Chapter 14 - Sphinx 1

Jangan lupa mem-vote dan comment setiap chapternya jika kalian menyukai ceritanya. Tengkiu atas supportnya.

Hati-hati typo bertebaran dimana-mana!

^_^ Happy Reading ^_^

-_LUCIFER_-

Malam ini Alya tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjukkan jam 2 malam. Dia sudah berjanji pada Baahir besok untuk menemaninya ke Giza, Mesir. Ia memutuskan membawa ramuan yang di berikan Asklepios besok untuk berjaga-jaga saja. Tak lupa dia membawa obat-obatan, air putih dan beberapa jarum suntik. Tangan nya mengambil kembali buku yang di berikan Corson yang diambil dari perpustakaan pribadi milik Lucifer. Corson menaruhnya di atas nakas samping tempat tidurnya.

Buku coklat tua itu begitu usam. Alya membawa buku itu ke balkon kamarnya yang terletak di lantai 2. Alya mengambil tempat di sebuah kursi santai, disana terdapat Fobos dan Deimos yang menjaga Alya sedang berdiri mengamati setiap gerik Alya.

Alya membuka buku tua itu terdapat sebuah tulisan dengan aksara bahasa yang tidak pernah ada di dunia ini. Tulisannya sangat cantik dengan liukan per huruf yang sangat presisi. Tinta hitamnya pun mulai memudar tapi Alya bisa melihat jelas tulisannya. Semua terasa percuma jika Alya tidak bisa membaca buku ini.

Alya mencoba merasakan energi dari buku ini. Dia pun menutup matanya dengan tangan menyentuh lembut permukaan bukunya.

Sebuah lelaki tampan bertubuh tinggi yang menggunakan pakaian putih bersih dan bersinar. Terlihat lelaki itu sedang menulis di sebuah buku dengan pena yang terbuat dari bulu hewan berwarna putih. Disampingnya terdapat dua orang pengawal yang selalu berada di sisinya. Lelaki itu tampak serius menuliskan setiap guratan pada lembar di buku itu. Alya menunggu sekitar 5 menit hanya menatap apa yang di kerjakan oleh lelaki itu hingga di akhiri dengan menutup buku tersebut.

Buku itu memiliki sampul buku yang sangat mirip dengan buku yang di pegang oleh Alya. Namun kali ini bedanya buku itu terlihat baru dan masih banyak lembar kosong yang belum tertulis. Cover buku itu memiliki ciri khas yaitu bergambar kubah besar berwarna emas dan di tengahnya terdapat judul buku yang tentunya Alya tidak mengerti dari bahasanya.

Tangan Alya terasa tersengat aliran listrik dengan volt kecil, membuat Alya kembali ke dalam dunia nyatanya dimana dia berada di balkon mansionnya bersama Fobos dan Deimos.

"Apa itu tadi? Apakah lelaki itu pemilik buku ini? Bukankah Lucifer pemilik buku ini?" Bisik Alya pada diri sendiri dengan tanda tanya besar. Penglihatan apa yang di terimanya tadi. Lalu Alya menganggap penglihatan yang baru di berikan padanya sebagai angin lalu saja.

"Apakah kalian pernah melihat buku ini?" Ucap Alya sambil menunjukkan buku itu di tangannya.

Keduanya kompak menggeleng. Alya menghela nafasnya. Jika saja Zuriel yang berada disini, sudah di pastikan Zuriel akan dengan senang hati menerjemahkannya untuk Alya.

"Apakah kalian pernah mengetahui bahasa Enochian?" Tanya Alya pada Fobos dan Deimos.

Lagi-lagi keduanya kompak menggelengkan kepalanya. Mereka ini bener-bener misterius hingga tidak ingin berbicara pada Alya.

"Aku akan mengganti pertanyaanku. Apakah kalian sudah lama bersama Ares?" Tanya Alya yang di jawab anggukan kepala mereka secara kompak.

"Hah sepertinya lebih baik aku tidur daripada harus berbicara dengan dewa bisu seperti kalian" Alya langsung kembali masuk ke dalam kamarnya, tak lupa juga dia menutup agar dua dewa di balkon tidak bisa melihatnya.

Keesokan harinya pas jam 8 pagi setelah Alya sarapan, Baahir sudah berada di halaman mansion Alya masih membawa Petranodon nya.

"Hai Baahir" Sapa Alya pada Baahir yang sudah berada di samping peliharaannya.

"Hai Al apakah kamu siap?" Tanya Baahir pada Alya tampak cantik dengan sweater kuning bergambar bunga dan celana jeans nya.

"Tentu. Tapi Baahir aku membawa temanku" Ucap Alya agak tidak enak. Fobos dan Deimos baru turun dari tangga halaman mansion dan mendekat kearah keduanya.

"Kalian bukan manusia, jin, iblis atau malaikat" Baahir mengendus-enduskan hidungnya kepada dua dewa di hadapannya.

"Mereka dewa" Ucap Alya membuat mata Baahir terbelalak.

"Aku tau mereka cuman ada di mitos Yunani, tapi nyatanya mereka memang ada di dunia ini. Tinggalnya pun tidak di bumi" ucap Alya mendapatkan deheman dari Fobos.

"Tepatnya mengambang diatas bumi" Ucap Alya menunjuk langit, membenarkan perkataannya sesuai fakta dimana Olympus berada.

Fobos dan Deimos setuju dengan ucapan Alya.

"Mereka harus ikut bersamaku, karena mereka di tugaskan untuk menjagaku" Ucap Alya tidak enak hati pada Baahir.

Tanpa mengucap apapun Baahir langsung bersiul keras dan tak lama kemudian seekor Petranodon lain turun dan berdiri di hadapan Alya.

"Bisakah kalian mengendarainya?" Tanya Baahir agak ragu jika kedua dewa itu tidak bisa membuat peliharaannya itu nyaman.

Fobos mendekat ke arah petranodon, kedua tangannya terangkat mengelus kepala hewan itu. Tampaknya petranodon itu menikmati setiap sentuhan yang di berikan Fobos. Tampaknya petranodon itu tidak menolak keberadaan Fobos dan Deimos.

"Ayo kita pergi sekarang" Ucap Baahir sambil membantu Alya menaiki petraanodon.

Dengan gerakan cepat Alya kembali duduk di posisi belakang Baahir, untuk Fobos dan Deimos kini sudah berada di atas petranodon lain.

"Kalian yakin bisa mengendarainya?" Ucap Alya ragu dengan dua orang dewa itu. Pasalnya dia sangat yakin jika di Olympus tidak ada hewan seperti ini untuk di kendarainya.

Keduanya mengangguk menyatakan jika mereka bisa dan Alya diharapkan tidak terlalu menghawatirkan mereka.

"Percayalah padaku. Mereka bisa menggunakannya dan petranodon ku tampaknya juga menyukai mereka" Ucap Baahir langsung menepuk dua kali leher petranodon yang di kendarainya. Hingga burung itu terbang dengan kecepatan sedang sedangkan Fobos dan Deimos mengikuti di belakangnya.

Alya sangat menyukai perjalanan mereka karena dari atas Alya bisa melihat seluruh kota terumasuk gedung-gedung pencakar langit bahkan gurun pasir membentang di memenuhi pandangannya.

"Kamu menyukainya?" Tanya Baahir menoleh pada Alya di belakangnya.

"Tentu saja. Pengalaman ini tidak mungkin aku lupakan" Balas Alya semangat.

"Pegangan yang kuat, perjalanan kita masih jauh" Ucap Baahir meningkatkan kecepatan terbang petranodon-nya.

Setelah terbang selama satu jam, akhirnya mereka sampai juga di hadapan Sphinx. Alya langsung turun mengikuti Baahir yang sudah turun dari petranodon duluan. Di sampingnya Fobos dan Deimos juga baru saja turun dari petranodon-nya.

"Bukankah kita seharusnya langsung ke piramida saja?" Tanya Alya menatap Baahir si sampingnya.

"Kita tidak bisa masuk ke piramida karena jalan menuju piramida itu melalui Sphinx ini" Bahir menunjuk ke arah keagungan patung besar berkepala manusia, berbadan singa dan bersayap elang. Ukuran sangat-sangat besar Alya yang ingin melihatnya sampai terdangak menatap bangunan prasejarah ini.

"Jadi kemana kita pergi?" Tanya Alya.

"Sepertinya kita harus melalui mulutnya" Baahir berkacak pinggang sambil melihat Sphinx.

"Aku akan menekankan pada kalian agar jangan menyentuh sembarangan apapun jika berada di dalam. Karena di dalam banyak terdapat tipu muslihat para iblis untuk menyesatkan kita. Tolong berhati-hatilah" Baahir memperingatkan Alya, Fobos dan Deimos.

Ketiganya mengangguk kompak.

"Ayo kita pergi" Ucap Baahir yang sudah melayang di udara.

"Baahir?" Panggil Alya ragu. Bahir yang sudah terbang beberapa meter dari Alya langsung berhenti.

"Ada apa Al?" Tanya Baahir heran.

"Aku tidak bisa terbang" Ucap Alya agak bingung.

"Kamu itu bisa terbang Alya, hanya saja kamu tidak tau cara mengaktifkannya saja." Baahir kembali berdiri di hadapan Alya.

Baahir langsung memegang tangan Alya dan terbang menuju mulut Sphinx diikuti Fobos dan Deimos di belakangnya.

Sesampai di dalam mulut Sphinx, disana terdapat sebuah lorong besar bergambarkan banyak simbol. Terdapat gambar lalat, ular, kalajengking bahkan gambar kucing yang menyamping seperti pada artefak-artefak kuno milik mesir. Gambar itu semuanya memenuhi dinding seluruh lorong.

Baahir perlahan mulai berjalan masuk ke dalam lorong lebih jauh lagi, tanpa babibu Alya juga mengikuti jejak Baahir. Mereka sampai tepat di meja yang diatasnya terdapat dua buku merah. Buku satunya terbuka dan buku lainnya tertutup.

"Aku agak janggal, seharusnya disini terdapat para penjaga untuk menjaga pintu ini" Baahir menunjuk kearah pintu di seberang mereka. Meja itu sebagai pemisah mereka dan pintunya. Pintu kayu berwarna kecoklatan tua.

"Selamat datang" Ucap seseorang yang baru saja tiba di hadapan Baahir, Alya, Fobos dan Deimos.

Sosok ini bukan arwah bukan pula jin, cukup aneh. Jenis apa dia ini?

"Silahkan catat nama kalian di buku itu" Ucap sosok itu pada mereka. Wujud dari sosok itu berbentuk lelaki berwarna hitam legam seperti asap hitam.

Alya kembali memfokuskan energinya untuk mendapatkan nama dari sosok itu.

Goliath. Buku itu buku untuk perjanjian darah pada iblis.

Alya tiba-tiba mendengarkan suara bisikan dari telinganya.

"Terimakasih Goliath. Kami tidak akan menulis nama kami di dalam buku itu. Orang yang menulis namanya di dalam buku itu akan melakukan perjanjian darah dengan iblis" Ucap Alya ingin memvalidasi suara bisikan padanya.

Tampaknya Goliath melebarkan matanya, seakan terkejut apa yang diucapkan Alya.

"Albert, George, Henry. Nama mereka tertulis disini berarti mereka melakukan perjanjian darah dengan iblis di sini" Tambah Alya lagi. Membuat Goliath tercengang, faktanya perempuan manusia di hadapannya lebih mengetahui di bandingkan jin dan dewa di sebelahnya.

Jangan membaca semua nama-nama orang yang dibuku itu. Aku takut kamu akan tersambung dengan jiwa-jiwa rusak itu.

Bisikan itu kembali terdengar membuat Alya tidak lanjutkan membaca semua nama yang terdapat di buku itu. Alya hanya bisa mengikuti perintah suara yang berbisik, karena menurut Alya suara itu memberitahunya apa yang tidak diketahui oleh Baahir, Fobos dan Deimos.

Tiba-tiba suara congkak dari sosok lelaki itu terdengar di seluruh penjuru.

"Kamu manusia yang cukup spesial ya nona" Ucap Goliath itu masih dengan tawanya.

"Apa yang kamu inginkan, nona? Minta kekayaan, kecantikan atau awet muda? Aku bisa mengabulkannya dengan syarat kamu harus menuliskan namamu dengan darah di buku itu" ucap Goliath sambil menunjuk buku yang terdapat banyak nama-nama manusia.

"Kamu pikir aku bodoh, menuruti keinginanmu?" ucap Alya kesal. Goliath paling tau jika Alya adalah manusia dan paling lemah diantara jin dan dewa di sekelilingnya.

Tubuh Alya langsung terseret ke arah Goliath yang tersenyum lebar. Tangannya terbuka karena ingin mengambil jiwa Alya. Dengan senang hati Goliath mengumpulkan jiwa Alya bersama jiwa-jiwa rusak karena perjanjian darah dengan iblis.

Fobos langsung melemparkan sebuah kelereng tepat mengenai jidat Goliath yang bersimbol kalajengking. Seketika itu Goliath seperti merasa tersihir dengan keadaan mata kosong dan mulut yang menganga. Deimos langsung mengehentakkan lantai dengan kakinya membuat Goliath terjatuh di lantai dengan keadaan mata melotot.

Seketika pula tubuh Alya yang sudah hampir mendekati Goliath terjatuh tepat di  atas Goliath.

Alya langsung spontan bergidik jijik karena menyentuh Goliath. "Apa yang kalian lakukan" Alya cukup kesal sambil menjauhi Goliath.

"Tentu saja menolongmu" Ucap Fobos agak jengkel.

"Ternyata kalian bisa berbicara juga? Aku kira kalian bisu" sindir Alya kesal.

"Aku benar-benar benci keturunan Satan ini" ucap Deimos melengos pergi ke dalam lorong lebih dalam lagi. Tentu saja itu tak bisa di dengar oleh Alya, yang hanya bisa mendengarnya hanya Fobos.

Alya dan Baahir langsung mengikuti langkah Fobos dan Deimos yang sudah membuka pintu itu. Yang pertama terlihat di pandangan Alya adalah ballroom besar berwarna merah dan hitam, di temani dengan sebuah chandelier cantik dan sangat besar. Disana terdapat ratusan jiwa yang tampak diam dengan tatapan kosong.

Sesosok manusia berkepala serigala dengan hiasan kepala seperti emas begitu mewah, sorot matanya tajam menatap kedatangan orang lain selain orang yang diundang.

"Kalian siapa? Apakah kalian terundang untuk kemari?" Tanya Anubis itu dengan suara menyeramkan.

"Tentu saja tidak. Siapa juga yang ingin melakukan perjanjian darah pada iblis" Ucap Baahir berani membuat Alya bertepuk tangan atas keberanian Baahir.

"Jadi apa maksud kalian untuk kemari?" Ucap Anubis itu.

"Hanya berjalan-jalan saja mungkin? Ingin mengetahui sejarah tempat megah ini di zaman dulu" Ucap Alya sambil berbohong.

"Mereka hanya ingin berjalan-jalan disini" Ucap Goliath pada Anubis itu.

"Disini bukan tempat pariwisata, tapi jika kalian tetap ingin melihat silahkan" Ucap Anubis itu menyingikir dan memberikan jalan untuk ke empat orang itu agar mereka memasuki jalan ke daerah sayap kanan.

"Apa kita bisa membantu melepaskan jiwa-jiwa itu?" Bisaik Alya pada para lelaki di sebelahnya.

"Sepertinya kita tak perlu mengutak-atik jiwanya. Aku takut ini semua hanya manipulasi" Balas Baahir.

"Kita tidak bisa membantu mereka karena dengan kesadaran mereka sendiri untuk melakukan perjanjian pada iblis" Ucap Fobos.

Membuat Alya lagi-lagi menghelas nafas karena tidak bisa berbuat apapun untuk para jiwa yang terkungkung disini.

Mereka saat ini telah sampai di sebuah tempat dimana terdapat sebuah hutan hijau rimbun dengan air mancur dari seberangnya. Serta banyak kupu-kupu dan hewan kecil beterbangan turut meramaikan tempat ini. Ikan kecil di tepi air danau terlihat jelas karena air nya begitu jernih.

"Ini yang di sebut dengan surganya dunia?" Tanya Baahir sambil menatap keindahan di hadapannya.

"Ini sangat indah sekali" Ucap Alya tanpa berkedip.

"Kalian sehat?" punggung tangan Fobos langsung menempel pada kening Alya.

"Aku hanya melihat kegelapan di dalam lorong ini" Balas Deimos.

Alya baru menyadari apa yang di katanya Deimos.

"Apa katamu?" Tanya Alya agak terkejut.

"Deimos hanya mengatakan jika kita berada di sebuah lorong gelap. Bukan seperti apa yang kalian katakan" Kali ini Fobos yang menjawab pertanyaan Alya.

Deimos langsung mengeluarkan sebuah pedang dari balik pakaiannya, pedang itu langsung di tancapkan ke tanah membuat seketika pemandangan yang di lihat Alya dan Baahir sebelumnya menghilang di gantikan oleh gelapnya sebuah lorong tanpa pencahayaan.

"Ini manipulatif iblis" Bisik Baahir pada Alya.

Sebuah suara tepuk tangan menggema di lorong ini. Tampak Anubis itu bertepuk tangan di mulut lorong di mana Goliath berada di belakangnya.

"Aku tak menyaka ternyata Dewa tidak merasakan manipulatif yang ku buat" Ucap Anubis itu tersenyum kejam.

"Kejar mereka!!!" Ucap Anubis itu lalu beberapa anak buah Anubis itu mengejar Alya, Baahir, Fobos dan Deimos.

"Kaburrrrrr" Teriak Alya menyuruh ketiga lelaki itu kabur juga.

-_LUCIFER_-

Smd, 15-6-26

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top