Extra Chapter
Kyaaaaaaaah ada yang kangen Bayu Suck Lencana nggak, sih? Jadiii ini tadi malam, gegara delusi super ajaib dari Mommy Chandra, saya punya ilham nih buat bikin extra chap nya. ini nulisnya seneng-seneng banget. kayak nggak ada beban. Ngalir gitu aja. Pake diksi ciki-ciki. Kalau ada typo kasih tahu, yaaaaa....
Kangen kaliaaaaan KYaaaaaaah
cipok atu-atu :*
"Enghhh ..." Bayu melenguh ketika Panji menjilat telinganya dari belakang. "Jo ... gue mau aouhh ... keluar nih," desahnya blingsatan, mencoba berkelit dari rengkuhan tangan Panji yang kokoh di perutnya.
"Sebentar aja, Mah saya sedang ingin banget ini." Panji mengecup cuping telinga Bayu, ciumannya merambah ke leher. Dengan lidah kasarnya dia mengeja tiap jengkal daging padat Bayu. Sementara sebelah tangannya mulai menyusup kaus Bayu. Meraba perut kurus Bayu yang seketika meremang.
Terangsang? Udah pasti. Melihat Panji telanjang saja Bayu bisa langsung konak—kontol nakal—apalagi diservis secara manis seperti ini. Semakin lemas tak kuasalah Bayu dibuatnya.
"Nobita butuh minum, Jo." Dan semenjak menikah, meskipun Panji ngotot minta dipanggil Papah, Bayu tak pernah mau. Seenak jidatnya dia memahkotai suaminya tersebut dengan sebutan Jo. Kependekan dari kata Bojo. Jangan salahkan Bayu dengan keanehannya. Dia memang nggak pernah waras ngomong-ngomong.
"Saya juga butuh minum dalam tubuhmu, Mah." Panji membalik tubuh Bayu, setelahnya, dengan keterampilan membuka kaus Bayu secara seduktif, dia melepas kaus oblong Bayu yang lupa belum dicuci selama semingguan lebih. Ciuman Panji merambah area lain. Dia menunduk. Menghirup leher asem Bayu. Sebelah tangannya mengelus selangkangan Bayu.
Bayu mendesah gila. Si Nobita kecil yang menggelantung mengenaskan di selangkangannya bersorak hore. Kawin untuk yang kesekian kalinya di hari ini akan segera dimulai. Biasanya, jika si jenderal perang itu menciumnya di sembarangan tempat, prosesi ijab kabulnya nggak memakan waktu lama. Cukup tempel tangan, sodok, ngecrut, udah. Nobita kecil suka pergumulan semacam ini. Menggairahkan batinnya. Juga maninya.
"Besok gue ah ... besok gue ... ada acara ama anak-anak, Jo." Bayu berusaha mengelak. Namun nihil. Kedigdayaan Panji menenggelamkan tubuh kurus Bayu.
"Saya kangen sama kamu."
"Tapi tadi pagi kan udah ahh ... ya Alloooh ... ahh ... udah tiga kali. Siang udah ... dua kali. Masa iyaaa sekarang tanduk lagi?"
Panji tak menggubris. Dia mendudukkan Bayu di sofa. "Jenderal perang saya rindu bertukar kabar dengan Nobita kecil."
"Ah ... ya Tuhaaan ..." Bayu kehilangan arah. Seluruh pusat perhatiannya disita secara habis-habisan ama Panji. Dia penggila ngentot. Panji pun pemuja persetubuhan. Klop deh. Dua manusia tua itu. Sama-sama merindukan ihik-ihik.
"Kamu harum sekali, Mah." Panji menjilat putting Bayu. Memainkannya di dalam mulut. Lidahnya yang kasar memijit-mijit tonjolan kecil itu. Menggigitnya gemas sesekali, memeluntirnya riang berulang kali, dan menariknya ke atas tak terhitung kali. "Tadi sore kamu memakai sabun apa, Mah?"
Bayu nggak habis pikr. Sangat. Ke mana Panji yang angkuh dulu? Kenapa duda beranak satu itu sekarang jadi demen ngentot gini, sih? Eh! Bayu menggeleng. Meralat pemikirannya konyolnya. Sekarang kan Panji udah nggak duda lagi. Udah punya istri. Eh. Ralat lagi. Udah punya suami. Dia. Bayu Suck Lencana.
"Kan tadi sore kita mandi bareng, Jo. Lo lupa?"
"Kamu selalu membuat saya hilang ingatan, Mah."
Bayu memutar bola matanya. Kemudian mendesah lagi. Panji secara cerdas memasyukkan kedua putingnya. Mana tangannya yang satu mengelus-elus selangkangannya pula. Hal itu kan yang paling disukai Nobita kecil. Daging berotot itu pasti akan gembira bukan main jika dia dimanja. Yang kayak gini, nih. Dipijit dari luar. Diremas-remas halus. Kemudian dielus-elus. Ah ... ini namanya kenikmatan tiada tara.
"Jangan lama-lama, ya, Jo. Seriusan, Nobita butuh mimik susu."
Panji menengadah. Mata cokelat singanya memaku mata madu Bayu. Setelahnya, ia tertawa menyeringai. Naik ke tubuh Bayu. Melumat bibir merah keunguan itu lalu mendesahkan kata-kata sialan di telinga si jenglot.
"Saya juga butuh mik spermamu yang selalu menggairahkan itu, Mah."
Ya ampun, Bleh, sudah dibilang kan bahwa Bayu itu sangat nggak cocok sama sekali dengan kosakata jahiliyah blushing. Wajahnya yang semakin penuh dengan rimbunan jambang dan kumis bukannya malah unyu jika bersemu merah. Jatuhnya, kian tambah mengerikan. Dan sangat padan jika disandingkan dengan makhluk gaib bernama jenglot.
Mengerikan memang. Tapi, Mike suka sekali memanggilnya mamah jenglot kesayangan. Bayu sih Cuma bisa pasrah. Dan terheran-heran sendiri, kenapa dua orang tampan, bersih, nan menggiurkan itu malah pada jatuh sayang kepadanya yang mengerikan itu, sih? Bukannya nggak mau bersyukur, tapi yaaa... mungkin ini memang rezekinya homo muslimin kayak dia, ya. Yang sampai detik ini masih memiliki cita-cita menggantikan profesi Mbah Marijan di Merapi sana.
"Ouhhh..." racauan Bayu kian menjadi-jadi saat Panji melepas jeans belelnya. Lalu, mengelus sempak Doraemonnya yang berwarna kuning dan baru dibeli dua puluh ribu tiga di Kodam kemarin lusa.
"Gue ... nggak .. kuaaat ... ahhh..." Bayu melenguh. Tubuhnya melengkung. Ia mencengkeram pundak liat Panji yang kokoh.
Panji memijit-mijit daging mungil itu berkali-kali. Tangannya yang besar meraba naik-turun. Ke penis Bayu. Dua pelirnya. Silitnya. Semuanya. Bayu lepas kendali. Gairahnya dicambuk sedemikian mengerikan dan penuh nafsu oleh suaminya sendiri. Jangan salahkan jika Bayu pada akhirnya berubah menjadi jenglot binal, centil, nafsuan, dan ... serakah.
Bayu bangkit. Merebahkan tubuh Panji. Dia melepas sempak Doraemonnya. Menampakkan penis menggemaskannya yang tegak menantang gravitasi. Kemudian dia merangkak di atas tubuh Panji yang setangguh karang, lalu berhenti tepat di depan mulut Panji.
Lelaki tua itu menyeringai. Membuat wajah dewasanya terlihat semakin menampakkan binar-binar kebijaksanaan yang agung. Dalam haribaan itu, kebijaksanaan dalam dunia pengentotan tentu saja.
"Nobita kecil rindu mulut Papahnya." Sialan sekali Bayu mengucapkannya. Di saat sange merajalela, dia akan senang hati menyebut Panji dengan sebutan Papah. Menggelikan sebenarnya. Namun, ketika seluruh pusat tubuhnya dikendalikan nafsu, percayalah, bahwa Bayu bisa menjadi seorang lacur sekalian. Khusus kepada suaminya tentu saja.
"Lidah saya memang diciptakan untuk memanjakan si kecil."
Bayu tersenyum culas. Memajukan pinggulnya. Memeperkan kepala Nobita kecil di mulut Panji. Menggesek-gesekkannya secara kurang ajar di lipatan bibir itu, hingga akhirnya Panji membuka mulut. Menjulurkan lidah, menjilat kepala Nobita kecil yang udah berlumuran precum. Sekaligus mencium aroma selangkangan Bayu yang begitu memabukkan untuknya.
"Ouuuhh... " Lagi, Bayu merintih. Kepalanya menengadah, matanya berkabut. Dia sangat ingin ngentot. Sensasi nikmat yang diberikan Panji melalui lidahnya di kepala Nobita kecilnya sungguh mampu memecut semangatnya berkawin. Bayu tak kuasa.
"Ahhh..." desahan suara Panji menyambut irama permainan nada Bayu. Dia menjilat-jilat daging si Nobita kecil. Memasukkannya ke dalam mulut. Membungkusnya dengan hangat lembab yang basah dari liang mulutnya. Lidahnya bermanuver gila-gilaan. Membelit penis Bayu. Memainkannya secara nggak manusiawi, dan mencampakkannya sebelum kembali menariknya.
Bayu ketagihan. Dia ingin lebih. Manusia curut itu kian santer menggoyangkan pinggulnya. Suara desahannya yang besar memabahana. Membentur dinding-dinding rumah besarnya. Hingga membuatnya lepas kendali. Tak sadar jika ada makhluk berwajah sangar sudah berdiri di ambang pintu di belakangnya.
"Demi Tuhan, MOM, DAD. NGGAK BISAKAH KALIAN NGENTOT NGGAK DI SEMBARANG TEMPAT?"
Bayu terkejut. Panji juga. Dua orang tak muda lagi itu kontan menoleh ke arah pintu masuk. Dan melihat sosok Mike serta Byan tengah berdiri di ambang pintu.
"Mike ini tidak seperti yang kamu lihat." Panji mencoba berkelit.
Mike menggeleng. Bersedekap. "Mommy telanjang, dan Daddy tengah mengoral titit Mommy. Bagian dari prosesi ngentot kalian yang mana yang nggak seperti Mike lihat?" semburnya.
"Kosakatamu, Nak!" Bayu menyalak.
Sebelum Mike menjawab pekikan Bayu, Byan yang juga tampak syok melihat dua laki-laki mainin penis langsung membuang muka. Kemudian menyelonong masuk gitu aja.
"ARRGGH!" raung Mike. "KALIAN BERDUA CARI TEMPAT SANA! JANGAN NGENTOT DI RUANG TAMU. DEMI TUHAN!" kemudian Mike berlalu.
Bayu melirik ke arah Panji. Alat pipisnya masih ngaceng. "Yank, gue sange mampus ini. Masalah Mike kita pikirkan nanti aja, ya. Gimana kalau kita melanjutkan makan malam kita di kamar aja. Petualangan bercinta di ruang tamu kali ini gagal deh."
"As you wish. Kamu tidak usah khawatir, akan saya wujudkan mimpi kamu bercinta di ruang tamu kapan-kapan kalau Mike sedang tidak di rumah dalam waktu sehari dua hari."
Panji tersenyum, menggendong Bayu dan mengajaknya meneruskan ihik-ihik di dalam kamar.
Byan membuka pintu kulkas, mengambil sebotol minuman segar dari sana, lalu meneguknya beringas. Dadanya terasa ngilu. Memang bukan sekali dua kali dia bertatap muka dengan Bayu. Meskipun sampai detik ini—dari sejak pertama kali dia bertemu dengan Bayu beberapa bulan silam di bandara—Byan masih belum mau membangun obrolan dengan Bayu—beda dengan Gia yang langsung akrab sejak pesta penyambutan Bayu—namun dalam lubuk hatinya terdalam, dia ingin sekali berdekatan dengan Bayu. Menyentuh kulitnya. Mengeja setiap porinya. Mengenal setiap lekukan tubuhnya. Menghidu karismanya. Semuanya.
Dia ... merindukan seseorang. Dan orang itu ... seperti dihidupkan secara nyata dalam tubuh Bayu.
"Gue minta maaf." Suara Mike dari belakang menginterupsi kenangan Byan. Teruna berwajah pucat itu berpaling. Dan mendapati Mike yang seperti orang kesetanan menginginkan maaf darinya. "Gue bisa jelasin siapa cewek yang gue ajak jalan kemarin."
Mike menggeleng, memilih untuk duduk dan menikmati minuman segarnya.
"Dia adik kelas kita," bicara Mike malanjutkan. "Dia meminta gue untuk menemaninya membeli perlengkapan mading."
Byan tak memberikan respons. Jari-jarinya mengetuk pinggiran gelas. Pandangannya menerawang.
"Dan kemarin, saat lo melihat gue memeluk dia, itu sebenarnya gue nggak memeluk dia. Dia kepeleset, kebetulan ada gue di dekatnya. Jadi, ya gue tolongin aja dianya."
Byan memasang wajah datar. Membenarkan letak kacamatanya yang bertengger di batang hidung dengan jari. Kemarin dia meminta Mike untuk mengantarnya membeli kacamata baru. Tapi Mike nggak bisa. Ada keperluan penting alasannya. Nggak tahunya, Byan menjumpai Mike di Royal sedang memeluk cewek cantik. Byan nggak cemburu, kok. Sama sekali nggak. Cuma yaaa ... sedikit kesellah. Tapi nggak cemburu.
"Maaf ... maaf ... maaf banget, Bi. Gue janji nggak akan menomorduakan lo."
Masalahnya, mau dinomorkan berapa pun, Byan nggak peduli. Toh, sedari awa kenal dengan Mike, dia emang nggak pernah menaruh sedikit pun simpati kepadanya, kan?
"Dan gue juga bersumpah nggak akan pernah ngebiarin lo pergi ke mana-mana sendirian."
Byan membuang muka. Dia menggigit pipi bagian dalamnya. Byan nggak blushing kok. Dia nggak tersipu. Bualan Mike itu payah. Remahan rengginang di kaleng Khong Guan ketika lebaran. Nggak akan pernah memengaruhinya. Nggak akan. Eh ...
Byan tersentak saat tetiba dengan kedua tangannya yang besar, Mike menangkup wajanya. Byan menangkis tangan Mike, namun tak kuasa. Tangan Mike yang udah terlatih dengan climbing secara rutin nggak bisa dihiraukan gitu aja ama Byan. Terlalu kuat. Terlalu kokoh.
"Lo sakit?" Mike bertanya.
Byan menggeleng. Mata di balik kacamata itu membulat.
"Muka lo merah."
Sialan! Nggak! Byan nggak blushing! Nggak blushing! Itu Cuma ... itu Cuma ...
"Tapi lo nggak anget, tuh."
Musibah. Bahaya. Mike secara kurang ajar menempelkan punggung tangannya di leher Byan. Seluruh darah Byan terasa terangkum secara sempurna di kedua belah pipinya. Tapi ini serius, ini bukan blushing kok. Sama sekali bukan.
"Napas lo nggak teratur."
Ya nggak teraturlah, jarak lo terlalu deket, Bego! Eh, apa-apaan tuh maksud suara hatinya? Ah, Byan semakin ngelantur. Mike mendekat. Byan awas. Mike mendekat lagi. Byan mau kabur. Namun nggak jadi, suara dehaman keras di belakang mereka, menginterupsi segala pikiran aneh yang berkelebat-kelebat tak tahu diri di pikiran dua pemuda itu.
Mike dan Byan saling menjauhkan diri. Lalu menoleh ke belakang untuk menjumpai Bayu yang udah fresh dengan kaus oblong bergambar Doraemonnya dan celana jeans belel selutut.
"Mike dicari Daddy!" serunya.
"Ada apa, Mom?"
"Tadi wali kelas kamu telepon, katanya kamu membolos dua hari ini di jam pelajaran Matematika."
Mike pias seketika. "Mike bisa jelasin semuanya, Mom."
"Dicari Daddy."
"Mom, tapi Mike, Mike..."
"MIKE." Bayu menggeram.
Mike resah. Menggigit bibirnya. "Mike takut, Mom."
"TEMUI.DADDY.SEKARANG.JUGA!"
"Tapi, Mom...."
Kilatan mata madu itu tak terbantahkan. Giginya bergemelatuk. Rahangnya mengeras. Bayu nggak suka dibantah. Dan Mike paling takut melihat amarah dari mommynya. Amarah dan emosi dari Panji itu biasa, tapi dari Bayu? Mike nggak pernah berani membantah sepatah kata pun dari lidah Bayu.
Mike mengembuskan napas besar. Dia mengangguk kecil kemudian. Berlalu dari hadapan Bayu sebelum Bayu membisikkan kata-kata jahiliyah di rungunya.
"Kalau nilai Matematikamu bagus, akhir minggu ini, Mommy ajak muncak ke Arjuna."
Mike mengerjap binar. "Seriusan?"
Bayu menyeringai. Mengedipkan sebelah matanya. "Udah, sana temui Daddy."
"Oh ... Mommyyy... I love you so much." Satu kecupan Mike daratkan di pipi Bayu.
Bayu terkekeh, memperhatikan punggung anak semata wayangnya keluar dapur dan menaiki tangga ke lantai dua. Bayu mendekati Byan yang sedari tadi memperhatikan kedekatannya dengan Mike.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Byan?" Bayu membuka kabinet. Mengeluarkan segala perlengkapan memasak. Urusannya memberi minum Nobita ditunda nanti malam saja. Sekarang, ada Mike, Byan, dan Panji yang pastinya kelaparan.
Byan mengatupkan kelopak. Menghela napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Pertanyaan itu terasa sangat familier di telinganya. Rasanya seperti baru kemarin kejadian mengenaskan itu berlangsung. Baru kemarin dia pergi jalan-jalan di alun-alun Yogyakarta. Dan sekarang, semuanya sudah berubah. Berubah. Menjadi seperti ini. Mengerikan dan menyakitkan seperti ini.
"Byan, are you oke?" Bayu menepuk pundak Byan.
Teruna berwajah pucat tersebut berjengit. Menatap Bayu takut-takut. Wajah itu. Wajah Bayu S. Lencana. Ya Tuhan, betapa dia sangat merindukan sepotong wajah itu. Merindukan sentuhan ini. Merindukannya sampai mati. Sangat. Rasanya baru kemarin. Baru kemarin. Lukanya pun masih terasa basah. Kenapa sekarang berubah sedemikan rupa? Kenapa? Kenapa?
"Byan...."
"Saya baik ... Om." Byan tersenyum kecut. Kembali menenggak minuman segarnya untuk membasuh kerongkongannya yang kering.
Suasanya mendadak canggung. Bayu menggaruk kepala, dan memutuskan untuk memasak saja.
"Bagaimana dengan sekolah kamu, Byan? Aku dengar dari Gempita, nilaimu baik-baik."
"Biasa aja kok, Om." Om? Kenapa terasa asing sekali menyebut Bayu dengan Om? Kenapa sehambar ini perasaannya di dekat Bayu? Kenapa ... Nggak! Buka mata, kamu Byan! Buka mata kamu! Dia Bayu! Bayu Satya Lencana. Bukan lelaki itu. Bukan lelaki itu! Terima kenyataan ini, Byan. Sepahit apa pun kehidupanmu, Byan, kamu harus ikhlas menjalaninya. Dia sudah nggak ada. Laki-laki itu sudah ....
"Byan!"
Bayu dan Byan serta merta menoleh ke arah sumber suara. Gempita dengan kaus kedodorannya sudah berdiri di sana.
"Ayo pulang!" katanya tegas.
"Hei kenapa buru-buru. Makan malam dulu di sini."
"Maaf mas Bayu, ini sudah malam. Seharian ini Gempita kebingungan mencari Byan. Nggak tahunya ada di sini. Papinya sedang sakit, dan Gempita seperti meledak menghadapi dua remaja besar di sana."
Bayu tertawa kecil. Mengangguk mengiakan setelahnya. "Sampaikan salamku ke suamimu."
"Pasti."
"Dia ... aku belum pernah ngobrol berlama-lama dengannya. Hanya saja, wajahnya mengingatkanku kepada seseorang."
Gempita tersenyum tipis. Hatinya terasa tercubit. Mata hitamnya masih sama seperti belasan tahun yang lalu ketika Bayu menjumpainya di makam. Penuh luka. Penuh duka.
"Gempita ama Byan pulang dulu, mas Bayu."
==
Byan menghempaskan tubuhnya di kasur. Dadanya terasa sesak. Matanya terasa panas. Dia menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Tak menghiraukan racauan Gia akan pacar barunya. Pun, Gempita yang sedari tadi mencoba menenangkannya. Ini sangat berat untuk diterima. Sangat berat untuk dihadapi. Byan nggak kuat. Dia merindukan sosok itu. Merindukannya.
"Byan..." suara berat itu mengetuk rungu Byan. Byan mencoba meredakan gemuruh dadanya. Mengatur pernapasannya.
Papi—suami Gempita—memijat kaki Byan. Mencoba menenangkan prahara di dada anaknya. Dia tahu, Byan belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Dan kehadiran Bayu yang tak pernah dia sangka-sangka, seperti menjerat Byan untuk kembali ke masa lalu.
"Dia sahabat Papi," ucapnya pelan. "Papi sangat cinta kepadanya."
Byan terisak kecil.
"Apa pun yang membuatnya bahagia selalu Papi usahakan sebisa Papi. Papi nggak pernah merasakan cinta sebesar itu kepada seseorang, Byan. Dan kejadian naas itu ... sangat melukai Papi. Sangat menghancurkan Papi. Bukan kamu saja yang sakit hati, Nak. Tapi Papi dan semua sahabat yang mengenalnya baik. Kita semua kehilangan dia. Tapi jangan biarkan perjuangan dia sia-sia dengan keputusasaan ini. Kamu pasti bisa, Byan. Kamu pasti bisa melewati kehidupan ini. Dengan atau pun tanpanya."
Byan tak mampu membendung tangisnya. Dia beranjak dari tidurnya. Memeluk Papi erat. Kemudian berbisik di sana. "Byan kangen Papah, Pi. Kangen Papah."
==
Bayu mau meledak saja rasanya. Dia sama sekali nggak pernah menyangka jika Panji bisa sangat seposesif ini. Maksudnya ... benar-benar posesif. Dia mau touring dengan Nobita—vespa tua yang makin tua dan sering sakit-sakitan—bersama kawan-kawannya dari klub vespa. Tapi sialnya, orangtua itu nggak membiarkannya pergi sendirian. Parahnya, Panji mau membonceng Bayu. Gilalah. Sepanjang hidup Panji kan, yang namanya menyetir vespa belum pernah bisa. Bagaimana dia mau nyupirin Bayu mengelilingi Gresik coba?
"Tapi kan kamu nggak pernah nyupir, Jo. Kalau kita kecelakaan gimana?" Bayu melihat Bang Gahar yang mesem-mesem aja. Di sebelah Bang Gahar, Gaple tersenyum maklum. Jangan bicarakan Charli ama Jupiter. Dua anak setan itu malah menyemangati Panji untuk turut serta.
"Tidak ada yang tidak bisa saya lakukan, Lencana." Lencana adalah sebutan sayang Panji untuk Bayu. Dia hanya akan memanggil Bayu mamah saat prosesi kawin saja. "Untuk masalah vespa saja, kecil. Percaya pada saya."
Itu adalah bualan paling nggak pernah bisa dipercaya sepanjang masa. Bayu jengkel. Sangat. Baru melangkah dari markas Kanvas aja, udah dua kali Panji menjatuhkan si Nobita. Menabrak pagar dan pohon. Untung nggak parah-parah amat lukanya, jadi mereka bisa bangkit dan meneruskan perjalanan.
"Bojokuuuh, gue aja ya yang nyetir. Kalau lo kayak gini terus, nanti kalau lebaran monyet kita baru bisa nyampai Gresik."
Panji mendengus nggak terima. Dia menyalak mata Bayu melalui pantulan spion Nobita. "Kamu diam saja, Lencana! Saya tahu apa yang harus saya lakukan."
Sekali lagi, itu hanyalah kata-kata manis yang banyak pemanisnya. Nggak berfaedah. Sama sekali. Baru juga mengendarai beberapa meter, hambur dengan pengendara motor lainnya, Panji dan Bayu terjatuh lagi gegara disalip motor bebek. Itu pun dengan kecepatan Cuma 30KM/Jam.
Bayu frustrasi. Rombongan tur udah hilang jejak-jejaknya. Dan kini mereka tertinggal jauh. Keinginan Bayu untuk tur harus tertangguhkan lagi. Iya, lagi. Karena Panji selalu bisa berkali-kali menggagalkan rencana Bayu yang ingin meninggalkan rumah. Jangan salahkan Panji dengan rasa cinta berlebihannya kepada Bayu.
"Ya ampun, Bojo, gimana kalau kamu istirahat sebentar, dan biarkan gue yang nyetir." Bayu menepuk pelan pundak Panji sambil memamerkan senyum ringisannya.
Lagi, Panji menggeleng. "Saya menginginkan yang terbaik buat kamu, Lencana. Saya ingin selalu bisa melindungi kamu. Vespa ini masalah sepele. Dan saya tidak akan membiarkanmu melakukan tur ini sendirian tanpa pengawasan saya."
"Masalahnya, Bojo, kita sudah terlambat."
"Saya tidak peduli."
"Kalau kita terlambat, acaranya bakal kelar bahkan sebelum kita sampai."
"Saya tidak peduli, Lencana. Sekali lagi saya tidak peduli."
Bayu angkat tangan. Pasrah. Dia nggak tahu lagi harus menghadapi Panji seperti apa. Ini keterlaluan. Dan akhirnya, akibat kenekatan maha dahsyat Panji yang ngotot mau ngeboncening Bayu dengan skill nyetir vesta yang kancrut, sampai malam menjemput kota Surabaya, mereka stuck di titik itu. Sepanjang. Nggak nambah, nggak kurang. Tugu Pahlawan pun tak sampai terlintas. Hanya saja, banyak luka lebam di tubuh mereka. Akibat jatuh, jatuh, dan jatuh.
"Gue pengin pipis." Bayu mendesah berat. Memijit kepalanya. Pusing. Kantung kemihnya penuh.
"Di mana?" Tanya Panji was-was.
"Di toiletlah, Jo. Masa iyaaa pipis di tempat sampah."
"Oke. Saya antar. Kita ke mana sekarang."
Bayu menggeleng. Roman-romannya, acara pipisnya juga akan berjalan dengan berat ini. "Belokkan Nobita ke pom bensin."
"POM BENSIN? SIAAAP KOMANDAN!"
Bayu bergidik. Ngeri. Untuk ke pom bensin saja responsnya seperti ini. Terlalu bersemangat, Bleh. Apa yang ada di pikirannya Panji, sih? Bayu nggak tahu. Tapi dia memiliki pemikiran yang nggak baik. Iya, nggak baik. Atau hal-hal yang berhubungan dengan kelebaian. Seperti ini.
"Lo mau ke mana?" Bayu menahan tubuh Panji yang akan masuk ke toilet bersamanya.
"Saya mau menemani kamu, Lencana!"
"Gue kan mau pipis doang. Lo tungguin aja di luar sini. Gue nggak akan kenapa-kenapa kok."
Panji menggeleng. Tegas. Nggak terima. "Saya ingin memastikan kamu baik-baik saja di dalam sana."
"Gue mau buang air keciiil. Bukannya mau jihaaad. Lo berlebihan banget, sumpaaah!"
"Tidak ada yang namanya berlebihan, Lencana. Saya hanya ingin memastikan yang terbaik buat kamu."
"Masalahnya ..." Bayu kehabisan kata-kata. Dia nggak tahu lagi harus menyangkal Panji kayak gimana. Dia mengangkat kedua tangan ke udara. Pasrah. Akhirnya, membuka pintu, dan mempersilakan Panji untuk masuk.
Bayu menurunkan resletingnya, mengeluarkan si Nobita kecil, dan membuang seninya di urinoir. Rasa lega merambat ke sekujur tubuhnya.
"Lencana."
Bayu memutar mata mendengar suara Panji memanggilnya dari belakang. "Iya," jawabnya asal-asalan. Meneruskan pipis. Berusaha tak menggubris.
"Nobita kecil kayaknya kecapaian seharian di dalam Doraemon." Itu kalimat ambigu banget sumpah.
Bayu sampai mengernyitkan kening hanya demi mencerna maksud terselubung dari kalimat Panji barusan. "Maksudnya?" Acara pembuangan air kecil itu belum tuntas.
"Dia er ... butuh udara segar."
"Udara segar seperti?"
"Er ..." Panji menatap langit-langit toilet. Bersiul kecil. Kedua kakinya mengentakkan lantai. "Ya semacam udara yang segar, yang lembab yang ... ada jilat-jilat kecil itu."
Bayu menepuk jidat. Ini namanya karma atau berkah, Bayu tak tahu. Dulu, dia harus bersusah-susah dulu supaya bisa ngentot. Utang sana, utang sini. Jual perabotan kos-kosan ke sana kemari. Sekarang, tinggal ngomong aja, dia udah bsia ngentot di mana pun yang dia suka. Sampai kewalahan bahkan. Stamina Panji dalam berkuda, emang tak bisa dipandang sebelah mata. Bayu sih suka, tapi dia kan kerempeng kayak sapu lidi. Kalau nggak disuntik jamu jago bisa keok dia.
"Lencana." Panji mendekap Bayu dari belakang. Kedua tangannya mengelus selangkangan Bayu. "Tititnya saya bersihin sini."
Dan Bayu baru menyadari, jika hari itu bukanlah hari tur dengan Nobita seperti biasa, tapi sekali lagi, tur berkuda ama Panji. Dalam haribaan ini, ngentot tentu saja.
==
Gempita mencengkeram tepian meja dengan kuat. Air matanya jatuh satu-satu. Tubuh ringkihnya bergetar. Dia menengadah. Dan kaki-kaki cairan bening itu gugur dari biangnya.
"Sudahlah." Sang suami memeluknya dari belakang. "Lupakan."
"Tapi Mas Bayu, dia harus tahu. Dia harus tahu siapa dirinya sebenarnya."
"Kita sudah berjanji untuk nggak mengungkapkan ini kepada Bayu, Sayang."
"Aku sayang mas Bayu."
"Kita semua sayang padanya."
"Dia harus tahu latar belakang keluarganya."
"Sudahlah, Sayang. Sudah."
=
.
.
.
.
Jadi ceritanya, untuk membangkitkan mood menulis saya yang lagi kancrut, saya mau buka request niiih. Req extra chap selanjutnya. yang punya ide dibikinin cerita, ttg tokoh2 di sini, monggo pada req. ASAL TIDAK MENGGANGGU hubungan panji-bayu. semakin unik ide, semakin aneh bin ajaib, aneh bin ngelantur, akan saya buatkan extra chapnya. Monggo di req.
KYAAAAAAHHH
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top