29. A Solid Determination

Tentu saja, itu bukan jawaban terbaik yang bisa aku berikan.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah urusan kami bertiga. Aku dan Kala menghajar beruntun Purusha tanpa ampun. Kala maju setiap kali serangan utama dilancarkan, memberikanku hanya sedikit celah untuk menyerang. Purusha yang kalap tampaknya tidak menyadari ini. Ia terus memusatkan serangan kepadaku dengan amukan yang tiada henti. Amarahnya meluap-luap, seperti miasma yang memancar dari seluruh tubuhnya.

Hingga satu tinju datang tidak terduga dari arah bawah. Aku menahannya agar luka di tubuh Kala tidak bertambah parah. Tinjuku berhantaman dengan Purusha. Kali ini aku tidak melepaskannya.

Maladies di dalam tubuhku langsung mengambil alih. Dia menyebar dengan cepat dan menjalar ke tangan Purusha, menghancurkan salah satu tangannya hanya dalam hitungan detik. Purusha menjerit dan Kala menyentaknya mundur. Aku menunduk, melihat lenganku semakin jauh dari bentuk manusianya. Terasa semakin berat, semakin banyak ranting dan bunga yang tumbuh di sana.

Ketika aku mendongak ke depan lagi, Kala sudah merentangkan tangannya di depanku.

"Ka—

"Ini urusanku dan Purusha," ujarnya. "Manusia sepertimu sebaiknya jangan ikut campur."

Aku tertawa pelan. Lalu bangkit dan berdiri tegap sekali lagi.

"Mana bisa aku menuruti kata-katamu itu," Aku menyentuh lengannya. "Sudah tugas ibu melindungi putranya."

"Aku bukan anakmu."

Aku menunduk menatap lengannya. Jika saja, darahku tidak bisa memulihkannya, jika saja wajahnya tidak begitu mirip Irsyad, mungkin aku akan percaya.

Sekali lagi aku tertawa pelan. "Kau benar-benar mirip ayahmu."

Aku menyentuh lengannya. Membuat perubahannya menjadi manusia semakin kentara. Tangan hitamnya memutih dan mengecil, tapi bahkan kali ini, Kala tidak menjauh. Dia tidak mengernyit. Hanya bergeming dengan ekspresi kaku ke arah Purusha yang dalam sekejap menghilang.

Aku mengelak dari lengan Kala yang menghalangi dan langsung berdiri di hadapannya, menghalaunya dari Yaksha yang sudah tepat ada di hadapannya. Membalikkan posisi kami sekali lagi.

"Apa yang kau—

Aku mendengar Kala berteriak di belakang. Tangannya menyentuh pundakku, tapi ledakan energi Purusha membuatnya terdorong mundur. Aku melirik ke belakang, mengecek keadaannya dan bersyukur, dia baik-baik saja.

Meski dia harus menatapku dengan pandangan menyakitkan itu lagi.

"Jangan berdiri di depan Ibu dan menghancurkan harga diri Ibu, Nak," ujarku. "Tugas orang tua adalah melindungi anaknya dan itu tidak berubah."

Kala perlahan bangkit, tidak memedulikan tubuhnya yang berlumuran darah. "Aku bilang berhenti!" teriaknya.

Melawan pusaran energi yang meledak di udara, dia pun bertahan dan mencengkam salah satu reruntuhan.

"Kenapa kau melindungiku terus seperti ini?!" teriaknya. "Aku bukan putramu! Kau bukan ibuku!"

Sesuatu dalam hatiku berdentam sakit saat mendengarnya. Mungkin itu Maladies yang semakin menjalar. Mungkin itu bukan perasaan yang aku bayangkan. Yah, apa pun itu, aku merasa pantas menerimanya. Aku yang membuangnya. Aku pantas diusir.

Aku tersenyum. Tidak lagi bimbang, berarti aku siap menerima segala konsekuensinya.

"Itu hanya harapan kosongku saja," ujarku, tidak lagi menatapnya. Aku tidak sanggup, tidak tanpa menitikkan air mata.

Ah, biarpun tidak bimbang, aku masih tidak bisa menahan rasa kecewa.

"Kau adalah kau ... Rakyan." Ah, ya, aku harus mulai terbiasa memanggilnya dengan nama itu. "Mau apa pun para Yakhsa bilang, tidak peduli apa wujudmu, kau adalah kau, tidak ada yang bisa membantahnya."

Purusha tampak semakin marah di depanku. Energi dan miasmanya meledak semakin hebat. Menyapu sekeliling. Meratakan tanah, menggulung angin dan debu. Reruntuhan beterbangan menyingkir. Para Yaksha yang masih selamat, beserta jasad mereka yang telah mongering habis, tersapu tanpa ampun. Sementara aku dengan ajaibnya bisa bertahan. Menahan serangan Purusha yang sedemikian hebat hanya dengan dua tangan.

Pakaianku tersapu. Kain penutup wajahku terempas. Dan kalung di leherku, kalung cincin pemberian Irsyad terlepas. Aku meliriknya sekilas, merasakan kehilangan yang melumpuhkan. Leherku terasa ringan, tapi juga terasa kosong. Tubuhku terasa lebih telanjang dan tidak terlindungi lebih dari apa pun.

Namun saat Kala menangkap kalung itu, aku justru tersenyum, teringat saat bagaimana cincin itu dulu pernah hampir masuk selokan saat Irsyad melamarku di taman kota. Dan bagaimana saat itu ia menangkapnya dengan cara yang sama.

Aku tersenyum. Bukan putraku, dia bilang?

"Irsyad menitipkan itu kepadaku," ujarku, menitikkan setetes air mata. "Sekarang aku menitipkan itu padamu ... Rakyan."

"Enyah kau, Manusia!"

Aku kembali melirik ke depan. Bunga-bunga putih itu muncul semakin hebat di tanganku. Aroma harumnya meredakan aroma miasma dari tubuh Purusha.

Aku paham sekarang. Bunga-bunga di tubuhku mencegahnya semakin kuat. Semua unsur Yaksha. Baik dirinya maupun kehidupan di kota ini. Aku seolah terlahir untuk menghancurkannya.

Dia bilang pula, ada manusia murni. Manusia yang tidak terinfeksi. Jelas aku bukan manusia yang tidak terinfeksi. Tapi aku ada karena manusia yang murni itu hidup di luar sana. Aku adalah pertanda. Dan akan aku buat pertanda itu jadi nyata.

"Aku tidak akan lenyap, Purusha!" sahutku penuh tekad. Aku menekannya lebih jauh. Menekan rasa sakit yang tubuhku harus hadapi jauh ke belakang. "Aku akan selalu ada!"

Aku maju selangkah.

"Sampai manusia yang kau dan semua Yaksha takutkan muncul, aku akan selalu ada di sini!"

Ya, itulah peranku. Sekarang aku sadar. Aku ada untuk hari ini. Untuk satu hal ini. Meski bukan pembawa harapan, aku adalah pertanda kalau harapan itu masih ada. Cukup dengan itu, aku bahagia.

Di tengah semua kegagalan ini ... masih pantaskah aku untuk merasa sebahagia ini?

Kedua kakiku terasa kaku, kedua tanganku mengeras. Mulai sulit digerakkan, tapi aku masih menggenggam tangan Purusha kuat-kuat.

"Kau, manusia! Berani-beraninya kau....!" Purusha memulihkan diri dan berusaha lepas, tapi aku tidak membiarkannya. Aku terus menggenggamnya, menyaksikan kedua tangannya hancur menjadi abu. Diikuti oleh tangannya yang lain.

"Kau baru tahu?" tanyaku, memberikan senyum terbaik, melepaskan semua belenggu yang menahan tubuhku sedari awal. Dentum Maladies itu akhirnya mencapai jantungku. Mengisinya dengan energi yang tidak aku ketahui. "Manusia memang pemberani."

Kami berdua meledak menjadi kepulan cahaya putih.

***

Aku pernah bermimpi. Sebuah mimpi yang sangat indah. Ketika dunia ini masih baik-baik saja, aku bersama Azka dan Irsyad, bersama Kala, menikmati makan siang di ruang keluarga kami berempat. Tawa dan senda gurau memenuhi ruang keluarga kecil kami.

Tidak ada Yaksha. Tidak ada dunia yang hancur. Tidak ada perpisahan.

Kadang aku ingin berada di mimpi itu selamanya. Tidak lagi terbangun. Untuk apa memangnya terbangun? Tidak akan ada yang memanggilku—

"Ibu!"

Panggilan itu ... ah, sudah berapa lama aku tidak mendengar panggilan itu? Dengan suara yang mirip sekali suara Kala.... Sedang dalam mimpi lagikah aku?

Kedua mataku membuka perlahan.

Butuh waktu agak lama bagi pandanganku untuk fokus, terutama karena tetesan dingin yang jatuh ke atas pipi ini. Beberapa kali aku mengerjap, merasakan kelopak mata semakin berat, tapi pada akhirnya pandanganku bisa fokus.

Dan menyaksikan Rakyan di atas wajahku. Tetes demi tetes air mata yang jernih turun dari pipinya.

"Ibu!"

Ah, mimpikah ini?

Separuh berharap demikian, tapi separuh berharap ini kenyataan, aku pun menyentuh wajah itu, merasakannya benar nyata di bawah sentuhanku. Ini kenyataan. Dan Kala baru saja memanggilku Ibu lagi.

"Kau ... mengingatnya?" Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku kembali bicara dengan bahasa Manusia. Kala mengangguk. "Syukurlah ... syukurlah...."

"Kala minta maaf, Bu," Kala menunduk, menempelkan tanganku erat-erat ke pipinya yang basah. "Kalau saja Kala ingat lebih cepat ... Kalau saja...."

Aku mengelus anak-anak rambutnya yang jatuh. "Apa yang terjadi ... jangan disesali. Ini pilihan Ibu dan ... Ibu bangga ... bisa melindungimu sampai akhir...."

Kala terdiam, air matanya semakin deras.

"Purusha...?"

"Sudah tewas," Kala menjawab. "Ibu menang. Kita menang."

Selamat. Menang. Dua hal yang patut disyukuri. Ah, betapa bahagianya ... andai semua ini bisa lengkap.

"Ibu hanya menyesal ... mungkin tidak bisa menemanimu ... lagi...." Ah, rupanya aku pun sedang menangis. Benar-benar wanita serakah yang tidak tahu diuntung. "Maafkan ibu ... untuk semuanya, Kala ... anakku...."

Kala menggeleng cepat. "Akulah yang tidak tahu diri. Aku yang sudah memangsa Ayah! Aku yang menyakiti Ibu! Aku ... aku menghancurkan segalanya...."

"Tidak....." Aku mengelus pipinya, seperti saat dia ketakutan dulu sewaktu kecil. "Kau memaafkan Ibu. Kau memulihkan Ibu...."

"Tidak, tidak ... Kala belum melakukan banyak hal...."

Aku menoleh ke depan. Ke arah langit yang membentang di depanku. Tertutupi oleh pohon yang menjulang tinggi dan bersemi penuh bunga.

Ah, pohon yang indah itu ... asalnya dari mana? Apa aku ... apa pohon itu berasal dari tubuhku? Pohon apa namanya ini? Pohon dengan bunga putih yang indah ini?

"Kau melakukan banyak hal, Nak...." Suaraku semakin melemah dan cahaya putih di atas langit sana semakin terang. Tampak semakin indah. Apa matahari hendak jatuh? Ataukah memang langit seputih ini? "Dan kau akan melakukan banyak hal lagi ... di masa depan nanti...."

Sosok Kala, perlahan semakin samar di mataku, memburam menjadi sosok kelabu yang perlahan berubah transparan. Suaranya masih bisa terdengar. Suaranya memanggil namaku, tapi suara itu semakin lirih dan lirih hingga akhirnya tidak terdengar lagi.

Kemudian cahaya putih itu menelanku.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top