Second Year

Tahun kedua

16 Mei 20**

Hari ini sama cerahnya seperti tahun lalu. Aroma musim semi tercium di seluruh penjuru kota. Kupu-kupu Swallowtail terlihat di berbagai tempat di lingkungan sekitar sini. Ah, ada minimarket baru juga di ujung blok sana. Saat pulang sekolah tadi, aku melihat tempat itu disesaki banyak orang. Padahal, minimarket seperti itu sudah berjamuran di kota ini. Kadang, aku tak bisa mengerti pola pikir pemukim di sini.

Ini adalah tahun kedua aku menulis di buku diari ini. Tidak banyak yang aku tulis satu tahun belakangan ini. Gaya menulisku juga masih sama, melankolis yang dipaksakan. Tapi tak apa, menulis di buku diari ternyata lebih menyenangkan dibandingkan curhat dengan orang lain.

Tapi, hei, banyak yang mengatakan kalau tulisanku bagus-bagus semua. Adikku berkata bahwa ia terharu saat membaca puisi-puisi yang kubuat di buku ini. Ibu juga mengatakan bahwa aku mempunyai bakat dalam hal menulis. Teman-temanku juga mengatakan kalau aku bisa menjadi penulis puisi terkenal seperti Ai Nishimiya.

Untung saja mereka tidak melihat surat-surat cinta yang kubuat.

Yah ... aku tidak merasa demikian, sayangnya. Sudah kukatakan bahwa tulisan-tulisanku sangat melankolis hingga bisa saja membuat orang yang membacanya muntah--aku sendiri bahkan merasa luar biasa jijik ketika membacanya ulang. Jadi, ya ... aku akan menganggap itu semua sebagai pujian saja. Jarang-jarang ada yang memujiku seperti ini.

Ah, ya, aku juga sudah naik ke kelas 3 SMU tahun ini. Itu berarti, tidak ada waktu lagi untuk bermain-main dengan sekolah dan pelajaran. Masa perkuliahan sudah menunggu di depan mata dan aku tidak sabar lagi untuk memasukinya.

Ayah sudah sering bertanya tentang jurusan apa yang akan aku pilih di universitas kelak. Sampai sekarang, aku belum tahu mau mengambil jurusan yang mana. Dari sekian banyak jurusan yang ditawarkan oleh universitas di kota ini, belum ada satu jurusan pun yang bisa membuatku tertarik. Ah, payah. Kalau begini terus, mau jadi apa aku di masa depan?

Jurusan informatika tidak cocok untukku. Ilmu kesehatan juga bukan tipeku. Aku juga tidak akan bisa masuk ke jurusan pendidikan fisika. Bisa meledak otakku jika masuk ke sana.

Umm ..., sepertinya setelah kupikir-pikir, aku akan mengembangkan tulisan-tulisanku. Dan lagi, sepertinya aku akan mengambil jurusan sastra Jepang agar bisa sesuai dengan minat yang kukembangkan. Baiklah, semoga pilihanku tidak salah.

Juga ... tentang gadis dari kelas sebelah yang menarik perhatianku itu ... aku masih tetap tertarik padanya. Aku masih memikirkan senyumnya, rambutnya yang bergoyang terbawa angin, bahkan hingga tawa kecilnya yang demi tujuh raja di lautan, tawa itu benar-benar bisa menyembuhkan depresiku.

Sayangnya, setelah percobaan pertama yang kulakukan tahun lalu untuk menyuratinya, aku belum mendapatkan balasan apa-apa darinya. Mungkin dia merasa surat itu hanya main-main saja kah? Entahlah, tidak ada yang tahu.

Aku baru menyadari bahwa aku benar-benar menyukainya di tahun ini. Yang kurasakan saat ini bukan sekedar perasaan suka, atau malah perasaan kagum. Ada rasa lain yang membuat perasaan ini berbeda dengan perasaan-perasaan lain. Oh, mungkin inilah yang kawan sebangkuku sebut sebagai cinta.

Tapi, sepertinya Ayah sudah menyadari gerak-gerikku belakangan ini. Aku selalu melamun dan tidak pernah fokus ketika melakukan sesuatu. Bahkan, aku juga sering senyum-senyum sendiri ketika memikirkan tentang dirinya. Bodohnya aku. Siapa yang tidak akan menuduh diriku gila ketika tiba-tiba saja aku senyum tanpa alasan yang jelas.

Lelaki itu sepertinya tahu kalau aku sedang jatuh cinta. Dia pernah berkata kepadaku bahwa hal itu sangat normal dan semua orang pasti akan mengalaminya. Namun, mengingat diriku yang sudah kelas 3 SMU ini, dia memperingatkanku agar lebih fokus kepada pelajaran dan tidak terlalu memikirkan tentang gadis yang kusuka.

Aku sudah berusaha mencoba, namun gagal....

Dan hari ini, tepat satu tahun setelah surat terakhir yang kukirimkan kepadanya, aku akan kembali menulis surat untuk gadis itu.

Pertama, aku akan kembali menyapa dan memperkenalkan diriku. Pada bagian ini masih aman dan terkendali tanpa ada masalah yang berarti. Melatih kemampuan menulis selama satu tahun terakhir tidak sia-sia juga ternyata.

Aku juga akan memanggil diriku sebagai Tuan Musim Semi. Tak lupa pula aku meyakinkan dirinya di surat itu bahwa aku berada di satu SMU yang sama dengannya, dan bukan merupakan penguntit mengerikan atau kakek-kakek mesum yang sedang mengincar seorang siswi SMU.

Aku juga meminta maaf di surat itu. Aku tidak main-main ketika mengiriminya surat itu. Aku seratus persen murni ingin menjalin pertemanan dengannya. Semoga, dengan begini ia mau membalas suratku.

Aku juga kembali mengatakan alasan yang sama tentang mengapa.aku ingin sekali dapat berbicara dengannya. Bahasaku juga kubuat sesantai dan seramah mungkin agar tidak ada rasa canggung di antara kami berdua.

Setelah semua selesai, aku langsung membungkus surat tersebut di dalam amplop merah muda berpola hati yang kubeli tahun lalu. Dengan perasaan menggebu-gebu, aku datang ke sekolah pada malam hari dan menaruh surat itu di lokernya. Untung saja sekolah belum dikunci karena masih ada kegiatan dari ekskul pengamat bintang.

Namun, masih belum ada balasan darinya.

Tbc.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top