Chapter 4 - Meeting
Setelah kejadian mimpi buruk itu, sekarang aku sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Jadwal yang padat menantiku untuk diselesaikan. Meeting dengan beberapa klien, sampai kejadian itu mengusik ketenanganku dikantor.
"Kita akan bekerja sama dengan salah satu adik kelas Oppa, CEO Lee Kang Dae. Ini beberapa berkas yang harus kamu baca. Kamu yang akan mengurus proyek kita dengannya," ucap Oppa menjelaskan proyek kerja sama yang sudah ditandatangani dengan Pak Lee.
"Kenapa harus aku yang menangani proyek ini, Oppa? Masih ada Oppa Tae-mu. Sekarang aku masih menangani proyek lain," keluhku.
"Ini permintaan langsung dari CEOnya. Oppa juga tidak bisa menolaknya setelah dia memberikan penjelasan mengenai kinerjamu yang sangat bagus," kata Oppa menatapku.
"Tapi Oppa ...," bantahku enggan.
"Lakukanlah. Nanti Oppa akan menyuruh Tae-mu untuk membantumu menangani proyek ini. Oppa tahu kamu merasa tidak enak pada karyawan lain, karena setiap ada proyek rata-rata hanya kamu yang ditunjuk sebagai ketua," ucap Oppa final, tidak ada diganggu gugat lagi.
"Baiklah, Oppa," pasrahku dan keluar dari ruangan Oppa dengan lemas.
Beberapa karyawan berbisik-bisik tentangku dengan suara yang disengaja biar aku mendengarkan sindiran-sindiran mereka. Yah, aku sudah terbiasa dengan hal tersebut dari pertama aku bekerja disini.
Seandainya suatu saat mereka tahu siapa orang yang disindir-sindir mereka itu, aku rasa mereka akan mati berdiri terkejut mengetahuinya, gumamku dalam hati membayangkan ekspresi lucu mereka setelah mengetahui aku anak dari pemilik perusahaan ini.
"Ketua kita akhirnya memasuki ruangan," ucap salah seorang karyawan timku dengan nada bangga.
"Kalian ...," kataku bingung mengapa mereka berkumpul di ruanganku.
"Kami akan bergabung dalam proyek baru, yang aku tahu pasti baru dijelaskan Pak Ki The sama kamu barusan," tebak Oppa Tae-mu tidak meleset,"dan ...."
"Dan apa?" tanyaku penasaran kelanjutan omongannya.
"Dan pasti kamu menolaknya kan," ujarnya tepat sasaran.
Aku melongo mendengarnya. Lalu aku bergidik ngeri melihat Oppa Tae-mu.
"Tolong kondisikan tatapanmu itu. Kamu melihatku seperti melihat setan. Yah, walaupun tidak ada setan yang setampanku pastinya," ucapnya pede sembari menyisir rambutnya kebelakang.
Kuakui Oppa Tae-mu termasuk kedua paling tampan setelah Oppaku tentunya. Aku menatapnya cuek sembari duduk di sofa tempat timku berkumpul. Untuk proyek kali ini sekitar 5 orang yang akan ikut aku menanganinya.
"Sakit hati dicuekin," sindir Oppa Tae-mu sembari memegang dadanya.
"Kita mulai meetingnya sekarang," ujarku tidak memedulikan ucapannya yang membuat semua anggota tim tersenyum lebar mengejeknya karena kucuekin.
Meeting selesai 3 jam kemudian. Aku melirik jam tanganku, lalu melirik anggota timku yang pada kelaparan. Jam 07.00 P.M.
"Kalian mau makan apa?" tanyaku,"Aku yang traktir," tambahku.
"Aku pengen kimbab, ramyeon, ....," ujar mereka bersemangat.
Aku tidak begitu mendengarkan mereka lagi.
"Ayo," ajakku langsung.
Mereka mengekorku keluar ke parkiran. Oppa Tae-mu dan aku yang membawa mobil sendiri, lainnya selalu naik kereta bawah tanah.
"Sebagian ikut denganku dan sebagian lagi ikut Ae-ri," ucap Oppa Tae-mu dianggukin aku.
Sesampainya di tempat makan tujuan kita. Kita segera memesan makanan dan menyantapnya.
"Ae-ri bakal bangkrut mentraktir kita makan hari ini. Kita semua makannya banyak loh," ujar salah seorang pria dalam timku.
Aku berkata dengan santai,"Makanlah sepuasnya. Itu sebanding dengan kerja keras kalian nanti."
"Iya, yang makan paling banyak harus kerja paling keras ya," goda Oppa Tae-mu tertawa lebar.
Mereka semua memelototin Oppa Tae-mu. Aku merasa iri dengan keakraban mereka dan aku merasa lega tidak ada yang menyindirku seperti yang tadi kualami. Mereka menerimaku dengan hangat.
Selesai pembayaran, aku mengantar mereka ke stasiun kereta. Padahal aku sudah menawarkan untuk mengantar mereka pulang, tapi mereka malu untuk merepotkanku.
Aku menancapkan gas mobilku dengan cepat untuk sampai di rumah. Selesai membersihkan diri, aku istirahat.
* * *
Keesokan harinya ....
Aku terbangun cukup pagi untuk melakukan rutinitas pagi seperti jogging, membaca data-data proyek yang kutangani, dan sarapan.
Jam 08.00 A.M.
Aku berangkat ke kantor lebih awal, karena 1 jam kemudian ada meeting mengenai proyek baru yang kutangani dengan CEO Lee Kang Dae. Setelah aku mencari tahu tentang cara kerja CEO tersebut. Dia terkenal penguasa bisnis di usianya yang tercukup muda. Dia tidak akan mentoleril kesalahan apapun. Tipe yang perfeksionis. Dia juga terkenal tidak ada segan-segan menginjak musuhnya seperti menginjak semut kecil. Itulah yang kutemukan.
Setibanya aku dikantor, segera aku menuju ruang meeting. Di sana sudah dihadiri oleh pihak klien.
Sangat on time,ujarku dalam hati.
Ketika aku sampai dihadapannya, aku terkejut CEO yang dihadapanku ini adalah pria brengsek yang tidak ingin kutemui lagi.
"Hi, kitty. Opps ... Maksud saya, apa kabar Nona Kim Ae-ri," sapanya dengan hangat sambil mengulurkan tangan.
"Baik. Senang berkenalan dengan anda, CEO Lee," ucapku dingin dengan senyum terpaksa sembari menjabat uluran tangannya.
"Sekarang kita mulai meetingnya," ujarku kemudian.
Meeting berjalan lancar dan terselesaikan beberapa jam kemudian.
Aku berjalan keluar untuk melanjutkan meeting kedua dengan anggota timku dalam mengatur pembagian kerjaan.
"Tunggu. Bisakah kita minum sebentar," cegat CEO Lee.
"Maaf. Saya masih ada meeting lain. Tolong hubungi saya lagi dilain waktu," ucapku menghindarinya.
"Baiklah, kitty," ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya,"dan saya berharap tidak akan ditolak kembali."
Dia memasang wajah kecewa. Aku hanya mengangguk mengiyakan dan berjalan meninggalkannya memasuki ruangan tempat berkumpul timku. Seharian disibukkan dengan jadwal padat akhirnya selesai.
Jam 20.00 P.M.
Aku merenggangkan tubuhku, setelah merapikan berkas-berkas dan bergegas pulang. Terdengar suara hpku berdering.
"Halo. Ini siapa?" tanyaku penasaran karena nomor tidak dikenal.
"Hi, kitty. Apa kamu sudah mengenal siapa ini?" tanya peneleponnya.
"Kau..," ucapku terkejut,"darimana anda mendapat nomor teleponku?"
"Itu sangat gampang. Apapun yang kuinginkan pasti kudapatkan. Termasukmu," ujarnya dengan yakin.
"Saya tidak dapat meladeni anda lama-lama. Saya harus pulang sekarang," ucapku males.
"Kamu belum pulang jam segini," ucapnya tidak percaya.
"Iya dan anda mengulur waktu saya untuk pulang," kataku dan membuka pintu mobil kesel.
"Sekarang pulanglah," katanya tegas,"nanti aku akan menghubungimu lagi."
Dia mematikan hpnya.
"Baru pulang?" tanya Dad ketika aku melewati ruang tamu.
"Iya, Dad," ujarku tersenyum lelah.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Nanti kamu pingsan lagi. Dad tidak mau hal itu terjadi kembali. Kesehatanmu lebih berharga dari apapun. Oke, honey?" nasihat Dad.
"Oke, Dad. Aku membersihkan diri dulu."
"Sayang," panggil Mom.
"Iya, Mom?"
"Setelah selesai, turunlah makan malam. Mom sudah menyuruh bibi untuk memanaskan makan malammu."
"Baik, Mom."
Aku melenggang pergi menaiki undakan tangga ke lantai atas menuju kamarku. Setelah mandi, aku turun untuk makan malam.
Hari yang melelahkan,gumamku menghela napas panjang. Rutinitas besok juga menungguku seperti biasa.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top