One
Rasanya tak ada sesuatu hal yang bisa membuatku sedih dan terluka. Hatiku telah di penuhinya dengan taman bunga yang indah. Surga Cintanya. Bahkan, Saat mataku ini tertutup yang bisa kulihat hanya kebahagiaan yang diberikannya. Kekasih hatiku, belahan jiwaku. Dan, pada satu saat hati bertanya, Siapakah yang bisa membuatku sedih dan terluka? Dengan keyakinan besar, dia yang memberi kebahagiaan, dia pula'lah yang akan memberiku kesedihan dan luka yang tidak terperi. Menghancurkan apa yang telah dia tanam dalam hatiku.
***
Tetapi kita tak pernah tahu kapan badai besar atau kecil akan datang pada sebuah mahligai cinta yang terbina. Dia adalah sesuatu rahasia yang akan dengan mudahnya memporak-porandakkan perasaan dan merusak kepercayaan dan melenyapkan sebuah ikatan. Mungkin saja tidak seperti angin tornado yang langsung datang dan menghancurkan semuanya dalam sekejap, tapi angin kecil yang datang terus meneruslah yang paling berbahaya, sekiranya tidak akan berdampak besar nyatanya lebih menghancurkan tubuh langsung dari dalam. Sekiranya angin lebih dulu membawa awan mendung yang menutupi sinar mentari, tiupan angin dinginnya yang menusuk tulang, membekukan aliran darah hingga jantung, nyeri disekujur tubuh menyiksa secara perlahan-lahan hingga mati inilah yang paling menyakitkan karena tak terduga.
❇❇❇❇
Jaejoong baru saja turun dari tangga, mata bulatnya melihat sepasang suami istri yang tengah duduk di ruang tamu miliknya, Jung Kangta dan Kwon/Jung Boa. Kangta adalah Hyung kandung Jung Yunho. Pasangan hidup miliknya, Yunho sendiri sudah duduk di depan mereka dengan wajah heran. Ini masih terlalu pagi sebenarnya untuk menerima tamu apalagi di hari liburan seperti ini.
Yunho merasa ada yang memperhatikan, menoleh ia mendapati Jaejoong berdiri tidak jauh darinya, ia segera memintanya untuk ikut duduk dan mendengarkan apa yang ingin diucapkan Kangta.
Kangta mulai bicara, "Hyung, ingin minta bantuan kalian. Kalian tahukan aku harus pergi ke luar negeri."
"Tentu saja, lalu apa ada masalah?" tanya Yunho tidak mengerti, ia tentu saja akan siap sedia untuk membantu saudara satu-satunya ini.
Kangta mendesah, sebelumnya ia mencium pipi istrinya, Boa."Sampai saatnya ini, aku belum bisa membawa Boa pergi ke sana. Bisakah, aku minta bantuan kalian. Aku mohon!"
"Yah, Hyung. Jangan seperti itu. Tentu saja akan kami lakukan, dia bisa tinggal bersama kami, tidak perlu khawatir."
"Terima kasih. Yunho-yah, Kalian tahu Boa sedang hamil, bukan? Karena itulah aku tidak bisa membawanya tinggal bersamaku." tutur Kangta dengan sedikit raut wajah sedih, "Dokternya melarang keras untuk Boa berpergian jauh karena kondisi kandunganya. Juga meski, dia harus ikut pun. Sayangku akan sering tinggal sendiri dan kesepian. So, please ... bantu aku menjaga Boa."
Yunho dan Jaejoong menahan tawa mereka, bagaimana melihat wajah Kangta jadi begitu memelas. Dan, bagaimana bisa mereka juga menolak. pekerjaan baru kangta di luar negeri juga berpengaruh pada perusahaan yang mereka pegang sekarang Jung's Corp. Dan, Yunho adalah keluarga satu satunya yang paling dekat karena keluarga Boa sendiri malah jauh di Daegu.
"Hyung tidak usah khawatir kami bersedia menjaga Boa Noona," ujar Jaejoong. Mendengarnya Kangta percaya, ia tersenyum puas dan mencium kembali kening sang istri sampai matanya melirik jam di dinding. Sudah waktunya, ia berdiri.
"Aku harus pergi sekarang, semua kebutuhan Boa sudah kupersiapkan kalian jagalah boa dan bayinya, demi aku. Bisakan? Hah, hatiku masih tidak bisa tenang begini."
"Kau sungguh khawatir seperti ini, Hyung. Tenanglah serahkan semuanya padaku?" ujar Yunho menepuk dadanya.
Kangta terkekeh, "Oh, baiklah. Satu lagi penuhi semua permintaan bayiku, Boa sekarang dalam masa mengidam. Lakukan apa yang diinginkannya. Jangan protes meski itu sangat menyebalkan,"
"Yah, Oppa." delik Boa tidak terima. Kangta tidak tahan untuk tidak menciumnya lagi. "Hati-hati di sini aku akan minta Yunho dan Jaejoong mengawasimu duapuluh empat jam, kau mengerti."
"Hm," Boa mengangguk.
Kangta memegang kedua bahu Yunho, "Kau samchon yang baik, bukan? Kumohon apapun itu, jaga keluargaku," ujar kangta setengah sedih. Ia berpaling pada istrinya Boa, tersenyum hangat.
"Hyung, tenanglah. Mereka akan aman bersama kami. Kupastikan itu!" jawab Yunho sambil memeluk Kangta. "Dan jaga dirimu baik-baik di sana."
Kangta lega dengan janji yang diucapkan adiknya, ia akan merasa sedikit tenang istri dan anaknya sudah dipastikan aman. "Baiklah, aku harus pergi sekarang."
Akhirnya, mereka semua berjalan mengiringi langkah kepergian Kangta sampai di depan halaman dan memasuki mobil taksi yang dipesannya. Boa melambaikan tangannya dengan mata berkaca-kaca sedih, sampai mobil yang ditumpangi Kangta tidak terlihat baru ia berbalik.
"Maafkan suamiku, yah, dia jadi sedikit cerewet saat tahu aku hamil mungin bawaan baby kami." ucap Boa terkikik geli sendiri. Membuat Yunho dan Jaejoong ikut tertawa, sepertinya mood Swing, orang yang hamil ada pada Wanita hamil ini. "Jadi, apakah aku akan mengganggu kalian sebagai pasangan pengantin baru?"
"Yah, Noona mana mungkin kau mengganggu. Kami dengan senang hati menerima kehadiranmu, bukan begitu, Boo?" tanya Yunho meminta persetujuan pasangannya sambil mendekap tubuhnya dari belakang membuat yang bersangkutan merona karena malu.
"Tentu saja, tidak masalah."
"Nah Sekarang, ayo, kita masuk!" Ajak Yunho.
Jaejoong mengangguk sebagai jawaban. Ia membiarkan Boa berjalan lebih dulu darinya di belakang Yunho. Menatap punggung keduanya, tersenyum lebar tanpa tahu apa yang sedang menunggunya.
*
Dimulailah hari yang baru, di mana ada tambahan anggota keluarga yang mengisi rumah tangga pasangan muda sesama jenis Jung Yunho dan Jung Jaejoong ini. Pernikahan mereka masihlah terbilang baru karena baru tiga bulan mereka hidup bersama, masih begitu banyak keromantisan yang mereka umbar.
Akan tetapi kali ini terasa ada serpihan kecil kaca yang mulai menggores hati. Sarapan pagi yang biasanya penuh canda tawa sebelum sang kekasih pergi bekerja kini malah terasa sepi. Jaejoong termangu kecewa, di hadapan makanan.
Karena untuk yang pertama kalinya Yunho menolak sarapan bersamanya begitu juga Boa. Wanita itu memilih makan diluar karena acara mengidamnya yang tak bisa ditahan katanya, ia ingin sarapan di kafe favoritnya. Dan, pria Jung kesayangannya tidak akan bisa membiarkan kakak iparnya itu pergi sendiri.
Jaejoong menghela nafas, mulai menelan makanan mencoba menikmati sarapan buatanya sendiri. Pikirnya sayang bila tak seorang pun tidak memakanya .
"Jonggie ah. maafkan noona. Noona tak ingin sarapan di rumah. Baby ingin makan dicafe favoritnya. Tidak apa, bukan?"
Boa jadi merasa tidak enak hati begitu melihat banyak makanan yang disiapkan jaejoong untuknya.
" Tidak apa Noona, Boojaeku ini pasti mengerti. Apalagi dengan wanita yang sedang hamil dan ngidam sepertimu" ujar Yunho, bibirnya meringis ketika malah mendapat cubitan tidak nyaman dari Boa. "Yakh, Noona itu sakit."
"Kau pantas mendapatkannya, Jadi Joongie. Lain kali aku pasti akan makan masakanmu, Noona janji! "
" Baiklah, Sayang. Sebaiknya aku menemani Boa Noona juga sarapan di luar setelahnya kami akan langsung pergi ke kantor, baik-baiklah di rumah."
Seperti itulah semua bermula. Pagi, siang , sore ,bahkan malam pun menjadi begitu menjenuhkan untuk Jaejoong. Semua orang atau setidaknya Yunho tidak ada lagi untuknya. Ia sendiri menatap jam dinding yang terus berputar, tak tahu apa yang harus dilakukan ataupun yang ia inginkan lagi. Jaejoong tidak menyangka ternyata kehidupan rumah tangga yang baru beberapa bulan ini bisa begitu membosankan. Sudah sejak sebelum menikah berbulan-bulan yang lalu. Dirinya sudah dikekang oleh Yunho yang protectif padanya dengan membuatnya berhenti dari hobi maupun pekerjaanya.
Dirinya hanya ditugaskan untuk duduk diam menunggu sang penguasa hati dan hidup miliknya. Yunho adalah orang yang keras, tak suka dibantah tapi penih kasih sayang. Selalu berpendapat tentang semua untuk kebaikaanya, tapi Jaejoong untuk kali ini harus berpikir kembali. Meski ini kebaikan, tapi tinggal di dalam rumah sepanjang waktu itu begitu membosankan. Pernah sekali dirinya meminta hal ini dan hasilnya tidak memuaskan.
" Yunnie, Jonggie juga ingin bekerja lagi. Jonggie rindu bagaimana rasanya sibuk seperti Yunnie dan Boa Noona,"
Jaejoong merajuk sambil mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya yang polos tanpa pakaian.
Yunho menarik tubuh Jaejoong ke dalam pelukanya. Mencium kening sang pemilik hati. " Kau dan Boa Noona itu berbeda. Kau Ratuku, aku bisa memberikan apapun yang kau inginkan dan memenuhinya. Aku ingin membahagiakanmu seorang. Hanya kau boojae, Cintaku. Cukup aku yang sibuk dan kau hanya perlu mengurusku dan menikmati semua yang kuberikan, Mengerti."
Jaejoong terdiam, ia mencebilkan bibirnya tidak senang. Ingin sekali bibirnya membantah apa yang dikatakan Yunho, tapi dipastikan mereka akan berakhir dengan bertengkar. Hal itu tidak manis sekali baginya apalagi setelah sesi bercinta seperti ini. Jadilah Jaejoong memikirkan cara lain yang lebih halus.
" Lalu, bagaimana dengan Boa Noona yang kini malah sedang hamil, bukan?"
" Boojae, kau tahu sendiri Boa bekerja ia hamil dan tidak terbiasa hidup diam di dalam rumah."
"Jadi, aku terbiasa begitu?" dengus Jaejoong semakin tidak senang.
"Jaejoong, Boa itu mudah stress. Seumur hidupnya Ia terbiasa bekerja. Lagipula pekerjaanya sudah kupindahkan ke kantorku dan hanya menjadi asisten yang mengatur semua jadwalku, jadi aku masih bisa memantau keadaan keponakanku, " Jelas Yunho panjang lebar, tapi hal itu malah membuat pikiran buruk Jaejoong menyebar entah sampai mana.
Terlebih saat teringat dengan mata Yunho yang berbinar terang, tiap kali ia membicarakan Boa dan kehamilannya. Dirinya pasti senang dan bersemangat, seolah itu adalah bayinya sendiri. Sebuah pikiran dari Jaejoong, Yunho memang sudah sejak dulu sangat menyukai anak anak. Yah, terlebih saat ini. Yunho akan memiliki keponakanya sendiri.
*
Dunia memang tak akan selamanya indah ataupun buruk, manis atau pahit, putih ataupun hitam Mungkin, inilah yang Jaejoong rasakan saat ini. Tidak selamannya hubungan dengan Yunho akan berjalan mulus. Terlebih setelah perjalanan panjang hubungan mereka meski berakhir pada Pernikahan. Hal ini pun tidak akan menjamin kebahagiaan yang abadi.
Langkah kakinya berjalan seorang diri menyusuri lantai mall terbesar di negeri Korea. Tempat yang biasanya akan sedikit menghilangkan jenuhnya dengan cara berbelanja barang-barang yang diinginkannya. Matanya terus bergerak meneliti tiap toko mencari hal yang ia cari. Tapi hari ini, Tuhan sepertinya tengah memberi satu kejutan yang tidak bisa dibilang menyenangkan.
Geram hatinya yang sudah terasa retak. Kini, taman cinta di hatinya mulai meranggas kering. Dirinya tengah kehilangan mata air, dahaga karena kekeringan membuatnya goyah dan rapuh tak tenang. Apa yang dilihatnya kini.
Yunho berjalan berdua dengan Boa bergandengan tangan memasuki sebuah butik pakaian wanita hamil. Matanya tidak bisa berbohong, menatap mereka seperti melihat sepasang suami istri yang serasi dan begitu bahagia tengah menunggu kedatangan sang buah hati.
Tut... tut... tut...
Berkali-kali untuk hari ini Jaejoong mencoba menghubungi Yunho. Ia sudah lebih dari kesal. Ingin sekali teleponnya ia banting. Karena hanya untuk menunggu sampai tersambung. Dan, baru saja ia akan berhenti menghubungi, suara di sebrang sana memanggilnya.
"Boojae, kau masih di sana? Maaf, Tadi aku sedang rapat. Ada apa hmm.."
" Yunnie, kau membuatku sangat kesal. Sekarang temani jonggie belanja dan jalan-jalan. ini hari libur, bukan? Kau terus saja sibuk." rengek Jaejoong.
"Maaf, tapi aku tidak bisa, Boo. Rapatnya belum selesai. Saat ini kami sedang break, tidak sampai satu jam rapat sudah akan dimulai kembali. "
" Aku sedang tak ada teman. pasangan YooSu masih berlibur, dongsaeng Changmin juga kuliah .cuman Yunnie bear-ku yang bisa. Sekali ini saja tinggalkan rapatnya, bisakan ?"
"Itu tidak bertanggung jawab, Boojae." Suara Yunho berubah tegas dan tak ingin dibantah. " Satu lagi, jika tak ada yang menemanimu jangan sekali kali keluar dari rumah. Dan, kau bisa menggunakan online shop untuk berbelanja semua barang keinginanmu dan besoknya jadi milikkmu. Ok! Ingat itu. Dan, besok kita makan malam di restoran favorit kita. Untuk sekarang, kau istirahat saja, "
Tut ...tut..
Sambungan sudah terputus.
Ada banyak hal yang tidak bisa dimengerti Jaejoong tentang keadaan ini. Bagaimana Yunho tadi menolak keinginannya, dan sekarang malah pergi bersama Boa. Menghabiskan waktu mereka berdua tanpa pernah berpikir tentang perasaannya. Dengan mata memerah menahan tangis, Jaejoong kembali melangkah keluar.
*
Yunho dan Boa datang setelah Jaejoong baru saja akan melangkah ke kamarnya setelah lelah menunggu. Menunggu kedua orang tersebut hanya untuk sekedar makan malam bersama. Ia tidak berniat memperpanjang masalah dengan apa yang dilihatnya tadi.
Barang belanjaan Boa terlihat begitu banyak, ia hanya tersenyum menyapa pada Jaejoong sebelum berlalu pergi, wanita itu sibuk berceloteh pada suaminya di sebrang benua sana melalui ponselnya. Terdengar dari suaranya, ia begitu ber-manja dengan sang penelepon.
Yunho yang baru saja berjalan masuk terlihat sedang kerepotan membawa barang bawaan Boa yang lebih banyak. Tak tega juga melihatnya, Jaejoong datang membantunya. Yunho tersenyum lebar mengucapkan terima kasih dan merebahkan dirinya di sofa.
"Aku lelah. Mengikuti keinginan wanita mengidam ternyata begini rasanya. Hyungku harus tahu dan mendapatkan pelajarannya kelak." ujar Yunho.
Yunho menarik tubuh Jaejoong agar lebih dekat dengannya. "Boo, Kau tahu Boa marah pada suaminya jadilah aku yang harus menebusnya. Lihat saja dia belanja seperti orang kesurupan hanya karena tubuhnya mulai gemuk. Bukankah wajar orang hamil jadi bertambah berat badan. Boa Noona sepertinya benar-benar sakit dia hampir saja memborong semua pakaian hamil, katanya ia bilang bajunya hampir semua tak muat lagi. Kau tahu Boo, Boa makan sangat banyak dan ia tak akan berhenti jika aku tidak menghentikanya. Akh, dasar wanita. Kau sudah makan, Boo?!
Jaejoong hanya mampu tersenyum manis. Membuat Yunho merasa mengangguk mengerti, walau sebenarnya entah apa yang sedang dicoba dimengertinya. Satu yang Yunho tidak ketahui sampai saat ini jika perut Jaejoong masih kosong sejak tadi hanya karena untuk menunggu mereka.
Dan, beginilah seterusnya Yunho. Ia tak pernah lelah untuk menceritakan keseharianya dengan Boa yang sedang hamil. Ntah itu jika mereka di dalam kantor ataupun di luar kantor. Pokoknya Yunho bercerita dengan senang tanpa pernah sekalipun melihat raut wajah Jaejoong yang datar dan perlahan tapi pasti hati Jaejoong tengah terluka.
*
Seharusnya hari ini sesuai dengan janji Yunho. mereka akan keluar menghabiskan waktu berdua tanpa terganggu. Tapi, nyatanya semua berubah, saat sebuah permintaan terucap dari bibir Boa. Semua berakhir dengan Yunho yang menyanggupinya hanya untuk menemaninya check up kehamilan.
"Yunho, bukankah kita sudah ada janji," ucap Jaejoong mencoba mengingatkan, karena tiba-tiba saja dada Jaejoong berdetak sakit, ia tidak bisa terus terabaikan, dirinya juga butuh Yunho dan pria itu adalah miliknya. "Boa Noona bisa pergi dengan supir Ahn saja, bukan? "
Yunho dan Boa menatap heran Jaejoong yang berbicara begitu dingin dan datar tidak seperti biasanya. Mata Boa menatap keanehan tersebut dan tersadar. Ia tersenyum kecil, jelas sekali jika kedua pasangan ini berpakaian rapi dan akan pergi. Mungkin kencan, berdua. Pikirnya.
"Akh, yah. Kau benar Jonggie. Dan, Yunho sebaiknya kalian pergi saja. Aku minta maaf karena aku tidak tahu kau punya janji dengan Jaejoong," ujar Boa tenang, ia berjalan menyentuh lengan Jaejoong " Jonggie, maafkan Noona, eoh?!"
"Boa noona kau tak usah minta maaf, Boojae. Mengertilah aku hanya sebentar mengantar Boa Noona check up, lalu kita bisa pergi untuk makan malam bertiga setelahnya." tutur Yunho yang merasa tidak ada masalah.
Maaf, Mengerti dan bertiga. Jaejoong terdiam cukup lama. Memandang Yunho dengan raut kecewa, matanya menelisik diri Yunho yang kini tak bisa lagi bisa dimengertinya. Boa menekan genggaman tangannya pada jemari Jaejoong.
"Yunho, kau tidak perlu seperti itu. Kau bisa langsung pergi dengan Jaejoong, sekarang juga "
"Boojae, waktu kita masih banyak. Tunggulah sebentar, Ok! "
Simpati Boa tentangnya hanya sebuah omong kosong, nyatanya Yunho. Pasangan hidupnya, cintanya yang menyuruhnya untuk menunggu dengan menekan perasaan dan pil pahit yang diberikan.
"Yunho, apa yang kau katakan. Itu acara kalian berdua sebaiknya , aku pergi dengan supir Ahn saja. "
" Tidak, Boa Noona-"
"Yah, tidak Noona. Kita ikuti saja keinginan Yunho. Aku akan menunggu hingga kalian kembali, lalu kita pergi makan malam di luar ber-sama." ucap Jaejoong menekan perasaanya lagi, mencoba mengalah dan bertahan dengan senyum kepura-puraannya.
Boa terdiam, ia bingung. Tapi, Yunho sudah mengangguk setuju. Ia menghampiri Jaejoong dan mencium keningnya."Kau, memang Boojaeku yang baik hati? Kau mengerti bukan Boa sedang hamil."
"Tapi, Jonggie. Yunho ... " Boa tidak lagi sanggup bicara. Apalagi saat Yunho yang begitu saja menariknya pergi. "Ayo, kita pergi sekarang Noona, aku ingin sekali lagi melihat hasil USG keponakanku. Pastinya ia tumbuh dengan sehat."
Yunho dan Boa sudah jauh dari pandangan Jaejoong. Tinggalah ia sendiri menatap langit-langit rumahnya. Rasanya sungguh sepi sendiri.
*
Sudah tiga jam berlalu ia masih dengan setia menunggu. Pikirannya melayang pada Yunho yang kenapa tadi tidak sempatnya terpikir untuk ikut saja ke rumah sakit. Ia tidak akan seperti ini. Tapi juga Yunho, kenapa pria itu tidak pernah berfikir untuk membawa dirinya. Seperti dirinyalah yang jadi orang asing bagi mereka.
Langit senja mulai pudar. Jaejoong masih belum beranjak dari tempatnya. Yunho pun masih tak nampak untuk menjemputnya. Hanya dering ponsel saja yang terus berbunyi sejak setengah jam lalu, saat Yunho memberikan kabar.
"Boojae, kau pergilah di antar supir Tn. Ahn saja. Nanti kita bertemu di restoran. Kami menunggumu.
Luv u."
Jaejoong kali ini berhak marah, Yunho sudah berjanji untuk datang menjemputnya. Tapi tidak, ia jelas telah berbohong dan dari itu ia akan mendiamkan pria Jung tersebut. Biarkan saja Yunho menunggu hingga kesal. Merasakan bagaimana rasanya jadi seperti Jaejoong yang tahan menunggu. Itu pun, jika Yunho merasakanya.
Jaejoong menghela napas. Ia sangat lelah, wajahnya memucat karena tidak ada asupan makanan atau minuman yang sempat masuk ke perutnya sejak pagi. Semua keadaan ini membuat nafsu makannya berkurang. Sekarang yang lebih baik untuk dirinya hanya harus pergi ber-istirahat di kamar. Menepis semua pikiran buruk dan luka perasaan yang tidak berdarah, meninggalkan ponselnya yang terus berdering. Membiarkannya saja hingga nanti berhenti sendiri.
*
Pintu kamar terbanting dengan keras. Yunho berdiri menjulang dengan sorot mata marah. Ia tak habis pikir bagaimana bisa ia menunggu Jaejoong yang sekarang malah tertidur lelap dengan earphone di telinganya.
Napasnya tersengal ia tarik dan lempar earphone dari telinga Jaejoong. Mengguncang tubuh tersebut, membalikkannya dan bertanya dengan suara keras, "Kenapa kau tidak datang, aku menunggumu lama sekali, Jaejoong!"
Mata Jaejoong belum terbuka sama sekali, ia hanya bisa melenguh kecil tanpa terganggu dengan suara dan guncangan tangan Yunho. Kemarahan dan kekhawatiran pria Jung sudah sampai puncaknya, kepalanya terasa mendidih. Melihat pasangannya malah tertidur nyenyak. Merasa percuma Yunho kembali membanting Jaejoong ke ranjang. Dan, seperti dugaanya Jaejoong benar-benar tidak terbangun dan kembali tertidur nyenyak.
Sebelumnya, Jaejoong memang sengaja telah meminum obat tidur. Dengan tertidur lelap ia berharap bisa menghilangkan rasa sesak di hatinya.
To be continue
20 November 2015.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top