Bab 14

Yang lupa, disarankan untuk membaca bab sebelumnya sambil nganu vote-nya juga boleh, Kakak wkwkwk

Selamat untuk yang kemaren memilih La-Mona.
________

Mona meraih handbag di nakas. Oh, tentu bukan sembarang handbag dong—untunglah, tadi pagi dia nggak asal nyomot dari lemari—karena, menatap pantulan dirinya di cermin yang tampil bersama selembar mini floral sleeveless dress-nya Pomelo dan sebuah Prada Saffiano, benar-benar bikin dia merasa lega.

Ya, lega. Sebab, dia ternyata nggak sekentang itu. Seengaknya jika dia terpaksa harus disandingkan dengan Satria yang makin dilihat—oke, Mona nggak akan sudi merepitisinya di masa depan—jujur, justru makin sedikit-dan-banget necis aja.

Kembali diam-diam mengintip melalui venetian blinds ruang kantornya, Mona dapat melihat sosok Satria yang ternyata masih terduduk dengan anteng, menunggu di ruang depan sambil memainkan ponsel.

Hish! Sial! Apa pria itu nggak dilanda bosen dan ngerasa pengen cabut, gitu? Padahal kan Mona sudah secara sengaja, lho berlama-lama ngedekem—dengan dalih bersiap-siap—di ruangannya. Niatnya, ya, cuma biar Satria tuh segera minggat dari La-Mona entah itu karena Raka telah datang ngejemput, atau pake moda transportasi apaan kek lah pokoknya, yang penting sosoknya lekas hilang aja dari pandangan Mona. Tapi, apa? Seperti biasa. Satria memang nggak dilahirkan bersama saraf-saraf kepekaan. Derajat pekanya berada di titik nol besar!

Menarik napasnya panjang, Mona lalu ogah-ogahan menyampirkan apron bekas pakainya ke arah stand hanger.

Huh! Lagi, ini tuh bener nggak, sih?

Dia mau makan siang bareng Satria. Oh, apa dia udah gila?

Nggak. Mona jelas nggak gila, dia cuma lagi ketiban kesialan beruntun aja.

Yeah.

Karena, kalau bukan sial apa lagi emang namanya waktu kakinya yang kemaren agak terkilir dan sialnya sempat ketahuan oleh Satria, barusan malah kumat lagi nyerinya? Di depan mata kepala Satria pula! Padahal tadi pagi masih oke-oke aja, lho.

Bener-bener sialan kan? Sesialan Si Bangsat itu yang sok-sokan pake ngeyel mau mengantarnya segala!

Oh, helooo? Padahal, siapa sih dia kok berani ngatur-ngatur begitu? Cuma mantan zombieing aja—tiba-tiba ngilang dan datang—sok care! Dasar!

Mona mendesah entah untuk yang ke berapa kalinya, sebelum bergerak malas guna menyambar kunci Brio di atas meja kerjanya sambil kemudian berlalu menghampiri Satria. Yang demi Tuhan, Mona nggak akan pernah mau lakukan andai dia nggak keburu memiliki kesanggupan untuk menggantikan Maminya pergi menjemput Rama. Juga, tentu andai bila Satria nggak kukuh menjadi pria super keras kepala.

Ugh! Kenapa kakinya mesti ngedadak sakit, sih?!

Di kursinya yang nyaris panas karena, terus dia duduki selama nyaris dua puluh menit, Satria tengah menunduk guna memperhatikan chat-chat random dalam group berisi dirinya, Raka dan Dimas. Barusan Dimas sedang mengirimkan berbaris-baris kalimat curhat alay—menurut pandangan Satria.

Gimana nggak? Dimas tuh selalu aja heboh buat cerita habis ketemu Selebritis A lah, B lah kayak yang nggak pernah ketemu Artis aja gitu, lho! Bikin geli, apalagi kalau Selebritis yang dicurhatkannya itu ternyata kaum batangan juga!

Iya, kalau yang dibahasnya jelas. Ini, kadang dia sibuk ngurusin jam tangan Si Selebritis yang seharga Lamborghini lah, sepatu yang dipakainya sudah sold out dalam satu jam penjualan lah. Kadang dia bahkan sampe ngebahas soal parfum, pomade, malah pernah juga nge-chat seharian cuma buat ngomongin kaus kaki. Dimas tuh Dokter atau tukang dagang sebenernya?

Satria bahkan sudah berniat untuk mengirimkan sebuah titik ke dalam ruang obrolan—yang mana artinya dia sudah bete serta masa bodo, deh Si Dimas itu mau nge-spam apaan lagi—sewaktu sebuah kunci mobil mendadak jatuh menggantung tepat di depan wajahnya.

Secepat kilat mendongak, Satria tak ayal langsung menemukan sosok Mona yang tengah berdiri dengan luar biasa gemilang—di matanya—bersama satu langkah saja jarak melintang.

Duh! Percaya nggak, sih jika Satria merasa Senin ini, di La-Mona, berjuta kali lipat lebih menyenangkan dibanding Senin-Seninnya yang biasa, yang kerap dia habiskan dengan terlentang—sendirian—di atas kasur apartemennya.

Oh, apa katanya tadi pagi? Lebih baik molor sampe gempor? Ah, dia mungkin lagi ketempelan waktu bilang begitu! Sebab, jelas-jelas sekarang, berjalan di balik punggung Mona—yang sepertinya nggak jauh beda ukuran lebarnya dari apa yang diingatnya, punggung yang terasa begitu pas ketika dia rengkuh, dulu—adalah kesenangan yang kalau pun Satria harus menukarkan seluruh jam tidurnya di hari Senin maka, akan dia lakukan.

Pasti.

Satria tengah diam-diam mengawasi Mona di jok sisi kemudi, perempuan itu tampak sibuk memasang seat belt-nya. Oh, apakah Satria sudah sempat mengatakan bahwa dia lah yang bakal menyetir kali ini?

Ya. Setelah sekian lama akhirnya Satria bisa berada di posisinya. Lagi. Seperti dulu.

Duduk, mendengarkan musik sekaligus celotehan Mona, menyetir untuk mengantar Mona ke mana pun yang Mona ingin pergi.

"Nanti habis makan, kita jemput Rama di sekolah!" ujar Mona sarat akan nada ketus pun menitah ketika, mereka sudah nyaris sepuluh menit bergelut di ramainya jalanan pada jam makan siang.

Anehnya, masih kayak dulu. Satria rasanya nggak keberatan mendengar ocehan menyebalkan itu. "Rama sekolah di mana?" tanyanya kemudian, mencoba mencairkan kutub es yang sedari tadi menumpukkan beku.

"ACG." Mona membalas singkat.

"Pasar Minggu, ya?"

"Hm."

"Oke. Habis itu langsung pulang ke rumah atau balik ke La-Mona?" Satria masih berusaha.

"Ke Mampang."

"Rumah pindah? Dari kapan?" ujar Satria agak terkejut sambil membunyikan klakson sekali untuk menyela mobil di depan yang masih saja diam padahal lampu hijau telah menyala.

"Yang bilang rumah siapa?" gerutu Mona setelah mendengkus kasar. "Itu lokasi tempat Rama les piano." Mona lantas membanting punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya lalu terulur untuk menghidupkan radio. Dan, memang lagi sial, Mona malah dibuat terdiam bagai patung es saat langsung disambut oleh lagu Kiss Me yang agaknya di-cover oleh Macarons Project.

Kiss me out of the bearded barley
Nightly, beside the green, green grass
Swing, swing, swing the spinning step
You'll wear those shoes and I will wear that dress

Oh, kiss me beneath the milky twilight
Lead me out on the moonlit floor
Lift your open hand
Strike up the band, and make the fireflies dance
Silvermoon's sparkling
So kiss me

Entah berapa lama waktu berlalu dengan Mona yang hanya bungkam.

Namun, samar-samar dia akhirnya dapat menangkap suara lain. Atau, haruskah dia katakan sebagai suara Satria? Ya. Siapa lagi kan?

"Lagu ini ... rasanya selalu bring back all the memories, ya?" Ada jeda lumayan panjang. Satria masih fokus dengan kemudianya, sewaktu menyambung, "Kamu ingat juga nggak kenangan kita dulu? Hari Sabtu sore kalau nggak salah tuh kita habis nyari buku di Gramed terus, kita beli es krim kan di toko apa gitu. Nah, kita dengar lagu ini buat pertama kalinya berdua sambil jilat-jilat es."

"Pulangnya naik motor bututku, kita kehujanan. Berhenti dekat bekas halte bus deket rumah kamu yang sepi dan berdua aja. I still remember that day. When I kissed you for the first time."

Mona sontak memalingkan wajahnya ke arah jendela.

Pernah dengar nggak?

Katanya, 'The first time you fall in love, it changes you forever and no matter how hard you try, that feeling just never goes away.'

Mona sesungguhnya nggak akan percaya kalau Satria ngaku-ngaku bila dia adalah cinta pertama pria itu. Namun, sudah jelas bagi Mona, Satria adalah yang pertama dalam segala hal di hidupnya. Jatuh cinta, berkencan, patah hati. Satria mengajarinya begitu banyak jenis rasa. Yang entah butuh seberapa lama lagi supaya Mona bisa lupa.

"Kalau bisa mengulang lagi, aku bakal mengulanginya lagi, Mon," gumam Satria, ia menatap Mona yang hanya diam. Mona tidak mengomentari apa yang ia ucapkan, tapi ia tahu Mona mengerti apa yang dia bicarakan dengan jelas. "Bersama kamu untuk bikin kamu—"

"Udah deh diem!" sentak Mona. Suaranya nggak keras. Namun, terdengar dingin menusuk. "Bukan berarti dengan kamu duduk di situ sekarang, semua masih sama." Mona mengambil napas sepersekian detik. "Berhenti. Berhenti bersikap seolah semua baik-baik aja, Satria!"

Iya, karena, nggak ada yang baik-baik aja. Bertahun-tahun hati Mona mengenyam lara selepas kepergian Satria yang tiba-tiba.

Nggak kah pria itu mau peka sedikit saja?

Mona hanya jatuh cinta, tapi kenapa dia harus dihukum sampai sebegininya? Hukuman yang entah sama Satria rasakan atau nggak?

***

Yang mau nebak-nebak buah manggis kenapa Si Bangsat ngilang? Boleh siapa tau tepat terus, dapet hadiah update kilat kan sapa tau yah 😹😹😹

Yang kangen Pani, Marlon sama Noname ❤ dongs.

Terima kasih udah menunggu dan membaca ❤❤❤

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top