Offering Challenge

Yang punya pasangan workaholic?
Pasti merasakan menjasi Bella.
Atau Anda salah satunya si workaholic? Tos dulu yuk, kita sama 😂😂😂
----------------------- 09 Januari 2023

Tidak ada waktu untuk bersantai. Kiranya kalimat time is money benar-benar telah mendarah daging bagi seorang pekerja seperti Arsenio Devis. Tidak lebih dari cuti menikah yang diberikan oleh kantornya, Devis enggan mengambil jatah cuti tahunan demi menyelesaikan pekerjaannya. Bella akan bersamanya untuk selama-lamanya, tetapi pekerjaan memiliki time schedule yang pasti tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Meninggalkannya empat hari bagi Devis sama saja membuat tumpukan pekerjaannya semakin menjadi.

Bella baru mengerti mengapa dulu Devis berkata jangan cemburu dengan pekerjaannya. Ternyata benar kata suaminya, dia memiliki kegilaan kerja yang luar biasa. Sama persis seperti pengandaiannya.

Awalnya Bella hanya merasa bahwa pekerjaan adalah sebuah tanggung jawab yang harus Devis selesaikan dengan baik. Namun, ternyata lebih daripada itu, jadwal pekerjaan Devis sudah tertata sedemikian rapinya lengkap dengan target, pencapaian dan ambisinya untuk meraih semua mimpi.

"Kamu jadi ambil pekerjaan, Bel?"

Bella meletakkan pekerjaan rumahnya sesaat. Mendekat Devis dan membantunya menggulung lengan baju yang sudah rapi dikenakannya.

"Kalau menurut Mas Devis?" Mengetahui jadwal super sibuk suaminya, Bella jadi berpikir panjang untuk mengambil pekerjaan di luar.

"Kalau memang mau bekerja jangan pernah setengah-setengah. Namun, tugas utama kamu itu tetap sebagai istri dan ibu untuk anak-anak kita." Devis mencium kening Bella.

"Jadi aku tidak boleh bekerja di kantor nanti?" tanya Bella.

"Selama kamu tidak melupakan tugas utamamu. Lagi pula aku sudah setuju kan, dari sebelum kita menikah kamu meminta izin untuk bisa bekerja?" Devis mengangkat sebelah alisnya.

Tidak ada jawaban dari bibir Bella, dia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda lalu mengajak Devis sarapan karena masakannya telah siap di meja makan. Masuk pertama setelah menikah, Devis mulai membiasakan diri membawa bekal makanan yang dibuatkan istrinya.

"Kalau mau keluar kabari aku, Bel." Devis masuk ke mobil lalu meninggalkan Bella sendirian di rumah.

Tiba di kantor beberapa teman Devis sampai menggelengkan kepala. Tidak bisa percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka. Pengantin baru yang harusnya menghabiskan masa bulan madu bersama pasangan tercinta justru sudah menampakkan hidungnya di kantor.

"Dev, rajin amat empat hari setelah nikah sudah masuk kerja lagi. Nggak takut istri tersesat di rumah baru?" ledek Yuris.

"Pending pekerjaanku banyak banget, Yur. Aku nggak mau numpuk di akhir-akhir. Laporan pertanggungjawaban juga sudah harus di meja Pak Hendi awal pekan depan. Aku harus pastikan semuanya selesai dengan baik."

"Dasar Mr. Perfectionist, Punya istri bukannya berubah malah semakin menjadi. Gila lu ya!"

"Bella yang memilih di rumah. Jadi buat apa nganggur di rumah. Mending ke kantor ngerjain laporan proyek yang baru saja selesai aku kerjakan minggu lalu." Devis meninggalkan beberapa temannya yang masih berada di pantri.

Sepeninggalnya teman-teman Devis hanya bisa menggelengkan kepala. Sudah menjadi rahasia umum jika Devis adalah karyawan yang paling disiplin di antara yang lain. Bukan untuk mencari muka di depan atasan, tapi setiap pekerjaan yang dia kerjakan harus selesai sesuai dengan tenggat yang telah disepakati tanpa banyak alasan.

Awalnya Devis sering mendapatkan gunjingan dari teman-temannya, tetapi ketika kariernya begitu cepat menanjak, pada akhirnya mereka menyadari bahwa pekerjaan Devis memang selalu rapi dan dia jarang sekali menerima komplain dari pengguna jasa mereka pasca proyek selesai.

"Dev, dipanggil HRD tuh. Di suruh menghadap bos besar. Roman-romannya—"

"Naik jabatan lagi lu, Dev?" teriak yang lain.

"Kalian ini, paling diminta laporan sama bos besar. Untung sudah selesai aku kerjakan tadi pagi." Devis membawa beberapa lembar kertas yang baru saja dia cetak dalam sebuah map.

Devis bergegas merapikan penampilannya kemudian berjalan menuju ruangan paling keramat di perusahaannya. Ruangan Hendi Darmawan, Dirut PT. Cipta Makmur Konstruksi. Sonya —Sekretaris Dirut— meminta Devis langsung masuk ke ruangan karena sudah ditunggu oleh Kepala HRD juga.

Meski banyak pertanyaan yang melintas di pikiran Devis, tapi dia tidak pernah berpikir akan menerima punishment karena selama ini dia selalu bekerja dengan baik dan membuktikan dedikasi serta loyalitas kepada perusahaan.

"Ok Devis, saya memanggilmu secara khusus bersama Pak Bekti di sini adalah untuk memberikan tantangan."

Devis tidak mengerti maksud kalimat yang diucapkan oleh orang nomor wahid di perusahaannya.

"Jadi begini Dev, sesuai dengan peningkatan laba usaha tahun berjalan di semester pertama dan perkembangan yang menurut kami luar biasa. Menjelang akhir tahun ini perusahaan mengambil keputusan untuk melakukan pekrekrutan karyawan baru." Bekti menambahkan keterangan dari kalimat pembuka yang dikatakan Hendi.

"Betul kata Pak Bekti. Sejalan dengan itu, kami pun harus menambah tim baru. Dalam kaca mata saya, tidak ada karyawan yang pantas menduduki project manager selain kamu. Namun,—" Helaan napas tampak terlihat sebelum Hendi menyelesaikan seluruh kalimatnya.

"Namun, perusahaan baru saja memberikan beasiswa untuk kamu sebagai karyawan yang berprestasi. Kami tidak ingin membiarkan iklim kerja yang kurang baik karena iri hati dari karyawan yang baik karena ini. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memberikan sebuah tantangan kepadamu agar bisa mencapai posisi itu," putus Hendi akhirnya.

"Maksud Pak Hendi, saya bisa dipromosikan sebagai project manager jika saya achieve—?"

"Yes, you are."

Adrenalin Devis mulai mendidih. Pantang baginya melewatkan kesempatan ketika mimpi yang selama ini diinginkan sudah ada di depan mata. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Setidaknya Devis harus berani melangkah sebelum dia menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini dengan sebuah usaha. Prinsip hidup yang selalu Devis pegang hingga saat ini.

"Mohon maaf kalau boleh tahu untuk tantangan semacam apa ya Pak Hendi?" keoptimisan Devis memberanikan bibirnya bertanya.

"Pembangunan kota bayangan di atas sebuah mall sepertinya akan menjadi trend baru di negara kita. Selain apartemen yang menjulang tinggi, sepertinya hunian ini akan mendapatkan respon yang luar biasa untuk kaum borjuis di ibu kota."

Devis mulai meraba dengan bayangannya, kira-kira seperti apa kota yang dimaksudkan Hendi.

"Dua minggu lagi akan ada gathering dengan para petinggi yang akan memiliki proyek ini. Jika kamu berhasil mendapatkan ini, setidaknya memiliki kesempatan untuk maju dalam lelang tender, karena meski lelang, mereka sangat pemilih siapa-siapa saja yang boleh untuk mengikuti acara ini. Perusahaan akan memberikan posisi project manager dengan tim baru untukmu, Dev."

Senyum Hendi dan Bekti mengembang bersamaan dengan mata Devis yang membulat sempurna.

"Akan ada menteri PUPR di sana nanti, usahakan kita bisa masuk di seleksi tahap awal sebegai perusahaan yang berhak mengikuti lelang tendernya," kata Hendi.

"Saya yakin kamu mampu, Dev." Bekti memberikan semangat kepada Devis untuk mendukung pendapat pimpinan mereka.

"Saya usahakan, Pak. Tapi minggu depan saya juga harus terjun ke proyek kita yang ada di Bandung."

"Saya yakin kamu bisa mengaturnya dengan baik."

Percakapan mereka selesai. Setelah Devis memberikan laporan pekerjaan yang telah disetujui oleh project managernya, dia meminta izin kepada Hendi dan Bekti meninggalkan ruangan.

Benar-benar keberuntungan yang lumintu,(mengalir terus-menerus) hari ini Devis membenarkan bahwa menikah itu akan membuka pintu rezeki dengan sendirinya. Dia harus mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya karena telah mengenalkan Bella dan mengatur sedemikian rupa perjodohan mereka, meski pada ujungnya Allah jualah sebagai penentu jalan takdirnya.

"Yes, yes, yes!" Devis mengepalkan tangannya. Senyum bahagia terpancar seketika. Sampai di meja kerjanya, dia segera menyusun rencana. Mencari berita tentang issue yang baru saja dia dengan dari atasannya sekaligus mencari referensi kota bayangan seperti yang dimaksud oleh Hendi.

"Dev, lu dapat tugas apaan dari bos? Sibuk banget habis dari ruangannya," Yuris datang membawakan segelas kopi pahit kegemarannya.

"Thanks, Brow!" Devis mengangkat kedua alisnya. Dia tidak bisa bercerita banyak sebelum apa yang akan menjadi miliknya bisa dia pegang.

"Bagi-bagilah, bonusnya. Masa iya diembat sendirian," lanjut Yuris.

"Bonus apaan? Aku lagi browsing pengerjaan rumah minimalis, Yur. Bella ingin mendesain ruangan rumah kami yang baru supaya terlihat layak ditinggali," jawab Devis sekenanya.

Yuris sampai memicing curiga, tidak mungkin seorang Devis menggunakan jam kantor untuk melakukan pekerjaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaannya di kantor. Terlebih untuk kepentingan pribadi yang sesungguhnya bukan masalah besar sampai dia harus seserius itu di depan layar monitor dan tabletnya. Desain interior sebuah rumah itu adalah pekerjaan yang bisa dikatakan dikerjakan sambil memejamkan mata bagi seorang Arsenio Devis.

"Jangan overthinking, Bella ingin belajar juga, jadi aku harus siap menjadi gurunya." Devis tertawa kemudian memilih mematikan monitornya. "Kerjaanmu memangnya sudah selesai, Yur?"

"Hari ini aku malas ke proyek, dari kemarin bahan baku yang aku pesan belum datang."

"Lah, mengapa nggak kamu cek ke penyedia bahan bakunya?" Devis mendesah ketika Yuris memilih untuk meninggalkannya.

Dalam hatinya berkata, jika karyawan seperti Yuris masih tetap dipelihara oleh kantornya, maka mereka akan tetap jalan di tempat tanpa ada kemajuan baik dari sisi kepuasan konsumen dan hasil akhir dari pekerjaan mereka. Hal ini tentu saja akan memberikan pengaruh besar tentang sebuah kepercayaan konsumen kepada perusahaan.

"Kamu harus bisa Dev, kamu mampu dan kamu harus maju!" Devis memberikan semangat untuk dirinya sendiri sebelum akhirnya dia memilih untuk memberikan kabar kepada Bella.

Wife Bee
Bel, aku pulang terlambat. Kamu makan dulu saja.

to be continued-----------

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top