0.2 : Comrade

Avada kedavra ✨

"Aviis!" ujar Mark dengan lantang seraya mengayunkan tongkat sihirnya.

Tidak ada yang terjadi.

"Hhh..., I really could never chant this spell," ujar Mark sambil menurunkan tongkatnya dan kembali duduk disamping Reyya

Reyya tertawa kecil lalu mengeluarkan tongkat miliknya dibalik jubah.



"Aavis!"

Sekelebat cahaya muncul dari ujung tongkat milik Reyya, lalu muncul lah burung-burung kecil berterbangan dari sana.

Mark terngaga melihat temannya berhasil mengaplikasikan mantra itu.

"Butㅡhow? Ajarin gue ya Rey?" ujar Mark.

Reyya tertawa kemudian mengarahkan burung-burung tersebut ke arah mark, dan merusak tatanan rambutnya.

"Rey!! come on! this is not cool!" gerutu Mark sambil berusaha menyingkirkan kawanan burung itu.

Reyya tertawa lepas kemudian mengayunkan tongkatnya dan membuat kawanan burung itu lenyap.

Mark mendengus samar.

"Sorry Mark Lee, iya iya nanti gue ajarin," Reyya mengulurkan tangannya membenahi rambut Mark yang sudah tak keruan akibat ulahnya tadi.

"Ayo cepet ajarin! Sebentar lagi ujian praktiknya mulai."

Hari ini adalah hari uji praktik sihir tahunan yang Lino infokan kemarin. Ujian praktik itu benar benar terjadi, maka sekarang Reyya, Mark, beserta seisi Kalopsia sedang berlatih sekerasnya sebelum jam praktik tiba.



Reyya mengangguk.

"Pertama! Sebutkan mantranya secara benar. It's aavis Mark Lee, not aviis!" koreksi nya.

Mark menautkan alisnya lalu kemudian bersiap untuk kembali menyebutkan mantra, ia mengangkat tongkatnya laluㅡ

"Angkat tongkatnya jangan terlalu tinggi, sedang saja dan ucapkan mantranya dengan lantang," Reyya menurunkan lengan Mark beberapa inci lalu menepuk punggungnya untuk memberi semangat.



"Aavis!"

Cahaya itu berhasil muncul dari tongkatnya, dan kawanan burung muncul dari sana.

Mark melebarkan matanya, tidak percaya dengan kemampuannya. Ia menatap Reyya dengan senang kemudian melonjak-lonjak

"I can! i Can Chant this spell!" katanya lalu memeluk Reyya.

Reyya tertawa, merasa lucu melihat Mark sesenang ini.

"Thank you!" Mark berterima kasih sambil mengacak pucuk kepala Reyya.

"Always feel free, sekarang lo yang ajarin gueㅡ"

"Gryffindor, silahkan ke aula praktik," suara Dwoots memotong ucapan Reyya.



Kurcaci dengan tatapan yang sangar itu menatap seisi kelas yang masih saja diam ditempat.

"Kalian dengar apa yang tadi aku bilang?! Cepat ke aula praktik!" bentak nya dengan suara berat yang menyeramkan.

"O-okay Dwoots, jangan marah-marah" ujar Reyya sambil nyengir.

Kurcaci itu hanya mencibir jutek. Sebenarnya dia bukan makhluk yang jahat dan galak, tapi memang tugasnya adalah marah-marah.

Hanya Rayyena, hanya dialah satu-satunya gadis yang dengan ajaibnya mau berteman dengan kurcaci itu, disaat seluruh murid bahkan tidak ingin berurusan dengannya.

Gadis itu kerap kali membawakan sarapan kesukaan nya, alpukat panggang. gadis itu juga satu-satunya murid yang memberikan syal pada Dwoots saat musim dingin dan mengucapkan selamat natal padanya.

Gadis Gryffindor ini ajaib.



"Udah Rey, Dwoots kayaknya lagi gamau diganggu," ujar Chenle sambil melewati pintu kelas.

Reyya hanya mengulum bibir, memeluk satu buku mantra nya kemudian menyusul yang lain menuju aula praktik.

-

-

-

Aula sangat ramai, Gryffindor, Slytherin , Hupplepuff , maupun Ravenclaw ada di aula. Mereka dihadapkan dengan panggung ramping yang memanjang seperti landasan catwalk untuk fashion show. Para murid berjajar di kanan dan kirinya.

"Kira-kira tahun ini, kelas kita siapa yang kepilih untuk jadi pembuka ya?" bisik Mark.

Reyya menggeleng "Semoga bukan gue,"

"I hope so"

Uji praktik sihir menggunakan metode perwakilan kelas setiap tahunnya, biasanya murid yang berhasil membuat kelasnya berada di nilai tertinggi akan disanjung hingga uji Praktik tahun depan datang.


Sigh

Cahaya yang amat terang muncul dari pintu utama, semua murid menutup matanya untuk menghalau cahaya yang kelewat terang itu masuk ke matanya.

Dari cahaya itu munculah sesosok sangar dengan mata tajam nya. Aura hitam terpancar jelas dari nya.

Professor Lee Donghae, satu satunya guru yang enggan mengajar ke kelas lain selain Slytherin. Satu satunya guru yang tidak pernah ingin ikut rapat ataupun acara sekolah lain.

Para murid lain selain kelas Slytherin hanya bertemu dengannya setahun sekali, yaitu saat seperti ini saat penilaian praktik sihir.



Para murid mulai berbisik-bisik, entah mengagumi sosok Lee Donghae atau malah mencibirnya. Intinya semua murid takut dan tegang.

Professor Donghae mulai menjalankan alat undi dengan tongkat sihirnya. Tak lama muncullah 4 gulungan kertas dengan warna yang berbeda sesuai warna setiap kelas.

"Seperti biasa, ada 1 babak pembuka, 4 orang terpilih akan di tes di hadapan semua murid. Saya sudah mendapat 4 nama perwakilan kelas yang akan menjadi pembuka di tahun ini, siapapun dia silahkan naik ke atas panggung pengujian," katanya dengan suara berat.

Tangan kasarnya mulai membuka gulungan demi gulungan.



"Gryffindor, Lee Minhyung! Slytherin, kyoon Jeanna! Ravenclaw, Huang Renjun! Dan Hupplepuff, Nakamura Hina!"

Mark menepuk jidatnya saat namanya dipanggil, tubuhnya mendadak gemetaran.

"What Should I do? I Think i'll fail at this Exam."

Reyya menggeleng tegas.

"Jangan kayak gitu ah, lo bisa Mark!" Reyya mengepalkan tangannya memberi semangat pada Mark.

Mark menghela kemudian tersenyum tipis. sambil ikut mengepalkan tangannya.

"Doain gue!" pesannya sebelum beranjak naik ke atas panggung uji.

Reyya mengaitkan jadi telunjuk dan jari tengahnya, berharap Mark bisa sukses melewati pengujian tahun ini.

-

-

-

Para murid Kalopsia berbondong-bondong keluar aula dengan rusuh, Sebagian besar diantara mereka merasa puas dengan praktik sihir.

termasuk Reyya dan teman-temannya, mereka merasa sudah melakukan yang terbaik dan percaya akan mendapat nilai yang baik.

"Kalian tau? kurasa uji praktik sihir tidak sesulit itu, namun karena pengujinya adalah Professor Donghae dia membuat suasana ujian menjadi tegang dan mencekam," komentar Aera yang kini sudah resmi menjadi murid Slyhterin.

Reyya mengangguk setuju "Benar juga,"



"Nana!" 

Sebuah suara untuk Jaemin menginterupsi langkah mereka.

Jaemin menghela samar, dia tahu betul siapa yang memanggilnya dengan nama itu.

"Siapa Nana?" tanya Lucas.

Chenle dan Jisung menjunjuk ke arah Jaemin.

Seketika Lucas terbahak "Oh! You're Nana?! Ahahaha!!" tawanya, diikuti tawa dari Mark dan Chenle yang sangat memekakkan telinga.



"Nana! Ini susu buat kamu! Diminum ya!" ujar Jean sambil memberi Jaemin sebotol susu manis berukuran kecil dan sedotan tipis.

Jaemin mengulum senyum "Akan aku minum, terima kasih Jean," Jaemin menerima susu tersebut.

Jean mengangguk kemudian tersenyum lebar kepada Jaemin.  

Setelahnya ia berlari kembali ke arah Hyunjin dan Felix, mereka memberi Jean sebuah tos singkat.



"Cie, fans baru ya Jaem?" tanya Haechan sambil menyenggol-nyenggol lengan Jaemin. 

Jaemin hanya menggedikan bahu dan menatap susu pemberian Jean.

Reyya menatap ke arah Jean dan kedua temannya, ia tersenyum kecil melihat betapa mereka bertiga berteman baik. 

Tiba-tiba matanya bertemu dengan mata milik Hyunjin. Cowok itu melempar senyum tipis pada Reyya.

"Rayyena, ayo" suara Jaemin membuyarkan lamunan Reyya, gadis itu mengangguk kemudian Kembali berjalan.

-

-

-

"Hah nama geng?!" ㅡRenjun

"Iya lah biar seru" ㅡChenle

"Gausah ngadi-ngadi dah" ㅡHaechan

"Tapi gue setuju, kita kan kemana-mana bareng. Ayo kasih saran nama geng!" ㅡLucas

"Geng Osis!" ㅡJisung

"Kalopsia Squad" ㅡLami

"Winter Soldier!" ㅡMark

"Persoam! Persatuan Osis Ambyar!" ㅡChenle

"Yeuh itu mah lu aja yang ambyar, lagian Aera bukan osis bege!" ㅡLucas

"Yang lain!"ㅡMark

Mereka semua diam, mungkin sedang memikirkan nama terbaik untuk perkumpulan mereka.



"Comrade."

Semuanya menoleh pada Aera.

"Apaan tuh?" tanya Lucas

"Artinya rekan, teman, sahabat, istilah Inggris. Iya kan Mark?" ujar gadis itu sambil menyubuk menatap Mark

Mark mengangguk "Not bad."

"Yaudah kita komret!" pekik Lucas heboh.

"Comrade," koreksi Mark.

Reyya terkekeh singkat melihat interaksi para rekan osisnya yang kompak dan hangat, begitu pula Jaemin, dia menikmati momen seperti ini.



"Mantap! Gue bikin grup chat ya!" tukas Chenle, dan seketika ia sibuk dengan ponsel mahal nya.

"Oke."

"Liat sini liat sini! Satu..dua..tiga.."

Ckrek

Kamera ponsel Jisung memotret momen mereka ber 12, kemudian cowok itu mengganti profil grup yang baru saja dibuat oleh Chenle.

Beberapa saat mereka mengobrol, suasana asyik nan hangat sukses mereka ciptakan. 

Senyum cerah tak pernah luput dari wajah mereka, dan tawa pun selalu terdengar di sela-sela perbincangan mereka. 



Reyya menatap arlojinya kemudian tersadar. 

"Guys, we have to attend a meeting. We don't have many times, Kalopsia Camp will come 2 month from now, " ujar Reyya sambil bangkit dan memeluk buku serta tablet tipis miliknya. 

"Yaah waketos nggak asik nih!" seru Lucas diikuti keluhan oleh teman-teman yang lain.

"Gue tunggu di ruang rapat, 10 menit udah kumpul ya temen-temen." 

Mereka semua kian mengeluh malas. 

Jaemin hanya tersenyum tipis kemudian mengikuti Reyya.

-

-

-

✨ ✨ ✨

That's it haha

Oh ya, kalau ada yang nggak paham boleh comment kok hehe.

Tolong notice typo/error

See ya!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top