Prolog
Assalamualaikum 2023
------- 🎉🎉 -------
Apa indahnya menerima pernikahan dengan cara dijodohkan?
Tidak semua perjodohan itu tentang perampasan hak seorang anak, atau sebuah media sebagai ganti untuk melunaskan utang selayaknya zaman Siti Nurbaya. Namun, yang namanya perjodohan tetap saja menimbulkan banyak tanya. Terlebih bagi seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di negara yang begitu menggaungkan hak asasi manusia.
Gunadi hanya meminta putrinya menunda menerima tawaran kerja, terlebih di perusahaan bertaraf internasional. Hanya memiliki seorang anak membuat dia dan sang istri, Sofia, sedikit over protektif. Empat setengah tahun ditinggalkan Bellezza Alzan —putrinya— kuliah di Massachusetts Institude of Technology, Cambridge, USA, membuatnya semakin takut hidup berjauhan dari sang putri di masa tuanya. Padahal dari awal Gunadi kurang begitu setuju saat Bella mengambil kesempatan itu. Baginya menuntut ilmu itu tidak harus jauh dari keluarga. Di Indonesia juga banyak kampus-kampus ternama yang tidak kalah dengan kampus di luar negeri. Namun, beasiswa yang didapatkan Bella adalah bukti bahwa dia mampu menjadi mahasiswa di kampus terbaik dunia dalam bidang ilmu teknologi.
Dengan alasan telah menikah, mungkin bisa menjadi landasan untuk tetap ditempatkan di Indonesia. Meski dia bekerja di perusahaan internasional. Ide menikahkan Bella tercetus ketika salah seorang temannya yang bercerita hendak mencarikan istri untuk anaknya. Kesamaan latar belakang pendidikan diharapkan mampu membuat keduanya bisa mengenal dengan cepat, setidaknya seperti itu pemikiran Gunadi dan Sofia sebagai orang tua Bella.
"Apa kata orang, Yah?" tanya Bella yang mencuri dengar percakapan kedua orang tuanya tentang niat perjodohannya dengan seseorang.
"Tidak ada yang salah, Ayah hanya memintamu untuk berkenalan dengan putra teman Ayah, itu saja," jawab Gunadi.
"Tetapi mengapa Bella dilarang mengambil tawaran kerja dari Kiewit Construction? Padahal itu mimpi Bella." Bella masih menentang meski dengan bahasa yang halus.
"Bukan melarang Bel, Ayah hanya meminta kamu kenalan dulu dengan Devis. Apa salahnya?" Sofia mendukung ucapan suaminya, masih dengan suara lembut yang diharapkan bisa memenangkan hati putrinya.
"Tapi mengapa tadi Ayah dan Ibu membicarakan ibu rumah tangga? Bella ini lulusan luar negeri, Ayah, Ibu, cita-cita Bella bukan menjadi ibu rumah tangga!" Padahal jika Bella mau mendengarkan sedikit penjelasan mereka, dia juga pasti akan setuju dengan maksud orang tuanya.
Decak ketidakpuasan menguar dari bibir Bella. Dia tidak lagi ingin mendengarkan dan memilih untuk meninggalkan keduanya tanpa penjelasan. Rugi jika dia sudah berjuang menghabiskan waktu untuk belajar karena harus menyelesaikan program double degree yang dia ambil tetapi ujungnya harus berada di dapur. Sebagai ibu rumah tangga? Rasanya itu terlalu jauh dari pemikiran idealisnya selama ini. Pada hari yang telah ditentukan oleh perusahaan, Bella tetap melangkahkan kaki untuk bergabung bersama mereka. Kesempatan langka di mana universitas memberikan rekomendasi kepada perusahaan tentang mahasiswa berpretasi mereka untuk bisa di-hired sebagai tenaga profesional. Bukankah itu sesuatu yang bisa dibanggakan?
Pada mulanya Bella ingin menandatanganinya langsung di kantor konstruksi terbesar se-Asia Tenggara itu, tetapi pihak manajemen memintanya untuk membaca dengan teliti klausul-klausul yang ada di lembaran offering letter. Supaya tidak ada kesalahan hingga membuat salah satu pihak menerima pinalti yang seharusnya bisa dihindari. Akhirnya, Bella memilih untuk membawa surat itu pulang ke rumah.
Membayangkan bekerja di tempat yang mentereng, membuat mimpi Bella akan segera terwujud. Namun, saat dia tiba di rumah dan mendapati rumahnya kosong tiba-tiba hatinya kembali gamang. Terlebih ketika tetangganya berkata bahwa baru sepuluh menit yang lalu, ayah Bella membawa ibunya ke rumah sakit karena pingsan di kamar mandi.
"Ayah, apa yang terjadi dengan Ibu?" Bella mengatur napasnya setelah berlari dari tempat parkir.
"Tekanan darah ibumu naik, Bella. Ibumu mengeluh, mengapa kamu tidak lagi menurut kepada kami seperti dulu. Apa karena kamu kami sekolahkan di luar negeri?" Gunadi menjawab tanpa menoleh pada putrinya.
"Ayah—" Gadis itu tercekat, tak mampu menanggapi kekecewaan ayahnya.
Tidak ada lagi kalimat yang keluar dari bibir Gunadi, sampai dokter yang memeriksa Sofia datang dan meminta keluarga pasien menyetujui Sofia dirawat inap di rumah sakit.
to be continued-----------
Test ombak 😍😍
Semoga banyak yang suka ya, meski sedikit berbeda dari ceritaku sebelumnya...
Kenalan yuk sama Devis dan Bella,
Simpan di perpus dan jangan lupa votenya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top