CHAPTER TWENTY FIVE
“Kita harus kembali ke dalam.”
Su Li mendongak menatap Ziang Wu yang kembali menghampiri dirinya. Tatapan pemuda itu tidak terartikan. Melihat Su Li yang bergeming, Ziang Wu mendatanginya. “Ayo,” ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan. “Kita harus bertemu dengan Direktur Wang, Ayah sudah menunggu.”
Mendengar Ziang Wu membawa sang Ayah dalam obrolan mereka, akhirnya membuat Su Li meraih tangan Ziang Wu. Pemuda itu menatap Su Li lekat. Kedua tangannya terangkat, “Tersenyumlah. Kau tidak mau mengumumkan kepada dunia kalau kita sedang bertengkar, bukan?” ujarnya sambil mencubit kedua pipi Su Li agar membentuk lengkung senyum.
“Siapa yang bilang kita bertengkar?” ujar Su Li kemudian menurunkan tangan Ziang Wu dari pipinya.
“Iya, kita tidak bertengkar.”
Ziang Wu kemudian menggandeng Su Li untuk kembali ke ballroom. Jika terlalu lama ia tidak tahu kapan bisa bertahan. Pemuda itu tahu, menurutnya Su Li benar. Hubungan mereka sangatlah tidak mungkin. Jadi ia harus bertindak secara profesional. Melakonkan dengan apik tanpa kesalahan. Ketika pasangan itu mencari keberadaan sang Ayah, kedua bintang acara malam ini terlihat sedang menuju ke arah mereka. Keduanya refleks mendatangi Alexander dan tunangannya tersebut.
“Selamat atas pertunanganmu,” ucap Su Li dan menyalami Alexander. Pemuda itu menyambut uluran tangan Su Li dengan senyum sambil melirik Ziang Wu yang berdiri di samping Su Li.
“Terima kasih. Selamat juga atas pernikahanmu. Saat itu aku sedang di Amerika, jadi tidak bisa menghadiri pernikahan kalian.”
Ziang Wu mengangguk tipis dan menyambut uluran tangan Alexander. Alexander diam-diam mengamati Ziang Wu. Dalam hati sebenarnya ia penasaran, apa yang dimiliki oleh pemuda di hadapannya sampai bisa menikah dengan Su Li. Selain wajah tampannya itu.
“Aku penasaran. Apa yang bisa membuat seorang Nona Su yang begitu tidak tertarik dengan pernikahan, memutuskan untuk menikah?”
Su Li hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sejak pertama memutuskan untuk menghadiri acara tersebut, Su Li berharap jika Alexander tidak menyinggung apapun tentang semua yang mereka bicarakan. Namun mendengar ucapan pemuda tersebut, pupus sudah semua harapannya.
Seorang pelayan menawarkan minuman kepada mereka berempat, Alexander mengambil dua gelas sampanye dan memberikannya kepada Su Li. Namun gelas itu kemudian ditukar oleh Ziang Wu dengan jus anggur yang juga dibawa oleh pelayan tadi. “Jangan minum alkohol,” bisiknya. Perhatian kecil tadi tidak luput dari pengamatan Alexander. Sebuah senyum tipis terbit dari pemuda campuran Tionghoa-Amerika tersebut.
“Manusia bisa berubah, Tuan Wang. Jadi tidak mustahil juga bagiku untuk berubah,” jawab Su Li.
“Ya, aku setuju dengan itu. Manusia bisa berubah kapan pun. Bahkan seseorang yang menganggap suatu hubungan pernikahan hanyalah ketertarikan dengan apa yang dimiliki oleh pasangannya, bisa menjadi percaya dengan pernikahan.”
Su Li sama sekali tidak mengerti mengapa Alexander membahas ini semua, diam-diam ia melirik Ziang Wu yang sejak tadi hanya diam sambil menyesap sampanye yang berada dalam genggamannya. Terlihat bahwa tidak tertarik sama sekali dengan pembahasan ini. Untung saja saat itu, sudut matanya menangkap bayangan sang Ayah yang sedang berbicara dengan Direktur Wang dan para rekannya.
“Mohon maaf, kami harus pergi sekarang, Ayahku tadi sedang mencariku,” ucap Su Li sopan. “Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian,” ucapnya kemudian buru-buru membawa Ziang Wu menjauh menuju keberadaan sang Ayah.
“Sepertinya ia dendam karena kau sudah menolaknya,” bisik Ziang Wu. Su Li hanya memutar bola matanya. Kenapa suaminya itu baru mengeluarkan suara sekarang?
“Aku tidak peduli,” ucapnya pendek.
***
“Kau ingin pergi?”
Su Li yang sedang mengeluarkan beberapa pakaiannya menoleh mendapati Ziang Wu yang berada di depan pintu kamarnya. Ia kemudian mengangguk. “Aku akan tinggal di apartemenku untuk sementara.”
“Jadi kau akan tinggal di apartemenmu? Mengapa?” tanya Ziang Wu sambil memperhatikan punggung Su Li yang sedang menata barang-barangnya di dalam koper. Tanpa pembahasan terlebih dahulu, Ziang Wu terkejut kala mendapati istrinya tersebut sedang mengemasi barang. Padahal niat awalnya adalah untuk membangunkan Su Li dan sarapan bersama.
“Aku mengurus salah satu proyek yang lokasinya lebih dekat dengan apartemenku. Memakan cukup waktu jika harus pulang dan pergi dari rumah,” jawab Su Li kemudian menutup kopernya. “Aku lupa untuk memberi tahumu.”
“Lagipula kau tidak punya kewajiban untuk melaporkan apapun denganku,” ucap Ziang Wu kemudian mengambil alih koper yang sedang Su Li pegang. “Sarapan terlebih dahulu sebelum pergi,” ucap pemuda itu kemudian keluar dari kamar Su Li. wanita itu hanya diam melihat Ziang Wu yang menghilang di balik pintu meninggalkannya sendiri. Ziang Wu memang masih memperhatikannya, walaupun Su Li merasa ada sesuatu yang kurang saat ia berinteraksi dengan pemuda tersebut. Namun ia tidak mau ambil pusing. Tadi pagi, Nona Lin menghubunginya. Sekretarisnya itu melaporkan ada aliran dana yang tidak wajar di salah satu proyek yang sedang mereka tangani. Alasan kepindahannya bukanlah suatu kebohongan.
Su Li mengernyit kala tidak menemukan Ziang Wu di meja makan. Saat ia ingin berbalik mencari Ziang Wu, pemuda itu keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi.
“Aku harus ke kantor sekarang, ada masalah pada program yang sedang kami kerjakan,” ucapnya sambil bergegas menuju rak sepatu. Tanpa berbicara lagi, ia kemudian menghilang di balik pintu. Su Li hanya terdiam, ia bahkan tidak sempat untuk berbicara menanggapi.
“Hati-hati di jalan,” lirihnya sebelum kembali ke meja makan. Melihat sarapan Ziang Wu yang belum tersentuh, membuatnya kembali beranjak untuk mengambil kotak makanan. “Aku akan mengantarnya nanti,” gumamnya.
***
Senyum Su Li terkembang tipis saat melihat pantulan dirinya di cermin. Hari ini ia memakai kemeja tanpa lengan berwarna putih dengan celana high waist dengan warna senada. Tak lupa blazer berwarna mustard menjadikan tampilannya saat ini terlihat manis. Nona Li mengatakan akan menjemputnya dalam waaktu sepuluh menit. Tepat saat ia sedang mengambil flat shoes putih dari rak sepatu, bel apartemennya berbunyi.
“Selamat pagi, Nyonya,” sapa Nona Lin saaat pintu terbuka. Wanita itu kemudian masuk setelah dipersilakan oleh Su Li.
“Kita mampir ke kantor terlebih dahulu. Ada yang ingin aku ambil,” ucap Su Li saat dirinya keluar dari kamar dengan menenteng sebuah tas kulit berwarna hitam. Tak lupa ia membawa bekal yang tadi ia siapkan di dalam paperbag coklat. Nona Lin mengagguk dan mengekor pada Su Li yang berjalan keluar.
Suasana lobi Liang Tech yang jarang sepi langsung menyambut keduanya saat melewati pintu putar. Segera mereka bergabung dengan beberapa pegawai lainnya di depan lift. “Nona Lin, aku akan menemui Ziang Wu sebentar. Kau bisa ke ruanganku terlebih dahulu,” ucap Su Li kala mereka sudah memasuki lift.
“Baik Nyonya.”
Su Li melangkah keluar kala lift berhenti di lantai delapan, dimana divisi Pemrograman berada. Senyumnya merekah kala melihat Ziang Wu yang terlihat sedang serius di depan komputernya. Langkahnya terhenti kala melihat seorang gadis yang mendekati meja Ziang Wu. Maniknya membulat sempurna kala melihat bagaimana gadis itu menyuapi Ziang Wu dengan sandwich yang ia bawa. Ada sedikit percikan amarah yang timbul membuatnya berbalik menuju lift.
Maniknya menatap nanar paperbag yang tadi ia bawa. ‘Pantas saja ia lebih suka di kantor, sampai buru-buru meninggalkan sarapannya,’ omelnya dalam hati. Su Li memberikan paperbag itu kepada office boy yang kebetulan berada di depan lift saat dirinya keluar dari kotak besi tersebut.
***
“Nyonya, ini laporan terakhir yang harus diperiksa hari ini.”
Su Li tersenyum cerah sambil menandatangani laporan yang disodorkan oleh Nona Lin. Beberapa hari ini ia memang terjebak di balik meja kerjanya. Masa pelatihannya pun selesai setelah proyek terakhir yang ia tangani sukses memenangkan tender. Diputarnya kursi yang sedang ia duduki menghadap jendela kaca besar di belakangnya. Matahari sudah kembali ke peraduannya. Walau langit tidak terlihat satupun bintang, tetapi gemerlap lampu dari perkotaan metropolitan itu bisa menggantikan kemilau benda ruang angkasa tersebut.
“Ini juga draft acara penobatan yang akan dilakukan minggu depan,” ucap Nona Lin sambil menyodorkan tablet kepada Su Li. namun, Su Li mendorongnya kembali kepada Nona Lin. “Aku percayakan semuanya padamu,” ucapnya sambil mengeluarkan senyum termanisnya.
“Aku ingin pulang sendiri malam ini. Jadi kita akan bertemu besok,’ ucap Su Li yang mendapat anggukan dari Nona Lin sebelum wanita itu pamit undur diri keluar dari ruangan. Sepeninggal Nona Lin, Su Li tepekur memandangi ponselnya. Ia kemudian meraih benda elektronik tersebut. Jemarinya menuntun untuk membuka room chat dengan Ziang Wu. Hatinya meringis kala melihat pesan terakhir yang dikirimkan Ziang Wu untuknya adalah lima hari yang lalu.
Beberapa ia bermaksud mengetikkan pesan tetapi selalu berakhir ia hapus tanpa menekan tombol kirim. Sekelebat bayangan bagaimana rekan setim Ziang Wu yang menyuapinya pagi itu kembali membuat dadanya bergemuruh. Ia kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bersiap untuk pulang.
“Ketua Tim.”
Su Li menghentikan langkahnya. Senyum lebarnya muncul kala mendapati Shan Yue dan Xiao Lu berjalan ke arahnya. “Maaf, Nyonya Su. Gadis ini tidak bisa diberi tahu agar tidak memanggil anda Ketua Tim lagi,” ucap Xiao Lu saat keduanya tepat berada di depan Su Li.
“Tidak masalah. Kalian baru saja pulang? Lembur, ya?”
Keduanya serempak mengangguk. “Apakah Nyonya pulang sendiri?” tanya Xiao Lu yang dijawab Su Li dengan anggukan.
“Ketua Tim, aku ingin menanyakan sesuatu.”
Shan Yue mengabaikan tatapan tajam dari Xiao Lu, menurut gadis itu saat ini adalah waktu yang tepat baginya untuk bertanya. “Tidak perlu menatapku seperti itu, aku bisa mati penasaran jika tidak bertanya,” lanjutnya yang membuat Xiao Lu kehabisan kata-kata.
“Tidak apa-apa, Xiao Lu. Apa yang ingin kau tanyakan?” ujar Su Li. melihat raut Shan Yue yang tiba-tiba menjadi lebih antusias, membuat dirinya mengantisipasi akan pertanyan apa yang akan gadis itu lontarkan.
“Kemarin aku mendengar ada yang mengatakan bahwa anda dan Tuan Ziang Wu sedang bertengkar. Itu tidak benar ‘kan, Ketua Tim?”
Su Li sempat terkejut mendengar perkataan Shan Yue, tetapi secepat kilat ia berusaha membuat ekspresinya biasa saja. Senyum tipis terpatri sempurna pada wajah cantik itu. “Kami memang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jadi memang jarang terlihat bersama.”
“Nyonya bisa mengabaikan pertanyaan aneh dari gadis ini. Bus kami hampir sampai, jadi kami duluan Nyonya,” pamit Xiao Lu kemudian menyeret Shan Yue menjauh. Sayup-sayup dapat Su Li dengar bagaimana Xiao Lu mengomeli gadis itu.
***
Acara penobatan Su Li dilangsungkan di gedung pertemuan yang berada di Liang Tech. Awalnya sang Ayah ingin mengadakannya secara megah di sebuah ballroom hotel bintang lima tetapi Su Li menolaknya dengan tegas. Baginya cukup dengan mengadakan di perusahaan saja. Kolega serta rekan bisnis dan seluruh pegawai Liang Tech memenuhi ruangan tersebut. Di tengah-tengah ruangan terlihat Su Li yang didampingi oleh Ziang Wu sedang menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir.
Pasangan suami istri itu tampil kompak dengan dress code berwarna hitam. Su Li tidak menyangka jika yang menjemputnya tadi di apartemen adalah Ziang Wu. Ia bahkan tidak berani mengharapkan jika Ziang Wu bisa menemaninya.
“Tuan Ziang sangat beruntung mendapatkan istri yang cantik dan juga kompeten seperti Nyonya Su.”
“Kami sama-sama beruntung karena sudah dipertemukan,” jawab Su Li sambil tersenyum kecil. Ia sebenarnya ingin menghapus kalimat tersebut agar tidak ada yang mengatakannya malam ini, karena dilihat dari segi manapun dirinya lah yang beruntung karena bisa menikahi Ziang Wu.
“Kendalikan ekspresimu,” bisik Ziang Wu sambil menarik Su Li lebih dekat dengan dirinya. Sengatan halus menyentak tubuh Su Li. Ini adalah kontak terintim mereka setelah ciuman panas di restoran beberapa waktu lalu. Wanita itu mengikuti saran Ziang Wu, kembali memasang topeng ramahnya walaupun sebenarnya ia sudah sangat lelah berpura-pura. Suara ketukan pada mikrofon di atas panggung, mengalihkan atensi semua orang yang berada di ruangan. Su Liang berdiri dengan gagah di atas panggung.
“Selamat malam semuanya. Terima kasih karena sudah hadir di malam yang berbahagia ini. Sperti kita tahu bersama, perkembangan jaman menuntut kita harus selalu berinovasi. Begitu pula dengan perusahaan Liang Tech. Maka dari itu kita sambut CEO baru dari Liang Tech, Su Li.”
Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan, Su Li kemudian membawa langkahnya naik ke atas panggung bergabung dengan sang Ayah. Su Liang memeluk putrinya dengan bangga. Akhirnya keinginannya dapat terkabul. Setidaknya satu permintaan dari mendiang Istrinya dapat ia wujudkan. Selain pengangkatan dirinya menjad CEO, malam itu Su Liang juga mengumumkan bahwa Su Li menjadi pewaris dari semua harta yang ia punya termasuk Liang Tech.
Melihat bagaimana Su Li dapat meraih apa yang menjadi tujuannya, membuat Ziang Wu menciut. Artinya waktu perpisahan di antara mereka akan semakin dekat. Pemuda itu kemudian membawa dirinya menjauh dan keluar dari ruangan.
“Ini juga lepas dari perhitunganku. Aku tidak menyangka jika anak kecil itu ingin menjadi pewaris.”
Ziang Wu menajamkan pendengarannya. Ia mengendap-endap mendekati sumber suara tersebut. Ia dapat melihat seorang pria yang berdiri membelakanginya sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Secepat kilat ia berbalik bersembunyi di salah satu dinding saat pria itu menoleh.
“Baiklah, Bos. Saya akan mengamankan apa yang bisa saya amankan. Anda jangan khawatir,” ucap pria itu lagi sebelum akhirnya mematikan panggilan.
Rasa penasaran Ziang Wu semakin besar, ketika ia ingin mengintip lagi lagi, pria itu telah menghilang.
“Siapa dia?”

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top