Opening Sequence
Page. 03 - 08
Sega Selatan, Kertajaya
31 Agustus 2032
Pukul 15.24 WIB
Buku catatan ini kudapatkan tepat setelah perjanjian kerja. Aku resmi menjadi bagian dari agen Indocyber yang akan bertugas di Komisi Perhubungan Kertajaya - Jakarta. Sean, atasan langsung yang akan mengarahkanku ketika terjun ke lapangan nanti, menegaskan kepadaku agar catatan ini diisi lengkap tanpa melewatkan sedikit pun hal yang terjadi selama aku bekerja.
Kalian pasti sudah membaca identitasku di halaman pertama. Ya, namaku Ivalia. Aku biasanya dipanggil Iva atau Lia. Namun, saat Sean memperkenalkan aku di depan ratusan agen lainnya tadi siang, dia menyebutku Valley. Sehingga semua agen kini mengenalku dengan 304 Valley. Kode itu adalah gabungan identitas tugas, status, dan wilayah kerjaku. Angka 3 mewakili klasifikasi tugas mata-mata, 0 merupakan status bahwa aku masih baru, dan 4 merupakan wilayah komisi perhubungan Kertajaya - Jakarta.
Indocyber dilindungi oleh otoritas Kementerian Penelitian dan Pengembangan Republik Indonesia. Markasnya berada di Kertajaya, sebuah pulau rahasia di tengah-tengah laut Jawa yang belum semua orang Indonesia ketahui, bahkan hingga detik ini. Kertajaya diresmikan pada akhir 2028 sebagai area prioritas yang dikhususkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan. Gubernurnya adalah seorang anggota intelijen bernama Darius Dirganta.
Lokasi Kertajaya tidak pernah diunggah ke sistem peta digital. Titik koordinat Kertajaya diminta tetap rahasia, kecuali bagi orang-orang luar domisili yang memang bekerja di sana. Aku baru tahu bahwa tidak ada orang 'biasa' yang diizinkan tinggal dan bekerja di Kertajaya. Sembilan ratus sembilan puluh warga yang mendiami area ini hanyalah orang-orang cerdas dan orang-orang bodoh. Begitulah yang Sean gambarkan padaku saat rapat internal tadi.
Orang-orang cerdas yang Sean maksud tentulah para petinggi kota, yang dipilih langsung oleh Pemerintah Pusat untuk mengelola kota ini sebagai area khusus penelitian. Sedangkan orang-orang bodoh adalah para gelandangan yang diangkut untuk dijamin kehidupannya dengan syarat taat pada segala perintah. Menjadikan mereka taat tentu bukanlah dengan menasihati atau memberi konseling secara gratis, melainkan dengan menanamkan kapsul kendali di kepala mereka.
"Bagaimana mereka bisa setuju dengan penanaman kapsul kendali itu?" tanyaku selagi dalam perjalanan bersama Sean menuju ruang tugas.
"Mereka tidak menyetujui apa pun. Begitu tiba di dermaga, mereka dibuat tidak sadar dengan semprotan bius yang mereka anggap sebagai cairan disinfektan biasa. Setelah itu, program ditanamkan di kepala mereka."
"Gila! Itu namanya perbuatan ilegal. Apa ini ide pemerintah?"
Sean mengangguk untuk menjawab pertanyaanku. "Tidak ada cara lain untuk membuat mereka tunduk. Kau tahu, apa yang bertahun-tahun terjadi di ibukota setiap kali Pemerintah melakukan kesalahan? Demonstrasi gila-gilaan, berujung kerusuhan yang memakan banyak korban. Belum lagi ada penyusup yang mengadu domba, membuat masyarakat kita makin terpecah belah. Mengerti?"
"Berarti, ini cara pemerintah untuk memusnahkan warganya sendiri, begitu?"
"Tidak ada yang dimusnahkan, Valley." Sean berhenti melangkah untuk menjawabku. "Coba kau lihat, pemerintah melakukan ini justru untuk menyelamatkan mereka dari kesengsaraan. Hidup jadi gembel, meminta-minta, merampok, dan apa pun itu yang membuat negara kita memiliki tingkat kesenjangan sosial tinggi. Sekarang mereka bebas dari kemalangan itu. Mereka hidup dengan layak di sini. Mendapat tempat tinggal, memiliki pekerjaan, dan bisa makan dengan baik tanpa ada rasa iri satu sama lain."
"Karena suplai makanan mereka sama semua, Sean! Mereka dijadikan robot-"
"Tanpa mereka sadari. Dan mereka tidak merasakan letih dan lelah, mereka terprogram. Bukankah lebih kasihan ketika mereka menjadi manusia biasa yang fakir, terinjak-injak orang kaya, dan tetap harus taat pada hukum-hukum negara?"
"Kurasa ini melanggar hak asasi, Sean. Apa orang-orang tidak berpikir ke sana?"
"Dengar, Valley!" Sean memegang kedua bahuku, lalu menunduk sedikit demi mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. "Reed tidak sudi mempekerjakan agen yang ribet. Kau memang berbeda dengan jenis 304 yang lain, tetapi kewajibanmu sama: menuruti perintah. Jadi jangan terlalu banyak memikirkan hal yang bukan bagian dari pekerjaanmu. Kau mengerti?"
Aku bersyukur tidak mudah tegang dan takut pada ancaman. Napasku masih stabil meski detak jantungku berpacu lebih cepat. Namun, Sean benar. Yang kulakukan di sini adalah bekerja, dan bekerja-di mana pun itu peraturannya tetap sama-harus patuh pada perintah atasan. Aku tidak akan pulang menemui keluargaku sebelum mendapatkan uang yang cukup untuk beli rumah.
"Ya, mengerti."
Sean kembali berdiri tegap. Posturnya yang indah tampak sempurna di dalam balutan jas resmi milik petinggi Indocyber. Ada pin nama yang dipasang di dada kanan Sean. Aku membaca nama lengkapnya dalam hatiku. Sean Arvindra Fawaz.
"Baiklah. Sekarang ikuti aku untuk bertemu dengan atasan kita. Kau akan segera mengetahui detail tugasmu, Nona."
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top