Prolog

Yuhuuuu cerita political romance versiku hadir💖💖💖💖💖

Romansa kinyis-kinyis dibalut politik dikit😚

Untuk memulai part ini, lagunya dimulai dengan yang manis dari Mhir - Someone I'll Wait🫶🏻

Di antara banyaknya jendela yang bisa dipandang dari rumah utama bertingkat dua, ada satu jendela yang paling Pramana hafal. Jendela kamar istrinya. Biasanya jam tujuh malam seperti ini istrinya sedang pergi dan kamar dibiarkan gelap bersama gorden yang tidak ditutup. Entah sengaja atau tidak, istrinya tidak pernah meminta mbak di rumah untuk menyalakan lampu dan menutup tirai selagi pergi. Hari ini pun tetap sama.

Mobil yang ditumpangi Pramana berhenti di depan rumah tamu. Bangunan terpisah dari rumah utama khusus untuk para tamu yang datang. Pramana tidur di bangunan ini, terpisah dari istrinya. Keputusan ini bukan diambil sepihak melainkan melalui negosiasi panjang dengan Gendis, istrinya.

"Istri saya udah pergi, Mbak?" Pramana bertanya kepada seorang pekerja di rumah, Mbak Iyem, yang bertugas menyiapkan makanan untuknya di rumah tamu ini.

"Ibu belum pergi, Pak. Kata Yuyun, Ibu belum kelihatan turun sama sekali. Mau diketuk pintunya cuma Yuyun takut, Pak, soalnya waktu itu pernah dimarahi ganggu Ibu lagi buat cangkir," jelas Mbak Iyem.

"Belum turun? Coba saya periksa." Pramana menyerahkan tas kerja dan jas yang dipakai kepada Mbak Iyem. "Tolong taruh di kamar saya ya, Mbak. Terima kasih."

"Baik, Pak."

Pramana mengunjungi rumah utama. Sebenarnya sudah ada kesepakatan untuk tidak mendatangi bangunan masing-masing. Namun, Pramana ingin tahu mengapa istrinya tidak turun dari kamar. Biasanya juga sudah pergi wara-wiri dari satu apartemen temannya ke tempat lain.

Setelah beberapa menit akhirnya Pramana tiba di depan kamar istrinya. Mengetuk pintu berulang kali sambil permisi, dia tidak mendengar jawaban dari dalam. Dengan terpaksa Pramana membuka pintu, yang untungnya tidak terkunci. Dia pun masuk ke dalam menyaksikan seluruh kamar gelap gulita hanya ada sedikit cahaya dari kaca jendela yang tidak tertutup gorden.

"Gendis?" panggilnya pelan.

Menyalakan lampu kamar, Pramana melihat Gendis tidur di atas ranjangnya. Namun, kening istrinya penuh dengan peluh. Pramana mencoba mendekati dan duduk di pinggir ranjang. Meletakkan tangan di atas kening sang istri, betapa terkejutnya suhu tubuh Gendis sangat panas seperti terbakar.

"Gendis? Kamu bisa dengar saya?" panggil Pramana sekali lagi. Istrinya tidak menyahuti, hanya bergumam samar dan keningnya berkerut.

Tanpa pikir panjang Pramana segera menarik selimut yang istrinya pakai dan menggendong tubuh dengan erat. Pramana membawa Gendis keluar kamar sampai berhasil mencapai lantai bawah.

"Pak Tama, kita pergi ke rumah sakit sekarang," ucap Pramana kepada sopir pribadinya yang masih berdiri di samping mobil.

"Baik, Pak."

Setelah pintu mobil dibuka, Pramana mendudukkan Gendis. Berikutnya, dia menyusul dengan duduk di samping istrinya dan menarik Gendis lebih erat.

Gendis ini selalu kebiasaan. Apa-apa sendirian. Pramana mengusap kening istrinya guna menghapus peluh yang masih tersisa di kening sang istri.

"Kamu ini kebiasaan. Kenapa nggak telepon saya kalau kamu sakit?" Pramana hanya bisa bermonolog sendiri sambil menatap istrinya yang memejamkan mata dengan wajah pucat pasi.

❣️

Ketika kelopak mata terbuka, yang pertama kali Gendis lihat adalah ruang sedikit gelap. Meski begitu masih ada lampu dari samping yang menyinari sehingga tidak sampai gelap gulita. Aroma asing merasuk indera penciuman. Bukan wangi stroberi atau mawar yang selalu menghiasi kamarnya. Gendis menoleh ke samping kanan. Pandangannya tertuju pada sosok yang tertidur di atas sofa, suaminya.

Ingin memanggil, Gendis menatap tangan kirinya yang diinfus. Ternyata aroma asing ini adalah rumah sakit. Pantas semua serba putih. Kamarnya serba hijau mint, tidak ada putih-putihnya.

Pandangan Gendis beralih ke samping kiri pada tirai yang tertutup rapat. Entah sudah pukul berapa, Gendis tidak tahu mengapa dia terbaring di sini. Suaminya juga tidur menemaninya di kamar ini. 

"Mas?" panggilnya pelan.

Satu panggilan saja berhasil membangunkan laki-laki itu dari tidurnya. Laki-laki bertubuh tinggi itu mendekat dan menatap khawatir.

"Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Pramana.

"Nggak. Kenapa Mas tidur di situ?"

"Memangnya harus di mana? Di ranjang ini? Nanti kamu kesempitan."

"Bukan. Kenapa nggak pulang?"

"Kenapa saya harus pulang kalau istri saya lagi terbaring sakit? Saya nggak masalah menemani kamu di sini." Pramana mendaratkan punggung tangannya di kening Gendis, masih menatap khawatir. "Kalau kamu sakit, harusnya kamu bilang sama saya. Jangan diam aja di kamar."

Gendis tidak menjawab. Matanya mengerjap lemah berulang kali. Mana mungkin dia bersandar sama laki-laki itu? Mereka menikah cuma untuk saling menguntungkan diri masing-masing. Kalau Gendis harus mengadu sedang sakit, maka dia hanya akan mengadu pada dirinya sendiri.

"Nggak mau," ceplosnya terang-terangan.

"Kenapa? Karena saya terlalu sibuk untuk memperhatikan kamu?"

"Bukan. Karena saya nggak mau bersandar sama orang asing," jujur Gendis.

"Orang asing?" Pramana mengusap pipi istrinya, tersenyum kecil. "Apa orang asing diperbolehkan sentuh-sentuh pipi kamu?"

Gendis menyingkirkan tangan suaminya, spontan mengerucutkan bibir dan berbalik badan. "Nggak boleh. Mas juga nggak boleh. Saya mau tidur lagi."

Pramana mengusap kepala Gendis dengan pelan sebelum kembali ke tempat semula. Sementara itu, Gendis sempat menoleh ke belakang sebentar ketika suaminya kembali menuju sofa.

Apa-apaan bapak tua itu? Sesuai negosiasi yang ada, seharusnya tidak saling mempedulikan diri masing-masing. Ugh! Gendis tidak suka bapak tua itu. Terlalu soft spoken untuknya yang haus misuh-misuh. Gendis akan mengingatkan lagi esok batas-batas negosiasi mereka sebelum menikah.

❣️

Jangan lupa tinggalin jejak komen gaes😗😗😗

Gimana nih prolognya? Memang agak beda sih ya, lebih soft HAHAHAHAHA

Btw, ini adalah cerita kolaborasiku bersama @azizahazeha jangan lupa baca cerita kakaknya Gendis juga yaw judulnya Love, Strategized🥰🥰🥰


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top