LS [II]

Vanya berhasil keluar dari sekolah melalui tembok samping. Dia selalu tahu waktu yang tepat untuk membolos. Vanya masuk ke sebuah mini market, menyapa kasirnya dengan akrab. Tak heran, dia adalah pelanggan setia yang meminjam toilet mini market itu.

Vanya mengganti seragamnya, tas plastik hitam yang dibawanya yang tak lain adalah berisi pakaian ganti. Usai mengganti pakaian, dia pun keluar dan mendekat ke arah kasir.

"Nitip," katanya sembari menyerahkan tas plastik hitam yang berisi seragamnya.

"Nya, lama-lama gue buka toko seragam sekolah, nih." Vanya tertawa.

"Mana bisa, cuma sekolah gue seragamnya begitu."

"Apa gue jual ke koperasi sekolah lo aja?" Vanya semakin terpingkal. "Kapan lo lulus sih, Nya?" Perlahan, tawa Vanya berhenti.

"Nanti, kalau gue udah pengen."

Widya, kasir mini market yang dulunya pernah sekelas dengannya ketika SMP, pun hanya bisa menggeleng heran. Vanya yang dia kenal dulu, sungguh berbeda dengan yang sekarang.

"Gegar otak lo kayaknya nggak sembuh-sembuh, deh ...."

Mendengar cibiran Widya, tawa Vanya kembali menyembur. Vanya tak pernah marah jika ada yang mencibirnya, dia justru senang. Vanya berprinsip, orang yang mengomentari segala keburukannya artinya masih ada yang peduli dengannya.

"Gue pergi dulu, ya? Bye!"

Vanya melesat keluar mini market. Widya menatap lelah pada tumpukan tas plastik yang ada di bawa meja kasirnya. Semua itu adalah seragam sekolah Vanya yang dititip di sana, namun tak pernah diambilnya.

Widya tak heran, Vanya pasti punya banyak seragam yang sama, mungkin satu lemarinya khusus berisi seragam sekolahnya. Widya bingung, entah harus diapakan seragam-seragam tak berdosa itu.

***

Seikat bunga mawar merah muda tergenggam di tangannya. Dia hanya bisa berdiri di kejauhan, bersembunyi di balik nisan besar. Kepalanya tertunduk, ingin menangis, namun ditahannya. Cukup hatinya yang menangis, dia tak ingin membuang air matanya lagi.

Napasnya terasa berat, terlebih ketika menatap punggung yang dirindukannya. Dia tak pernah tergapai, pun tak pernah menganggapnya ada.

"Sampai kapan?" lirihnya.

***

Hari kedua bersekolah, Elo terbengong-bengong saat duduk di bangkunya. Bukan Vanya yang ada di sana, melainkan Tio. Keheranan lainnya adalah Vanya tak telat sekolah, justru dia sudah di kelas dan kini duduk di bangku deretan pertama, tepat berhadapan dengan meja guru.

"Katanya Vanya suka telat, kok udah datang?" tanya Elo pada Tio.

"Ini hari Rabu, jadwalnya ontime."

"Kenapa?"

"Ya ... emang gitu." Elo semakin penasaran dengan jawaban Tio.

Bel sekolah berbunyi. Elo melotot saat melihat Vanya mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tasnya. Dia pikir Vanya tak memiliki satu pun buku pelajaran, ternyata dia salah.

Tak lama, seorang guru pun masuk. Seorang guru muda, bertubuh tegap, dan memiliki ekspresi datar. Sayang, wajah tampannya tak diimbangi dengan ekspresi, pikir Elo.

"Pagi semua ...."

"Pa---" Mulut Elo dibekap oleh Tio.

"Pagi, Pak Niko ...." Hanya Vanya yang menyahut.

Elo semakin dibuat bingung karena siswa yang lain tak sopan karena tak membalas salam sang guru. Terlebih, Tio si ketua kelas justru melarangnya. Sungguh aneh kelas ini, batin Elo.

"Buka LKS kalian." Semua siswa mematuhi. "Siswa baru mana?" Elo mengangkat tangan. "Ini, LKS untuk kamu."

Elo bangkit dari duduknya dan melangkah ke depan kelas, lalu menerima buku LKS barunya. Elo sempat melirik ke arah Vanya yang kini tampak tersenyum bodoh memandangi Pak Niko.

Pelajaran dimulai, para siswa begitu tertib memerhatikan ocehan Pak Niko di depan kelas. Mata Elo sungguh terusik dengan sikap Vanya yang tak berhenti melebarkan senyum memandang Pak Niko.

"Sekarang, silakan kalian kerjakan soal di sana. Kalau ada yang kurang paham, silakan bertanya."

"Pak!" Vanya begitu cekatan mengangkat tangannya.

"Ya?"

"Kenapa air sama minyak nggak bisa menyatu?" Para siswa terkekeh mendengar pertanyaan Vanya.

Pak Niko yang mengajar kimia, pun langsung menghela napas malas. Dia ingat, ketika Vanya duduk di kelas 11, siswi itu pun sudah pernah bertanya hal yang sama.

"Sepertinya bapak sudah pernah menjawabnya," ucap Pak Niko.

"Memang, tapi saya nggak paham-paham, Pak." Vanya melebarkan senyum konyolnya.

"Ada yang bisa bantu jawab?" Pak Niko melemparkannya kepada para siswa.

"Sa---" Lagi, Tio mencegah Elo untuk menunjukkan diri. "Kenapa sih?" Elo berbisik bingung.

"Gue kasih tahu, ya ... Dalam pelajaran Pak Niko, dilarang keras ada yang berucap, sekalipun ditanya oleh Pak Niko."

"Kenapa?"

"Patuhi aja, kalau lo masih sayang bangku di kelas ini." Elo merinding mendengar ancaman Tio.

Sekelas senyap, tak ada yang menjawab. Pak Niko hanya bisa menggeleng, lalu pandangannya beralih datar ke arah Vanya yang tak sabar menunggu jawaban sang guru.

"Vanya, air dan minyak tidak bisa bersatu karena mereka memiliki sifat yang berbeda. Air bersifat polar, sedangkan minyak bersifat nonpolar. Seberusaha apapun diaduk, mereka akan tetap terpisah."

"Masa sih, Pak?" Pak Niko mengangguk. "Nggak ada cara biar mereka bisa menyatu?"

Para siswa menahan tawa mendengar ucapan Vanya. Berhadapadan dengan Vanya memang harus panjang usus, dia banyak bertanya saat dia mau, tapi akan diam dan bertindak tanpa apa-apa jika merasa terusik.

"Air dan minyak bisa larut jika dicampur dengan deterjen. Contoh ... saat mencuci piring yang penuh dengan minyak, cairan pembersih yang larut dalam air akan mengikat minyak, makanya saat dibilas piring bebas dari minyak."

"Oh ... pantas!" seru Vanya.

"Pantas apanya?"

"Pantas bapak susah didekati." Tawa di kelas tak tertahankan.

"Maksud kamu?"

"Maksud saya ... bapak itu bagaikan minyak, saya ini air. Saya berusaha keras dekati bapak, tapi bapak cuek aja. Sekarang saya dapat solusi."

"Apa?" Pak Niko menahan kesal dan malu.

"Kata bapak deterjen, kan? Nah ... deterjen kan fungsinya untuk mencuci. Jadi ... harusnya kita sering-sering cuci mata alias jalan-jalan berdua. Kali aja bisa menyatu."

Riuh, tawa dan tepuk tangan siswa tak terbendung mendengar hasil analisa Vanya. Sekelas tahu, Vanya naksir dengan Pak Niko semenjak sang guru baru bergabung mengajar di sekolah ini.

"Vanya ... jaga sikapmu."

"Iya ... iya, Pak ... Demi bapak, apa sih yang nggak Vanya patuhi."

Mendadak migrain Pak Niko kambuh. Jika saja dia bukan guru wali kelas ini, mungkin dia akan menukar jatah mengajarnya ke kelas lain.

Sementara siswa lain tertawa, hanya Elo yang terbengong-bengong. Ternyata di balik alasan Tio melarangnya bersuara, ada usaha pendekatan yang tengah berlangsung, dan para siswa mendukungnya.

Elo merasa pusing berada di kelas ini.

~o0o~

sorry for typo

=====

V.A |

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top