Chapter 29 - Save Me?

Jangan lupa mem-vote dan comment setiap chapternya jika kalian menyukai ceritanya. Tengkiu atas supportnya.

Hati-hati typo bertebaran dimana-mana!

^_^ Happy Reading ^_^

-_LUCIFER_-

Sebuah ruangan yang gelap dan temaram kini memenuhi panca indera Lucifer dan Alya. Alya bahkan harus memegang dinding di sampingnya agar tidak tertabrak. Matanya begitu buta karena terlalu gelap, sangat berbeda dengan Lucifer yang bisa melihat di kegelapan.

"Kamu yakin disini tempatnya, Luke?" Tanya Alya ragu. Tangan lainnya di genggam oleh Lucifer sebagai pemandu jalannya.

"Tentu. Raziel dan Remiel sudah duluan di depan sana" Ucap Lucifer sambil menunjuk ke depan.

"Aku tidak bisa melihat apapun Luke" Ucap Alya agak takut.

"Aku disini menjagamu" jawab Lucifer menenangkan Alya.

Lucifer tetap melangkah tegas diikuti oleh Alya di belakangnya. Setelah berjalan beberapa ratus meter kini mereka sekarang berada di sebuah ruangan temaram, ruangan yang memiliki furniture klasik berwarna putih di temani oleh cahaya kuning yang berasal dari lampu.

"Ini rumah siap---" Ucapan Alya terputus ketika di hadapannya kini terduduk seorang pemuda tampan bertubuh atletis yang sedang diikat bersama kursi yang dudukinya. Mulutnya tidak bisa berbicara karena tertutup lakban.

Alya melihat Ares bersama Fobos dan Deimos di sisi pemuda yang di sekap itu. Wajah Ares kini tidak terlihat senang melainkan tegas dan menyeramkan. Alya tak mengerti mengapa suasana disini begitu penuh dengan ancaman. Alya hanya menampilkan wajah yang menyiratkan kebingungan.

"Silahkan tuan" Raziel mempersilahkan Lucifer mendekat kearah pemuda itu.

Lucifer melangkah dengan penuh aura membunuh, Mata birunya menusuk pada apapun yang di pandangnya. Pemuda itu nampak menggelengkan kepalanya cepat.

"Apakah tidak masalah jika aku menghilangkan salah satu nyawa dewa di Olympus, Ares?" Tanya Lucifer dengan nada senang, namun sangat berbanding terbalik dengan tubuhnya yang menyiratkan aura kekejaman.

Memang pada nyatanya si kembar Raziel dan Remiel mengejar sang pemilik panah. Mereka bahkan meminta pertolongan langsung pada sahabat bosnya yaitu Ares ketika mengetahui dari lini siapa yang membuat keonaran.

Ares diam membatu pasalnya dia harus memilih Lucifer sahabatnya atau Zeus ayahnya dan pemilik Olympus. Dari dulu memang hubungannya dengan Zeus tidak pernah baik, maka dari itu Ares juga tidak pernah dekat dengan Zeus.

Lucifer langsung melepaskan lakban di mulut pemuda itu. Disaat terbuka pemuda itu membuat Lucifer terdiam.

"Kamu tidak berhak sama sekali untuk membunuhku karena nyatanya aku memang di tugaskan Tuhan untuk memberitahu itu pada kalian" Ucap pemuda itu dengan berani, bahkan berani menatap Lucifer.

"Bisakah kamu menjelaskan arti dari gambar ini, Eros?" Tanya Lucifer dengan nada dingin, wajahnya pun tampak datar dengan tatapan tajam. Lucifer langsung melemparkan kertas berisikan gambar Yin dan Yang.

'Eros???' Pikir Alya

'Apakah Eros yang di maksud adalah Cupid di dalam mitologi Yunani?' Pikiran Alya semakin liar. Cupid yang dia tahu adalah sebuah anak kecil gambul memegang panah emas, sedangkan yang di hadapannya adalah sebuah pemuda tampan. Mereka memang memiliki kesamaan yaitu sama-sama memegang panah emas. Alya tau jika Eros adalah seorang Dewa tapi tidak menyangka dia akan benar-benar bertemu dengan keadaan seperti ini.

"Aku juga tidak tau" Jawaban Eros membuat Lucifer terpancing emosi. Lucifer langsung mengeluarkan pedang Gram di tangan kanannya. Matanya mulai memerah seakan siap untuk menebas kepala Eros.

"Luke" Panggil Alya sambil memegang tangan kanan Lucifer. Merasakan sentuhan hangat Alya, Lucifer berusaha untuk mengambil kembali emosi yang mulai muncul.

Di saat yang bersamaan sebuah kilatan putih itu membelah ruangan hingga menimbulkan konotasi negatif. Semua orang terkecuali Eros sudah terlempar pada dinding di belakangnya.

Lucifer terlempar beberapa meter di dinding belakangnya hingga rusak parah. Ia langung berlari menolong Alya karena Alya tampak kesakitan.

"Apakah kamu baik-baik saja Als?" Tanya Lucifer khawatir, dia membantu Alya berdiri.

Lucifer memperhatikan semuanya, ternyata sebuah lelaki berpakaian serba putih beserta kedua sayap terbentang memenuhi ruangan ini. Cahaya putihnya menyilaukan pandangan siapapun di ruangan ini.

"Kamu tidak berhak menindak orang yang sudah menjalankan tugas Bapa dengan baik" Suara tegas itu berasal dari seseorang yang bercahaya putih.

Lucifer langsung berdiri tegak menghadap seseorang itu dengan pandangan benci. Dia memang dari dulu tidak pernah menyukai Michael. Michael terlalu kaku menjalankan tugas Bapa, jadi tidak bisa diajak bercanda. Bahkan dia tidak memiliki orang terdekat karena terlalu serius dan kaku di dalam hidupnya. Berbeda dengan Lucifer, Lucifer bahkan memilih berdamai dengan Gabriel dan melupakan apa yang terjadi dulu. Ia pun mengetahui jika Gabriel masih di bawah pimpinan Bapa, maka dari itu lebih milih menyerang Lucifer yang memberontak. Disisi lain Gabriel tau jika Lucifer adalah sahabat baiknya.

Alya, Ares, Fobos, Deimos termasuk Eros berusaha melindungi pandangannya dari sinar menyilaukan yang keluar dari tubuh Michael.

"Turunkan energimu sekarang! kamu benar-benar pengganggu disini" Ucap Lucifer agak marah. Dia begitu jengkel karena Michael memamerkan kekuasaannya hingga membuat siapapun yang melihatnya akan menyilaukan mata.

Tak lama Michael menuruti keinginan Lucifer dan kini dia sudah menjadi seseorang lelaki tampan dengan baju zirah putih tanpa sayap sambil memegang pedang cahaya berwarna putih. Dia menunjukkan eksistensinya sebagai panglima tertinggi di surga saat ini.

Michael langsung melepaskan ikatan tubuh Eros, Eros yang terbebas langsung menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Michael.

"Lantas mengapa Bapa mengirimkan gambar itu? Apa maksudnya" Tanya Lucifer serius pada Michael.

"Pikirkan sendiri. Suatu saat kamu pasti mengetahuinya. Kamu ingin memilih antara hitam atau putih, semua pilihan ada di tanganmu" Ucap Gabriel misterius.

Sebuah cahaya putih beberapa detik menyilaukan pandangan dan kini Michael bersama Eros hilang begitu saja dari hadapan Lucifer dan Ares.

Lucifer menghela nafas, lagi-lagi para Malaikat ikut campur dengan urusannya. Sebelumnya Bapa bahkan menyuruh Rafael mengambil pedang Excalibur miliknya. Dimana pedang Excalibur dan Gram adalah setengah jiwanya. Mereka berjuang menemani Lucifer selama ini.

"Maaf mengecewakanmu, Ares" Ucap Lucifer dingin, wajah kecewa tidak bisa di sembunyikan karena ia masih membenci Michael hingga sekarang.

"Tidak apa Luke. Aku juga tidak bisa ikut campur tentang masalah malaikat dan fallen angel. Kita memang sama-sama bekerja pada Tuhan, tapi bukankah setiap ras memiliki hakikat masing-masing dan kita tidak berhak ikut campur untuk ras diatasnya." Ucap Ares tersenyum paham pada sahabatnya. Ares pun menepuk pundak Lucifer pelan.

Tiba-tiba mata Ares melotot tiba-tiba, dia mendapatkan sebuah informasi batin yang membuatnya terkejut.

"Asklepios akan disidang hari ini" Ucap Ares memberitahu Lucifer dan Alya.

"Hah?" Hanya kata itu yang keluar dari bibir Alya, karena otaknya seakan membeku tidak bisa menerima informasi yang baru di katakan Ares.

"Ayo kita pergi sekarang" Ajak Ares bersama Fobos dan Deimos di belakangnya.

"Alya tidak bisa masuk ke alam Dewa karena Zeus akan kembali marah seorang iblis masuk ke dalam wilayahnya" Ucap Ramiel menatap Alya, Lucifer dan Ares secara bergantian.

"Dia tidak sepenuhnya iblis, dia hanya manusia setengah iblis" Jawab Fobos sambil menghadap Ares yang terdiam di tempat.

"Aku akan berlutut pada Zeus untuk mencabut hukuman apapun itu. Asklepios adalah orang yang menyelamatkan nyawaku. Aku memiliki hutang nyawa padanya" Ucap Alya sambil menatap Ares penuh harap. Ia berharap Ares akan memperbolehkannya ikut bersamanya.

"Aku tidak tau, itu keputusan Luke. Intinya jika sesuatu terjadi padamu di sana, bukan tanggung jawabku. Aku tidak bisa melindungi kalian karena jika aku harus mengikuti peraturan yang berlaku disana." Jawab Ares dengan wajah pias. Dia baru mendapatkan informasi tentang hukuman yang di berikan Zeus pada Asklepios.

Sedetik kemudian Ares bersama Fobos dan Deimos menghilang begitu saja dari hadapan Alya, Lucifer dan si kembar Raziel Remiel.

Alya menghela nafas kasar, Ia harus membantu Asklepios saat ini juga.

"Luke?" Panggil Alya sambil memegang lengan Alya. Lucifer tampak terdiam, entah apa yang di pikirkan.

"Lebih baik kita tidak ikut campur dengan urusan peraturan di alam Dewa, Luke" Nasehat Raziel.

"Benar Luke. Kita tidak hak untuk ikut campur. Aku hanya tidak ingin kita terluka oleh *kubu kanan dan terutama Zeus. Aku tidak ingin melihat sayapmu di patahkan kembali oleh Zeus" Ucap Remiel membuat Lucifer terdiam seribu bahasa. Apa yang di katakan si kembar adalah sebuah fakta yang tidak bisa di elakkan lagi.

"Kita kembali ke mansion dan kurung Alya di dalam kamar. Jangan pernah berniat untuk kabur tanpa sepengetahuanku" Titah Lucifer pada Raziel dan Remiel.

"Baik tuan" Ucap mereka kompak. Keduanya langsung menarik Alya yang berteriak minta di lepaskan.

"Luke, kamu begitu keterlaluan. Aku ingin bertemu dengan Asklepios!!" Ucap Alya di tengah-tengah berontakannya.

"Lepaskan Raziel, Remiel" Teriak Alya sebelum mereka benar-benar hilang karena melakukan teleportasi.

Lucifer memutuskan untuk mengikuti jejak Ares tanpa berniat untuk membantu Asklepios. Ia tidak ingin kembali mendapatkan terguran oleh kubu kanan karena sudah melanggar batas ketentuan dalam setiap ras. Ia hanya berniat untuk melihat semua yang akan terjadi. Setidaknya ada cerita yang bisa di sampaikan olehnya untuk Alya.

"BIARKAN AKU MENEMUI ASKLEPIOS!!" Teriak Alya ketika tubuhnya di lemparkan oleh si kembar ke atas tempat tidur.

Tanpa peduli Raziel dan Remiel meninggalkan Alya begitu saja di dalam kamar. Bunyi kunci pintu membuat Alya semakin histeris, dia harus menyelamatkan Asklepios saat ini juga.

DORRR DORRR DORRR

Ini sudah gedoran pintu yang di layangkan Alya selama 5 menit tanpa henti, bahkan tangannya kini memerah.

"Tolong bukakan pintu ini, aku harus menemui Asklepios" Alya sudah kehabisan tenaga. Ia tidak boleh menangis, dia harus memikirkan caranya agar keluar dari tempat ini.

Alya mendekat kearah jendela, tepat saat tangannya menyentuh jendela, rasa panas menjalar ke tangannya. Beberapa kali Alya menyentuhnya secara perlahan rasa panas itu membakar tangannya.

Apa yang di lakukan Lucifer hingga jendela ini tidak bisa dia sentuh?

Pupus sudah harapannya, satu-satunya harapan selain pintu adalah jendela.

Alya menggigiti kukunya sambil berjalan mondar-mandir di depan jendel. Otaknya berusaha memikirkan bagaimana cara keluar dan caranya sampai ke alam Dewa.

Meminta tolong pada Satan dan Alastor?

Alya menggeleng keras karena Itu adalah ide buruk, tidak mungkin para Dewa menerima dengan kehadiran Iblis jahat macam mereka. Alya juga tidak ingin penghancuran alam Dewa terjadi kedua kalinya karena kehadiran Satan.

"Ayolahhhhhhhh otakku. Kamu harus berpikirrr" Alya memukul kepalanya pelan.

"Corson? Azmael?" Ucap Alya tak yakin. Karena Alya tidak tau cara memanggil mereka. Mereka selalu sesuka hatinya untuk datang membantu Alya. Berbeda dengan Alastor atau Lucifer, keduanya akan muncul ketika Alya memanggil mereka. Memang semudah itu.

Alya memegang kepalanya yang berdenyut. Kepalanya terasa berasap harus mencari jalan keluar disini. Pada akhirnya Alya memutuskan untuk berbaring diatas tempat tidurnya.

Mata coklat itu ngawang menatap plafon di atasnya.

"Aku harus bagaimana?" Bisik Alya pada dirinya sendiri. Kini ia kalah dengan air matanya, ia memilih lemah karena pada nyatanya dia tetap kalah dengan sisi kuat di tubuhnya.

Sebuah gedoran halus berasal dari pintu kamar membuat Alya heran. Mata coklat itu menatap orang yang sudah di tengah pintu.

"Alastor?" Ucap Alya tak yakin dengan matanya, karena matanya masih di penuhi oleh air mata.

Alastor mendekat kearah Alya, tubuhnya bukan seorang iblis bertanduk melainkan merubah tubuhnya menjadi manusia yang di kenali Alya, Arthur.

"Aku tau bagaimana kamu bisa pergi ke alam Dewa, aku akan membantumu. Tapi kamu harus ikut denganku. Aku tidak ingin kamu terus-menerus di sekap Lucifer. Sedangkan sidang desertasimu beberapa hari lagi akan di gelar" Ucapan Arthur membuat Alya tertampar.

Selama kebersamaannya dengan Lucifer, dia bahkan tidak lagi memiliki ambisi penelitian yang menggebu-gebu seperti dulu. Bahkan dia menyelesaikan penelitiannya di waktu senggang dan lepas permasalahan dunia supranatural sementara.

"Apakah sudah menyiapkan materi sidangmu?" Tanya Arthur.

Alya menggeleng pelan.

"Apakah sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan dewan penguji?" Tanya Arthur lagi.

Alya menggeleng lagi.

"Kamu harus percaya padaku. Aku berjanji akan membantumu" Ucapan Arthur membuat Alya tidak percaya.

"Ayo pergi, kita sudah tidak memiliki banyak waktu. Sebelum tangan kanan Lucifer bangun dan menyadari kamu kabur" Arthur mengulurkan tangannya pada Alya.

Disisi lain dia tidak percaya pada Arthur karena Arthur adalah orang terdekat Satan namun di sisi lain hanya inilah caranya untuk kabur dan menyelamatkan Asklepios.

Alya menghapus air matanya kasar lalu menerima uluran tangan Arthur. Arthur tersenyum karena Alya menerima penawarannya. Arthur langsung menarik Alya ke dalam dekapannya dan memeluk sangat erat.

"Arthur" Ucap Alya berusaha memperingatkan Arthur, dia berusaha untuk melepaskan kung-kungan Arthur namun tetap gagal.

Bukannya melepaskan Alya, dia malah mengelus lembut rambut Alya. Tepat di pucuk kepala dia menepuk sayang. Suasana yang begitu intim membuat Alya melihat apa yang di lakukan Arthur padanya. Tanpa sengaja kedua mata itu bertabrakan, tatap Arthur begitu memuja pada Alya.

'Ini salah. Ini seharusnya tidak terjadi' Batin Alya menjerit. Di saat seperti ini dia baru menyadari jika Arthur atau Alastor memiliki perasaan padanya.

-_LUCIFER_-

Smd, 3-8-26


Jun-JunFish















Catatan Kaki Author :

Kubu kanan = Golongan dengan konotasi yang sangat positif, mulia dan penuh keselamatan di sisi atau pekerja Tuhan/Bapa/Allah.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top