Bab 1
Layar monitor selebar 21 inchi itu menampilkan rekaman real time seorang wanita yang tengah berjalan di sebuah ruang tamu. Wanita berdaster itu terlihat tengah mengelap meja dan kursi di sana tanpa merasa ada yang janggal sama sekali.
"Nah, guys. Lihat deh itu ART-nya Bang Ari lagi bersih-bersih. Kita mulai, ya. Mulai on mic." Seorang pemuda di balik layar monitor tersebut mulai mengatur posisi mikrofon dan mengaktifkannya.
"Ekhem, Mbak. Mbak Rima, iya yang pake daster ungu."
Mendengar suara yang entah dari mana, wanita di dalam video terlihat kebingungan. Ia bahkan sempat mengitari ruang tamu untuk mencari orang yang barangkali bersembunyi untuk mengerjainya. Sayangnya, dia hanya sendirian di sana.
Orang di balik layar monitor menjauhkan mikrofon sebentar dan berbisik kepada kamera yang sedari tadi merekamnya, "Dia mulai bingung, guys. Mulai takut juga hehe. Kita kerjain lagi dikit."
Mikrofon kembali didekatkan dan suaranya pun kali ini bukan berupa bisikan. "Itu mejanya masih berdebu, Mbak. Coba bersihin lagi--"
"AAAA!!" Wanita dalam video itu seketika lari menjauh dari ruang tamu sambil berteriak.
"Hahaha! Kabur dia! Haha.... Takut kayanya. Oh, balik lagi sama Bang Ari."
Wanita tadi kembali bersama seorang selebriti ternama, Ari Ahmad.
"Yo, Bang Ari!"
"Katanya ada setan, Ron," balas Ari yang menghadap ke CCTV di sudut atas ruang tamu.
"Setan? Wah, parah banget. Aaron yang ganteng gini masa dikira setan. Haha oke kalo gitu prank kita kali ini...SUKSES! Yeay! Makasih ya, Bang Ari!"
Aaron mematikan program di komputernya setelah mendapat balasan dari Ari, lalu kembali pada kamera.
"Nah, guys itu dia tadi kita sudah coba hack sistem CCTV yang katanya punya sistem keamanan terbaik tapi ternyata bisa diretas juga. Karena mic-nya juga tadi berhasil kita dapet jadi sekalian prank deh hahaha. Nah segitu aja Live kali ini, ya. Oh ya jangan lupa kunjungi official online store-nya Roboot buat dapetin headphone, keyboard, dan mouse keren kaya yang aku pake sekarang. Pake kode punyaku juga jangan lupa 'AARONKNIGHT' buat dappetin cashback hingga 30%! Oke, see yaa!"
Rekaman pada kamera Aaron dimatikan. Setelah Live di YouTube selama lebih kurang satu setengah jam, akhirnya Aaron bisa merilekskan otot-ototnya. Aaron meregangkan tubuhnya di atas kursi gaming. Kursi empuk dengan elastisiitas tinggi itu membuat Aaron berada pada posisi 145 derajat, hampir terlentang seperti di kasur.
Tok... tok.... Aaron menoleh ke arah pintu di belakangnya yang diketuk seseorang.
"Makananmu dah sampai. Di meja, ya," ucap seorang pemuda pada Aaron dari ambang pintu.
"Yap! Thanks, ya."
Tanpa menunda waktu, Aaron langsung berjalan menuju meja di ruang tengah untuk menyantap makanan yang sudah ia pesan sebelumnya. Aaron melompat dan membiarkan tubuhnya mendarat di sofa dengan nyaman. Satu mangkuk plastik di hadapannya ia ambil. Ketika penutup mangkuk itu dibuka, kepulan asap panas dan aroma yang menggugah selera menguar di udara.
Seporsi bakmi spesial dengan ekstra pakcoy siap dimakan. Sambil makan, Aaron mengecek kolom komentar video rekaman Live yang kini sudah bisa dinikmati penonton yang tidak sempat menonton siaran langsungnya.
[Guy That You Like] : Ngehack CCTV Allinonce?
[Orang] : Paling endorse
[Bumi Pada Langit] : Spill prosesor sama harganya bang
[Aku Siapa] : Kok bisa cuma sejam retas keamanannya Allinonce?
[Manusia Hilang] : Jangan disensor dong bang id nya, kita juga mau kali bisa retas CCTV orang wkwkwk
[Adi S] : Buka kelas bang
[Bambang] : Kabur bang ntar ada FBI dateng wkwk
[Aa Dimas] : Gabung cyber police bang kasian polisi indo masih gaptek
[Polisi Indo Mie] - Membalas Aa Dimas : Loh kok bawa2 saya?
[Pencuri Timun] : Lah muncul dia wkwkwk
[Kentang Sasha] : Itu beneran ga masalah bawa2 nama brand ke video? Tiati kena pasal loh bang. Lintas negara kita.
[Kau] - Membalas Kentang Sasha : Kita? Lo aja kali
[Abah Camer] : Bapak kamu hacker ya? Iya, kok tau? Soalnya kamu telah meretas sistem keamanan cintaku
[Pagi Semua] - Membalas Abah Camer : Balik bah dicariin enyak
Aaron banyak tertawa selama dia menatap ponselnya. Bakmi yang sebelumnya Aaron nanti-nanti pun sekarang ia abaikan. Kegiatan mengasyikkan Aaron harus berhenti sesaat saat suara benturan terdengar tak jauh dari tempatnya duduk.
"Nggak papa, Ian?" tanya Aaron pada Ian, teman satu apartemen yang tadi menyampaikan pesan kedatangan bakminya.
Ian meletakkan satu kardus besar di lantai depan kamarnya.
"Nggak papa kok. Tadi kardusnya nabrak kusen pintu."
"Oh. Beneran mau pindah nih?" Aaron menyeruput bakminya di sela-sela percakapan.
"Beneran lah. Udah packing juga."
"Serius? Udah yakin 100%?"
Ian menatap Aaron sambil terkekeh. "Kenapa? Bakal kangen?"
"Hoek amit-amit dah."
Kring... kring... kring.... Suara alarm dari ponsel Aaron dan Ian berdering bersamaan. Keduanya saling tatap dan tersenyum. Seolah sebuah tanda dimulainya sesuatu, Aaron dan Ian bergegas kembali ke kamar masing-masing dan menghidupkan komputer mereka.
Aaron mengaktifkan VPN dan memastikan kembali kalau alamat IP miliknya tidak akan bisa dilihat oleh siapapun. Begitu pun kamera dan mikrofonnya, semuanya dimatikan. Aaron membuka satu browser andalannya dan membuat satu tab Incognito. Deretan karakter Aaron ketik dengan lancar seolah dia sudah menghafalnya sejak lama.
"It's show time!" ucap Aaron sambil menekan tombol Enter pada keyboardnya.
Layar monitor Aaron yang semula kosong kini dibanjiri kode-kode aneh dengan sangat cepat. Efek cahaya biru keunguan juga ikut tampil di sana. Sampai akhirnya layar Aaron menjadi gelap sepenuhnya. Lalu tulisan "Welcome to Down There" yang besar pun muncul.
[User ID : Em]
[ID Verified]
Tidak ada hal lain yang muncul di layar monitor Aaron selain satu ruang percakapan yang kini sangat ramai. Ruang percakapan ini jadi satu-satunya hal yang bisa Aaron akses di komputernya setelah verifikasi ID-nya selesai. Ruang itu seperti sebuah kafe sempit dengan tema pesta topeng rahasia.
Tak ada seorang pun yang menunjukkan wajah asli mereka, menutupinya dengan topeng. Nama-nama mereka pun terdiri dari satu huruf besar dan satu huruf kecil, kode panggilan yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan nama asli mereka.
Aaron lebih memilih untuk memojok di ruang sempit tersebut. Dari tempatnya, Aaron dapat melihat kalau Ian juga sudah di sana. Mereka mengetahui keberadaan satu sama lain, tapi tidak melakukan interaksi sama sekali.
Awalnya ruang tersebut ramai dengan pembahasan biasa seperti perkembangan terbaru dalam dunia internet. Sampai akhirnya salah satu dari mereka mengangkat topik tentang video hacking Aaron.
[Bv] : 2.1000011 1010100 1010110 (CCTV)
[Xu] : 1001111 (Yes)
[Df] : 1000001 2.1101100 1101001 1101110 1101111 1101001 1100011 1100101 ? (Allinonce?)
[Sr] : 1101000 1100101 1101001 1110011 1100001 1110011 11011001 110011 1101110 (He is asian)
[Hl] : 1100110 1110010 ? (fr - for real?)
[Lk] : 1001111 (O - Yes)
[Ty] : 1101000 1101111 1110111? (how?)
[Re] : 1101110 1101111 1110100 1100010 110011 1100100 (not bad)
Di kamarnya, Aaron tersenyum puas. Meski awalnya hanya mengejar adsense, ia tak bisa tak merasa bangga ketika videonya menjadi topik pembicaraan di Down There.
Bagi Aaron yang sudah mengorbankan pendidikannya hanya demi menjadi bagian dari sisi terdalam internet, mendapat pujian dari orang mengerti sangat berarti. Apalagi Down There bukan ruang percakapan yang bisa diakses sembarang orang. Down There berada jauh di dalam deep web, berbaur dengan situs-situs rahasia dan eksklusif lainnya. Hanya mereka yang mendapat undangan yang bisa bergabung dengan Down There.
Identitas semua orang dijanjikan aman. Nama yang mereka pakai adalah kode ID. Semua percakapan ditulis dalam kode ASCII 7 digit dan beberapa kode seperti O untuk Ya atau setuju dan X untuk Tidak atau tidak setuju.
Saat pertama kali Aaron bergabung, ia harus bolak-balik melihat catatatn kode ASCII miliknya hanya untuk menerjemahkan beberapa huruf saja. Tak jarang pada akhirnya Aaron kehabisan waktu sebelum bisa berinteraksi dengan orang lain. Namun sekarang Aaron sudah hafal di luar kepala sehingga ia bisa memaksimalkan sedikit waktu yang diberikan Down There untuk berinteraksi dengan anggota lainnya. Deretan kode dengan fony Monospace itu seperti alfabet biasanya di mata Aaron.
[Pi] : aku sudah menonton videonya
[Ij] : apa videonya sungguhan ?
[Pi] : ya
[Kc] : tidak mungkin
[Wr] : apa mungkin dia ada di sini ?
"Hahahaha...." Aaron tertawa di tempatnya.
Jari-jari Aaron serasa gatal ingin mengatakan bahwa dirinya lah YouTuber yang baru saja menemukan celah pada sistem keamanan kamera pengawas nomor satu di dunia. Untungnya pikiran bodoh yang terlintas di benak Aaron itu tidak benar-benar ia lakukan saat ponselnya menderingkan nada pesan masuk.
[Ian] : Jangan macem-macem
[Aaron] : Macem-macem gimana? Hahaha
[Ian] : -_-
Aaron tengah mengetik balasan untuk Ian sebelum suara notifikasi dari komputernya terdengar. Perhatian Aaron seketika beralih pada pengguna dengan kode nama [00] yang membuat pengumuman di Down There.
[00] : Pengumuman. Kami akan berpartisipasi dalam event yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Untuk itu, LadyBug akan melakukan perekrutan anggota baru.
Ruang percakapan itu kembali ramai. Jauh lebih ramai dari sebelumnya.
Anggota baru! Aaron yakin tidak salah baca. LadyBug adalah organisasi hacker yang cukup terkenal. Mereka biasa melakukan banyak pekerjaan baik bersih maupun kotor. Tidak jarang pihak keamanan dari suatu negara meminta bantuan pada LadyBug untuk membantu mereka memecahkan kasus-kasus besar.
LadyBug hanya terdiri dari empat puluh delapan anggota dengan "00" sebagai pemimpin. Tiap anggota akan diberi kode nama berbeda seperti empat puluh delapan kode error internet. Semakin kecil angka pada kode nama mereka, semakin tinggi kemampuannya. Down There adalah tempat yang LadyBug sediakan untuk mencari anggota-anggota baru mereka.
[Ian] : Kira-kira siapa yang bakal dapet undangan?
Ian kembali mengirim pesan pada Aaron. Orang yang terpilih akan mendapat undangan dari "00" dan melakukan beberapa tes sebelum resmi menjadi bagian dari LadyBug.
[Aaron] : Siapa lagi? Ya pasti aku lah
[Ian] : Nih anak minta disiram air biar bangun
[Aaron] : Haha menurutmu siapa?
[Ian] : Af mungkin. Dia bilang baru aja selesaiin proyek besar
[Aaron] : Dia aja umbar-umbar real life mana mungkin kepilih
Ian tidak menjawab Aaron dengan cepat lagi.
"Pasti lagi cari orang buat ditebak lagi." Aaron meletakkan ponselnya di dekat komputernya. Tepat saat Aaron kembali menatap layar komputer, "00" melanjutkan pengumumannya.
[00] : Untuk itu, kami mengundang @Em untuk bersedia menyelesaikan semua tes yang kami berikan dan menjadi bagian dari LadyBug secara utuh setelah berhasil menyelesaikan semua tes.
[Tf] : Siapa ?
[Hu] : @Em
[Rt] : @Em
[Ew] : Selamat kawan @Em
[Du] : Siapapun kamu, selamat @Em
[Ed] : @Em
[Kp] : Oh si pemalu @Em, selamat ya
"HAH!?" Aaron melompat dari kursinya. Dia kaget bukan main ketika "00" menyebut kode namanya. Aaron mencoba tenang dan membaca tiap kata yang muncul pada layar komputernya.
Kode nama Aaron dipanggil berulang kali oleh anggota Down There lain. Ucapan selamat datang dari banyak orang. Tidak salah lagi, Aaron lah yang mendapat undangan itu!
Aaron yang tenggelam dalam euforia tanpa sadar berteriak. Dia berlari dengan cepat ke kamar Ian untuk pamer. Meski tergolong kurus, Aaron dengan tinggi 173 sentimeter membuka pintu kamar Ian dengan keras.
Kedatangan Aaron yang tiba-tiba membuat Ian terkejut. Ia berdiri di depan komputer yang masih menyala. Namun ekspresinya tidak terlihat bahagia sama sekali.
"Iaaaaannn! Aku yang dapet undangan!" Aaron berlari menghampiri Ian dan langsung menggantungkan tubuhnya ke Ian.
Ian yang tidak siap dengan sergapan Aaron hampir saja jatuh. Untungnya Aaron segera turun dan menunjukkan pada Ian bahwa "00" benar-benar memberinya undangan.
"Liat deh, liat deh. Beneran aku!"
Ian membaca cepat semua percakapan di layar komputernya. Lalu ekspresinya segera berubah dengan senyum lebarnya..
"Wih beneran, Ron. Parah sih. Selamat, Bro!" Ian dan Aaron melakukan high five singkat untuk merayakan peristiwa luar biasa ini.
"Kamu kalah, kan? Kalah, kan?" ucap Aaron sambil menunjuk Ian. Wajah konyolnya seolah sedang mengolok-olok Ian.
Butuh beberapa saat bagi Ian untuk memahami topik apa yang sedang Aaron bicarakan.
"Tapi kan kita ga taruhan, Ron." Ian berusaha mengelak karena tebakannya salah, sementara Aaron benar.
"Enak aja. Kalah ya kalah aja kali. Besok ya besok. Makan siang. Besok makan KFC gratis yey!" Aaron memutuskan hukuman bagi Ian secara sepihak sambil berjalan cepat kembali ke kamarnya sendiri.
Sementara itu, Ian hanya bisa tertawa kecil melihat temannya yang seolah tak pernah tumbuh jadi dewasa sama sekali. Tawa di wajah ian perlahan menghilang tatkala matanya menatap ponsel di lantai. Ponsel pintar itu terjatuh karena Ian terkejut saat Aaron menerobos masuk ke kamarnya.
Ian mengambil ponsel itu dan membuka kuncinya. Dia memandang satu pesan di layar dengan tatapan kosong sebelum menghela napas dan melemparkan ponsel itu ke kasur.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top