Bab 29
Aku tidak benar-benar kembali mencari penumpang setelah meninggalkan kedua pecundang itu di tengah perkelahian. Suasana hatiku jadi buruk karena insiden memalukan itu. Bisa-bisanya mereka berkelahi di depan umum dan dijadikan bahan taruhan. Sehingga ketika aku memutuskan untuk mencari sedikit hiburan, hal itu tidak lantas membuatku merasa bersalah. Lagipula aku juga sudah berjanji kepada mereka untuk menentukan pilihan hari ini. Dan hari masih panjang. Masih ada sebelas jam menuju tengah malam.
Kututup pintu belakang dan semua jendela angkotku. Kutolak semua orang yang melambaikan tangan di pinggir jalan. Kutancapkan gas keluar dari tiga desa. Menuju kota Jogja tanpa direncana. Aku sudah ke sana puluhan kali. Sebagian besar bersama Bapak. Sisanya saat piknik sekolah, dari TK sampai SMA. Dan beberapa tahun belakangan bersama Hide dan Ji-sung. Dua pria yang ironisnya baru saja kutinggalkan di belakang sana.
Bapak selalu mengajakku ke toko buku. Bukan hanya satu, melainkan dua sekaligus. Pertama, ke toko buku yang dingin dan megah di bilangan Kotabaru. Di sini biasanya kami hanya mencari buku-buku baru yang menarik lalu memasukkannya ke dalam daftar buku incaran kami. Yang kedua, ke toko buku gerah tetapi murah di ujung jalan Gejayan. Nah, di sinilah kami membeli buku-buku di dalam daftar yang dibuat tadi.
Hari ini aku tidak pergi ke keduanya. Rencana awal memang seperti itu, tetapi kenangan akan Bapak seolah-olah mewujud dalam sosok tukang parkir yang menolak kedatanganku. Menyuruhku pergi dengan alasasn tidak ada tempat parkir bagi kendaraan berplat kuning.
Memangnya supir angkot tidak boleh beli buku apa? Kalau sampai di dengar Mohammad Hatta ada rakyatnya yang diusir hanya karena ingin membaca, bisa menangis beliau di surga sana.
Pengusiran itu membuatku berputar-putar tanpa tujuan. Terus begitu sampai angkotku kehausan. Sembari mengisi bahan bakar, aku memikirkan kembali mau ke mana sebenarnya aku ini. Hingga sebuah ide liar muncul dari dalam sanubari.
Bagaimana jika aku berkunjung ke istana raja? Apakah beliau akan menerimaku? Apakah beliau akan mendengarkan keluh kesahku? Sepertinya itu ide yang menarik.
Ide berkunjung ke istana raja ternyata berujung buruk. Aku masuk melalui pintu yang salah. Beberapa warga sebenarnya telah meneriakiku, tetapi aku bebal. Walhasil, aku dicegat oleh bagian penjagaan. Mereka melarangku masuk karena jam berkunjung untuk umum akan segera usai. Karena sudah terlanjur sampai di sini, aku pun sembarangan parkir di pinggir jalan. Kukeluarkan gawai untuk mencari tempat-tempat seru di sekitar sini. Hingga akhirnya aku memutuskan berjalan kaki menyusuri lorong-lorong bawah tanah di sekitaran Istana Air Taman Sari hingga ke bekas Pasar Burung Ngasem. Duduk di salah satu sudut yang bisa memandang jauh ke tenggelamnya matahari sambil menikmati makanan dan minuman ringan.
Senja
Banyak dipuja, sering dipuji
Padahal ia membawa petaka dalam sunyi
Menyimpan pisau dalam elegi
Mengantarkan tenung dan sihir bagi pembenci
Tidak seperti pagi
Penghancur mimpi-mimpi
Dihujat sana-sini
Dimaki-maki
Dikutuk seluruh penghuni bumi
Sementara itu matahari selempang
Sinarnya meredup dan gamang
Sama halnya dengan tempat lain, Jogja sedikit banyak telah berubah. Banyak bangunan tinggi berlomba-lomba menantang langit. Coretan di sana-sini. Becak digerakkan oleh mesin, tidak dikayuh dengan kaki. Kusir delman lebih sering melamun. Mungkin membayangkan betapa indahnya zaman ayah dan kakek mereka dulu. Bagiku sendiri, mau berubah seperti apa pun kota ini, tetap saja aku selalu terkena mantra yang membuatku selalu kembali.
Adzan maghrib berkumandang. Menyadarkanku dari lamunan panjang. Menarikku kembali ke realita yang sewenang-wenang. Matahari di kala senja yang dipuja banyak orang nyatanya tidak membuat hatiku semakin tenang. Ia tidak memberikan jawaban ketika aku membutuhkannya. Apa karena matahari di sini juga sama terpelajarnya dengan para manusianya dan aku tidak pandai merangkai kata-kata sehingga ia tida memahimanya? Ah, mana mungkin. Bukannya matahari di sini dan di kampungku sama.
"Sendirian, Nak?"
Seorang nenek-nenek berbadan bungkuk menyapaku. Di tangannya tergenggam sapu lidi yang sudah pendek. Agak gelap sedikit, pasti aku akan berteriak sekencang-kencangnya.
"Iya, Nek."
"Kulihat kau tadi merokok. Boleh kuminta satu?"
Dia melihatku? Sejak kapan? Bukankah sedari tadi aku tidak melihat seorang pun di sini.
"Silakan, Nek," kataku sambil menjulurkan bungkus rokok yang terbuka. Setauku itu adalah cara yang tersopan untuk memberi rokok pada orang yang lebih tua. Kukira nenek itu akan mengambil sebatang saja, ternyata dugaanku keliru. ia mengambil tiga batang sekaligus. Memasukkannya ke dalam baju dan mengambil sebatang lagi.
"Korek?"
Kuhidupkan korek gasku. Kudekatkan api padanya.
"Jangan melamun petang-petang seperti ini. Nanti kau kesurupan dan lupa jalan pulang," nasihatnya.
"Itu yang kuharapkan, Nek."
Nenek itu menyeringai. Ia tidak terkejut dengan jawabanku.
"Pasti masalah laki-laki. Dasar anak muda!"
"Begitulah, Nek. Masalah yang tidak penting, bukan?"
Kepulan asap menyeruak ke mukaku. Nenek itu sengaja menyeburkannya ke sana.
"Jangan bodoh! Petir tidak menyambar di tempat yang sama dua kali."
"Aku tidak mau tersambar petir."
Nenek itu menampol kepalaku. "Kenapa semua gadis cantik itu bodoh!"
"Sakit, Nek."
Nenek sialan. Sudah kuberi rokok malah menyakitiku.
"Anak muda, maukah kau mendengarkan nasihatku?"
"Kau tidak akan memukulku lagi kan, Nek?"
Dan seketika itu juga ia menampolku lagi.
"Apa salahku padamu, Nek?"
"Kau bodoh. Itu masalahmu!"
"Seperti Nenek mengenalku saja."
"Aku sangat mengenalmu," balas Nenek itu. Ia mengisap rokok dalam-dalam. Menikmati sensasinya. "Gadis secantikmu pasti tidak akan kesulitan mencari jodoh. Jadi, kau pasti sedang bingung menentukan pilihan, bukan?"
"Salah!"
"Kau mau membohongiku!" pekiknya. Kali ini ia menggunakan sapu lidinya untuk menyerangku.
"Ampun, Nek."
"Sudah, aku mau pulang. Kau juga pulanglah."
"Iya, Nek."
Aku heran apa maunya. Dan ketika Nenek itu akan berlalu, ia berhenti untuk berbicara denganku tanpa membalikkan badannya.
"Anak muda, hidupmu masih panjang. Apa pun keputusanmu, kau akan memiliki banyak waktu untuk memperbaikinya. Hidup melajang sampai akhir hayat sepertiku adalah apa yang akan terjadi jika kau menghindari masalahmu."
"Nek!" seruku, tetapi Nenek itu sudah berlalu. "Rokokmu jatuh."
Tiga batang yang kuberikan padanya tadi tergeletak begitu saja. Daripada menjadi sampah, aku pun memungutnya. Dua batang rokok itu rupanya telah rusak. Yang satu menguning, yang satunya sobek. Ceceran tembakaunya berserakan. Hanya ada satu batang yang masih utuh dan bagus.
Apa maksud dari ini semua?
Sadar bahwa malam akan semakin gelap, aku memutuskan segera pulang. Kubawa angkotku melaju kencang di jalanan perkotaan. Jogja setelah maghrib belum terlalu ramai. Warganya masih bergelut dengan tasbih dan sajadah. Pembeli angkringan juga belum tumpah ruah. Tidak ada godaan berarti yang membuatku ingin berhenti. Barulah ketika memasuki kawasan bukit bintang, aku menyempatkan diri untuk meminggirkan mobil. Menyalakan sebatang dua batang rokok sambil memesan kopi sachet-an. Menikmati tiap isapannya sambil memandangi lautan lampu yang berkelap-kelip di lautan kabut di bawah sana.
Dua setengah jam kemudian aku tiba di Bumenceng yang telah berselubung malam. Jalanan pedesaan yang berbatu menyambutku tanpa keramahan. Seorang pria berdiri di depan rumah yang akan kudatangi.
"Selamat datang, Lam," sambutnya dengan senyuman. "Lama sekali. Dari mana saja kau?"
"Bukan urusanmu."
"Pasti kau habis melarikan diri ke Jogja."
Tebakannya benar. Aku saja yang tidak mau kalah.
"Tidak. Aku bosan terus-terusan ke sana."
"Seperti bukan kamu saja."
"Sudahlah. Aku tidak akan berlama-lama."
"Santai saja. Aku hanya perlu mendengarkan satu kalimat darimu saja, bukan?"
Dia benar. Hanya satu kalimat. Tidak banyak. Tidak bertele-tele. Namun, apakah aku mampu mengatakannya sekarang juga? Apakah yang kulakukan ini benar?
"Ji-sung, aku ...."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top