Chapter 16 - Sphinx 2

Jangan lupa mem-vote dan comment setiap chapternya jika kalian menyukai ceritanya. Tengkiu atas supportnya. Ini menjadi chapter panjang. >2600 WORDS

Hati-hati typo bertebaran dimana-mana!

^_^ Happy Reading ^_^

-_LUCIFER_-

"LAAAARIIIII! KABUUUURRRR!"

Teriakan melengking Alya masih membekas di udara, namun kenyataan memburu mereka jauh lebih kejam. Lima prajurit Anubis bertubuh manusia berkepala serigala merangsek maju dengan gerakan cepat dengan tombak terhunus, raungan mereka menggetarkan fondasi batu bawah tanah.

Alya, Baahir, Fobos, dan Deimos melesat tanpa memikirkan estetika gaya lari lagi. Sepatu kets Alya menepuk aspal bawah tanah dengan secepat kilat, sementara Baahir di sampingnya ngos-ngosan seraya memegangi celana jeans-nya yang sedikit melorot.

"Lari yang bener, *Bahlul!" jerit Alya napas terengah-engah.

"Namaku Baahir, Alya! Bukan Bahlul!" protes Baahir setengah teriak. "Lagipula prajurit anjing itu punya delapan pasang kaki atau apa sih?! Cepat banget!"

"Mereka serigala, bukan anjing!" potong Fobos dari barisan depan, matanya tajam memindai celah di kegelapan.

Di ujung jalan, jalur utama terputus oleh himpitan dinding batu. Yang tersisa hanyalah sebuah celah lorong sempit berdiameter tak lebih dari satu meter dengan langit-langit yang sangat rendah.

"Apa kita harus masuk ke dalam lubang tikus itu?!" panggil Alya panik, mengerem dadakan di mulut lorong.

"Sepertinya muat! Ayo masuk!" sahut Baahir sama paniknya, langsung membungkukkan badannya.

Mereka berempat terpaksa berlari seraya merunduk dalam posisi setengah merayap. Ketinggian atap lorong yang hanya satu meter memaksa Fobos dan Deimos harus menekuk lutut mereka dalam-dalam.

"Bisakah kalian lebih cepat sedikit?!" bisik Fobos yang berada paling depan di barisan. Otot punggungnya yang kekar beberapa kali bergesekan dengan langit-langit batu, menciptakan percikan api kecil. Fobos memastikan Alya dan Baahir masih berada di dalam pengawasannya.

"Di ujung sana ada lorong menurun meluncur! Kita harus melompat dan terjun dari sini!" seru Deimos dari posisi paling belakang, pedangnya bersiap menangkis senjata Anubis yang mulai mendekati kakinya.

Tepat saat ucapan Deimos usai, Fobos mengerem mendadak di ujung pijakan. Di hadapan mereka, bumi seolah terbelah. Sebuah lorong vertikal menurun membentang curam ke bawah, berkedalaman tanpa batas yang dikelilingi pendaran cahaya api membara—persis bagaikan perosotan langsung menuju kawah neraka! Di ujung paling dasar, terlihat sebuah lubang hitam bulat berukuran amat kecil tanpa tau memiliki ujung yang bagaimana. Ia juga tidak yakin jika disana terdapat pijakan untuknya berdiri.

Alya dan Baahir mengintip ke bawah dari tepi pijakan. Angin panas beraroma belerang menyapu wajah mereka, membuat bulu kuduk berdiri tegak.

"Ka-kau yakin kita harus melompat ke dalam kawah neraka ini?!" tanya Alya gagap, melangkah mundur tiga langkah. Sepasang mata indahnya membelalak horor menatap lidah-lidah api yang menjilat dinding lorong.

"Cepat, Al! Kita sudah tidak punya waktu untuk tawar-menawar!" desak Baahir seraya mendorong pelan bahu Alya. "Para anjing itu tinggal tiga meter lagi di belakang kita!"

"Fobos! C'mon!" pinta Deimos dengan nada memohon pada sahabat dekatnya yang sudah ia anggap seperti saudara kandung sendiri.

Fobos menghela napas berat, rahang tegasnya mengeras. Walaupun statusnya adalah seorang Dewa Perang yang ditakuti di Olympus, tetap saja ia memiliki ketakutan naluriah terhadap panasnya api abadi. Bagaimanapun juga, Dewa tetaplah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki keterbatasan.

"Cepat, Fobos! Mereka sudah tinggal sejangkauan tangan!" seru Baahir histeris mendengar denting gancu musuh.

"Aku tidak mau lewat lorong neraka ini! Mau gosong ya?!" jerit Alya ketakutan setengah mati, enggan melangkah.

Melihat kepanikan Alya dan bahaya yang kian mendesak, Fobos tidak membuang waktu untuk berdebat. Dengan satu gerakan refleks yang amat sigap, Fobos menyambar tubuh kecil Alya, mengangkatnya dalam papahan bridal style ke dalam dekapan zirahnya yang kokoh. Fobos tahu betul, jika Alya terluka sedikit saja atau kulit mulusnya tergores api, Ares akan menguliti dan menghukumnya tanpa ampun!

"Pegangan yang kencang, Nona Manja!" pangkas Fobos.

SWOOOSH!

Fobos melompat terjun bebas ke dalam lorong api, disusul oleh Baahir dan Deimos di belakangnya!

Selama penerjunan curam yang dahsyat itu, Alya memejamkan mata rapat-rapat seraya menjerit histeris dengan seluruh kapasitas pita suaranya.

"AAAAAAARGGGGHHH! JANTUNGKU KETINGGALAN DI ATASSSS!" jerit Alya melengking.

Jarak lorong vertikal itu ternyata teramat panjang, membuat sensasi bebas melayang mengocok perut mereka selama berdetik-detik yang menyiksa.

BRUK! PLASH!

Mereka berempat mendarat mulus di ujung lorong, menghempas permukaan air yang tergenang setinggi mata kaki.

Alya buru-buru melompat turun dari dekapan Fobos, memegangi dadanya dan memukulnya kencang. Mereka kini berada di dalam sebuah ruangan batu tertutup berukuran mini, sekitar 4x4 meter. Suasana di dalam ruangan ini teramat gelap gulita, lembap, dan menyebarkan aroma lumut tua.

"Kita... kita ada di mana ini?" tanya Baahir panik, mengibaskan air dari celananya. Fobos, Deimos, serta Baahir sanggup menembus kegelapan dengan indra kedua mereka. Namun keberadaan genangan air jernih di tengah lautan pasir gurun Giza sungguh di luar nalar.

"Ak—"

Baru saja Alya hendak menyahut, telapak tangan Fobos yang besar terangkat membungkam mulut Alya. "Diam," bisik Fobos amat tajam.

HSSSSSST... SSSSSHT...

Suara desisan aneh bergema halus di kegelapan, diiringi kepakan riak air yang terpantul pelan di dinding batu.

BAM! BAM! BAM!

Di saat yang sama, suara gedoran keras bergema dari pintu tak kasat mata di langit-langit ujung lorong atas tempat mereka terjun tadi. Suara raungan murka para prajurit Anubis terdengar samar, menghantam barisan segel pelindung gaib yang menahan mereka.

"Kita harus keluar dari tempat ini secepatnya!" bisik Baahir gelisah, matanya melirik ke atas.

"Tujuan awal kita ke sini kan untuk mencari Raja Abdullah!" sanggah Alya berbisik menahan napas. "Kalau kita keluar sekarang, pencarian kita gagal total!"

"Aku sudah tidak peduli lagi dengan Raja Abdullah, Al!" ringis Baahir polos penuh kejujuran. "Aku lebih sayang pada nyawaku sendiri! Aku kira petualangan ini cuma terbang santai naik Pteranodon, bukannya mempertaruhkan nyawa begini!"

"Ayo cepat cari persembunyian sebelum pelindung di atas jebol!" potong Fobos melangkah memimpin jalan ke sudut kanan.

ke lorong sebelah kanan! Di sana ada ruang persembunyian aman!

Bisikan halus nan menenangkan yang sejak awal menemani Alya kembali bergema memecah kepalanya!

Di dinding sebelah kanan ruangan, terdapat sebuah rekahan lorong sempit yang tertutup oleh tumpukan lumut basah.

Tanpa ragu, Alya mendahului langkah Fobos, meraba dinding batu berlumut sesuai petunjuk suara tersebut. Benar saja, jemari lentik Alya menemukan sebuah ceruk lorong berdiameter satu meter yang tersembunyi!

"Cepat masuk ke sini!" seru Alya berbisik pada ketiga rekannya. Alya mendorong tubuh Baahir, Fobos, dan Deimos masuk ke dalam celah, lalu memberi isyarat memegang bibir "Tahan napas dan jangan bersuara sedikit pun!"

BAM! CRASH!

Pintu pelindung di atas akhirnya hancur. Dua prajurit Anubis terjun meluncur ke dalam ruangan, senjata tombak mereka menyapu air genangan secara liar.

Alya menempelkan punggungnya erat-erat ke dinding batu yang dingin, menahan napasnya hingga dadanya terasa sesak. Jarak antara ujung hidungnya dengan kibasan jubah hitam prajurit Anubis yang lalu-lalang pencarian hanya berjarak beberapa sentimeter!

Anehnya, meski para prajurit Anubis itu bolak-balik melintasi tempat persembunyian mereka, mata merah mereka seolah buta total dan sama sekali tidak sanggup mendeteksi presensi Alya dan lainnya.

Aku memagari pandangan mereka... Kalian akan aman.

Bisikan gaib di benak Alya kembali bersuara, membuat Alya menghela napas lega dalam batinnya.

"Di mana mereka?! Kenapa aroma mereka hilang begitu saja?!" raung salah satu Anubis murka.

Anubis itu memutar tubuhnya, menatap lurus ke sudut ruangan yang tadinya kosong. Di sana, mendadak muncul sesosok entitas wanita berparas cantik, namun rambutnya berwujud ratusan ular hitam kecil yang mendesis-desis liar—Medusa!

Alya membelalak kaget dari balik celah. Sejak kapan wanita berambut ular itu berdiri di sana?! Sebelumnya mereka tidak menyadari keberadaan si medusa itu.

"Medusa...?" cicit Baahir kaget dengan suara tercekat.

"Diamlah, Baahir! Atau mulutmu aku lakban!" cetus Fobos yang jengkel karena Baahir hampir membocorkan posisi mereka.

Tanpa meminta persetujuan, Fobos mengibaskan jarinya.

SRET!

Sebuah lakban sihir berwarna hitam mendadak tercipta dan menempel rapi mengunci mulut Baahir!

"Mmmph! Mmmph?!" protes Baahir melotot murka, buru-buru menyambar lakban itu dan mencabutnya paksa. "Sialan kau, Dewa!"

Di luar ceruk, pimpinan Anubis melangkah mendekati Medusa. "Di mana para penyusup itu, Medusa?!"

Medusa mengangkat dagunya, lalu dengan perlahan mengarahkan jari telunjuknya yang berbisa tepat ke arah ceruk lorong tempat Alya dan lainnya bersembunyi.

"Di dalam lorong itu..." desis Medusa dingin dengan senyuman miring.

Alya menahan napasnya kembali, jantungnya seolah berhenti berdetak saat prajurit Anubis melangkah mendekati mereka. Namun, sihir pembatas dari suara di kepala Alya bekerja sempurna. Prajurit Anubis itu berjalan melewati tubuh Alya dan teman-temannya tanpa melihat apa-apa!

"KOSONG! KAMI TIDAK MENEMUKAN SIAPA PUN DI DALAM SINI!" raung prajurit Anubis gusar saat keluar dari lorong.

Anubis pimpinan berbalik menatap Medusa dengan mata membara. "Sialan! Mereka berhasil lolos dari genggaman kita!"

Medusa hanya menggidikkan bahunya acuh tak acuh, memandangi Anubis dengan tatapan dingin. Tanpa membuang waktu lagi, para prajurit Anubis itu berbalik melompat memanjat kembali lorong vertikal untuk melacak wilayah lain, meninggalkan ruangan yang kini kembali hening.

Setelah memastikan gelombang musuh telah bersih total. Alya, Baahir, Fobos, dan Deimos melangkah keluar dari tempat persembunyian mereka. Baahir langsung membusungkan dadanya berani, melangkah paling depan mendekati Medusa dengan raut wajah menantang.

"Kenapa kau tadi memberitahu keberadaan kami pada monster-monster itu, Hah?!" cemooh Baahir seraya mendongakkan kepalanya sombong.

Medusa menatap Baahir dingin, desisan ular di rambutnya kian memburu. "Aku tidak punya pilihan untuk berbohong pada mereka. Jika aku berbohong, mereka akan memusnahkan raga dan jiwaku detik itu juga."

Alya mengurut dadanya yang kempas-kempis. Rasanya ia ingin sekali menjewer telinga Medusa, namun ia berusaha menahan emosinya.

Fobos melangkah mendekat, sepasang mata cokelatnya menatap curiga ke arah langit-langit batu tepat di atas kepala Medusa. Di sana, terpahat sebuah simbol ukiran kuno—gambar matahari dan bulan yang disilang oleh tanda 'X' besar.

"Tanda apa itu?" tanya Fobos datar.

"Seperti yang kalian lihat," sahut Medusa dengan suara mendesis halus. "Tempat ini dikutuk. Tidak ada satu pun pancaran sinar matahari maupun rembulan yang sudi menembus kegelapan di sini."

Sementara Fobos dan Medusa berbicara, pandangan Alya mendadak teralih ke sudut meja di samping Medusa. Di sana, tumbuh mekar sebatang bunga mawar hitam—Black Rose—yang sangat anggun dengan kelopak berlapiskan serpihan emas murni yang berkilauan indah.

Alya bagaikan tersihir oleh estetika mawar hitam tersebut. Langkah kakinya bergerak sendiri mendekat, jemarinya terulur hendak menyentuh kelopak emas bunga tersebut. Di sisi lain, Medusa menyunggingkan senyuman miring penuh kepuasan, bersiap menyaksikan jebakan mematikannya memakan mangsa.

DON'T TOUCH THAT ROSE! BUNGA ITU SANGAT BERACUN UNTUK SIAPA PUN YANG MENYENTUHNYA!

BUM!

Suara teriakan di dalam kepala Alya meledak begitu keras hingga membuat pelipis Alya berdenyut nyeri! Alya tersentak kaget, melompat mundur dua langkah dan buru-buru menarik kembali tangannya.

Alya menatap Medusa dengan tatapan selidik yang tajam. "Kau... kau sengaja menanam bunga ini untuk meracuni siapa saja yang tergiur menyentuhnya, kan?!" tuduh Alya tegas.

Medusa tertawa melengking tinggi, suara tawa berbisanya bergema memekakkan telinga di seluruh ruangan!

"Tentu saja, Nona Cantik!" aku Medusa congkak seraya memunculkan sebongkah emas batangan murni di telapak tangannya. "Manusia yang datang kemari cuma serakah mengincar hartaku! Kau mau emas ini? Ambil saja kalau kau berani!"

Fobos melangkah pas di samping Alya, sepasang matanya menyipit menatap bayangan di balik punggung Medusa. "Di belakangmu... ada sosok iblis yang berdiri memegang belati mengincar lehermu."

Medusa tertawa sinis. "Kemampuan panca indra Dewamu boleh juga..."

Alya memfokuskan panca indra keenamnya, meretas presensi di balik kegelapan punggung Medusa. Naluri bertahan hidupnya yang selama ini terpendam mendadak bergejolak ganas!

SZUTTT!

Tanpa sadar, Alya merentangkan telapak tangannya ke depan! Sebuah jarum es berukuran panjang bermunculan dari udara tipis, meluncur secepat kilat menembus dada sosok iblis tak kasat mata di belakang Medusa!

CRASH!

Di saat yang bersamaan, iblis tersebut sempat mengayunkan belatinya sebelum tewas, memenggal leher Medusa secara tragis!

Kepala Medusa terlepas dari raganya, menggelinding di atas air basah dan berhenti tepat satu senti di depan ujung sepatu Alya! Darah yang mengucur dari lehernya bukan berwarna merah, melainkan cairan hitam pekat beraroma bau busuk yang mencemari genangan air.

Alya, Baahir, Fobos, dan Deimos terpaku kaku. Kejadian itu berlangsung teramat cepat, tak lebih dari dua detik!

Fobos berjongkok, memeriksa sosok iblis yang tergeletak tewas akibat tusukan jarum es Alya. "Dia iblis level 2..." ujar Fobos, lalu mengambil sampel jarum es tersebut dan menyerahkannya pada Deimos.

Deimos menatap jarum es di tangannya dengan wajah datar, namun sepasang matanya tidak sanggup menyembunyikan rasa terkejutnya.

"A-aku... aku baru saja membunuh...?" cicit Alya gemetar hebat. Tubuh kecilnya mundur beberapa langkah, sepasang mata indahnya berkaca-kaca menatap telapak tangannya sendiri.

Fobos langsung maju, merengkuh tubuh Alya ke dalam pelukan yang hangat. "Calm down, Al. Tindakanmu sangat tepat. Dia iblis jahat yang memanipulasi Medusa sebagai boneka perantara." Fobos mengelus pelan rambut Alya untuk menenangkannya.

Di lantai, kepala Medusa yang terpisah ternyata masih bergerak-gerak! Matanya yang memutih menatap Alya dengan dendam kesumat, lidah panjangnya menjulur-julur diiringi desisan ular-ular kecil di kepalanya yang menggeliat begitu mengerikan.

"Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang!" seru Baahir merinding setengah mati. "Tempat ini penuh manipulasi sihir!"

"Tapi kita tidak bisa naik kembali melintasi lorong api itu, kita bukan anubis yang memang disini wilayah kekuasaan mereka" sanggah Deimos pasrah.

Alya mengusap air matanya, mencoba menguasai dirinya. Ia ingat, di dunia yang penuh dengan Dewa, Malaikat, dan Iblis ini, ia tidak boleh terus-terusan menjadi beban yang hanya bisa menangis.

Carilah simbol matahari di langit-langit kanan, lalu hancurkan dengan benda keras!

Bisikan gaib di kepalanya kembali memberi arahan. Alya mendongakkan kepalanya, mendapati sebuah pahatan simbol matahari tepat di sudut atas ruangan.

"Kita bisa keluar lewat sana!" tunjuk Alya mantap. "Gambar matahari itu harus dihancurkan dengan benda keras!"

"Bagaimana cara menghancurkannya? Kita tidak membawa palu atau batu raksasa!" balas Deimos bingung.

Alya menarik napas panjang. Dengan keberanian yang dipaksakan, Alya membungkuk, menyambar rambut ular dari kepala Medusa yang masih mendesis, lalu mengayunkan lengan dan melemparkan kepala Medusa itu sekuat tenaga ke arah ukiran matahari di langit-langit!

TAK!

Kepala Medusa menghantam ukiran, memicu retakan halus.

"Ayo sekali lagi, Al! Retakannya mulai terbuka!" seru Baahir menyemangati.

"Caramu kali ini pasti berhasil!" tambah Fobos bangga.

TAK!

Alya melemparkan kepala itu untuk kedua kalinya, membuat retakan batu kian melebar.

"Dikit lagi, Al!" sorak Deimos.

Alya mengelap keringat di dahinya seraya mengomel gemas. "Harusnya kalian bertiga yang lempar! Otot kalian sebesar paha sapi begitu! Kenapa malah aku yang disuruh lempar kepala ular ini?!"

BUM!

Pada lemparan ketiga dengan pengerahan seluruh tenaga Alya, langit-langit batu itu hancur berhamburan! Cahaya matahari pagi yang terik meledak masuk menerangi ruangan, memperlihatkan jalan keluar menuju permukaan gurun!

"BERHASIL!" sorak Alya gembira. Spontan, Alya melompat dan memeluk erat Baahir, Fobos, dan Deimos secara bergantian. Baahir membalas pelukan itu dengan tawa lega, sementara Fobos dan Deimos hanya bisa berdiri kaku bagaikan patung yang salah tingkah.

"Ayo kita pergi sebelum para anjing itu kembali!" tegas Deimos.

Fobos memboyong Alya, dan mereka berempat melayang terbang keluar melintasi celah langit-langit, mendarat mulus di hamparan pasir di depan kompleks Patung Sphinx!

"Akhirnya... bisa lihat matahari lagi!" seru Baahir lega seraya meregangkan badannya. "Di dalam tadi gelap dan penuh sihir ilusi! Untung kita bukan manusia biasa jadi bisa lihat di kegelapan!"

Alya memutar matanya malas. "Aku ini masih manusia, Baahir!"

"Manusia biasa tidak bisa memanggil jarum es dan melempar kepala Medusa tiga kali, Nona Cantik," balas Fobos tersenyum tipis menatap Sphinx.

Mendadak, langkah kaki Alya terhenti kaku. Beberapa meter di hadapan mereka, berdiri sesosok pria berbalut jubah putih bersih yang sangat anggun—Azmael, sang Grim Reaper  berwajah tampan yang pertama kali bertemu Alya.

"Azm—"

Baru saja Alya hendak memanggil namanya, bibir Alya mendadak terasa kaku dan kram seolah dikunci oleh kekuatan tak kasat mata.

"Jangan pernah sebut nama asliku di depan umum," ujar Azmael dengan suara halus yang bergaung lembut di kepala Alya.

Alya mengangguk paham. "Jadi... suara bisikan yang membantuku sepanjang perjalanan di dalam Sphinx tadi itu suara milikmu?"

Baahir, Fobos, dan Deimos mengernyit bingung melihat Alya yang mendadak berbicara sendiri dengan angin gurun.

"Kau bicara dengan siapa, Al?" tanya Fobos heran.

"Kalian tidak bisa melihat pria berjubah putih yang berdiri di sana?" tanya Alya menunjuk lurus ke arah Azmael.

Baahir melangkah maju meniti titik yang ditunjuk Alya. Namun, tubuh Baahir bergerak menembus raga transparan Azmael begitu saja tanpa merasakan apa-apa! Azmael hanya menyunggingkan senyum tipisnya pada Alya.

"Di sana kosong, Al... Tidak ada siapapun," sahut Baahir merinding.

Alya menghela napas. "Pria yang membantuku tadi adalah temanku, seorang Grim Reaper. Tapi sepertinya frekuensi wujudnya cuma bisa dilihat olehku."

"Grim Reaper?!" cicit Baahir melompat mundur dua langkah dengan raut wajah bergidik ngeri.

"Sampaikan pada teman-temanmu," ujar Azmael menatap Alya tenang. "Jika waktunya sudah tepat atas titah Tuhan, kalian pasti bisa menyelamatkan Raja Abdullah."

Alya meneruskan pesan Azmael tersebut pada Baahir dan kedua Dewa di sampingnya.

Fobos menepuk pundak Baahir dengan raut wajah prihatin namun menguatkan. "Teman Grim Reaper-nya benar, Baahir. Kita harus menunggu momentum yang tepat. Untuk saat ini, perlindungan penuh Tuhan belum turun di wilayah ini."

"Tentu saja!" balas Baahir mengangguk setuju seraya membayangkan raungan Anubis. "Aku juga belum siap mati dikoyak-koyak anjing Mesir demi Raja Abdullah!"

Alya menatap langit gurun yang luas, lalu mendesah pelan. "Salah kita juga dari awal... Kita berangkat ke sini tanpa berdoa meminta perlindungan Bapa terlebih dahulu."

Mendengar ucapan Alya, Baahir, Fobos, dan Deimos mendadak terdiam bisu. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, doa adalah pondasi paling krusial yang sempat terlupakan oleh mereka dalam petualangan ini.

 -_LUCIFER_-

Catatan kaki Autor :

*Bahlul = Bahasa Gaul/umpatan ringan yang artinya bodoh, tolol, konyol atau dungu

Smd, 15-6-26

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top