Bab 16
Mona sedang terbengong-bengong macem sapi ompong di depan layar laptopnya yang menyala terang. Bahkan Fani yang sengaja mendusel-dusel di betisnya—biasanya sih kode, lagi nagih jatah buat dielus—tanpa sadar harus diabaikannya. Membuat Si Gembul berbulu oranye tersebut lantas ngambek dan mengeong-ngeong melulu. Yang saking berisiknya suara eongannya, membuat suasana pada pagi itu di kediaman utama keluarga Mona sontak gempar. Kemudian, tersisiplah sosok Rama—yang mungkin diutus oleh Mami untuk mengecek—di mana tanpa babibu bocah itu langsung menjeblakan pintu kamar Mona.
Yang mana itu adalah sebuah dosa besar!
Ya! Habis ini, Rama mungkin mesti diproyeksikan untuk nambah ikut kajian di samping segudang kegiatan les-lesannya karena, dia udah berani-beraninya melanggar batas suci!
Oh, My! Mona tuh paling nggak suka loh yah sama orang yang grusa-grusu apalagi yang mengobok-obok teritorinya tanpa ijin! Kayak seseorang dari masa lalunya, yang belakangan makin gencar aja ngelakuin agresi. Tapi, Mona nggak kepengen ngebahas soal itu sekarang. Secara, dia aja masih sibuk melongo serta sama sekali nggak menyadari kehadiran Rama yang bahkan udah melakukan pelanggaran di sana!
Oh, God! Ya gimana caranya coba Mona bisa santai aja?
Please, please, please! Wong dia nih baru aja dapat kiriman e-mail dari pihak Fandi Brendi, salah satu designer kondang tanah air yang nggak tahu lagi khilaf—atau, malah cuma salah kirim—tapi, dalam tulisan yang dialamatkan kepada 'Dear Ms. Ramona from La-Mona', pihaknya beneran sedang mengisyaratkan mau mengajak Mona buat ambil bagian menjadi salah satu Desainer Florist, yang bakal ikut berkolaborasi dalam event fashion show-nya. Gilanya lagi—yang bikin bola mata Mona rasanya mau copot waktu mengeja—adalah fashion show tersebut juga akan menjadi tanda pembukaan WFC Summit!
Oh, God! Emang yah Tuhan itu Maha Adil. Setelah dia dibuat berdarah-darah maka, Tuhan kirimkan lah juga rivanol-nya.
Setelah segala jatuh-bangun yang terjadi dalam hidupnya. Mona nggak pernah nyangka kalau dia yang benci bunga—gara-gara setangkai mawarnya Satria—tiba-tiba mendapat lampu terang dalam benaknya yang menyalakan kata 'La-Mona'. Bukan hanya sekadar toko bunga biasa. Bagi Mona, La-Mona adalah simbol perjalanannya. Perjalanan yang boleh jadi akan jauh berbeda andai dia tak pernah mengenal seorang bernama Satria.
Menemui konklusi tersebut, tanpa sadar Mona lantas mengehela napasnya panjang. Yang sontak disambut celetukkan Rama, "Hayoooo loh! Kak Mon was thinking of Om Doctor yaaak?" Sambil berpangku dagu di kasur, Rama menaik-turunkan alisnya.
Mendengarnya, Mona tak ayal terkejut. Jantungnya bahkan masih empot-empotan gara-gara dikageti saat dia menolehkan kepalanya cepat, untuk kemudian menemukan wujud Rama yang bagai gulungan selimut lagi rebah kayak duyung di kasur sucinya. Mana tuh bocah udah make sepatu lagi, mana sepatunya pake naek-naek ke kasur pula!
Bener-bener yah bikin senewen aja!
"Heh! Sapa yang suruh masuk?" tembak Mona berikutnya, lengkap bersama bola matanya yang melotot tajam.
"Mami lah," jawab Rama enteng.
Beralih untuk bertolak pinggang, Mona memburu, "Ngapain masuk?"
Jari-jari Rama yang dalam pandangan Mona pagi ini tampak seperti sosis menuding santai ke arah lantai. "Fani was nangis 'miow miow miow," tirunya. "Cause, Kak Mon have not noticed her."
"Terus?" sergap Mona. "Sekarang udah nggak kan? Ngapain masih ngampar di situ? Buru berangkat sekolah sana! Ntar telat!" cerocosnya merepet.
Di tempatnya, Rama kontan mengubah posisi menjadi duduk bersila. Membuat kasur yang telah rapi Mona bereskan malah jadi kusut dan bernoda—ini pasti sih karena, abis mandi dan seragaman Rama punya hobi lari-larian di halaman, gangguin Bude Daru yang sibuk nyiram tanaman.
Awas aja tuh, bocah uang jajannya yang dari Mami bakal Mona sunat! Biar nggak kebiasaan!
"Rama is waiting for Kak Mon lah," balas Rama yang direspons Mona dengan picingan sarat akan kecurigaan.
"Nunggu apaan?" selidiknya tak seberapa lama.
Rama mengedik aja. "Buat drop Rama off at school lah."
"Ihhh, apaan? Ogah!" Mona menggeleng tegas.
"Kenawhy?" celetuk Rama yang otomatis Mona dengkusi. Lagi, dapet dari mana pula Si Rama kosakata ngegatelin kuping macem begitu?!
"Gue banyak kerjaan," ujar Mona kemudian, nggak sepenuhnya beralasan sih. "Minta Mami buat orderin ojek Bang Oka aja kalau nggak sempat nganter lo!"
"Boleh. Asal, after Kak Mon return from the office, please bring Rama some donuts!" Cengiran selebar teflon milik Mami udah sukses terlampir di wajah bulat Rama, membikin sebentuk desahan lolos begitu aja dari celah bibir Mona yang bahkan belum keburu kena pulas rouge dior yang sensasional.
"Makan mulu lo! Ntar perutnya meletus serem tau!" gerutu Mona.
"Ini perut not mercon. Mustahil exploded tau!"
"Ahelah, bodo amat!"
"Rama janji will not tell Mami if Kak Mon have met Om Dokter deh."
Mona memutar bola matanya bosan. "Bilang juga emang lo mau bilang apaan?"
"Ya bilang, Kak Mon finally got a boyfriend lah."
"Siapa yang bakal percaya?" tantang Mona.
"Mami will always believe in Rama." Dan, itu emang bener sih. Bahkan Mona bisa lolos dari ancaman sakit kuping mendengar ocehan Mami—akibat insiden gatel-gatelnya kulit Rama—ya berkat mulut ngelesnya Rama yang nggak pernah gagal membuat Mami manggut-manggut. Heran deh yah, kecil-kecil manipulatifnya udah gacor banget! Dasar!
Selepas menimbang beberapa saat mengenai baik-buruknya efek yang bakal ditimbulkan gara-gara beliin Rama donat—yang mana Mami lagi ngejaga banget takaran konsumsi micin dan gula tuh bocah—Mona lalu hanya bisa menjatuhkan bahunya lemas. Mau dipikirin sampe lebaran juga mending diceramahin Mami karena, nyekokin Rama pake gula ke mana-mana deh, daripada nyingung-nyinggung soal Satria yang mungkin nggak bakal baik efeknya. Terlebih untuk Mami yang semangat empat lima jadi supporter utama agenda move on Mona.
Maka, sambil memandang Rama lurus-lurus, Mona lalu memutuskan mutlak, "Oke. Ciki aja satu!"
Rama kontan manyun. "Plus boba?" negonya.
Mona kenal adiknya dan Rama nggak akan berhenti sebelum apa yang dia mau bisa dia miliki. "Oke." Meski micin dan gula itu akan bikin kuping Mona pedas malam nanti.
"Uye uye! Tapi, pulangnya jangan late night ya, Kak Mon!" hebohnya berpesan sambil berlari keluar kamar.
Menyisakan Mona yang lanjut menggerutu, "Bacot mulu ya anak siapa sih?"
Lalu, tak lama ada bunyi singkat dari ponsel Mona. Begitu dicek, isinya tak lain merupakan pesan dari Denada.
Denada: Mimi besok balik yak? Marlon udah oke kan? Eh, jangan lupa hari ini acara Amy Baskoro. Jangan ngaret ntar gue yang malu!
Mona mendesis. Denada bersama segala sifat antisipatifnya.
Lalu, tepat di bawahnya ternyata ada satu pesan lagi.
Bara: See you on Saturday.
Ya, Mona udah meng-oke-kannya. Ajakan Si Bara tempo hari soal dinner.
Keputusan yang apakah akan tepat?
Mona menatap pada Fani yang juga tengah balik memandanginya, tersenyum kecil, dia lantas mengelus bulu-bulu halus Fani yang telah bermutasi ke pangkuannya.
Move on? Entahlah.
***
Kangen ndak hayo?
Mending Move on atau ndak Move on?
Sampai ketemu lagi
Terima kasih udah menunggu dan membaca 💚💚💚

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top