PROLOG

Haloooooo epribadiiii
Kangen nggak? Hihi
Omong-omong, ada sedikit perubahan dari cerita Luka & Lara. Selamat membaca, dan semoga perubahan ini enggak mengubah feel kalian saat membacanya.
Kangen banget nih sama pembaca yang budiman, spam komentar dan ngasih semangat.
Love u more, Gaisss❤️
Malam itu begitu sepi, hanya ada suara jangkrik yang saling bersahutan. Gemuruh mulai terdengar, menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan.
Seorang gadis dengan gaun panjang berwarna navy tampak melamun di atas sebuah rumah pohon, belakang rumahnya. Ia membiarkan hijabnya tersapu kencangnya angin malam. Di matanya penuh dengan gurat kesedihan. Apalagi setelah pertemuan keluarga yang tidak disangka-sangka.
Lara Inara Alfaiza. Selepas acara makan malam bersama tadi, ia memutuskan pergi ke belakang untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Lara tak menyangka bahwa takdir begitu kejam padanya. Tanpa sepengetahuannya, Santoso menjodohkan ia dengan seorang lelaki ia dengar berusia 26 tahun. Berbeda empat tahun dari usianya yang saat ini tengah gencar menyelesaikan skripsinya. Lara tidak suka. Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Lara sudah bisa mencari calon yang baik untuk dirinya sendiri. Tidak perlu jodoh-jodohan.
Seminggu lagi, Lara sidang. Sedangkan pernikahan akan dilaksanakan setelah Lara selesai wisuda. Perjodohan ini membuat pikiran Lara buyar seketika. Impiannya bekerja di bidang fashion sepertinya akan sirna. Rasanya, Lara ingin mati saja karena bingung harus berbuat apa. Bagaimana bisa ayahnya menikahkannya dengan seorang lelaki asing yang sama sekali tidak Lara kenal?
Dehaman seseorang dari bawah membuyarkan lamunannya. Saat melihat ke bawah, Imran—laki-laki yang tak lama lagi akan menjadi suaminya—tengah berdiri dengan bersidekap sambil mendongak menatapnya.
"Aku cuma mau mengatakan satu hal sebelum aku dan keluargaku pulang." Ia diam sejenak dan mendongak ke atas untuk memastikan gadis itu masih mendengarnya, "jangan berharap aku akan mencintaimu setelah pernikahan nanti, karena aku sama sekali enggak tertarik untuk menikah dengan seorang bocah manja seperti kamu, Nona." Setelah melemparkan decihan sinis, laki-laki itu pergi begitu saja.
Lara meremas ujung hijabnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Lihatlah, belum menikah saja lelaki itu sudah berani menyakiti hatinya. Lantas, bagaimana setelah menikah nanti? Ingin rasanya Lara berlari menemui sang ayah untuk mengadukan hal itu. Namun, nyalinya terlalu kecil saat mengingat sang ayah yang begitu ingin melihatnya menikah dengan laki-laki sombong itu.
"Dan kamu harus percaya, bahwa Tuhan selalu mempunyai cara yang unik dalam mempersatukan dua makhlukNya."
Luka & Lara
Sebelum kalian lanjut ke chapter 1, ada baiknya kalian follow dulu akun author Hanaksara. Jangan jadi silent readers👀
Semoga apa yang saya tulis dapat menginspirasi untuk selalu berbuat baik. Dimohon untuk bijak dalam membaca. Ambil sisi positif, dan buang negatifnya.
Happy Reading💫
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top