Magic Flute
》· · ──────·本·──────· ·《
.
.
.
.
.
.
Bright moonlight before my bed
I suppose it is frost on the ground
I raise my head to view the bright moon
Then lower it, thinking of my home village
-Jing Ye Si
.
.
.
.
.
.

.
.
.
.
P
ara tetua selalu bercerita, katanya bulan adalah singgasana dari istana langit. Ahli nujum seluruh kerajaan sepakat kalau malam ini bulan akan berkuasa penuh atas langit, tanpa bintang yang membuatnya menjadi salah satu fenomena paling indah sepanjang sejarah.
Saat bulan purnama sewarna dengan daun momiji musim gugur.
Sepanjang hari seisi kerajaan disibukan dengan berbagai perayaan. Kembang api, kue manju, teater di berbagai kuil, bahkan festival. Kata mereka ini adalah momen keberkahan, para dewa memberkahi panen mereka di musim gugur.
Tidak, tidak semua.
Tidak seindah itu ketika dua orang dipaksa berpisah saat suasana sukacita itu.
Bagi Mark Lee dan gadisnya, purnama momiji adalah kutukan.
Angin musim gugur bertiup, menggerakan daun-daun maple yang berwarna kemerahan itu hingga lepas dari dahannya. Menari bebas di langit lalu terjatuh di sungai yang membawanya terjun menuju air terjun.
Tersembunyi dibalik hutan maple yang berkabut sepanjang tahun, mereka percaya air terjun keabadian berdiri gagah di sana.
Mark Lee juga ada di sana, di tepi tebing tinggi dengan riak air terjun yang bernada pasif tanpa henti. Menatap punggung seorang gadis yang menenggelamkan kakinya di hulu, berdiri anggun melawan arus sungai yang bermuara pada air terjunnya.
“Kakimu akan membeku, tuan putri.”
Si tuan putri tak menjawab. Dia hanya menunduk, memandangi pantulan wajahnya di air.
Jarak Mark dengannya hanya lima langkah. Karena lelaki itu tidak menenggelamkan kakinya dalam air. Hanya menatap dalam dengan rasa sesak menghimpir dadanya.
“Hatiku sudah membeku, Mark. Tidak bisa disembuhkan. Apa lagi yang harus diharapkan?”
Gadis itu berbalik dengan tatapan mata kosong yang mengarah pada lelaki di hadapannya. Hitam seperti kristal, rambut yang sewarna mata bertiup mengikuti angin. Pahatan wajah yang selalu cantik. Dengan kimono merah dan jubah keemasan buatan surga yang berkibar indah.
Memang, sang tuan putri tidak dilahirkan menjadi pendamping seorang Mark Lee.
“Sayang,” gadisnya melangkah keluar dari sungai. Tangannya yang selembut sutra menyentuh pipi lelakinya yang kaku. “seisi langit menertawai kita.”
Ya, mereka tertawa atas setiap jengkal kegetiran ceritanya. Tanpa ampun, tanpa kasihan. Seperti mereka yang tak mempedulikan kesedihan yang tersembunyi di balik malam, mereka hanya fokus pada lunar yang tetap terlihat indah. Tidak ada yang peduli.
“Mereka hanya iri.”
“Iri pada kita.”
“Karena aku ada di sini menemanimu.”
“Bagaimana jika kuminta selamanya?”
Cahaya bulan yang sewarna momiji berpedar, membentuk jalur pantulan pada sungai dan air terjun. Menyihir air terjun menjadi sewarna senja. Dengan daun maple yang menari-nari di langit, merah magis yang indah.
Tirai panggung terbuka, opera akan dimulai.
“Seandainya aku bisa.”
Aroma kering yang khas mengingatkan mereka pada pertemuan pertama mereka. Saat peralihan daun momiji dari warna hijau menjadi merah, gadis yang duduk di tepi sungai dan pemuda yang terpana dengan kecantikannya.
Seperti bidadari, dan saat itu Mark Lee tidak tahu bahwa dihadapannya benar-benar bidadari.
Penghuni istana langit yang pergi mencari kebebasan. Tentu saja seperti cerita klise yang lain, mereka bertemu dan jatuh cinta. Menghabiskan beberapa musim gugur bersama. Mengikat janji setia di tempat pertemuan mereka. Air terjun keabadian adalah saksinya.
Dan menjadi saksi musim gugur terakhir mereka.
Tapi hukum alam tetaplah berlaku. Apa yang ditanam maka akan menuai. Termasuk pertemuan yang indah, harus berpisah dengan indah juga.
Gadisnya pergi, meninggalkan kekacauan di langit. Menikmati hidupnya di bumi dengan segala kebersamaannya dengan kekasih tersayang. Yang memberinya semua keindahan. Lalu tibalah waktunya dia kembali, memperbaiki apa yang rusak dan tidak seharusnya terjadi.
Dan meninggalkan Mark Lee sendiri.
“Mark, kamu percaya pada air terjun keabadian?”
“Aku tidak punya alasan untuk percaya.”
“Mereka bilang airnya berasal dari air mata para dewi.”
“Air selalu berasal dari lautan, sayang.”
“Dan mereka bilang, air terjun ini akan mengikat cinta mereka hingga kehidupan selanjutnya.”
Air jernih terjun bebas tak henti-hentinya, menimbulkan irama tak berkesudahan. Kejatuhan yang indah dan begitu sempurna. Seperti suka dan duka yang silih berganti. Air itu akan bermuara di sungai yang sama.
Mark menarik nafas dalam, menghirup sepuasnya helaian rambut tuan putrinya yang berada dalam rengkuhannya. Selama masih berada di sini “Tak bisakah kau lebih lama di sini?” bisiknya getir.
“Aku menginginkan itu lebih dari apapun.”
“Kau akan ada di langit sana?”
“Aku akan ada di hatimu.”
Mark menengadah, menahan bulir air yang hampir jatuh dari pelupuk mata. Menatap rembulan yang makin memerah dalam gelap.
“Aku seperti pungguk yang merindukan bulan.”
Sekali lagi ditatapnya mata jernih sang gadis. Begitu lembut, seperti cahaya yang menundukan dedaunan dan membentuk bayangan hitam di tanah. Desir angin meniup rambut panjangnya yang terurai. Cantik, cantik sekali.
Ingatannya melayang saat purnama kedua setelah pertemuan mereka. Di tempat yang sama, tepi air terjun keabadian, riak sungai yang berirama, dan terang bulan yang menyapu wajah-wajah mereka.
Mark Lee dengan sebuket anggrek bulan melamar gadisnya. Memintanya menjadi teman malam ini, esok, dan hari tuanya.
Seperti embun pagi hari
Bunga-bunga segar kembali
Menyambut hari bahagia
Hati ini berdebar untukmu
Selalu, selalu, dan selalu
Hingga rambut kita memutih
Jadilah pendamping hidupku
Sang dara menyanggupinya. Masih teringat betapa bahagia senyumnya, rona wajahnya, dan kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya ikut bahagia untuknya. Anggrek bulan menyala terang karena bahagia.
Hingga tiba saatnya sang anggrek melayu. Bersamaan dengan datangnya pesan dari langit, menjemput bidadarinya kembali. Merampas hari-hari bahagianya.
“Di kehidupan selanjutnya, kamu ingin jadi apa, Mark?”
“Apa aku akan dilahirkan kembali?”
“Mereka bilang manusia punya banyak kehidupan.”
“Tapi tetap tidak ada kamu di sana.”
Gadisnya menempelkan dahi pada bahu Mark Lee. Menyembunyikan senyum pedihnya di sana. “Jadi kamu tidak percaya, air terjun keabadian?”
Tak ada jawaban, hanya riak air terjun berirama terus menerus tak berkesudahan. Seperti seruling yang terus berbunyi sepanjang waktu. Dan serangga yang berderik, juga ngarai air terjun yang tersentuh cahaya.
“Sang pungguk,” setelah sekian waktu mereka terdiam Mark menjawabnya. “agar seribu purnama datang aku akan tetap melihatnya.”
Tawa renyah keluar dari si gadis. “Begitu ya…”
Mark merengkuh bahu sang gadis erat. Hanya beberapa saat lagi dia tidak akan bisa menghirup aroma bunga perdu yang selalu disukainya. Tinggal beberapa saat lagi, hidupnya kembali hampa di tengah berisik air terjun.
“Seberapa jauh jaraknya, bulan itu?” Mark Lee bertanya.
“Apa kamu akan terbang ke sana dan menyusulku?”
“Sepertinya begitu jauh, mereka lebih memilih untuk menikmati indahnya saja.”
“Kalau kubilang aku akan menunggumu di sana, apa kamu akan menyusulku?”
“Sepuluh ribu angsa. Aku bisa menghampirimu.”
Mereka bilang rindu selalu berhubungan dengan jarak. Semakin jauh jaraknya, semakin merindu ia. Karena itu para pengelana akan selalu kembali kerumahnya. Pergi jauh lalu kembali.
Tapi dia tidak akan kembali.
“Aku belajar banyak hal di sini.” kata si gadis. “Membuat kue manju, memberi makan kucing, meniup bunga dandelion, membangunkan Mark untuk segera pergi ke ladang.”
“Kamu membangunkanku terlalu pagi.”
“Semakin pagi semakin banyak yang didapat kan?”
Mark Lee tertawa, “lalu apa yang menjadi favoritmu?”
“Aku belajar mantra. Kamu pernah mengucapkannya. Itu menjadi kesukaanku dan membuatku tidak bisa tidur.”
“Mm-hm? Apa itu?”
Si gadis menengadah sambil menarik nafas dalam. Lalu menoleh dengan mata berkaca-kaca dan senyum sendunya. “Saat kamu bilang, kamu mencintaiku.”
Suara kuda memekik terdengar di kejauhan sana. Diikuti derap langkah yang khas dan suara roda bergulir. Kereta kencana muncul di langit-langit, dari purnama momiji dan di tarik oleh empat kuda putih. Meninggalkan jejak berupa kelopak bunga yang bercahaya.
Sang tuan putri telah dijemput.
Kereta kuda melayang di tepi ngarai. Para kuda putih kembali memekik seolah memperingati kepada tuannya untuk segera masuk ke dalamnya. Malam semakin tinggi.
“Sudah waktunya, sayang.” jemari si gadis bergetar. Angin dingin bertiup, bergesekan dengan dahan pohon momiji dan menggugurkan daunnya. Membuka opera bernama perpisahan.
“Terima kasih atas segalanya.”
“Aku akan merindukan kue manju yang kita makan saat itu.”
“Aku akan mendengarkan serulingmu bertiup saat malam hari. Mengusir serangga.”
Air matanya berjatuhan saat menatap lelakinya yang rapuh akan sendiri. Gadis itu telah merusak janjinya, untuk menjadi pendamping hidup kekasihnya hingga nanti.
“Jangan pergi,” lirih Mark Lee dalam ributnya pekikan kuda dan air terjun yang berbenturan dengan bebatuan. “Aku lebih menginginkanmu dibanding seribu purnama.”
Pungguk merindukan bulan. Ketika sang bulan berada di puncak langit tertinggi, si pungguk hanya sampai puncak pohon tertinggi. Menatap rindu yang tak terbayar pada bulannya. Sepanjang malam, hingga dia kembali berpisah karena pagi datang.
Mark Lee dan gadisnya. Pungguk dan bulannya.
Ngarai air terjun tertawa sambil bersiul memanggil. Seperti seruling yang bertiup dan menyihir dengan keindahannya. Terus menerus penuh keajaiban.
Kalau saja dia percaya…
Air terjun keabadian…
Sesaat sebelum gadisnya masuk ke dalam kencana, direngkuhnya sang tuan putri lagi, Mark Lee berbisik. “Aku percaya pada air terjun keabadian.”
Senyum di tuan putri di bawah cahaya purnama meyakinkannya. Sedetik kemudian dengan mata terpejam dan para kuda putih yang memekik panik, di tepi ngarai air terjun, Mark Lee dan tuan putrinya meluncur di sana.
Di tengah seruling yang bercahaya…
Diantara air mata para dewi…
“Mau mendengar keinginan reinkarnasiku?” kata Mark Lee pada gadis dalam rengkuhannya ketika mereka melesat mengikuti gravitasi.
“Katakan, biar air terjun mendengarnya.”
Air terjun bersorak sebelum dua orang itu terhempas dan hanyut dalam hilir.
“Aku akan menjadi pengantinmu lagi, di kehidupan manapun.”
.
.
.
.
The flute
Magical melodies
Bring our hopes
Our love
Our promies
To eternity
.
.
.
.
》· · ──────·本·──────· ·《
End
Yashh akhirnya fanfic mark lee si leon boy bisa up juga /menangis haru
Tadinya tuh yaa mau up pas tanggal 2 agustus, pas ulang tahun mark, tp belom selese soalnya ada acara hajatam tuh huhuhu
Jadi ya... bisanya sekarang 👉👈 ada rencana bikin work buat xiajoun juga dahal tp belom kerealisasiin astaga aku malah up book si tobinang pas tanggal 8 wgwgwg
Yaudahlahya, selamat ulang tahun mark lee walopun book ini telat seminggu😭
Dan ya, kritik sarannya buat kelen yg mau susah susah mampir kesini
Arigatouu
10 Agustus 2020
Tobyosan🌸
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top