Chapter 16 - Sphinx 2
Jangan lupa mem-vote dan comment setiap chapternya jika kalian menyukai ceritanya. Tengkiu atas supportnya. Ini menjadi chapter panjang. >2300
Hati-hati typo bertebaran dimana-mana!
^_^ Happy Reading ^_^
-_LUCIFER_-
Benar saja setelah teriakan kabur dari Alya, mereka semuanya langsung di kejar oleh lima Anubis. Selama pelarian mereka hanya bisa berlari sekuat tenaga hingga mereka di arahkan kearah lorong yang lebih sempit dari sebelumnya.
"Apa kita harus masuk ke dalam lorong itu?" Tanya Alya panik ketika mereka masih di kejar oleh Anubis.
"Sepertinya bisa" Ucap Baahir sama paniknya dengan Alya.
Mereka berlari dengan sedikit menunduk karena tingginya lorong itu berkisar satu meter.
"Bisakah kalian lebih cepat lagi" Ucap Fobos yang berada paling depan di barisan. Fobos memastikan semua orang masih aman dan belum tertangkap.
"Diujung sana terdapat sebuah lorong menurun, kita harus loncat dan turun dari sini" Ucap Deimos yang berada di belakang barisan.
Tepat saat ucapan Deimos selesai, Fobos yang berada paling depan langsung berhenti ketika di hadapkan sebuah lorong menurun persis ucapan Deimos sebelumnya. Alya dan Baahir sama-sama menatap lorong itu ke bawah di ujung pijakan kaki mereka. Mereka bergidik ngeri karena lorong itu di penuhi dengan cahaya api layaknya neraka dengan ujung lorong berbentuk bulat hitam berukuran kecil.
"Kamu yakin kita akan melompat ke bawah?" Tanya Alya tidak yakin karena dia begitu takut dengan cahaya api itu yang nyala seakan siap membakar siapapun.
"Cepat, kita sudah tidak ada waktu lagi. Anubis itu sudah semakin mendekat" Ucap Baahir memaksa Alya di hadapannya untuk segera terjun.
"Fobos, cmon" pinta Deimos dengan nada memohon pada sahabatnya yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri.
Fobos menghela nafas berat. Walaupun dia adalah dewa, tetap saja dia memiliki ketakutan , wajar karena dia juga makhluk ciptaan Tuhan.
"Cepat Fobos mereka sudah beberapa meter dari kita" Ucap Baahir yang sangat panik.
"Aku tidak ingin pergi melewati lorong neraka ini" Ucap Alya agak ketakutan, pasalnya benar-benar menyeramkan lorong itu.
Fobos langsung menggendong Alya dengan bridal style, dia tidak menginginkan jika Alya akan terluka dan berujung di hukum oleh Ares. Mereka disini untuk melindungi Alya, tapi Alya memaksa mereka untuk ikut di misi pencarian King Abdullah.
Selama penerjunan itu, Alya hanya berteriak dengan seluruh suaranya karena dia harus merasakan jantungnya tidak berada di tempatnya, apalagi di tambah dengan jarak lorong itu ternyata sangatlah panjang.
Setelah sampai di ujung lorong, mereka berempat melihat sekeliling yaitu sebuah ruangan kecil berukuran 4x4 meter dimana terdapat air semata kaki mereka. Kondisi di ruangan ini benar-benar gelap.
"Kita ada dimana ini?" Tanya Baahir sedikit panik. Mereka ber-empat bisa melihat dari kegelapan jadi wajar mereka merasa agak aneh di tempat ini. Bagaimana ada air di tengah gurun pasir seperti ini.
"Ak---"
Belum selesai Alya berbicara, Fobos menyuruh mereka untuk diam. Terdengar suara desisan ular dengan goyangan air terpantul pada dinding di ruangan ini.
Suara gedoran dari ujung lorong atas terdengar dengan suara teriakan beberapa Anubis.
"Kita harus keluar secepatnya dari sini" Ucap Baahir panik.
"Tujuan kita kesini untuk mencari Raja Abdullah. Jika kita keluar, kita akan gagal menyelamatkan Raja Abdullah" Balas Alya sambil melihat ujung lorong diatas mereka. Disana terdapat sebuah pintu tak kasat mata, namun bergetar karena di pukul dengan kekuatan beberapa Anubis. Alya hanya berharap agar mereka tidak nekat terjun dan menemukan mereka.
"Aku sudah tidak perduli dengan Raja Abdullah. Aku lebih sayang pada nyawaku. Aku pikir perjalanan kita tidak semengerikan ini hingga mempertaruhkan nyawa" Ucap Baahir panik ketika melihat Anubis itu satu persatu mulai menuruni 'lorong neraka'.
"Ayo cepat kita cari persembunyian" Ucap Fobos berjalan duluan.
Di sebelah kanan terdapat lorong sempit.
Lagi-lagi suara bisikan itu terdengar di telinga Alya "Kita ke lorong sebelah kanan disana kita bisa bersembunyi"
Alya langsung mendahului yang lain sambil memeriksa dinding di sebelah kanan seperti bisikannya. Benar saja, tangan Alya menemukan lorong yang memiliki diameter satu meter.
"Cepat masuk sini!" Seru Alya pada lainnya. Alya langsung mendorong tubuh ketiga temannya itu. Alya menyuruh mereka tidak mengeluarkan suara dan menahan napasnya.
Seorang Anubis berhasil turun dari lorong neraka dengan gerak cepat mereka mencari Alya dan timnya. Tak lama beberapa Anubis lainnya sudah berada di bawah membuat Alya dan lainnya panik.
Aku akan membantu kalian
Lagi-lagi suara itu kembali terdengar di kepala Alya. Alya sangat ingin menyangkalnya namun suara itu benar membantu mereka, bahkan petunjuk dari suara itu nyata memberitahu jika di sebelah kanan terdapat lorong.
"Dimana mereka?" Tanya salah satu Anubis kepada sosok manusia setengah ular.
Alya terbelalak sejak kapan sosok itu ada disana? Mengapa mereka sebelumnya tidak menyadari keberadaannya?
"Medusa?" Tanya Baahir dengan suara tercekat, nampaknya Baahir juga terkejut.
"Diamlah atau mulutmu itu aku lakban" Balas Fobos agak jengkel. Tanpa persetujuan Baahir, lalu tangan Fobos menunjuk kearah mulut Baahir dan disana mulut Baahir terlakban dengan rapih karena ulahnya.
"Sialan" Ucap Baahir kesal sambil melepaskan lakban di mulutnya.
Semuanya kembali melihat Anubis itu berbicara pada Medusa. Medusa itu menunjuk kearah lorong dimana tempat Alya dan lainnya bersembunyi, Anubis itu langsung berjalan melewati Alya.
Secara naluriah Alya menempelkan tubuhnya di dinginnya dinding lorong, nafasnya begitu tercekat karena melihat jarak dia dengan para Anubis yang mencari mereka begitu dekat. Para Anubis itu berlalu lalang melewati Alya dan tim namun mereka tidak di temukan. Cukup aneh namun setidaknya Alya bersyukur jika mereka menjadi tak terlihat di mata para Anubis.
"Dimana mereka? Kami tidak menemukan mereka!" Raung marah Anubis itu pada Medusa.
Tampaknya Medusa itu mengangkat bahunya tak perduli dengan matanya yang menatap tajam kearah para Anubis.
"Sialan mereka berhasil kabur" Ucap salah satu Anubis itu lalu berlari kearah lorong, melewati Alya dan tim begitu saja lalu diikuti dengan beberapa Anubis lainnya.
Alya langsung menghela nafas lega setelah kepergian para Anubis itu. Diikuti dengan Baahir, Fobos dan Deimos. Lalu mereka langsung berdiri di hadapan Medusa dengan menantang. Baahir membusungkan dadanya seakan dia lebih hebat daripada Medusa.
"Kenapa kamu memberitahu jika kami berada disana?" Tanya Baahir agak mendongakkan kepalanya mencemooh Medusa.
"Aku tidak bisa berbohong pada mereka, jika aku berbohong mereka akan memusnahkanku" Ucap Medusa jujur.
Rasanya ingin sekali Alya mencekik Medusa, tapi untung mereka terlindung dari para Anubis yang mengejar mereka. Setidaknya Alya merasa bersyukur.
"Tanda apa itu?" Tanya Fobos pada Medusa.
Dia menunjuk pada langit-langit tepat diatas Medusa. Disana terdapat simbol x pada simbol matahari dan bulan.
"Seperti yang kalian liat di dalam sini tidak ada cahaya matahari dan bulan bisa masuk ke sini" Jawab Medusa itu diakhiri dengan desisan ular.
Alya ternyata dari tadi hanya terdiam karena melihat sebuah black rose bertaburkan serpihan emas di kelopaknya yang mekar tumbuh tepat disamping Medusa yang sedang berdiri.
Alya perlahan mendekati black rose itu seakan tersihir akan kecantikan bunga itu hingga tangannya ingin menyentuh. Disisi lain Medusa terlihat tersenyum miring penuh kepuasan karena dia akan menjebak satu-satunya manusia disini.
Jangan menyentuh bunga itu!
Suara yang selama ini menggema di kepala Alya seketika berteriak kencang hingga membuat kepala Alya berdenyut. Alya termundur beberapa langkah karena terkejut, Alya kembali mengurungkan niatnya untuk menyentuh bunga itu.
Bunga itu sangat beracun untuk siapapun yang menyentuhnya!
Suara teriakan itu lagi membuat Alya langsung terdiam. Baahir menyadari keanehan Alya dan berkata "Ada apa Al?"
"Kamu memang sengaja menciptakan bunga ini karena kamu ingin meracuni setiap orang yang ingin menyentuhnya." Tuduh Alya pada Medusa.
Medusa itu tertawa congkak begitu memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
"Tentu saja karena biasanya para manusia kemari untuk mencari harta milikku" Ucap Medusa dengan sebongkah emas batangan di tangannya.
"Kamu mau? Jika kamu menginginkan ini aku akan memberikannya padamu" Tambah Medusa itu dengan mengulurkan emas batangan di tangannya pada Alya.
"Di belakangmu itu ada siapa? Dia memegang senjata yang diarahkan pada lehermu" Tanya Fobos agak hati-hati karena ini pasti sensitif bagi Medusa.
"Tidak di ragukan lagi kemampuan Dewamu itu" Ucap Medusa masih dengan suara desisan ular.
Alya berkonsentrasi mencoba merasakan sesuatu yang di ucapkan Fobos sebelumnya. Alya mencari tahu siapa yang berada di belakang Medusa. Insting Alya langsung menyuruhnya untuk membunuh sosok di belakang Medusa.
Dia langsung merentangkan tangannya kearah sosok itu secara bersamaan sebuah jarum es membunuh sosok itu. Pada saat yang sama kepala Medusa itu menggelinding di dekat kaki Alya. Tidak ada darah merah melainkan cairan berwarna hitam langsung mengucur dari kepala Medusa yang sudah terpisah dari tubuhnya.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu hanya terbengong, kejadiannya begitu cepat. Ternyata Medusa berhasil dibunuh oleh sosok di belakangnya di saat bersamaan Alya berhasil membunuh sosok di belakang Medusa itu. Fobos dan Deimos langsung mengecek 2 sosok yang sudah tak bernyawa sedangkan Baahir masih terbengong karena ia tak percaya jika Alya bisa mengeluarkan kekuatan, padahal dia pikir Alya hanya manusia biasa.
Fobos mengecek sosok di belakang Medusa yang sudah meninggal akibat serangan jarum es mengenai di tubuh bagian depan. "Dia adalah iblis" Fobos kembali bangkit setelah mengecek kematian sosok itu. Tangannya mengambil salah satu jarum es dan di berikan kepada Daimos. Deimos hanya menampilkan wajah datar seakan menyembunyikan ekspesi terkejutnya.
"Iblis?" Tanya Baahir dengan sisa kesadarannya setelah mengalami shock.
"Al?" Tanya Fobos sambil menggoyangkan tubuh Alya. Ternyata bukan Baahir saja yang shock ternyata Alya juga kaget karena dirinya memiliki kemampuan yang tak pernah di bayangkan.
"Aku telah membunuh orang" Ucap Alya dengan nada ketakutan. Tubuhnya bergetar ketakutan bahkan dia sudah mundur beberapa langkah dari tempat sebelumnya. Matanya sudah berlinang air mata.
Fobos langsung memeluk Alya. "Tenanglah. Kamu sangat benar untuk membunuhnya karena dia seorang iblis yang banyak memanipulasi manusia melalui Medusa. Medusa itu adalah bonekanya" Tangan Fobos menepuk pelan punggung Alya di pelukannya.
Alya menatap kepala Medusa yang masih bergerak-gerak di lantai, air yang awalnya berwarna bening berubah menjadi kehitaman karena kontaminasi dari darah Medusa. Matanya terbelalak menatap tajam Alya, seakan tidak terima dengan kematiannya. Lidahnya yang panjang menjulur keluar bersamaan dengan goyangan pada ular-ular kecil di rambutnya membuatnya semakin terlihat menyeramkan.
"Sebaiknya kita keluar sekarang. Aku tidak sanggup lagi mencari keberadaan Raja Abdullah" Ucap Baahir menyuruh yang lainnya agar segera keluar dari tempat ini yang penuh dengan manipulasi para Iblis dan Anubis.
"Kita tidak bisa kembali keatas lagi" Sanggah Deimos putus asa.
Fobos masih memeluk Alya namun matanya mengernyit saat terdapat gambar matahari di atas sisi kanan mereka.
Alya mengetahui jika dirinya begitu spesial, seharusnya dia menerima takdir yang terjadi di hidupnya. Memang semenjak kehadiran grim reaper dan Lucifer, ia menyadari hidupnya tidak akan sama lagi seperti sebelumnya.
Daripada harus bersedih tanpa akhir, lebih baik dia memikirkan bagaimana caranya bisa keluar hidup-hidup dari sini. Itu yang terpenting saat ini.
Keluarlah dengan memecahkan langit-langit tepat diatas gambar matahari dengan sesuatu yang keras.
Bisikan itu terdengar kembali membuat Alya memberi tahu timnya "Kita harus memecahkan dengan sesuatu yang keras pada gambar matahari"
"Gambar matahari itu yang kamu maksud?" Tanya Fobos meleraikan pelukannya dan menunjuk lokasi gambar matahari tepat diatas mereka.
Alya menatap gambar yang di maksud Fobos dan mengangguk membenarkan.
"Bagaimana kita memecahkannya? Sedangkan disini tidak ada benda berat untuk di lemparkan kesana" Balas Deimos bingung.
Alya harus kuat, kini mereka harus bekerjasama agar keluar dari sini. Alya langsung menghapus air mata yang sudah berhasil keluar dari pelupuk matanya.
Alya langsung berjalan mendekat kearah kepala Medusa. Dengan segala keberaniannya, Alya mengambil kepala itu dan melemparkan dengan kuat kepalanya kearah gambar matahari.
Percobaan pertama gagal.
"Ayo coba sekali lagi Al. Retakannya mulai terlihat" Seru Baahir kembali menyemangati Alya.
"Sepertinya caramu kali ini akan berhasil Al" Tambah Fobos bangga pada Alya.
Alya kembali melemparkan kepala Medusa di tempat sebelumnya hingga retaknya semakin membesar.
"Sedikit lagi Al" Ucap Deimos membuat Alya mengeluh.
"Seharusnya kalian yang melakukan ini karena kekuatan kalian jauh lebih besar daripada aku. Lihatlah aku belum bisa menghancurkannya 2 kali percobaan" Omel Alya namun tangannya kembali melempar kepala Medusa.
Lemparan terakhir Alya berhasil membuat lubang besar di langit-langit sehingga memperlihatkan cahaya matahari dari sana.
"Kita berhasil!!" Seru Alya senang, spontan dia langsung memeluk Baahir, Fobos dan Deimos.
Baahir membalasnya dengan senang sedangkan Fobos dan Deimos hanya terdiam.
"Sebaiknya kita pergi sekarang dari pada harus tertangkap oleh Anubis" Ucap Deimos membuat Alya dan Baahir berhenti bersenang-senang.
"Ayo kita pergi" Ucap Fobos sambil menggandeng tangan Alya.
Semuanya terbang keluar melalui celah itu. Mereka berhasil kembali depan Sphinx tempat dimana awalnya mereka tiba disini.
"Akhirnya aku senang bisa kembali melihat matahari lagi" Ucap Baahir agak tenang.
"Ternyata bisa melihat matahari adalah suatu yang harus di syukuri" Jawab Alya pendek.
"Di dalam benar-benar banyak manipulasi dan sangat gelap. Untung saja kita ini bukan manusia jadi kita bisa melihat di dalam keadaan gelap" Tambah Baahir lagi.
"Aku masih manusia Baahir" Balas Alya malas sambil memutarkan matanya.
"Kamu memang manusia, tapi memiliki anugerah lebih dari manusia lainnya" Balas Fobos sambil menatap Sphinx megah di depannya.
Ternyata perjalanan kali ini cukup menguras energi dan melelahkan. Padahal baru beberapa jam saja di dalam Sphinx rasanya bertahun-tahun tidak melihat matahari.
Alya terdiam kala tak jauh dari mereka berdiri terdapat Azmael. Azmael adalah malaikat pencabut nyawa berwarna putih pertama kali berbicara pada Alya.
"Azm-" Belum selesai Alya memanggil namanya. Bibir Alya terasa kram seakan tidak boleh mengatakan namanya.
"Jangan panggil namaku" Perintah Azmael pada Alya. Alya mengangguk paham.
"Jadi kamu yang membantu kami selama perjalanan kami?" Tanya Alya. Baahir, Fobos dan Deimos mengernyit kebingungan karena Alya berbicara sendiri.
Alya yang menangkap raut wajah yang lainnya hanya bingung.
Alya menunjuk kearah Azmael. "Kalian tidak bisa melihat dia?" Tanya Alya dengan heran.
"Kami tidak melihat siapapun Al" Ucap Fobos.
Baahir maju dan ketempat yang Alya tunjuk. Dalam pandangan Alya tubuh Baahir berhasil menembus tubuh Azmael. Alya hanya mengernyit pada Azmael tapi yang di dapatkan hanya senyuman tipis.
"Baiklah aku akan memberitahu kalian, jika perjalanan kita di Sphinx sedikit banyaknya di bantu oleh temanku. Dia adalah seorang grim reaper, Aku hanya sedikit bingung mengapa kalian tidak bisa melihat temanku yang berdiri disana" Alya kembali menunjuk Azmael yang berdiri tak jauh darinya.
"Grim reaper katamu?" Tanya Baahir agak sedikit bergidik ngeri.
"Jadi kamu bisa melihat grim reaper. Bahkan kami saja tidak bisa melihat mereka" Jawab Fobos sama bingungnya.
"Beritahu kepada teman-temanmu jika waktunya tepat, aku akan membantu kalian untuk menemukan Raja Abdullah di Piramida Giza." Ucap Azmael. Alya pun meneruskan omongan Azmael pada yang lainnya membuat Baahir mengangguk paham.
"Tenang, kita akan menyelamatkan Raja Abdullah ketika waktu yang di perbolehkan oleh Tuhan. Saat ini bukan yang tepat, kita tidak berada di bawah perlindungan Tuhan" Fobos menepuk pundak Baahir tanda prihatin namun juga berusaha menguatkan.
"Tentu saja. Aku belum siap di terkam oleh Anubis karena mencari Raja Abdullah" Ucap Baahir bergidik ngeri membayangkan jika dirinya mati di koyak oleh para Anubis.
"Salah kita juga, kita tidak berdoa untuk kelancaran perjalanan kita hari ini" Ucap Alya membuat yang lainnya terdiam. Itu adalah hal paling krusial bagi mereka sebagai ciptaan Tuhan.
-_LUCIFER_-
Smd, 15-6-26
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top