5. Transaction
"Kenapa kau masih saja mencoba?"
Aku merasakan rasa sakit dan suara yang menggema mengiringi rasa sakit itu. Suatu tempat di tubuhku sakit, tapi aku tidak bisa melihatnya. Semuanya tertutup kegelapan dengan hanya ada aku sendiri di tengah kegelapan ini.
Kemudian rasa sakit itu kembali.
"Kau tahu hasilnya sia-sia saja."
Tidak, benakku memberontak. Tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Semuanya memiliki arti. Semuanya memiliki tujuan.
"Benarkah? Termasuk kepercayaanmu?"
Rasa sakit itu menghantamku lagi sampai aku kelimpungan dan pusing sendiri. Kali ini tidak hanya rasa sakit dari luar, tapi juga dari dalam, menyobek ingatan dan tubuhku dalam saat yang bersamaan. Memori-memori lama menjeratku, memaksaku mengingat semua hal yang terjadi, mulai dari yang paling baru. Saat-saat pengkhianatan Nagini dan orang-orang dari masa lalu pun kembali menghantam memoriku.
Saat aku kehilangan Azka dan Irsyad.
Saat aku harus menghadapi kenyataan Kala terlahir cacat karena serangan Yaksha.
Saat kami diusir dari kota ke kota, bersembunyi di liang, ketahuan, dan diserang para Yaksha kelaparan.
Ini tidak normal, sisa-sisa benakku yang masih bisa bergerak dan berpikir, menyimpulkan. Untuk kejadian baru, aku tidak menyalahkannya. Mereka baru saja terjadi. Masih segar dalam ingatanku. Tapi kejadian lama, mereka yang telah lama berlalu dan tidak lagi kembali, biasanya mereka duduk diam di sudut ingatanku, tidak pernah terpanggil kecuali aku berada dalam kesendirian.
Kalau begitu, seseorang ... atau sesuatu telah mendorongnya ke permukaan.
Tapi apa yang tepatnya mendorong memori itu ke permukaan, aku tidak tahu. Benakku tidak bisa mencari tahu. Semua jalan pikiran yang menjadi jalan keluar dari labirin ini terputur. Alih-alih, aku malah terfokus pada kenangan-kenangan tidak penting itu. Mereka seperti mengelilingi dan memerangkapku. Rasanya kepalaku seperti dipaksa menghadap sebuah layar yang menyala dan ada film di sana yang terpampang, menampilkan semua masa laluku dalam silus berulang tiada akhir. Memaksaku mengingat kembali pada kenaifanku yang menghancurkan segalanya.
"Kau tahu kau tidak bisa memercayainya sejak awal. Kau berniat untuk lari setelah memanfaatkannya, kan?"
Aku diam. Tidak ada mulut untuk membantah. Tidak ada kuasa untuk melawan.
"Kenapa kau tidak membunuhnya?"
"Kenapa kau malah berniat untuk lari?"
Aku merasakan sesuatu menggenggam jantungku, membungkusnya dengan tekanan yang menghancurkan. Degup jantungku melompat ke arah yang tidak teratur dan cepat.
Tidak, ini bukan memori. Ini bukan halusinasi.
Ini Maladies.
"Kau tahu perlawananmu sia-sia, kan?"
Seseorang menyentuh dan menyentakkan kepalaku. Sepasang tangan putih pucat berpendar dengan lima cakar tajam mencengkam wajahku. Mataku dibukanya, dihadapkan pada sosok yang seketika membuat mataku membelalak.
Sosok diriku sendiri.
Dalam balutan sinar putih berpendar, berpakaian gaun terusan pendek putih yang bersih, dan kulit mulus putih bersih. Tidak kumal, tidak kusam, tidak pula berlumuran darah dan tanah.
"Kenapa kau masih belum mau menerimaku? Bukankah aku cantik? Kuat? Aku lebih segala-galanya dari dirimu. Menerimaku akan membuatmu lolos dari rasa sakit ini."
Aku menggertakkan gigi, mengernyit jijik pada sosok putih palsu yang membuai itu. Tentu bencana dan mimpi buruk bisa menyamar sebagai mimpi indah.
Tidak akan.
Meski mataku terbuka, rupanya mulutku masih terkunci, bahkan seperti tidak ada.
Sosok diriku yang lain itu—sosok Maladies yang kemungkinan telah mencapai otakku itu—menelengkan kepalanya dengan bingung. Lalu ia menyeringai. "Sekalipun aku bilang, aku bisa memberitahumu di mana anakmu berada?"
Selama sesaat, aku mencelus. Harapan, sekecil apa pun itu, terdengar begitu menggiurkan di telinga dan otakku yang telah berada di jurang keputus asaan.
Tapi aku menolak untuk mundur. Aku mencoba menggeleng, tapi tubuhku membeku.
Pembohong, benakku memberontak. Pembohong!
Kau Maladies. Kau bagian dari diriku. Jika aku tidak tahu, bagaimana kau bisa tahu?
Sosok itu tertawa. Terkekeh mengejek.
"Dayuh yang malang." Ia lantas berjongkok di hadapanku. "Kau masih belum paham apa pun soal Maladies, ya?"
Aku tahu apa kalian. Tanganku mencengkam realita dengan kencang, penuh amarah. Mencegah diriku lebih terlelap dari ini dan membangunkan ragaku. Kalian hanya penyakit bawaan Yaksha yang menginfeksi seluruh dunia! Seluruh Manusia!
Sosok Maladies itu menghela napas.
"Kalau kau berpikir seperti itu, apa boleh buat." Sosok diriku yang lain memudar. "Jangan salahkan aku jika kau tidak bisa mengenali putramu lagi saat kalian bertemu."
Apa maksudmu?
Sosok itu tertawa. "Setelah lama di Permukaan, dengan kondisi anakmu yang terinfeksi itu ... kau sungguh berpikir...."
Sosok itu tiba-tiba menyentuh wajahku. Wajah kami berdua sangat dekat dengan kedua matanya membulat sempurna, seolah tidak punya kelopak mata. Hanya ada kegelapan di dalam sana. Kegelapan pekat, tanpa sedikit pun warna putih. Rasanya seperti tersedot ke lubang tak berdasar.
"Kau sungguh masih berpikir anakmu masih menjadi Manusia dan mengingat dirimu di luar sana?" Iris mata hitamnya mengeluarkan darah. Rambutnya perlahan ikut memutih. "Apa kau lupa, kau sendiri yang mengusirnya, Dayuh?"
***
Aku tersentak bangun ketika cengkaman yang sama terasa di pipiku lagi. Kali ini terasa begitu nyata. Dan aku bisa mengerang. Aku sudah kembali punya mulut. Ini pasti dunia nyata. Aku berhasil bebas dari pengaruh Maladies itu.
"Ini barang istimewa yang kau banggakan?" Hidungku bisa mencium aroma seperti aroma batu bara dan asap. Bahasa Yaksha yang ia gunakan bercampur geraman. "Dia tidak tampak hidup."
"Itu karena Ilmi—arrgh!"
"Dia makhluk yang rrapuh, Tuan Rakyan. Tapi dia massih hidup. Yang ssatu ini cukup tangguh." Kandangku mendadak digoncangkan sekali lagi. Aku menggerung kesal. "Lihat? Dia massih hidup."
Kemudian diam. Aku mendengar langkah, embusan napas, dan geraman, tapi tidak ada yang cukup jelas untuk ditangkap oleh telinga. Embusan kasar terdengar di dekatku. Seperti embusan napas yang berat dari seseorang.
Lama kemudian, suara berkelontang terdengar lagi. Kali ini kelontang yang berbeda. Terdengar ringan. Seperti kepingan besi. Suara tawa terdengar dan percakapan mereka berhenti sejenak. Kemudian desisan tidak menyenangkan yang familier terdengar.
"Ini tidak ssessuai kessepakatan!"
Tiba-tiba suara raungan terdengar menggema di sepenjuru ruangan. Jantungku mencelus ketika dahsyatnya raungan itu sampai membuat kandangku bergetar. Miasma Maladies terasa pekat di udara. Aku kesulitan bernapas. Tekanan udara seakan berubah dengan terlalu sedikit oksigen dihirup dan terlalu banyak miasma Maladies.
Aku pernah dengar ada golongan Yaksha yang bisa mengeluarkan Maladies hanya dari keberadaan mereka. Miasma menjadi aura dan napas mereka. Para Yakha yang ditakuti oleh Yaksha lain. Para alfa, aku menyebut mereka. Para Yaksha terkuat dari berbagai jenis. Mereka biasanya menguasai satu kota.
Yaksha alfa jenis apa yang baru saja meraung?
Rasa penasaran mendorong kekuatan lain di dalam tubuhku, kekuatan untuk melawan, meski hanya untuk sekadar membuka mata.
Kedua mataku membuka, kepalaku sedikit mendongak, memastikan hanya sedikit saja gerakan yang aku keluarkan. Tenagaku sudah habis dan aku tidak mau bekerja ekstra untuk melawan para Yaksha yang melihatku sedikit terlalu bersemangat sekarang.
Namun aku tidak perlu berusaha untuk tidak bergerak. Detik pertama membuka mata, aku sudah terpaku.
Satu sosok raksasa berdiri di hadapanku.
Tinggi setidaknya tiga meter, besar, penuh otot, dengan surai lebat memenuhi kepalanya seperti seekor singa. Moncong panjang seperti serigala menyembul keluar dari balik surai hitamnya, benda itu menggeram dan bergerak. Taring-taring muncul keluar dari balik bibirnya yang hitam. Tanduk mencuat dari kedua sisi kepalanya, melengkung dalam bentuk spiral seperti hewan-hewan dalam legenda. Bulu berwarna merah tampak mencolok di pundaknya dan selama sesaat, aku mengira bulu merah itu adalah warna bulunya yang lain, sampai aku sadar, itu adalah mantel ... dengan kepala anjing menggantung mati dan kosong di pundaknya. Ia mengenakan mantel dari Isgora, anjing-ajing yang termutasi Maladies.
"Kau berjanji memberiku barang istimewa, Nagini! Bukan barang sekarat!" Makhluk itu meraung. Suaranya terlalu lantang dan jelas untuk seorang raksasa. Terdengar terlalu berakal. Yaksha jenis apa dia? "Itu sudah harga pantas untuk mengganti kepalamu dipajang karena pelanggaran ini!"
Aku mendengar Nagini mendesis marah. "Kessepakatan tetap kessepakatan."
Terdengar bantingan lagi. Kali ini seluruh dinding berguncang. Kesunyian mengikuti setelahnya, kesunyian sebelum badai datang.
"Apa itu sebuah tantangan, Nagini? Kau ingin berhadapan dengan Tuan Purusha untuk menyelesaikan masalah "kecil" ini?"
Tidak ada lagi terdengar balasan. Tidak ada lagi perlawanan. Semua menjadi sunyi lagi. Karena aku pun ikut terdiam.
Purusha. Nama yang sudah aku tunggu sejak lama. Akhirnya aku mendengar nama itu. Nama dari kota yang aku tuju. Nama dari Yaksha penguasa kota terbesar kaum Yaksha di daratan ini.
Namun napasku tiba-tiba berubah sesak. Otakku berkabut. Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir kabut hitam itu, lalu menoleh ke kiri, tepat di saat dua bunga kamboja merah mekar di ujung belenggu tanganku.
Sial, aku lengah!
Aku menggeleng lebih keras, mencoba mengusir Maladies yang mengalir semakin cepat, tapi usahaku tidak banyak membuahkan hasil. Keberadaan Yaksha Alfa itu memperburuk kadar miasma di udara dan tubuh manusiaku yang terinfeksi menyerap semua miasma itu seperti ikan yang kehabisan udara.
Tangan kananku berubah semakin kaku, tulang tulangnya seperti terbuat dari besi, dagingnya berubah menjadi kayu, dan kamboja di ujung rantai bersinar merah semakin terang. Akar-akarnya membelit semakin dalam, aku bisa merasakannya di nadiku.
Jangan sampai tertidur. Jangan sampai Maladies mengambil alih tubuhmu.
Sembari membisikkan kata-kata penyemangat itu, aku terus mengingat. Mencegah Maladies itu mencuri lebih banyak lagi dariku.
Masih ada tujuan.
Tinggal sedikit lagi.
Sedikit lagi aku akan sampai ke kota Purusha yang sudah aku cari selama satu tahun penuh. Walaupun datang sebagai barang lelang, aku akhirnya berhasil mencapai kota peradaban Yaksha paling besar. Tempat putraku kemungkinan ditahan di sini.
"Kalau kau paham...." Yaksha Alfa itu kembali bersuara. "Bawa semua barang ini ke depan. Kecuali barang yang itu."
Tanpa menoleh, aku dapat merasakan ada telunjuk yang menuding terarah kepadaku, tepat ke kandang ini.
Terdengar suara langkah kaki menjauh. Lantai bergetar ketika Yaksha Alfa itu melangkah dan aku jadi bertanya-tanya, kenapa aku tidak sadar karena suara langkah itu sebelumnya?
Kandang tempatku berada lantas diangkat dan dilepaskan dari pengaitnya di langit-langit, beirkut kandang-kandang yang lain. Guncangan hebat membuatku mual, tapi menelan semua asam lambung itu kembali. Aku tidak boleh takluk. Tidak sekarang.
"Tuan Rakyan membingungkan seperti biasa," Raksasa yang hampir memakanku tadi bicara. "Dia suka sekali marah tanpa sebab. Sepertinya sewaktu kita membawa anak laki-laki Manusia itu dia tidak semarah ini."
Telingaku berjingkat. Anak laki-laki manusia?
Sekelumit harapan muncul dalam diriku. Mungkinkah yang mereka maksud adalah Kala?
"Yang mana?" Raksasa yang aku kenali bernama Rumya itu berkata.
"Anak itu!"
"Aku tidak ingat. Mungkin kau salah lihat."
"Aku tidak salah lihat! Malamnya kita berpesta pora, kau lupa?"
"Ah, kalau pesta, aku ingat! Terakhir kita berpesta!" Rumya tertawa dengan tawa yang hanya bisa aku deskripsikan sebagai tawa yang tolol.
Kandangku berguncang keras lagi. Ugh ... apa ia sedang menari?
"Kenyang! Bahagia! Tidur pulas! Hei, kalau tidak salah, kita berpesta karena seorang anak laki-laki, ya?"
"Itulah yang aku katakan sedari tadi, Tolol!" Raksasa lain menghina. "Anak beruntung itu! Dia terinfeksi tapi laku keras sekali!"
Pesta pora. Anak laki-laki.
Oh, tidak. Tolong, semua petunjuknya pas. Jangan sampai itu putraku.
Sudah berapa lama itu terjadi? Kapan mereka berpesta?
"Ah ... aku ingin tidur dengan perut kenyang lagi." Rumya menggumam. "Hei, Sata, apa malam ini bisa? Kita dapat barang bagus, artinya kita bisa berpesta malam ini?"
"Jika kita berhasil mengantar mereka, ya," Raksasa bernama Sata itu menjawab. "Dua minggu tanpa pesta sudah terlalu lama."
Dua minggu. Isi perutku rasanya turun saat mendengarnya.
Sudah selama itu?
Mendadak saja tubuhku lemas. Kala, aku harap kau baik-baik saja. Aku harap kau masih selamat.
Tidak, dia pasti selamat. Putraku adalah anak yang kuat. Dia tidak kalah oleh insiden yang hampir merenggut nyawanya. Dia tidak akan kalah oleh para Yaksha. Dia pasti sedang menungguku di kota Purusha.
Dan aku akan menjemputnya. Apa pun wujudnya nanti.
***
A/N:
Lama nggak update di wattpad kangen juga rasanya haha.
Tapi sekarang udah banyak situs bacaan kayak wattpad dan fitur medsos wattpad pun udah banyak yang dihilangkan. Rasanya sayang kalau cuma drop karya di sini, tapi kalau mau komunikasi sekarang sudah susah. hahaha.
Dan kondisi saya pun tidak seperti dulu lagi. Mungkin saya akan upload berkala untuk Maladies karena saya juga kangen nulis cerita yang gak dikejar-kejar deadline hahaha.
Akhir kata see you next chap
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top