Prolog
"VANYAAAAA!!!"
Seorang guru laki-laki, berperawakan besar, namun tampaknya sudah berumur. Dia berlari, tergopoh-gopoh sambil membawa sebatang penggaris kayu panjang.
Koridor sekolah mendadak riuh, hentakan sepatu berlarian saling mengejar. Si guru tak mau menyerah, pun yang dikejarnya semakin bersemangat melarikan diri.
"Hah ... dasar begundal! Semakin cepat saja larinya," keluh si guru yang mendadak berhenti karena kelelahan.
Vanya, itulah nama siswi yang dikejarnya. Dia ketahuan terlambat sekolah. Pak Darto, guru BK yang mengejar memergokinya melompat dari tembok samping sekolah.
Itu tak mengejutkan, karena Pak Darto selalu menunggu kedatangan siswi abadinya muncul dari balik tembok. Iya, Vanya tak pernah masuk sekolah melalui gerbang depan, tapi selalu lompat tembok.
Jika kelakuan barbar itu dilakukan oleh siswa, maka tak akan heran. Tapi Vanya adalah seorang siswi alias seorang gadis, namun tingkahnya berlawanan dengan perawakannya yang ayu.
"Permisi, Pak ...."
"Apa?!?" Pak Darto menyahutnya dengan kesal. "Siapa kamu?"
Pak Darto mendadak kalem karena dia berhadapan dengan seorang anak laki-laki yang belum pernah dilihatnya di sekolah ini.
"Saya siswa baru, mau tanya ruang kepala sekolah di mana, ya?"
Pak Darto mengumpat dalam hati karena gagal menangkap Vanya hari ini. Tapi kedatangan siswa baru tak boleh dia anggap enteng. Mau tak mau diantarnya ke ruangan kepala sekolah.
Sementara itu, Vanya yang tengah mengintip kondisi kelasnya, pun waspada. Seperti biasa, dia mengetuk kaca jendela deretan paling belakang, lalu menyelundupkan tasnya ke dalam. Dia tak perlu repot, karena teman sekelasnya selalu membantunya.
"Permisi, Bu ...." Dengan santainya Vanya masuk ke dalam kelas.
"Vanya! Kamu telat lagi?" Ibu Ratna mendelik.
"Nggak kok, Bu. Tadi saya ke toilet, mules." Vanya mengelus perutnya dan pura-pura lemas.
"Jangan bohong kamu."
"Nggak bohong kok, Bu. Tuh! Tas saya ada di sana." Vanya menunjuk bangkunya yang berada di deretan paling belakang dan paling pojok.
Ibu Ratna kesal karena tak bisa menyangkal dan memberi hukuman pada Vanya dengan alasan terlambat. Bukti ontentik dari alibi siswi itu terpampang nyata membuatnya harus menerima dengan lapang dada.
"Ya sudah, duduk sana."
Vanya bersorak dalam hati, pun ketika melangkah menuju bangkunya, dia memberi apresiasi kepada teman-temannya dengan jempol yahudnya. Tak ada yang ragu untuk membantunya, karena Vanya pun tak pernah ragu menolong teman-temannya.
Kejadian rusuh lainnya tak terhitung telah Vanya lakukan, tapi dia menikmatinya. Mungkin, sebagian banyak orang memandangnya bodoh dan tak beretika. Tapi yang dia lakukan bukan tanpa alasan.
Sebuah alasan yang ingin dia gapai untuk mengubah masa depannya. Masa depan yang samar dari masa lalu yang suram.
~o0o~
• sorry for typo
=====
Cerita tentang masa sekolah, masa remaja yang penuh dengan kelabilan. Terinspirasi dari banyak kisah, banyak film, dan tentunya rindu masa putih abu-abu.
Di sini akan menyuguhkan kenaifan, kekonyolan, kesedihan, dan juga amarah. Semoga saja berhasil mengeksekusinya.
Nggak panjang lebar, cerita akan dilanjut, dan selamat membaca.
Salam cinta damai,
V.A |
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top