13. Second Child
Kala lahir di malam penuh hujan.
Di tengah cahaya remang dari cahaya alamai jamur-jamur dan lumut di sana, aku melahirkan Kala di tengah malam yang hujan lebat. Irsyad dan orang-orang di Liang yang ada bersama kami, membantu sebisanya, meski aku sempat pingsan dua-tiga kali karena tidak banyak yang berpengalaman dalam persalinan. Aku melahirkan di dekat air agar aroma darah tidak membekas di mana pun dan memberitahukan keberadaan tempat kami kepada para Yaksha.
Semua warga senang, tapi aku tidak bisa langsung memeluk bayiku. Dilakukan pembersihan dan pemeriksaan selama hampir tiga jam lamanya. TIga jam yang aku habiskan dengan pingsan setelah melahirkan.
Setelah aku terbangun kembali, Kala sudah ada di sisiku. Itu awal hari yang paling membahagiakan dalam hidupku, setelah apa yang kami lalui selama ini.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, air mata bahagia kembali meleleh di pipiku.
Aku memeluk Kala dengan sayang. Sampai bertahun-tahun kemudian pun aku masih mengingat bagaimana mungilnya anak itu dalam dekapanku. Perasaan cinta dan syukurku pada kelahirannya pun tidak berhenti.
Tidak sekalipun ketika aku dihadapkan pada kenyataan, sebelah kaki Kala mengalami kelainan. Kaki itu kecil dan keriput. Seperti orang yang terkena polio.
"Perkembangan janin terganggu," Bidan yang waktu itu membantu persalinanku memberitahu. "Jadi mungkin harus diperiksa lebih jauh untuk memeriksa apakah ada—
"Dia tidak terinfeksi," Aku berujar sungguh-sungguh pada wanita tua itu. "Aku berani menjaminnya dengan nyawaku."
Saat itu, sang bidan melirik ke arah Irsyad. Aku melihatnya sebagai sebuah lirikan konfirmasi. Hanya sebuah lirikan biasa.
Andai saja aku bisa lebih mengerti situasi.
***
"Irsyad, lihat!" Aku menimang-nimang Kala dengan penuh sayang setelah beberapa jam menyerahkannya kepada para penduduk untuk diperiksa. Anak bayi mungil itu tersenyum dalam dekapanku, meski belum sepenuhnya matanya terbuka. "Kala tersenyum!"
Irsyad mengangguk tanpa menatapku. Pria itu sibuk memasukkan beberapa setel pakaian yang berhasil kami curi di hari yang lalu ke dalam sebuah tas kain. Aku menatpa punggung yang tampak bergetar dalam keremangan cahaya itu. Kala merasakan kegeilsahanku dan ikut merengek. Aku menenangkannya, berusaha meyakinkan anak itu kalau semuanya baik-baik saja.
Tapi bayi terlalu peka pada keraguan ibunya.
"Irsyad...." Panggilku. "Kau tidak mau mencoba menggendong Kala? Sebentar saja?"
Irsyad berhenti. Terdiam. Aku menunduk, membiarkan Kala menggenggam satu jariku. Bayi mungil itu tersenyum.
"Aku belum pernah melihatmu menggendong Kala...."
"Aku pernah—
"Kau hanya bilang pernah, tapi tidak pernah menunjukkannya," tukasku dan Kala pun merengek lagi. "Selalu setiap kali aku tertidur atau tidak melihat."
Irsyad terdiam lebih lama lagi.
"Ada apa, Irsyad?" tanyaku, firasat buruk menghantuiku. "Apa ada yang kamu sembunyikan?"
Lama sekali, Irsyad terdiam lagi. Dia tidak berbalik, bahkan tidak melirikku.
"Irsyad!" tuntutku, ketika semua firasat buruk itu semakin tidak tertahankan. "Tatap mataku dan jawab aku!"
Rengekan Kala berubah menjadi tangisan saat nada bicaraku meninggi. Panik dan kecemasan melandaku dan semakin parah ketika Irsyad sama sekali tidak memberikan jawaban.
"Orang-orang di sini baik, Dayu."
Jantungku mencelus. "Irsyad, apa yang kau—
"Kalau ada di sini, kau pasti bisa hidup bersama Kala sampai lama ... bahkan tanpa aku sekalipun."
"Irsyad, apa maksudnya itu?" Air mataku berlinang. Suaraku bergetar. "Ka-kau ... kau mau pergi ke mana?"
Irsyad diam, tidak menjawab. Masih tidak mau menoleh kepadaku. Tapi lengannya bergerak. Ia menyingsingkan bajunya dan memperliatkan kepadaku, lengan kirinya yang berubah kebiruan. Gelap, dengan banyak urat menonjol di sana, seperti akan meledak.
Aku terkesiap dan mnutup mulutku. "I-Irsyad ... itu ... kau...."
"Aku terinfeksi," Irsyad berkata pahit. "Kau pikir aku tega menularkan sesuatu yang membahayakan anak kita?"
Aku menggeleng tidak percaya. Air mataku berlinang semakin parah. Kala menangis sekarang. "Sejak kapan....?"
"Gejalanya mulai timbul beberapa hari yang lalu."
"Tapi selama sebulan ini kau tidak pernah...." Dia tidak pernah pergi dari sisiku. Dia selalu menjagaku. Kenyataan itu lantas menimbulkan semangat baru dalam diriku. "Jika—jika aku saja tidak tertular, mungkin—
"Daya tahan tubuh orang dewasa dan bayi berbeda, Dayu." Irsyad mengingatkan dan aku tertunduk lesu.
Air mataku mengalir semakin deras. "Tapi ... bagaimana bisa ... sejak kapan...? Apa penyebabnya...?"
Irsyad terdiam lagi. Hanya untuk sesaat. "Aku rasa kabut itu memang membawa pengaruh."
Kabut? Aku tersentak. "Kabut apa yang kau bicarakan? Kau tidak keluar sama sekali...."
"Kabut saat pertama kali semua ini dimulai." Ketika Irsyad akhirnya melirikku, ia tersenyum getir. "Aku sudah benar dengan memperingatkanmu dan Azka untuk tidak langsung menghirupnya dan kabur dari sana."
Azka, mungkin ia tidak terkena karena saat itu ia ...
Aku tidak sanggup meneruskan pikiran itu. Masih belum sanggup.
"Tapi ... tapi aku tidak....."
"Mungkin ini sebuah keajaiban," Irsyad berkata, kembali sibuk mempersiapkan apa pun yang hendak dibawanya ke dalam ta situ. Sebuah perpisahan. Parahnya, perpisahan ini tampak tidak terelakkan. "Apa pun itu, aku tidak mau memaksakan keberuntungan ini. Kau dan Kala bisa berbahaya jika bersamaku."
Aku tidak bisa menjawab. Tidak sanggup memberi jawaban.
"Aku titip Kala padamu, Dayu," Irsyad melirikku untuk kali terakhir. Dia melirik Kala. Sorot matanya lembut penuh kasih. "Semua orang di sini akan menyayanginya. Semua orang yang ia temui pasti akan mengaguminya ... termasuk aku yang bangga bisa menjadi ayahnya...."
Untuk pertama kalinya, Irsyad berbalik dan menatapku. Dan kini aku bisa melihat, infeksi memang sudah menjalar. Mata kiri Irsyad, bola matanya menghitam, kelopak matanya membengkak. Begitu pula dengan rahang kirinya.
"Aku yakin anak kita akan jadi pemuda yang hebat."
***
Kamarku dan Kala dipisahkan dari Irsyad setelah hari itu. Semua orang pun seperti sepakat menjaga rahasia keberangkatan Irsyad dariku. Mungkin mereka takut aku akan menyusul.
Tapi sesuai kata-kata Irsyad, semua orang di sini memperlakukan kami berdua dengan baik. Mereka bahkan tidak mempermasalahkan kecacatan Kala sama sekali. Semua orang, pria maupun wanita, tua maupun muda, melihat Kala seperti melihat sebuah keajaiban. Semua manusia dalam komunitas kecil beranggotakan dua puluh orang ini, semuanya menyayangi Kala.
"Kau senang di sini, Nak?" Aku berbisik pada Kala di suatu malam, ketika aku terjaga. Kala tertidur lelap di sisiku. Namun sekali lagi mataku disengat perih. "Tapi Ayah ... mungkin kau tidak akan punya kesempatan melihat ayahmu ... tapi dia ... dia sangat menyayangi kita berdua ... lebih dari nyawanya sendiri...."
Dan kita akan meninggalkannya sendirian? Di luar sana? Di dunia Permukaan yang berbahaya?
"Sssichkaaa...."
Tiba-tiba terdengar bunyi klik-klak dari belakang. Bunyinya seperti selop kayu yang saling beradu. Tapi bunyi ini terlalu berirama. Seperti ... seperti bunyi sebuah instrumen. Dan bunyi ini disertai desisan yang aneh.
Saat itulah aku melihat bayangan gelap menjulang di atas Kala. Bayangan yang jatuh perlahan di atas kepalanya. Napasku tertahan ketika wujud dari bayangan itu muncul.
Seperti sebuah capit. Sebuah sabit raksasa hitam legam yang mencoba meraihnya.
Di atas capit itu, bayangan yang lebih tinggi besar menjulang. Dari cahaya remang-remang di langit-langit gua, tampak makhluk itu berada di antara stalakmit, merayap mendekat dan bangkit, mendekatiku, pelan-pelan.
"Menaschisschka...."
"Dayu, lari dari sana!"
Bunyi letupan senjata menggema di sepenjuru gua. Tepat di atas kepalaku. Tangisan Kala pecah. Aku membawa bayi itu dalam dekapan dan berguling, menghindari hunjaman capit yang mengikuti kami.
Desisan dan raungan terdengar. Aku mendengar bunyi berdebam dan bunyi letupan senjata lagi. Sebuah raungan bergema di antara gua yang sunyi. Diikuti gema raungan-raungan lain. Aku bangkit dengan kaget. Napasku terengah-engah karena terlalu lama ditahan.
Di sisiku, Irsyad sudah siaga dengan sebuah senapan laras panjang. Di punggungnya ada sebuah pedang.
"Ambil senjata segera, Dayu."
Aku langsung menurutinya dan mengambil pedang di punggungnya. Mengarahkannya dengan kikuk ke arah makhluk yang kini ada di hadapan kami. "A-apa yang terjadi? Makhluk apa...."
"Yaksha berhasil menyusup ke Liang ini."
Makhluk itu merupakan percampuran dari kelabang dan belalang sembah dengan kepala sebesar kepala sapi, sepasang mata yang berpendar di dalam gelap, serta mulut dengan setidaknya tiga lapis gigi; sumber suara klik-klak di sepenjuru gua. Makhluk itu meraung marah ke arah Irsyad, tapi Irsyad terus berhasil melancarkan tembakan untuk menghancurkan capitnya yang paling besar.
"Semua orang?" Telingaku mendengar lebih banyak suara klik-klak di luar, tapi aku tidak mendengar suara senapan yang lain. Yang ada hanya suara jeritan.
Dan diamnya Irsyad mengkonfirmasi pertanyaanku. Tidak perlu jawaban lebih jauh.
Liang ini sudah tamat.
Sekali lagi, kami berhasil disusupi. Kami berhasil dikalahkan dan dibantai diam-diam.
"Aku tahu rute aman yang terlalu sempit untuk mereka masuki," Irsyad berkata, melepaskan tembakan terakhir. "Sekarang, Dayu! Kiri!"
Aku pun berlari pergi dari sana. Irsyad mengikuti di belakang, mengakhiri kehidupan damai kami sekali lagi.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top