinya justru semakin percaya diri. Sebuah seringaian pun muncul di wajah tampannya.

"Hyaa!!"

Kali ini pertarungannya tidak mudah. Bisa dikatakan, keduanya sama-sama kuat. Taeyong kesulitan mencari titik lemah pesaingnya. Bahkan, pria Lee itu terjatuh beberapa kali karena sering mendapat serangan di bagian perutnya. Tentu saja, Taeyong menahan nyeri di bagian itu dan lawannya tak akan segan memanfaatkan keadaan untuk memperburuk keadaan Lee Taeyong agar ia bisa menang.

"Haha.. bangun, bocah! Tadi kau menyombongkan dirimu, sekarang kau kalah melawan anak buahku??"

"Dia bukan bocah, Paman! Tapi kau yang pengecut! Kau bersembunyi di balik anak buahmu?? Kau juga harus maju melawanku!"

Sohyun yang sempat terkalahkan, sekarang bangkit lagi dengan penuh ambisi. Demi Tuhan, ia harus mengehentikan ini semua atau nyawanya dan Taeyong dalam bahaya.

"Nona? Bagaimana kalau kita bertaruh saja? Jika kau kalah, kau harus ikut kami dan tinggalkan si bocah itu!"

"Dalam mimpimu, pengecut!"

Gadis itu sedikit terpincang-pincang saat akan mendekati pria yang paling berkuasa. Tanpa ampun lagi, Sohyun meluapkan kemarahannya pada si anak buah yang menjatuhkan Taeyong. Ia melayangkan kakinya yang masih utuh dan berhasil menyentuh wajah anak buah itu. Sohyun mengepalkan tangannya, lalu memukul dada orang tersebut sampai ia sesak nafas. Masih tidak berhenti, Sohyun menendangkan kakinya pada betis lelaki itu dan juga membuatnya pincang. Impas!

"Jangan meremehkan aku, Paman. Aku bukan wanita lemah!"

Sohyun tidak mengerti, kenapa yang ditantang justru tersenyum miring ke arahnya.

"Sohyun!!"

Taeyong memanggilnya. Gadis itu terkejut saat aliran darah merah mengalir dari mulut temannya. Apa yang terjadi pada Taeyong?

Seorang anak buah pun muncul dari belakang tubuh Taeyong. Ia memegang pisau yang amat besar dan tajam!

"Taeyong!!"

Sohyun memekik begitu lantang. Secepat mungkin ia berlari menuju Taeyong, namun usahanya terasa lama. Telinga Sohyun bahkan tidak kuat lagi mendengar tusukan demi tusukan yang anak buah brengsek itu lakukan pada Taeyong.

Jleb. Jleb. Jleb.

Tidak! Kau harus bertahan, Lee Taeyong!

"So..hyu..n.."

Aspalan hitam itu kini menjadi kecoklatan. Genangan darah memunculkan bau anyir yang mencekik indra penciuman Sohyun.

Astaga, mengapa jadi seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?

"Berhenti!! Tolong hentikan!! Jangan sakiti dia! Stop!! Kalian akan membuatnya mati!"

"Haha.. Nona, sekarang bagaimana kalau aku beri Nona pilihan lain?"

"Nona ikut kami, atau bocah itu mati!"

Sohyun memeluk tubuh Taeyong yang tak sadarkan diri. Ia menyesal, firasatnya benar. Kalau saja Taeyong menuruti kata-katanya untuk berputar balik, kejadian naas itu tidak akan pernah terjadi.

"Selamatkan dia.. tolong. Dia tidak boleh mati! Kalian bisa membawaku sekarang! Tapi selamatkan dia!! Kumohonn!!"

Gadis itu tak peduli akan egonya. Masa bodoh soal harga diri! Sohyun mengatupkan kedua tangannya, berlutut, dan menunduk di depan bos dari keenam anak buahnya tadi. Ia memohon, memelas agar Taeyong diselamatkan. Ya, seandainya Sohyun tahu bahwa membunuh Taeyong masuk ke dalam list mereka hari itu. Tetapi, Sohyun terbodohi.

Sisa-sisa anak buah yang masih dapat berdiri datang dan mencengkeram lengan Sohyun. Gadis tersebut diseret menuju sebuah sedan hitam yang beberapa menit lalu memblokir jalannya.

"Pilihan bagus, Nona. Semoga kau tak menyesal karena kami tak akan pernah membiarkan bocah itu hidup."

"Tunggu! Apa kau bilang?? Dasar brengsek! Lepaskan aku!!"

"Taeyongg!!!"

Area adu pukul pun mulai sepi. Hanya tertinggal Taeyong yang berkucur darah bersamaan dengan mobilnya. Walau tak sadarkan diri, mata Taeyong sedikit terbuka memperlihatkan dengan buram saat Sohyun dibawa pergi darinya. Setelah itu, Taeyong benar-benar terlelap.

...................................

"Taeyong, Sayang? Apa yang terjadi padamu?"

Setelah mendapat telepon yang mengatakan bahwa Taeyong ditemukan sekarat di daerah sekitar pantai, kedua orangtuanya beserta Soojin segera berangkat menuju rumah sakit.

Sekarang, mereka berada di depan ruang UGD di sebuah rumah sakit swasta yang letaknya tak jauh dari lokasi Taeyong ditemukan.

Mama Taeyong menangis histeris, Soojin yang juga merasa khawatir tak luput dari tangisan di wajahnya. Hanya Papa Taeyong yang tetap mencoba tenang. Beliau harap-harap cemas menantikan dokter keluar dari ruang tersebut untuk memberikan mereka kepastian tentang keadaan putranya.

"Kemana Sohyun? Disaat seperti ini dia kabur?!"

"Aku tak percaya, gadis itu meninggalkan tunangannya saat dia dalam bahaya!"

Soojin tak pernah diam menghujat. Ia sangat membenci Sohyun atas tidak bertanggungjawabnya gadis itu pada Lee Taeyong. Sayangnya, orangtua Taeyong terlalu cemas untuk memikirkan hal lain. Yang paling utama saat ini adalah keselamatan putranya!

Pintu UGD terbuka, dokter keluar melepas masker dan glove yang ia pakai. Papa Taeyong buru-buru mendekat dan menanyakan keadaan anaknya.

"Bagaimana anak saya, Dok?"

"Pak, luka tusukan di punggung anak Bapak membuatnya kehilangan banyak darah. Kondisinya kritis, kami harus segera melakukan transfusi darah sebelum keadaannya menjadi lebih buruk."

"Kalau begitu, ambil darah saya, Dok. Saya Papanya!"

"Baiklah, Pak. Mari ikut kami.."

................................

Beberapa jam berlalu, situasi saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Taeyong berhasil selamat dari maut sebab mendapat donor darah dari papanya. Kini, lelaki itu dipindahkan ke ruang perawatan. Ia terbaring lemah di atas ranjang. Tak bisa dibayangkan, berapa banyak luka bekas jahitan yang nanti tercetak di punggung Taeyong. Soojin miris membayangkannya.

Ketiga orang itu duduk mengelilingi Taeyong yang tampak pucat. Mereka terdiam dalam pikirannya masing-masing. Tentunya, hanya satu harapan mereka. Semoga Taeyong segera sadar dan sembuh supaya ia dapat menceritakan kejadian apa yang menimpanya.

"Ma..?"

Mama Taeyong terkejut mendengar panggilan itu menyapanya. Dilihatnya, Taeyong masih terpejam dan tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran.

Itu bukan Taeyong. Yang memanggil beliau barusan adalah seorang gadis yang muncul dari balik pintu. Penampilannya terlihat berantakan dan pipinya juga terlihat basah.

"B-bagaimana keadaan Taeyong?"

Dia Kim Sohyun.



























To be Continued.

Next (?)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top