5

Pagi ini, bahkan sebelum aku sempat merapikan make up, Ayres sudah berdiri di hadapanku dengan senyum yang merekah.

"Selamat pagi, Kayya," cengirnya sambil mendekatiku yang sedang memegang lipstik dan menatap bingung ke arahnya.

"Apa kamu sakit? Kenapa pucat kayak gitu?" Nada bicaranya berubah cemas.

Aku mengedipkan mata, mengembalikan kesadaran dari rasa bingung.

"Aku belum memoles lipstik," sahutku lalu mengalihkan pandangan ke cermin kecil di atas meja untuk kemudian memoles tipis lipstik berwarna pink ke bibir.

Aku merasa kalau Ayres mengamatiku. Kemudian wajah itu tersenyum ketika aku kembali menatapnya setelah menyimpan lipstik ke dalam make up case.

"Sempurna!" serunya dengan mata berbinar, pujian untuk wajahku setelah berhias.

"Ada apa?" tanyaku enggan berbasa-basi.

Senyum di wajahnya hilang seketika, berubah menjadi kikuk dan serba salah.

"Aku ada janji dengan Osya," katanya, "dia sudah datang?"

"Belum," jawabku. "Kalau kamu mau, kamu bisa menunggu di ruangannya," tawarku datar.

Ayres merengut. "Apa kamu harus berbicara dengan nada seperti itu?" keluhnya.

"Apa kamu mau aku berteriak-teriak?" tanyaku lagi dengan nada bicara yang tidak berubah.

"Tidak!" Ayres berseru sambil memijat pelipisnya. "Seperti ini saja. Yang penting kamu tidak marah lagi."

"Hmm," gumamku.

"Aku akan tunggu Osya di dalam, ok?" izinnya.

"Silakan," jawabku sambil tersenyum.

Bisa kulihat Ayres mematung sejenak, mungkin terkejut karena pada akhirnya aku tersenyum. Namun, kemudian dia berdeham dan langsung masuk ke dalam ruangan Osya.

Kuhela napas, dan mulai bergulat dengan pekerjaan. Ada email yang harus segera kubalas terkait undangan meeting dari sebuah perusahaan untuk Osya.

Tidak lama, lift berdenting membuatku menoleh dan melihat Osya keluar dari sana. Tanpa bisa kutahan kupasang wajah cemberut, membuat langkahnya terhenti ketika mencapai mejaku.

"Ada apa, Kayya?" tanyanya dengan kening berkerut.

"Ada tamu di ruangan kamu," jawabku sambil menutup laptop.

"Ayres?" terkanya. Aku mengangguk.

Osya tersenyum, kemudian menunduk untuk mendekatkan wajahnya denganku.

"Apa kamu ingin melakukannya sekarang?" tanya lagi sambil tersenyum miring.

Aku menarik napas dan mengembuskannya perlahan sebelum mengangguk yakin.

"Kalau begitu, kamu harus lebih ramah, Mama Li. Pasang senyummu dan antarkan dua gelas kopi ke ruanganku." Kali ini dia memerintah.

Sebelum dia melangkah keruangan, Osya berbalik lalu berkata lagi, "Kamu yang antar, ngga boleh OB atau OG." Lalu dia masuk dan menghilang ke balik pintu.

*******

Aku berdiri di depan pintu ruangan Osya dengan nampan berisi dua cangkir kopi. Dengan mata terpejam, kurapal doa dan mengumpulkan segenap keberanian dan kekuatan.

Aku sudah bertekad akan membalas segala yang sudah diperbuat Ayres padaku. Dia harus tahu kalau karena perbuatannya aku kehilangan masa muda, cita-cita, dan keluargaku. Dia harus tahu bahwa semua yang telah dilakukannya padaku, sungguh menyakitkan.

Ayres harus tahu bagaimana aku berjuang untuk hidup. Kalau perlu, akan kubuat dia merasakan apa yang kurasakan.

Aku sakit hati! Demi Tuhan, aku sakit hati!

Dengan yakin kubuka pintu ruangan dan berjalan dengan percaya diri. Sampai di dekat sofa, aku membungkuk untuk meletakkan kedua cangkir di meja.

Kuangkat wajah sekilas untuk tersenyum ke arah Ayres yang kutahu mengamatiku sejak tadi. Dia terlihat gugup, terkejut, dan membalasku dengan senyum kikuk.

"Silahkan di minum, Pak," ucapku masih dengan senyum yang sama, lalu sedikit menunduk untuk pamit pada Osya.

Aku hendak berbalik ketika Osya memanggilku.

"Kayya," panggilnya membuatku mengurungkan langkah.

"Ya, Pak?" tanyaku dengan hormat. Saat ini posisinya adalah atasanku.

"Gabung makan siang ya," ajaknya.

Dari sudut mata, bisa kulihat Ayres menatap Osya kebingungan.

"Boleh," jawabku yang membuat pandangan Ayres beralih padaku. Terlihat lebih terkejut dari pada sebelumnya.

"Sipp, kamu booking dulu deh di resto chinesse food yang biasanya," pinta Osya.

Aku melirik ke arah Ayres, aku tahu persis kalau dia tidak suka chinesse food. Tapi dia tidak membantah, hanya sedikit menunduk, tidak mengucap sepatah katapun.

"Ayres tidak suka chinesse food," kataku, "kita makan seafood aja. Saya akan booking tempatnya."

Ayres mengangkat kepala, menatapku dengan penuh rasa terima kasih. Aku tersenyum dengan sedikit mengangguk ke arahnya.

"Ya, seafood juga boleh." Osya setuju.

"Kalau begitu, saya permisi Pak."

Aku berbalik dan berjalan ke arah pintu, di belakang bisa kudengar Osya berkata dengan setengah suara seolah tidak ingin aku mendengar apa yang dikatakan.

"Dia masih tahu ketidaksukaan kamu, Bro! You're lucky asshole!"

"Yes, I am!" jawab Ayres yang masih dapat kudengar sebelum pintu ditutup.

*******

Aku memilih untuk duduk di sebelah Osya. Saat ini kami berada di restoran seafood dekat kantor. Ayres sendiri duduk berhadapan dengan Osya.

Aku makan dengan hikmad, sementara mereka melakukan pembicaraan yang menurutku tidak menarik. Tentang masa sekolah, tentang pekerjaan, tentang Ayres yang sudah menjadi dokter.

Hah!

Sebisa mungkin aku tidak melakukan kontak mata pada saat kami melakukan aktifitas makan siang. Malas.

"Kalian kaku banget," keluh Osya, yang mau tidak mau membuatku dan Ayres memandangnya secara bersamaan. Lalu saling lempar pandang dengan kening berkerut sebelum akhirnya sama-sama kembali menunduk.

Sial! Ini Aneh.

"Bro, kamu seharusnya komit dengan maksud kedatanganmu ke kantorku. Aku sudah atur dan kamu hanya membisu?" Osya terdengar menyindir.

Aku memilih tetap menunduk sambil melanjutkan makanku tanpa berniat menatap Ayres meskipun aku sangat penasaran dengan ekspresinya saat ini.

"Hmm, mungkin nanti."

Keraguan pada suara Ayres terlalu kentara.

"Aku tidak ingin merusak selera makan Kayya. Mungkin nanti," lanjutnya.

Aku diam saja, terus menikmati makananku dengan santai, seolah hendak menunjukkan bahwa apa yang mereka bicarakan sama sekali tidak mengusik. Padahal apa yang kurasakan adalah sebaliknya. Aku sungguh terusik, tidak nyaman, tapi harus bertahan.

Aku menghela napas. Meletakkan sendok dengan manis di piring, kemudian mengangkat kepala dan tersenyum.

Bagaimana pun, aku harus mengatakan sesuatu.

"Hmm, aku dengar dari Osya kamu telah berhasil menjadi seorang dokter?" tanyaku, menatap Ayres dengan serius.

Ayres menatapku, binar matanya sungguh nyata. Jelas dia merasa takjub karena akhirnya aku mau mengajaknya bicara.

"Iya," jawabnya, terdengar bangga. Namun, menusuk langsung ke hatiku yang paling dalam.

"Kau hebat!" pujiku dengan kegembiraan yang palsu, lalu kutopang dagu dengan salah satu tangan.

"Terima kasih." Ayres tersipu. "Kamu tahu, menjadi dokter adalah cita-citaku sejak dulu, dan bisa mewujudkannya adalah sesuatu yang luar biasa."

Dadaku bergemuruh karena amarah dan rasa kesal. Seharusnya dia tahu kalau aku memiliki mimpi yang sama. Dan sialnya mimpiku harus kandas.

Karena siapa? Karena Ayres!

Kutahan gigi-gigi yang mulai gemeretak. Aku tidak boleh terlihat marah atau kesal. Dalam hati kuhitung satu sampai dengan lima, berharap amarahku mereda sebelum aku menanggapi kisah suksesnya.

"Kamu lupa, Ayres? Menjadi Dokter adalah cita-citaku juga," kataku dengan tidak henti-hentinya tersenyum ke arahnya. Aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang mulai berubah.

"Kayya...," desisnya nyaris tidak terdengar.

"Sayangnya," sambungku sambil mengerucutkan bibir seakan merajuk. "Aku tidak bisa mewujudkan mimpiku menjadi dokter karena suatu hal. Sayang sekali ya?"

Wajah Ayres benar-benar berubah sekarang. Memucat dengan keringat yang mulai menetes di keningnya.

~ KAYYA ~

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top