Chapter 18 - Nothing
Jangan lupa mem-vote dan comment setiap chapternya jika kalian menyukai ceritanya. Tengkiu atas supportnya.
Hati-hati typo bertebaran dimana-mana!
^_^ Happy Reading ^_^
-_LUCIFER_-
Selama 15 menit berlangsung. Asklepios bersama anak-anaknya sudah melakukan ritual namun sama sekali tidak ada pergerakan, masih terdengar dengungan yang berasal dari rapalan mantra di setiap bibir sang penyembuh. Keadaan tubuh Alya masih begitu mengerikan layaknya monster karena tubuhnya di penuhi dengan sulur-sulur merah akibat dari racun Satan yang sudah menyebar. Mata coklatnya sedikitpun tidak terbuka, tubuhnya yang semakin lama semakin mengurus dari terakhir kali Ares temui.
Racun Satan benar-benar sangat berefek pada tubuh manusia. Tubuh Alya begitu pucat karena darah yang tertampung pada baskom di bawahnya hampir penuh, sangat kontras dengan aliran racun Satan yang memenuhi tubuhnya.
Tiba-tiba Lucifer tiba di hadapan Ares. Tubuh Lucifer langsung limbung karena efek teleportasi dengan tubuh yang kurang sehat. Ares sedikit terkejut namun refleks dia membantu Lucifer agar tidak terjatuh. Lucifer datang dengan sayap yang ter-perban.
"APA YANG KAMU LAKUKAN PADANYA ASKLEPIOS!" Teriak Lucifer begitu membahana membelah keheningan mansion.
"Tenanglah, biarkan dia menyelamatkan Alya dulu, Luke" Ucap Ares sambil menahan tubuh Lucifer agar tidak menganggu ritual.
Asklepios dan ketiga anaknya tetap melanjutkan ritual tanpa memperdulikan teriakan Lucifer. Asklepios langsung berhenti membaca mantra dan menuangkan ramuan khusus berwarna ungu pada mulut Alya. Jari tengah dan telunjuknya menyentuh tengah dada Alya hingga berpender ungu di ujung jarinya. Matanya yang masih tetap tertutup itu berdoa agar kali ini usahanya berhasil.
"Selesai" Ucap Asklepios sambil menjauh dari tubuh Alya, ke tiga anaknya juga berhenti merapalkan mantra.
"Kamu bodoh Asklepios melakukan ritual terlarang untuk makhluk lemah seperti manusia. Demigod saja kamu tidak bisa menolongnya dan sekarang kamu bersikeras untuk menolong manusia murni seperti Alya!" Kesal Lucifer.
"Lagi pula dia bukan manusia murni, untuk apa kamu mengancam kami" Balas Hygieia agak sinis pada Lucifer.
"Benar, dia juga manusia setengah iblis" Tambah Panacea sama sinisnya pada Lucifer seperti kakaknya.
Lucifer memejamkan matanya, ia tidak ingin membuat keadaan lebih panas karena emosi sesaatnya. Ares yang melihat Lucifer langsung memelototi Hygieia dan Panacea sebagai ancaman agar tidak berbicara apapun pada Lucifer. Panacea menahan kekesalannya pada Ares yang lebih membela Lucifer di bandingkan dirinya.
Lucifer mendekat ke arah Alya dan memegang pergelangan tangan Alya tempat dimana darahnya tadi mengucur. Lucifer menyentuh luka itu dan secara instant luka itu pulih meninggalkan jejak bekas sedikit darah di sekitar luka.
Lucifer mendekatkan telinganya pada jantung Alya, mengecek jika jantung Alya masih berdetak. Benar namun terdengar sangat kecil suaranya membuat Lucifer mendengus kesal. Matanya langsung memicing tajam kearah Asklepios.
"Jika terjadi sesuatu pada Alya, aku tidak akan berdiam diri untuk membiarkan dirimu dan keturunanmu hidup dengan nyaman" Ancam Lucifer langsung menggendong Alya.
"Kamu pikir aku sangat ingin menolongnya? Tidak!" Ucap Panacea dengan berani menantang Lucifer.
Lucifer tidak ambil pusing karena ucapan remaja seperti Panacea, dia memilih mengabaikannya saja. Baru saja Lucifer ingin terbang namun tubuhnya di tahan oleh seseorang. Lucifer mau tidak mau harus melihat siapa yang menahannya.
"Tolong jangan gunakan sayapmu, sayapmu masih dalam proses pemulihan jika kamu gunakan kemungkinan kamu tidak bisa menggunakan sayapmu lagi" Ares memperingatkan pada Lucifer.
"Aku atas nama Zeus meminta maaf karena terlalu keras padamu dan aku juga minta maaf tidak bisa membantumu untuk mengejar Satan karena ada sesuatu hal yang kami para Dewa-Dewi memiliki batasan untuk ikut campur dengan makhluk lainnya" Ares tampak merasa bersalah sekali.
"Aku tidak tau harus membenci dia karena dia adalah keturunan langsung Satan namun hati kecilku tidak bisa beralih sedikitpun darinya. Sebenci apapun aku pada Satan akan kalah pada rasa selalu ingin bersamanya. Aku sudah berulang kali memikirkan apakah perasaanku ini benar dan aku hanya bisa berusaha mengikuti alur takdirku saja" Cerita Lucifer.
Mata birunya langsung memandang Asklepios dengan penuh ancaman. "Jika sampai Alya tidak bisa di selamatkan tolong di jaga baik-baik kepalamu sebelum dengan senang hati akan memisahkan dengan tubuhmu"
"Tenang aku tidak akan berbuat melebihi apa yang aku perbuat. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri" Ucap Asklepios dengan senyum tipis.
"Dad!" Teriak Panacea tidak terima. Bagaimana bisa ayahnya menganggap seorang manusia rendahan seperti anaknya sendiri. Aceso langsung menghentikan sebelum adik bungsunya akan berbuat yang lebih parah lagi. Panacea yang kesal hanya bisa mendelik ke arah kakaknya.
Mata Asklepios menatap tubuh Alya yang perlahan mulai kembali normal, racun Satan sudah nyaris hilang hanya tinggal menunggu ramuan yang diraciknya untuk memproduksi sel darah merah lebih banyak lagi.
Asklepios tersenyum kecil melihat Alya yang begitu di lindungi oleh Lucifer. Image Lucifer begitu kuat yaitu sebagai Malaikat Seraphim karena dia begitu dekat dengan tahkta Tuhan. Walaupun kejatuhannya di cap buruk oleh Malaikat yang masih di pihak Tuhan namun namanya begitu famous karena tugasnya sebagai pemuji Tuhan.
"Tenang saja aku tidak menggunakan sayapku, Ares. Aku bisa pergi dengan portal. Aku paham kenapa Zeus mematahkan sayapku" Balas Lucifer sambil melirik kearah Ares di belakangnya.
Lucifer langsung membuka portal besar dari ukuran biasanya karena harus menyesuaikan ukuran lebar sayapnya. Sayapnya masih terperban memenuhi seluruh kerangkanya membuat ke gagahan tubuhnya tidak sempurna.
Setelah Lucifer sudah menghilang di balik portalnya Aceso dan Hygieia menghela nafas lega. Ternyata semenjak selesai ritual, mereka menyadari kehadiran Lucifer yang begitu mengintimidasi di balik wajah rupawannya. Semua Dewi atau Demigod selalu membicarakan Lucifer sang fallen angel wajah tertampan. Siapa yang tidak tertarik dengan tubuh dan wajah tersempurna yang pernah di ciptakan Tuhan.
"Terkutuklah wahai kau Lucifer!" Teriak frustasi Panacea. Setelah itu dia menghilang begitu saja kembali ke Olympus dan diikuti oleh kedua kakaknya.
Panacea begitu kesal apapun yang berkaitan dengan manusia, pasalnya mereka memiliki kenangan buruk yang berkaitan dengan manusia. Semua kesalahan itu tercipta oleh Asklepios. Mereka semua sangat terpaksa melakukan ritual ini atas permohonan Asklepios seakan mengemis pada mereka. Anak mana yang tidak ter-enyuh ketika ayahnya memohon dengan sungguh-sungguh pada anak-anaknya.
Disisi lain, Lucifer membawa Alya kembali ke mansionnya. Disana terdapat empat orang kepercayaannya. Lucifer langsung masuk dengan tubuh tegap tingginya ke dalam kamar serba hitam suasana menyeramkan dan gelap begitu menyapa mereka.
Lucifer langsung membaringkan Alya di kasur ukuran king size berwarna hitam. Lucifer menyelimuti tubuh Alya dengan selimut lembut miliknya hingga sedada Alya. Mata biru Lucifer menatap seksama kearah Alya, begitu cantik ciptaan tuhan yang terbuat oleh tanah ini. Kulit putih kecoklatan, alis hitam tebal, rambut panjang bergelombangnya kini tidak tertutup oleh selembar kain, jemarinya menyampirkan rambut nakal yang menutupi wajah cantik Alya, hidungnya yang mancung dengan bibir tebal membuat nilai plus pada kecantikan alami Alya.
Tanpa di sadari Lucifer tersenyum sambil memerhatikan orang yang membuatnya sangat tertarik. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal selama ini perasaannya pada Alya. Mungkin benar apa yang di katakan pada Ares sebelumnya. Ia ternyata mulai menyukai Alya. Ia menyukai ketika Alya tersenyum pada Zuriel, selama ini ia hanya memperhatikan Alya dari kejauhan.
"Luke?" Panggil Haniel yang melihat Lucifer begitu dekat dengan Alya.
Lucifer terkejut dan menetralkan mimik wajahnya menjadi raut serius.
"Seharusnya kamu kembali ke ruang perawatan, agar sayapmu sembuh total. Aku takut sayapmu tidak bisa digunakan kembali" Lagi-lagi peringatan Haniel seolah menampar wajahnya.
"Aku sudah memanggilkan Rafael untukmu" Ucap Remiel lagi. Sejak kapan ke empat tangan kanannya sudah menyusul disini.
"Apa harus sekali aku meminta bantuan Rafael kedua kalinya?" Desah Lucifer sambil menyugar rambutnya.
"Wajib karena kamu membutuhkan Rafael demi mempercepat kesembuhan sayapmu. Semakin cepat kamu bisa menggunakan sayapmu kembali" Ucap Raziel.
Zuriel perlahan mendekat kearah sayap Lucifer yang terperban, tangannya menyentuh sedikit sayap Lucifer. Hingga suara aduhan Lucifer terdengar, mata birunya memelototi Zuriel yang nampaknya memang sengaja melakukan itu.
Zuriel sendiri yang merasa pura-pura tak bersalah hanya memamerkan gigi ratanya pada Lucifer bersamaan dengan suara kekehan kecilnya.
"Kan sayapmu ini belum pulih sepenuhnya. Kami terpaksa membangunkanmu sebelumnya karena mengetahui Alya akan melakukan ritual terlarang bersama Asklepios" Ucap Zuriel serius.
"Kalian memang sengaja membangunkanku dari efek obat biusku demi menyelamatkan Alya" Gerutu Lucifer.
"Kamu sudah tertidur hampir seminggu Luke, aku rasa waktunya sudah cukup untukmu melarikan diri dari kenyataan yang sebenarnya dari Alya" Ucap Haniel agak tajam pada bosnya.
"Mau tidak mau kamu harus menerima apapun yang ada di dalam Alya walaupun sepahit Alya adalah anak dari musuhmu" Tambah Remiel.
"Lagi pula kami juga bisa melihat pandanganmu sangat berbeda pada Alya dengan wanita lainnya. Aku yakin kamu pun merasakan sesuatu pada Alya namun hatimu berusaha menolak" Jelas Raziel.
Lucifer terdiam, semua ucapan yang di katakan oleh ke empat tangan kanannya begitu menamparnya. Ia hanya bisa mengetatkan rahangnya kala mengingat jati diri Alya.
"Samael" Panggil seseorang yang baru saja tiba.
Lucifer mengehela nafas ketika Rafael mendekat "Jangan pernah memanggil nama itu lagi pada saat aku di Bumi"
Lucifer melengos begitu saja menuju sebelah sisi Alya. Dia tidur tengkurap di sebelah Alya dan membentangkan sayap yang terperban. Rafael mendekat dan mulai menerbangkan perban yang mentupi sayap Lucifer hingga meninggalkan sayap putih bersih membentang dengan gagahnya memenuhi seper-empat ruangan ini.
Lucifer melirik Rafael di belakangnya. "Aku sedikit curiga padamu, mengapa dengan baik hati membantuku tanpa imbalan" Sindir Lucifer.
"Bisa kah kamu tidak memiliki pikiran buruk padamu. Mood ku sangat baik hari ini untuk menolongmu" Balas Rafael sambil tersenyum lebar.
Matanya langsung mengeluarkan laser putih untuk mengamati struktur tulang sayap Lucifer. Dirasa sudah cukup memeriksanya, laser itu menghilang begitu saja.
"Sayapmu sudah sembuh total, tidak perlu ku obati dan kamu sudah bisa menggunakannya kembali" Ucap Rafael masih tersenyum lebar.
"Enyahkanlah senyumanmu itu sebelum aku merontokkan gigimu itu" Ucap Lucifer agak kesal.
"Cepat katakan apa yang kamu inginkan" Tambah Lucifer.
"Aku ingin meminta pedang Gram dan Excalibur kembali ke tempat berasalnya yaitu di surga" Ucap Rafael dengan serius.
Lucifer kembali mengetatkan rahangnya, ia tidak menyangka Rafael sengaja membantunya karena memiliki niat terselubung yaitu meminta kembali pedangnya.
"Luke" Suara Haniel terdengar tidak setuju dengan ucapan Rafael. Pasalnya Lucifer begitu menyayangi kedua pedang itu, Lucifer merawat dengan baik kedua pedang itu. Hanya itu barang yang di bawa Lucifer dari surga semenjak diturunkan ke bumi. Pedang itu bahkan nyaris berumur sama pemiliknya.
"Haniel ambilkan kedua pedang milikku" Perintah Lucifer pada Haniel dengan wajah datar. Pasalnya dia tidak akan membiarkan makhluk yang pernah sebangsa dengannya menjatuhkan harga dirinya hanya demi sepasang pedang.
Dengan gerakan cepat Haniel menghilang beberapa detik dan kembali dengan dua buah pedang di tangannya. Haniel langsung memberikan pedang itu ke tangan Rafael.
"Semenjak dibumi aku kehilangan bagian lainnya dari pedang Gram. Hingga saat ini aku tidak berniat untuk mencarinya" Tambah Lucifer.
"Baiklah aku akan membawa Excalibur saja, lagi pula Gram tidak sempurna kekuatannya jika tidak terpasang bagian yang hilang" Jawab Rafael sambil tersenyum kala melihat di tangannya terdapat sebuah pedang paling terkenal seantero surga.
"Thanks Luke" Ucap Rafael langsung menghilang begitu saja dari hadapan Lucifer dan ke empat tangan kanannya.
"Istirahatlah Luke. Aku tidak ingin mendengar jika saudaraku sedang tidak baik-baik saja" Ucap Rafael sebelum benar-benar menghilang. Mendengar itu Lucifer mengetatkan rahangnya kesal pada sindiran halus Rafael pedanya.
Haniel kembali menaruh pedang Gram Lucifer di atas nakas. Jika Lucifer sudah bangun pasti akan di simpan oleh dirinya sendiri. Malaikat bisa memanggil inventory nya sendiri ketika membutuhkan.
"Seharusnya kamu meminta pada Rafael untuk menyembuhkan bosku juga" Ucap Zuriel menatap kasihan pada Alya.
Lucifer langsung menepuk jidatnya karena ia lupa kehadiran Alya yang cukup sekarat. Lucifer langsung mendekat kearah Alya, tangannya kembali mengecek detak jantung Alya. Detak jantungnya sudah terdengar seperti manusia normal, hanya saja Alya tertidur dengan pulas. Tidak ada lagi racun Satan yang muncul di balik pembuluh darah Alya.
"Dia selamat akibat ritual terlarang Asklepios. Tampaknya racun Satan benar-benar hilang dari tubuhnya" Ucap Lucifer dan mendapat jawaban anggukan dari kepala Zuriel.
_LUCIFER_-
Sebuah tempat gelap terdapat sebuah bola kristal bening berada di atas meja. Dimana bola kristal itu memiliki sulur cantik berwarna abu-abu dan putih serta hitam saling menari indah di dalamnya. Warna yang begitu kontras dengan ruangan yang tidak memiliki cahaya.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan nyaring membuat seseorang yang berada di samping ruangan itu langsung berlari menuju sumber suara. Walaupun dia baru bangun tidur nyawanya langsung penuh karena ketakutannya selama ini mungkin akan terjadi.
"Shit!!" Teriak seseorang itu ketika melihat kristal kehidupan seseorang yang selama ini sebagai tawannya meledak dan pecah berkeping-keping.
Lelaki itu bergerak mengambil 3 warna sulur kehidupan. Sulur abu-abu itu bergerak seperti cacing yang begitu rekat menyatu dengan sulur putih, bahkan sulur abu-abu itu mulai berubah warna menjadi warna putih juga. Untuk sulur hitamnya benar-benar tidak bergerak sama sekali, menandakan seseorang itu berhasil terlepas dari jeratan yang di buatnya.
"Alya" Panggil seseorang itu dengan nada rendah, matanya begitu menyorot rasa kemarahan yang besar.
"Ada apa A?" Tanya seseorang yang baru saja tiba di depan pintu, tangannya pun masih mengucek matanya karena memang dia baru saja bangun tidur.
"Alya terbebas dari racun yang ku buat" Balas Aaron dengan nada marah.
"Bagaimana bisa?" Tanya Arthur heran.
Arthur sudah mengetahui hubungan antara Aaron dan Alya karena Arthur terus memaksa Aaron untuk menjelaskannya semenjak dirinya di tugaskan untuk mengambil darah Alya waktu di mansion.
"Kita harus bergerak cepat sekarang, dia adalah manusia yang memiliki potensi besar. Apalagi dia keturunanku" Ucap Aaron langsung menghilang begitu saja.
"Hei aku baru saja bangun apakah aku harus menyebrangi benua di tengah malam seperti ini" Protes Arthur jengkel.
-_LUCIFER_-
Smd, 28-7-26
Jun-JunFish
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top