12
"Apa lagi sekarang, Osya?" desisku sepelan mungkin.
"Kejutan," jawabnya tidak kalah pelan tanpa melihat ke arahku.
Tangannya masih juga merangkulku. Membuatku merasa tidak nyaman karena semua mata memandang kami penuh selidik.
"Sebentar, Pak! Pengumumannya ditunda dulu." Rose menginterupsi sambil menatap layar ponsel. Sepertinya ada pesan yang masuk di sana.
Lalu dia menatapku dengan senyum aneh yang terkulum. Kembali menyelipkan ponselnya ke dalam saku.
"Maaf ya, Pak, sebentarrr aja." Rose tersenyum ke arah Osya, lalu ke arahku. Kakinya melangkah tergesa ke arah pintu. Aku mengikuti langkahnya dengan mataku.
Aku hanya dapat melihat sebagian dari punggung Rose ketika dia sepertinya sedang berbicara dengan seseorang di balik pintu. Tidak berapa lama dia berbalik dengan sebuah buket bunga yang cukup besar dalam dekapannya. Sontak ruangan menjadi heboh demi melihat mawar merah sebanyak itu.
Osya menarik tangannya dari pundakku dan menatap buket dalam dekapan Rose penuh selidik, tidak jauh berbeda denganku yang penasaran.
Dengan senyum merekah Rose menyerahkan buket itu padaku.
"I don't know who, Mba," katanya ketika aku mengangkat sebelah alis meminta penjelasan.
Aku memperhatikan buket yang saat ini sudah berpindah tangan ke genggaman.
Jujur, sudah lama aku tidak menerima bunga. Terakhir kali, dulu. Saat masih sekolah menengah atas, setangkai mawar merah yang Ayres berikan di hari ulang tahunku. Setelah itu tidak pernah lagi ada bunga.
Oh, ternyata ada sebuah kartu ucapan di antara tangkainya. Aku bermaksud mengambil kartunya, tapi buket ini cukup besar sehingga aku kesulitan ketika harus memegangnya dengan satu tangan.
Dengan penuh inisiatif, Osya mengambil buket dari tangan dan menyerahkan kartu kecil itu padaku. Aku mengangguk tersenyum dengan penuh terima kasih.
Penuh rasa penasaran, aku membuka kartu, dan di detik selanjutnya, lidahku langsung terasa kelu ketika membaca isinya.

I lost you once, and I'm not going to lose you again, coz a life with you will have some thorn, but a life without you will have no roses.
Happy birthday, dear Kayya.
-A-
A? Ayres?
Aku mengangkat kepala, kosong. Ruangan Osya, kosong. Kapan semua karyawan keluar dari ruangan? Hanya ada Osya yang masih berdiri di hadapanku dengan buket mawar di tangannya. Keningnya berkerut, matanya menyipit menatapku.
Dalam seketika, aku merasa panas menjalar bercampur dengan aliran darahku. Kepalaku serasa berputar dengan detak jantung yang tidak karuan. Napasku juga terasa pendek-pendek. Aku merasa lelah dan marah.
Serta merta kuraih kasar buket dari tangan Osya dan menjejalkannya dalam tempat sampah yang ada di ruangan dengan paksa. Buket ini diameternya melebihi mulut tempat sampah, tapi hampir seluruhnya berhasil kumasukkan dengan menginjak secara paksa. Lalu kulempar juga kartu ucapan itu ke atasnya sebelum menutup kembali tempat sampah yang tidak lagi bisa tertutup sempurna.
Osya diam saja, dia tidak mengatakan apa pun, hanya mengamati.
"Thanks buat kejutannya," ucapku cepat sambil berlalu keluar ruangan dengan langkah mengentak-entak untuk kembali ke mejaku.
Aku langsung mengambil ponsel dan duduk di kursi. Otak terasa mau pecah. Aku tidak suka Ayres mengirimiku bunga, aku juga tidak suka dia menjadi perhatian. Aku tidak suka dia meminta maaf, aku ingin dia lenyap saja. Secepatnya!
Kata-kata apa itu? Memangnya dia siapa? Memang aku memberinya ijin untuk memilikiku lagi? Mimpi!
Kucoba mengait-ngaitkan rencana di benak. Aku akan segera memberinya sebuah harapan bagus sebelum akhirnya kubuat dia menebus dosa.
Tanganku bergetar ketika menekan layar ponsel. Kubalik kursi hingga kini aku duduk menghadap dinding. Aku butuh konsentrasi, sehingga aku tidak terdengar seperti bersandiwara di telepon.
"Hai, Ayres!" seruku seceria mungkin ketika seseorang menjawab panggilanku dengan tidak kalah cerianya di seberang sana.
"Terima kasih untuk buketnya, cantik banget!" kataku lagi.
"....."
"Dinner? Boleh banget!"
"....."
"Ok, aku tunggu! Bye!" kataku lagi sambil mematikan telepon dan membalik kursi.
Aku sedikit terlonjak dari duduk ketika melihat Osya sedang berdiri di seberang meja dengan kedua tangan di saku celana. Dia menatapku dengan wajah dinginnya. Wajah yang sering di perlihatkannya pada karyawan lain, tapi tidak padaku.
"A second date?" tanyanya datar yang kujawab dengan anggukkan.
"Good luck," singkatnya. Itu saja, sesingkat itu. Dia msdih menatapku lekat brberapa saat, sebelum akhirnya berbalik untuk kembali ke ruangannya.
Osya hampir mencapai pintu ruangan ketika dia menoleh lagi ke arahku.
"Panggil office boy, aku ingin ruanganku segera dibersihkan."
Dingin. Tanpa Ekspresi.
~ KAYYA ~
Aku mengayun-ayun kaki sembari duduk di halte depan gedung kantor. Ayres seharusnya sudah menjemputku sejak lima belas menit yang lalu. Tapi, sampai sekarang dia belum juga menampakkan batang hidungnya.
Ayres memintaku untuk makan malam bersamanya, makan malam ulang tahun, katanya. Aku menyanggupi karena otak sudah penuh dengan berbagai rencana yang sampai saat ini hanya mandek sebagai rencana.
Sebenarnya aku tidak menyangka kalau Ayres akan mengirimkam buket sebesar itu ke kantor. Dengan kata-kata norak yang membuatku darah tinggi. Dia nekat sepertinya. Padahal jelas-jelas beberapa hari lalu di mobil aku sedikit menyindirnya. Mengatakan bahwa dia tidak bisa menebus kembali sesuatu yang sudah dibuangnya. Tapi ternyata dia masih juga gigih.
Aku membuka tas dan meraih ponsel yang kurasakan bergetar. Nama Ayres terpampang di layarnya.
"Halo?" jawabku segera.
"Kayya, maaf. Seorang pasien mendadak kritis. Aku tidak bisa datang malam ini."
Ayres terdengar menyesal. Dia juga terdengar khawatir dan panik. Aku tidak mengatakan apapun, hanya mematikan ponsel dan kembali mengayun-ayunkan kaki. Ke depan, ke belakang, ke depan, ke belakang. Begitu berulang-ulang.
Ayres--- Berapa lama aku mengenal lelaki itu? Cukup lama, sampai aku yakin bahwa rasa kepeduliannya pada sesama tidak perlu diragukan. Penuh perhatian, simpati dan empati. Lelaki penolong yang penuh belas kasih. Dia selalu seperti itu pada masa sekolah menengah atas.
Bahkan dalam beberapa minggu belakangan, aku kembali melihat kepeduliannya akan kemanusiaan. Ketika dia mengobati banyak orang dengan gratis tanpa pamrih. Lalu hari ini ketika dia begitu khawatir akan pasiennya yang sedang kritis.
Tiba-tiba ponselku kembali bergetar. Kali ini yang masuk adalah sebuah pesan. Masih dari Ayres.
Kayya, aku akan ganti makan malam kita dengan makan siang besok. Aku harap kamu mengerti.
Aku tidak membalas pesannya. Yang ada dadaku malah terasa sesak, mulai sulit bernapas, mata juga terasa panas. Aku kecewa.
Aku kecewa ketika meyadari bahwa semua kebaikan dan rasa kemanusiaan, empati dan simpati Ayres, yang selalu ditunjukkannya kepada semua orang, tidak berlaku untukku. Ya, semua perhatian itu bukan untukku!
Dia sama sekali tidak menunjukkannya ketika aku dan janinku datang kepadanya. Dia sama sekali tidak berempati ketika meminta aku untuk menggugurkan kandungan. Dia mengabaikanku dan meninggalkanku, tidak berada di sisiku untuk mendukung. Ayres tidak berperikemanusiaan untukku.
Aku sakit hati!
Pelupuk mataku mulai penuh dengan cairan, ketika sebuah suara menyapa.
"Kayya?"
Aku menghentikan gerakan kaki. Sebuah pantofel hitam muncul dalam tundukku. Aku menengadah dan menemukan Osya di sana dengan wajah khawatir. Dia juga seperti ini dulu, wajah khawatirnya ketika memukanku di pingir jalan.
"Ayres tidak datang?"
Aku menggeleng pelan dan tanpa bisa kucegah setetes air mata bergulir jatuh. Cepat aku menunduk dan mengusap basah dengan telapak tangan. Osya tidak boleh melihatku seperti ini. Aku malu menangis karena Ayres.
"Ayo kita pulang." Aku melihat tangan Osya terulur. Aku kembali mendongak, Osya sedang tersenyum ke arahku.
"Li sedang menunggu untuk tiup lilin bersama. Syukurlah ... Ayres tidak datang." Dia membungkuk dan meraih tanganku.
Air mataku kembali menetes, kali ini lebih deras.
Osya--- Lelaki ini, entah mengapa selalu saja muncul di saat yang tepat. Saat di mana aku membutuhkan seseorang untuk sebagai dukungan.
"Sya ...," desisku, "terima kasih."
Osya menatapku dengan alis terangkat. "Untuk?"
"Untuk selalu ada di sisiku," kataku dengan isak yang tidak lagi dapat kutahan.
Osya mempererat genggamannya, diulurkannya tangan untuk menghapus air mataku. Dia tidak mengatakan apapun. Tapi itu cukup bagiku, cukup untuk mengetahui bahwa dia sungguh peduli.
~ KAYYA ~
Verlita's note :
Di chapter sebelumnya ada sedikit kesalah. Di situ di bilang Kayya ultah ke 27, harusnya ke 26. Sudah direvisi. Mohon maklumnya...hehehe
BTW di mulmed itu soundtrack kita buat chapter ini.
I'll Stand By You
Pretenders
Oh, why you look so sad, the tears are in your eyes,
Come on and come to me now, and don't be ashamed to cry,
Let me see you through, 'cause I've seen the dark side too.
When the night falls on you, you don't know what to do,
Nothing you confess could make me love you less,
I'll stand by you,
I'll stand by you, won't let nobody hurt you,
I'll stand by you
So if you're mad, get mad, don't hold it all inside,
Come on and talk to me now.
Hey there, what you got to hide?
I get angry too, well, I'm alive like you.
When you're standing at the cross roads,
And don't know which path to choose,
Let me come along, 'cause even if you're wrong
I'll stand by you,
I'll stand by you, won't let nobody hurt you,
I'll stand by you.
Baby, even...
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top